
Maria terdiam dan terus memperhatikan gerak gerik Maryam dalam melaksanakan sholat di kamar rawatnya. Maria sungguh kasihan melihat kondisi Maryam, apa lagi dengan lebam di wajahnya, dan bahkan kemarin Maria melihat bekas kuku di leher Maryam.
Maria yg duduk di samping Maryam melihat Maryam mengeluarkan air mata dalam sholat nya, namun bibir Maryam tetap membaca doa doa walaupun sesekali isakan lolos dari bibir nya.
Beberapa menit Maryam melaksanakan sholat dan kini ia telah selesai, Maryam berdizkir dan masih beruarai air mata, bahkan bibir nya bergetar dan isak nya tangis nya semakin tak terkontrol. Tangan nya yg menghitung manik manis tasbih kini bergetar dan pada akhir nya, Maryam menjatuhkan dirinya di atas sejadahnya, membenamkan wajahnya di antara telapak tangan nya dan tangis nya pun pecah.
Membuat Maria ikut menangis, Maria mendekati Maryam dan hendak memeluk Maryam yg masih bersujud dan kini seluruh tubuh nya bergetar. Namun Maria tak berani, entah kenapa ia merasa takut menyentuh Maryam.
"Ahh..." Maryam berteriak, seolah ingin mengeluarkan sesak di dada nya. Ia terus menangis sesegukan selama beberapa saat, hingga kemudian ia kembali duduk, mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan sangat lirih...
"Sesungguhnya Engkaulah yg maha kuat, maka berikan hamba Mu yg lemah ini kekuatan, Ya Qowiyyu Ya Matin. Sesungguhnya Engkau maha adil, maka berikan keadilan pada hamba Mu yg tak berdaya ini. Dan Engkau maha tahu, hamba telah mengikuti perintah Mu untuk menjaga diri, namun musibah ini masih menimpa hamba. Jika ini adalah ujian, maka kuatkan dan ikhlaskan sahaya kecil mu ini menjalani ujian yg sangat berat ini. Dan jika ini adalah hukuman, maka sesungguhnya Engkau maha pengampun, dan ampunilah hamba Mu yg berlumur dosa ini, karena hamba milik Mu dan hamba berserah diri kepada Mu"
Maryam kembali menangis dan terus memanjatkan doa, memohon kekuatan, kesabaran, keikhlasan dan juga ampunan.
Maria yg mendengar doa Maryam begitu lirih, begitu tulus dari hati, dengan berurai air mata dan ia berserah diri kepada Tuhannya setelah semua yg terjadi, sesuatu yg tak pernah Maria lakukan.
Sebagai wanita, apa yg di alami Maryam jauh lebih mengerikan dari pada apa yg di alami Maria. Dan Maryam tetap berserah diri kepada Tuhan nya, memohon petunjuk dan kasih sayang Nya, bahkan meng introspeksi diri, bukan menyalahkan takdir apa lagi meninggalkan sang penulis takdir.
Hati Maria bergetar, ia merasakan sesuatu yg membuncah dalam hati nya.
Ia segera keluar dari kamar Maryam dengan berbagai perasaan dan fikiran yg tak menentu.
.
.
.
Seroang polisi datang untuk meminta keterangan Maryam dan memberi tahu apa yg sebenarnya terjadi, disana Maryam di temani pengacara yg di sewa Amar, Gaby Victoria, dan juga Amar, Faraz dan kedua orang tuanya.
"Aku.. Maksud ku, saat itu aku naik taksi, mau pulang dari kampus, pria itu masuk, dan aku hendak keluar tapi dia menyuntikan sesuatu dan...dan setelah itu..."
"Dek... "
"Eh..." Maryam kembali tersentak saat Faraz menyentuh pundaknya, padahal Faraz hanya mencoba menenangkan Maryam yg masih terlihat ketakutan.
"Aku mohon jangan memaksa nya" pinta Amar pada petugas polisi itu, ia tak tahan melihat Maryam di paksa harus menceritakan kembali kejadian itu, padahal itu adalah hal yg ingin Maryam lupakan.
"Kami membutuhkan keterangan nya, memasukan nya kedalam laporan dan menyerahkan nya di pengadilan nanti"
__ADS_1
"Mental nya masih tidak stabil, kami punya bukti yg kuat bahwa Maryam di jebak dan di perlakukan dengan begitu kejam di sana"
Petugas polisi itu menatap Maryam yg memang masih terlihat ketakutan.
"Baik lah, sampai bertemu di pengadilan. Pastikan kalian memikiki bukti yg sangat kuat"
Setelah polisi itu pergi, Gaby menatap Maryam yg terlihat masih pucat.
