Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 6


__ADS_3

Amar menjemput Sarfaraz di kantornya untuk mendatangi tempat ia ingin membangun hotel nya, Amar fikir satu mobil akan jauh lebih baik sehingga di dalam mobil mereka bisa sambil membicarakan proyeknya itu.


Namun Faraz menolak dengan alasan ia harus menjemput adik nya lebih dulu karena sopir nya sedang sakit. Dan tentu hal itu justru membuat Amar senang dan mengatakan pada Sarfaraz mereka bisa menjemput adik nya.


"Aku tidak ingin merepotkanmu, Tuan Degazi" seru Sarfaraz yg merasa tak nyaman.


"Sama sekali tidak masalah, lagi pula kita se arah dengan kampusnya"


"Bagaiamana kau tahu kampus adikku?"


"Em itu..." Amar memutar otaknya mencari jawaban yg masuk akal "Waktu itu kita bertemu di rumah sakit Dokter Gea, kita juga pernah bertemu di restaurant nya"


"Lalu?" tanya Sarfaraz seolah meng introgasi, tentu saja, ia takut kalau Degazi itu mendekati adik nya yg polos, sementara Faraz sering mendengar gosip tentang Amar yg sering berkencan dengan wanita tapi tak pernah serius.


"Aku bersama nenekku waktu itu, nenek bertanya apakah Maryam pasien Dokter Gea, tapi dia bilang dia mahasiswi psychology di Parrish University"


"Oh, baiklah" jawab Faraz. Amar bernafas lega, syukurlah otak nya sangat cerdas terutama di saat saat seperti ini. Dan ia sedikit jengkel, biasa nya ia yg meng introgasi tapi sekarang malah ia yg di introgasi.


.


.


.


"Gimana kuliah mu hari ini, Nyil?" tanya Sarfaraz sambil merangkul pundak adiknya itu.


"Menyenangkan" jawab Maryam dan juga melingkarkan tangannya di pinggang Sarfaraz, ia lakukan itu karena melihat ada beberapa wanita dengan pakaian seksi yg menatap Sarfaraz dengan lapar, Maryam tahu gadis gadis itu adalah primadona kampus nya, mereka memiliki pergaulan yg cukup bebas, bahkan Maryam pernah memerogoki mereka sedang teler di toilet wanita.


Dan Maryam yakin mereka tak tahu Sarfaraz adalah kakaknya, biarkan saja jika mereka berfikir Sarfaraz adalah pacar Maryam sehingga dengan begitu mereka tak berani lagi menatap kakaknya itu.


"Ada apa?" tanya Sarfaraz karena Maryam begitu lengket dengan nya.


"Itu, anak geng kampus, liatin Kakak terus"


"Ya engga heran, kakak kan ganteng" ujar Faraz yg membuat Maryam mencebikan bibir nya.


Faraz sempat melihat sekelilingnya siapa tahu ia menemukan asisten nya itu karena Maria bilang dia ada jam kuliah. Namun Faraz tak menemukan nya, mungkin ia di kelas. Fikir nya.


Faraz membuka kan pintu depan untuk Maryam, sementara ia duduk di belakang bersama Amar.


"Maaf, Tuan. Jadi merepotkan" ujar Maryam pada Amar.


"Tidak masalah, Maryam" Amar menjawab dengan meyunggingkan senyum samar.


Faraz dan Amar membicarakan beberapa hal mengenai proyek mereka, namun rupanya fokus Amar tak benar benar ada di kepalanya, karena matanya yg terus menerus mencuri curi pandang pada Maryam yg duduk tenang di depan sembari membaca buku seputar psychology.


Dan Bobby yg pintar, ia sengaja mengarahkan kaca mobil nya pada Maryam, sehingga Amar bisa melihat dengan jelas wajah cantik Maryam yg sedang serius membaca dari kaca.


.


.


.

__ADS_1


Setelah mengantar Maryam pulang, kedua nya pun melanjutkan perjalanan ke pingiran kota untuk melihat lokasi dan lahan yg akan di bangun hotel oleh Amar.


Setelah Sarfaraz menjelaskan detail bangunan seperti apa yg akan Sarfaraz bangun, Amar justru tampak tak setuju.


"Apa menurut mu itu tidak terlalu mewah? Itu malah akan terlihat seperti sebuah kastil, bukan hotel"


"Hanya di lantai satu, akan ada 7 lantai saja. Semenetara di lantai dua sampai 6, adalah kamar kamar pengunjung, lantai paling atas bisa jadi tempat mu pribadi atau pegawai mu, dan hanya di lantai satu yg akan tampak seperti kastil. Tanah nya juga tidak terlalu luas kan, itu akan tampak mungil. Dan saya saran kan, jangan terlalu banyak kamar, supaya ada lorong kosong yg akan membuat nya terasa nyaman dan lega. Aku akan menjukan hasil gambar nya nanti. Bagaimana menurut mu?"


"Menarik"


.


.


.


