
Maria yg mendengar kabar kehamilan Maryam pun turut berbahagia, Maryam memberi tahu nya, dan setelah itu Nabil juga menelpon Maria dan memberi tahukan hal yg sama.
Maria sangat senang karena meskipun jauh, Nabil tetap menemani nya dan sering menanyakan keadaan nya. Nabil juga sering mengirimkan pesan yg berisi motivasi untuk wanita hamil, anjuran untuk menjaga bayi nya sejak dalam kandungan agar saat lahir kelak menjadi anak yg sholeh atau sholehah. Nabil juga mengajarkan Maria doa seperti doa Hawa saat merasakan sakit dalam masa kehamilan nya.
Walaupun kini Maria benar benar sebatang kata setelah kematian ayahnya, namun ia tak lagi merasa seperti itu. Semua orang ada untuk nya, ia juga sudah mulai bekerja di sebuah mini market sebagai kasir dan ia sangat bersyukur karena pemilik nya mau menerima Maria yg sedang hamil.
Maria sendiri mulai nenuliskan masa masa kehamilan nya dan tak lupa ia menuliskan bagaiamana Nabil menjaga nya meskipun dari jarak ribuan kilometer jauh nya.
Waktu terus berjalan, walaupun Maria masih sering merasakan kesedihan dengan masa lalu nya, namun ia bersyukur karena kini ia punya tujuan yg jelas untuk masa depan nya. Maria juga sangat bersyukur karena kehamilan nya tak begitu menyiksa, ia pun jarang mengidam yg aneh aneh. Paling mentok juga hanya makanan pedas atau buat mangga muda.
Dan soal Sarfaraz, Maria tak lagi menghubungi nya, dia merasa malu pada mantan boss nya itu, apa lagi sekarang ia begitu dekat dengan sepupu Sarfaraz, terkadang ia merasa tak nyaman, seperti sedang selingkuh saja. Namun Nabil terus menegaskan bahwa mereka hanya teman, dan Nabil mengatakan ia tak pernah berniat membuat Maria mencintai nya, sementara cinta Nabil itu adalah urusan pribadi Nabil.
Hari sudah malam, Maria yg baru saja pulang kerja langsung membersihkan diri. Setelah itu, ia bersitirahat dan meluruskan kaki nya yg sangat pegal, apa lagi kini perut nya sudah membesar dan itu membuat Maria cepat lelah.
Ponsel nya berdering dan terpampang nama Nabil di layar ponsel nya
"Bagaiamana keadaanmu, Bumil?"terdengar suara merdu Nabil di seberang telpon.
"Assalamualaikum, Dokter" ucap Maria dan itu membuat Nabil tertawa. Karena biasanya Nabil memperingatkan Maria untuk mengucapkan salam dulu saat menelpon saat Maria langsung mengatakan 'Halo'
"Waalaikum salam" ucap Nabil "Jadi, bagaiamana keadaan kalian?"
"Kami sangat baik, Alhamdulillah"
"Jangan terlalu bekerja, apa lagi kerjaan mu berdiri terus"
"Engga kok, kadang aku duduk kalau lagi sepi. Sejauh ini, semua nya baik baik saja"
"Syukurlah kalau gitu. Oh ya, bagaiamana tulisan mu?"
"Masih sama, aku hanya menuliskan masa masa kehamilan ku"
"Kau juga menulis tentang ku, kan?"
"Aku bahkan menulis tentang Bi Siti yg selalu memberi ku makan tepat waktu"
"Haha haha... Ada ada aja kamu ini" Maria ikut tertawa. Seperti itulah hari hari Maria yg ia jalani. Nabil selalu membuat nya merasa lebih baik dan lebih baik, Nabil menghibur nya, memotivasi diri nya dan selalu mendukung nya.
"Hira telpon, aku tutup dulu telpon nya, ya" seru Maria saat ia melihat ada panggilan dari Hira di ponsel nya.
"Oke, jaga diri dan bayi mu"
"Iya, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Setelah Maria memutuskan sambungan telepon nya, kini ia segera menjawab panggilan Hira.
"Hai, Bumil, bagaiamana kabar hari ini?" terdengar suara nyaring Hira dari seberang telephone. Akhir akhir ini Hira jarang menemui nya karena ia sedang fokus pada kuliah nya. Namun saat malam hari, sahabat nya itu tak pernah absen untuk menghubungi Maria dan menanyakan keadaan nya.
"Aku baik, Ra"
__ADS_1
"Pangeran Arab sudah telepon?" Maria tertawa geli karena Hira yg memberi julukan Nabil dengan pangeran Arab. Maria bahkan mengatakan Nabil seperti model yg menggugah selera fotografer.
"Sudah" jawab Maria. Kemudian Kedua nya mengobrol banyak hal. Hira menceritakan bagaiamana kampus tanpa Maria, sedangkan Maria menceritakan bagaiamana ia hamil tanpa suami dan harus bekerja. Perjuangan yg sangat berat.
.
.
.
Jam menunjukan pukul dua pagi, Maryam yg merasa lapar mengguncang guncangkan tubuh Amar agar segera bangun.
"Ada apa, Sayang?" tanya Amar dengan suara serak nya.
"Aku lapar" rengek Maryam. Amar pun dengan susah payah membuka matanya yg terasa sangat berat dan ia pun duduk berhadapan dengan Maryam yg sudah duduk bersila.