"Jangan takut, Maryam. Kami akan mendampingi mu" seru Gaby lembut "Sekarang aku harus pergi dan menyiapkan semua bukti yg sudah kita kumpulkan, sidang ini tidak akan berjalan lama, karena pihak lawan tidak akan punya kesempatan untuk menolak bukti dan saksi yg kita punya" Gaby berkata dengan sangat percaya. Kemudian ia pun segera pergi.
Asma segera menenangkan putri nya, dan mereka menunggu hasil visum yg seharusnya sudah keluar. Maryam takut membayangkan apa hasil nya nanti. Bagaiamana jika yg Amar katakan itu tidak benar? Bagaiamana jika hasil visum membuktikan bahwa ia telah di nodai?
.
.
.
"Dimana dan apa bukti nya? Siapa saksi nya?" tanya Faraz pada Amar setelah ia mengajak Amar keluar. Faraz ingin tahu apa bukti nya dan siapa saksi nya yg bisa menyelamatkan adik nya.
"Saksi nya Erick Baldwin, dia akan menjadi saksi untuk melawan Dilara dan sekaligus tersangka, karena Erick yg melakukan semua itu"
"Dimana dia? Apa kamu menyeret nya ke kantor polisi seperti wanita itu?"
Amar melepaskan tangan Faraz dari kerah kemeja nya dan Amar merapikan kemeja nya kembali.
"Tidak, dia akan datang dengan sendiri nya. Karena saksi seharusnya tidak di tahan"
"Lalu bagaiamana jika dia kabur, Amar?"
"Tidak akan" jawab Amar yakin "Karena keluarga nya ada bersama ku" batin nya berseru penuh kemenangan.
"Aku ingin melihat bukti apa bahwa dia memang pelaku nya?"
"Tidak perlu, Sarfaraz" tegas Amar. Namun Faraz kembali menarik kerah kemeja Amar namun Rafa yg baru datang segera menghentikan aksi kasar Faraz.
"Faraz, apa apaan kamu" seru Rafa marah, ia tak tahu kalau Faraz bisa kasar begini pada orang lain.
"Dia menyembunyikan bukti penyerangan pada Maryam, dan dia melepaskan pelaku nya" desis Faraz.
__ADS_1
"Demi Tuhan aku tidak akan pernah melepaskan pelaku nya" tegas Amar lagi.
"Aku ingin melihat bukti nya" ujar Rafa yg membuat Amar menghela nafas berat "Aku hanya ingin memastikan kamu engga bohong atau membuat bukti palsu"
"Oh God..." seru Amar "Okey, ikut dengan ku" pinta Amar kemudian Amar membawa Rafa dan Faraz ke kantor pengacara nya.
Mereka menemui Gaby di sana dan membuat Gaby sedikit terkejut namun juga menyambut mereka.
"Mereka ingin melihat bukti yg sudah kita dapat kan" seru Amar pada Gaby.
"Untuk apa?" tanya Gaby heran.
"Karena dia adikku, aku ingin melihat siapa pelaku nya" Faraz berkata penuh penekanan.
"Baiklah"
Gaby membawa mereka ke ruangan nya, Faraz dan Rafa duduk di sebuah kursi tepat di depan kursi Gaby. Gaby membuka laptop nya dan memutar video itu.
Rafa dan Faraz yg melihat video itu hanya bisa menahan nafas.
Baru di pertengahan video, Rafa segera menutup laptop karena baik dirinya apa lagi Faraz tak sanggup lagi melihat video itu.
"Siapa yg merekam nya? Apa dia membuat film psikopat dengan menyiksa adikku begitu?" tanya Rafa penuh amarah.
Sementara Faraz tanpa berkata apa apa segera keluar dari sana.
"Itulah kenapa aku tidak mau menunjukan video itu, video itu hanya akan di tunjukan pada hakim di pengadilan"
"Pria itu harus membayar mahal atas tindakan nya, Amar. Kami bahkan tidak pernah membentak Maryam, tapi bajingan itu sudah berlaku sangat keji pada Maryam" geram Rafa dan ia segera menyusul Faraz.
Faraz berada dalam mobil nya, ia hanya diam namun mata dan ekspresi wajah nya menyiratkan sebuah kemarahan yg begitu besar.
"Biar aku yg nyetir" ujar Rafa dan ia meminta Faraz berpindah dari kursi kemudi.
Masih terdiam, Faraz pun pindah. Rafa membawa mereka kembali kerumah sakit dan di sepanjang perjalanan, Faraz terus menutup bibir nya rapat rapat. Namun tatapan nya begitu tajam dan rahang nya mengeras.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1