"Aunty Lita..." teriak Maryam girang yg melihat Lita baru saja datang ke rumah nya "Udah lama Aunty engga main ke sini, sibuk ya?"


"Ya sibuk bantuin Mbak Dini di pesantren. Oh ya, dimana Ummi mu, Maryam?"


"Lagi taman, bersihin kolam ikan nya. Aunty, apa Ana ada telpon? Soalnya udah lama dia engga telpon Maryam"


"Ana lagi persiapan ujian, kemaren malam dia sudah telpon dan nitip salam buat kamu sama Faraz"


"Waalaikum salam, sehat aja kan dia?"


"Alhamdulillah sehat, ya udah Aunty mau menemui ummi mu dulu, ada perlu"


"Oke, ayo sekalian sama Maryam, Maryam mau pamit, mau ke restaurant"


"Ta, dari tadi?" sapa Asma


"Baru aja" jawab Lita kemudian menghampiri kolam ikan Asma yg sudah bersih.


"Ummi, Maryam mau ke restaurant dulu ya, hari ini Maryam free"


"Iya, tapi mau berangkat sama siapa? Paman Arif kan masih sakit"


"Naik taksi"


"Ya udah, hati hati. Nanti pulang nya minta jemput Faraz atau Abi ya" Maryam mengangguk, mencium tangan ibunya kemudian pipi nya.


"Maryam pergi dulu, Aunty, Ummi. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Lita dan Asma menjawab bersamaan.


.


.


.


Saat memasuki restaurant nya, Maryam kembali melihat Amar, membuat Maryam bertanya tanya, kenapa dia sering sekali makan disana?

__ADS_1


Maryam pun berjalan masuk dan pura pura tidak melihat Amar yg saat ini tengah berbincang serius dengan seorang pria paruh baya, yg Maryam duga pasti rekan bisnisnya.


Maryam pun duduk di meja kasir dan melihat data data penjualan kamarin, dan di tengah fokus nya, tiba tiba Amar datang mengagetkannya.


"Hai... Eh maksud ku, Assalamualaikum" Maryam terkekeh kemudian menjawab salam nya.


"Waalaikum salam, Tuan Degazi"


"Amar saja, please!"


"Rasanya tidak sopan" balas Maryam yg merasa canggung, karena memanggil nama berarti berarti artinya mereka punya hubungan yg dekat, dan Maryam tak mau itu.


"Aku bukan bos mu, Maryam. Jadi tidak ada etika formal seperti itu"


"Iya tapi..."


"Apa kamu mau jadi teman ku?"


"Hah?" reaksi Maryam membuat Amar tertawa, dan Maryam bisa melihat tawa yg begitu alami, tatapan yg lembut tak seperti Amar yg dia lihat di media sosial dengan berbagai berita dan gosip nya.


"Em sebenarnya aku... Aku tidak..."


"Kau juga tidak mau berteman dengan lelaki?" Amar bertanya dengan sedih "Atau karena status ku?"


"Bukan, hanya saja..."


"Aku tidak akan merayu mu, mengajak mu berkencan, atau bertindak layaknya seorang pria yg mendekati wanita, aku hanya tertarik berteman dengan mu, itu saja. Jika kau bertanya alasannya, akan ku jawab aku tidak tahu"


Maryam mengulum senyum dan berusaha mencerna apa maksud Amar sebenarnya, karena dari ekspresinya, Maryam bisa merasakan itu sangat alami dan kata kata itu memang berasal dari hati nya.


"Aku tidak tahu bagaimana menjalin pertemanan dengan seorang pria, karena selama ini teman teman ku wanita semua"


"Sama saja, dalam pertemanan dengan lelaki ataupun wanita, perlakukan dengan sama"


"Em... Baikalah" jawab Maryam dan seketika membuat Amar mengembangkan senyum lebar nya.


.


.


.


Tanpa sadar, Faraz memandangi Maria yg saat ini mengobrol dengan teman teman nya di kantor, Faraz tak menyangka, Maria yg semula terlihat dingin, kasar dan keras kepala, ternyata tipe gadis yg ramah dan mudah bergaul, tak butuh lama bagi Maria untuk dekat dengan teman kantor nya. Selain itu, Maria benar benar selalu mengenakan pakaian sesuai permintaan Faraz.


"Mata...mata, hilang melayang tuh hafalan Quran" Faraz segera mengalihkan pandangannya saat tiba tiba terdengar suara Rian yg entah sejak kapan sudah ada di belakang nya.


Tanpa mejawab Rian, Faraz segera kembali ke ruangan nya sendiri dengan fikiran yg entah kenapa merasa tidak tenang.


Sudah seminggu Maria bekerja dengan nya, dan Maria memang melakukan pekerjaannya dengan baik, dan juga sudah seminggu pula ia begitu dekat dengan wanita yg bukan keluarga nya ntuk pertama kalinya.


Terkadang Sarfaraz mengkhawatirkan dirinya, karena terkadang ia diam diam memandangi Maria dan gadis itu tampak cantik di mata nya.


"Astaghfirullah. Lindungi hamba, Ya Allah"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2