"Mau makan apa? Biar Nur masakin"
"Mau makan bubur ayam buatan Nena"
"Ya udah, besok pagi kita kesana. Sekarang makan yg lain dulu ya" bujuk Amar namun Maryam menggeleng. Ia bahkan sudah cemberut sambil memegang perut nya.
"Aku lapar bubur nya sekarang" lirih nya.
"Ya udah, biar Nur masakin bubur. Sudah jangan cemberut" Amar mengusap pipi Maryam yg tembem.
"Mau masakan Nena..." rengek nya bahkan kini hidung nya sudah kembang kempis dan mata nya pun berkaca kaca. Melihat itu Amar langsung menyunggingkan senyum yg di paksakan dan berkata
Setelah itu, keduanya pun turun. Amar menyetir sendiri karena ia merasa tak tega jika harus membangunkan Bobby.
Amar juga menelepon ayah mertua nya dan mengatakan ia akan kesana karena Maryam mengidam bubur masakan Bi Mina.
.
.
.
"Siapa?" tanya Asma dengan suara parau nya. Ia heran karena suami nya mendapatkan telepon tengah malam.
"Amar, katanya Maryam ngidam bubur ayam buatan Bi Mina dan sekarang mereka mau kesini" jawab Bilal sembari meletakkan kembali ponsel nya ke atas nakas.
"Orang hamil emang nyusahin ya" gumam Asma, mengingat ia yg juga sangat menyusahkan suami nya dulu.
"Sangat" jawab Bilal sembari tertawa kecil, membuat istri nya itu langsung memberengut. Bilal pun langsung mencium nya dengan gemas.
Setelah itu, keduanya pun turun setelah cucu muka dan membangunkan Bi Mina sekalian menunggu kedatangan putri dan menantu mereka.
Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil, Bilal langsung membukakan pintu dan menyambut putri nya yg tiba tiba saja langsung berhambur manja kedalam pelukan nya.
"Maryam lapar, Bi. Mau bubur ayam buatan Nena. Maaf ya ngerepotin" ucap nya dan itu membuat ayahnya tertawa kecil.
__ADS_1
"Engga apa apa, Sayang. Bi Mina sudah bangun, dia di dapur sama Ummi"
Bilal membawa Maryam dan Amar masuk. Maryam langsung menuju dapur dan ia memeluk Bi Mina yg sedang mencuci beras.
"Maaf ya, Nena. Maryam ngerepotin"
"Engga apa apa, Neng. Nama nya juga lagi hamil, mau nya memang kadang yg aneh aneh"
"Sebaik nya kamu tidur lagi, Nak. Biar Ummi sama Nena yg masak" pinta Asma.
"Maryam engga ngantuk" ucap Maryam.
"Kalau engga ngantuk, sebaik nya kita sholat malam" sambung Abi nya yg ikut masuk ke dapur.
"Boleh" jawab Maryam.
"Sebentar lagi Ummi nyusul" Asma menimpali.
Setelah beberapa menit menunggu sang ibu rumah tangga di musholla, kini Asma sudah muncul, dan mereka pun melaksanakan sholat malam bersama.
Setelah selesai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga, sementara Asma kembali membantu Bi Mina yg sudah hampir menyelesaikan masakan nya.
Setelah selesai, Bi Mina menyajikan bubur itu bukan hanya untuk Maryam, tapi untuk semua nya. Apa lagi mengingat sejak kecil Maryam tak pernah mau makan sendiri.
Faraz yg juga selesai sholat malam di kamar nya, mendengar suara obrolan di bawah. Ia berfikir apakah ada tamu tengah malam?
Ia pun turun dan mendapati kedua orang tuanya, adik dan ipar nya juga Bi Mina yg sedang makan bubur sambil menonton tv di ruang keluarga dan mereka semua duduk di lantai.
"Aku fikir ada apa rame rame di bawah" seru Faraz ikut bergabung dengan mereka.
"Maryam ngidam bubur ayam buatan Bi Mina" jawab Ibu nya.
"Tengah malam begini?" pekik Faraz tak percaya "Apa engga bisa besok?"
"Nama nya juga orang hamil. Mau nya harus di turuti, biar anaknya engga ileran nanti" tutur Amar yg langsung di tertawakan Faraz.
"Mitos aja itu" ucap nya.
"Tapi ada yg lebih berbahaya dari mitos ini" ucap Amar sembari melirik Maryam "Maryam jadi lebih sensi" ucap nya sambil mengulum senyum geli. Maryam hanya cengengesan saja, karena ia juga merasakan hal yg sama.
"Jadi, kalian lagi sahur sekalian ini?" tanya Faraz lagi "Bi, Faraz juga mau" ucap nya kemudian.
Bi Mina pun juga mengambilkan semangkuk bubur untuk Faraz. Faraz duduk di samping adik nya dan ikut menikmati bubur buatan Nena tersayang itu.
Asma dan Bilal juga menceritakan masa masa kehamilan Asma, dan Asma jauh lebih sensi dari Maryam, dan juga sangat manja, membuat Bi Mina dan Bilal kadang kewalahan.
Dan setiap kali hamil, Asma selalu membenci aroma parfum Bilal dan meminta Bilal memakai parfum nya atau tidak sama sekali.
Semua nya tertawa mendengar cerita itu, dan Amar semakin yakin bahwa benar kata nenek nya, wanita hamil itu ajaib.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc....