
Amar mengajak Maryam untuk makan bersama di salah satu restaurant milik nya, Amar mengatakan jika pergi ke restaurant lain mereka bisa saja di ikuti paparazzi, tapi di restaurant milik Amar, semua nya aman.
Ah, Maryam baru tahu ternyata calon suami nya itu punya restaurant yg menyediakan masakan timur tengah. Dan seperti saran ibu nya, mereka tak boleh berduaan. Jadi Amar mengajak nenek nya saja.
Namun tiba tiba nenek nya mengatakan ada urusan yg penting saat mereka sudah sampai di restaurant, dia harus pergi namun dia janji akan segera kembali. Amar tahu dengan pasti itu hanya akal akalan nenek nya saja.
Seorang kepala pelayan datang dan menyajikan menu istimewa untuk keduanya.
"Terima kasih" ucap Maryam ramah pada pelayan itu.
"Sama sama, Nona" jawab sang pelayan kemudian ia pun berlalu setelah memastikan semua tersaji untuk Big boss dan calon istri nya itu.
"Kenapa Granny lama banget?" tanya Maryam sama Amar.
"Entahlah" jawab Amar singkat. Amar tak bisa mengalihkan pandangan nya dari gadis mungil didepan nya ini.
"Jangan terus memandang ku seperti itu, Amar. Itu membuat ku sangat tidak nyaman" lirih Maryam dan Amar pun segera mengalihkan pandangan nya sambil menggumamkan kata maaf.
"Maryam, tolong putuskan secepat nya tentang hubungan kita. Karena aku ingin segera menikahi mu" tutur Amar terang terangan dan itu berhasil membuat Maryam tersipu.
"Taaruf juga tidak boleh terlalu lama, Amar. Jadi setelah kita benar benar merasa sangat cocok, kita bisa melaksanakan pernikahan"
"Aku sudah merasa sangat cocok dengan mu" jawab Amar cepat "Tapi jika kamu yg belum merasa cocok dengan ku, itu tidak masalah. Aku akan berusaha membuat mu merasa cocok dengan ku"
Maryam tersenyum simpul, karena jauh dalam hatinya, ia sudah merasa cocok dengan Amar. Apa lagi Amar selalu dengan gantle mengakui perasaan nya maupun kelemahannya.
"Tapi aku ingin tetap kuliah dan setelah nya aku ingin jadi psykolog. Apa kamu mengizinkan ku jika setelah menikah aku bekerja?"
"Iya, jika itu memang impian mu. Sama sekali tidak masalah" Maryam langsung tersenyum mendengar jawaban Amar, karena hal ini sejak dulu membuat dia khawatir, dia takut Amar melarangnya bekerja mengingat Amar sudah sangat kaya tentu Amar ingin istri nya jadi ibu rumah tangga saja. Tapi Maryam ingin jadi psikolog bukan semata karena uang, tapi karena ia menyukai nya. Ia suka membantu seseorang keluar dari masalah nya.
"Terima kasih"
"Hanya itu?" tanya Amar, Maryam mendongak dan menatap nya sekilas namun kemudian kembali menunduk. Dan ia pun mulai menyantap hidangan itu.
"Hanya itu dan syarat yg pernah aku ajukan, hanya itu yg aku inginkan"
"Kalau begitu, apa bisa kita memutuskan kapan menikah?"
Entah harus bereaksi seperti Maryam dengan tingkah Amar yg seolah sangat tidak sabaran ingin menikah.
"Kamu sama Granny bisa datang kerumah dan membicarakan itu dengan Abi. Biar Abi yg putuskan" jawab Maryam dan Amar pun mengangguk senang.
"Semua keluarga mu menyambut ku dengan sangat baik, kecuali Sarfaraz. Padahal aku lebih dulu mengenal nya sebelum kamu, sebagai rekan bisnis, dia sangat berwibawa. Tapi sebagai saudara mu, dia benar benar ketus" Maryam terkekeh pelan mendengar Amar yg menggerutu tentang kakak nya.
"Maaf, dia memang begitu kalau sudah menyangkut adik adik nya. Kak Faz sangat possessive dan over protoctif sama aku dan Ana. Itu sudah terjadi sejak kecil, dia selalu ingin melindungi kami seolah orang orang akan menyakiti kami selain dirinya"
"Benarkah?" tanya Amar yg di jawab anggukan oleh Maryam.
__ADS_1
"Yupz, bahkan saat Ana memutuskan melanjutkan pendidikannya ke Lebanon, semua orang keberatan tapi setuju saja. Beda halnya sama Kak Faz, dia terang terangan melarang Ana ke sana dengan berbagai alasan. Dia seolah tidak mau jauh jauh dari Ana"
"Mungkin Sarfaraz punya perasaan lebih pada Ana" Amar berkomentar sekena nya. Namun itu membuat Maryam tersenyum. Akhirnya, ada orang lain yg memiliki pemikiran yg sama dengan nya, bahwa Faraz memang menyukai Afsana lebih dari saudara.
"Aku juga berfikir begitu, tapi Kak Faz selalu mengelak, dia selalu memuji Ana dalam segala hal, tapi dia bilang itu karena Ana adiknya. Padahal sangat tidak mungkin seorang kakak memuji adiknya begitu"
"Semoga Faraz menyadari perasaan nya sebelum terlambat. Karena laki laki itu tidak se peka perempuan, untuk mengetahui isi hatinya itu sangat sulit, belum lagi ada gengsi untuk mengakui nya"
Maryam mengulum senyum karena baru kali ini ada yg menanggapi serius topik nya tentang Faraz dan Afsana. Selama ini jika dia berbicara seperti itu pada keluarga nya atau Sarfaraz sendiri, mereka tak menanggapi nya dengan serius karena berfikir Maryam hanya menggoda kakak nya.
"Tapi kita di sini bukan untuk membicarakan kisah orang lain, Maryam" ujar Amar kemudian meneguk air dari gelas nya "Kita di sini untuk kisah kita" Maryam tersenyum malu malu mendengar penuturan Amar namun kemudian mengangguk.
Kedua nya mengobrol dan saling berbagi cerita, bahkan mereka sampai lupa kalau Granny Amy belum juga kembali padahal mereka sudah selesai makan. Dan akhirnya, mereka berkencan.
"Wow..." Amar dan Maryam menoleh mendengar suara yg tak asing itu "Jadi Taun Degazi sedang berkencan, huh?"
"Bukan urusan mu, Dilara" desis Amar tajam.
"Oh really? Dan kau gadis kecil..." Dilara berdiri di samping Amar kemudian meneliti Maryam yg sedang duduk dari ujung kepala hingga ujung kaki "Keliatannya aja ya yg alim dan menjauh dari media, tapi ternyata tidak tahan ya sama pesona seorang Amar Degazi sehingga mengajak nya berkencan"
"Kami tidak berkencan" bantah Maryam dan dengan berani membalas tatapan Dilara yg tampak meremehkannya.
"Lalu, ini apa namanya? Makan berduaan?"
"Memang apa yg salah dengan makan berdua dan ini di tempat umum dan terbuka" jawab Maryam tegas.
"Dilara..." bentak Amar sambil berdiri dan menatap Dilara seolah ingin menghabisi wanita itu. Namun beda halnya dengan Maryam yg tampak santai.
"Aku bukan wanita seperti itu, Miss Dilara" balas Maryam dengan tenang.
Dilara tertawa mengejek.
"Itu hanya karena Amar belum melaksanakan aksi nya. Mungkin dia akan merayu mu, membawa mu ke ranjang nya dan mencampakan mu seperti wanita wanita yg dia kencani, bahkan dia sering menghabiskan malam yg panas dengan ku dan masih banyak wanita lain nya"
"Tutup mulut mu atau aku akan..." geram Amar penuh amarah.
"Akan apa?" tantang Dilara pada Amar.
Maryam berdiri, ia menarik lengan Amar dan membuat Amar berdiri di samping nya. Tentu hal itu membuat Dilara geram karena seperti nya Maryam bukan gadis yg lemah dan bisa di intimidasi. Sedangkan Amar, ia mengulum senyum karena seolah Maryam menunjukan kepemilikannya pada Amar. Walaupun dia takut Maryam akan membenci nya setelah apa yg di katakan Dilara, tapi semua itu hanya masa lalu, sebelum Maryam bersemayam dalam hati nya.
"Pertama, aku bukan teman kencan Amar yg akan dia bawa ke ranjang nya. Aku calon istri nya, yg akan dia bawa kerumah nya. Kedua, Amar tidak akan mencampakan ku seperti dia mencampakan mu atau wanita lain nya. Kamu tahu kenapa?" Maryam bertanya dengan santai namun tegas, tatapan nya tetap lembut namun juga terselip keberanian di sana. Dilara hanya diam dengan tatapan penuh amarah pada gadis kecil di depan nya ini. Dia hanyalah remaja berusia 20 tahun tapi kenapa bisa berani menatap Dilara seperti itu?
"Karena wanita hanya akan di campakan ketika dia tidak bisa menjadi wanita yg pantas di pertahankan" lanjut Maryam dan kini ia yg mengintimidasi Dilara "Dan jangan salahkan Amar jika dia membawa mu ke ranjang nya dan kemudian mencampakan mu, karena wanita yg mau menyerahkan dirinya begitu saja pada yg bukan hak nya, tidak lebih dari pelacur gratisan. Dan seburuk apapun lelaki, tentu dia tidak menginginkan pelacur untuk di bawa pulang, kan?" Maryam bertanya dengan sangat santai namun itu sungguh menyulut api dalam jiwa Dilara.
"KAU..." Dilara sungguh marah mendengar kata kata menohok Maryam, dia bahkan sudah mengangkat tangan nya hendak menampar Maryam namun dengan sigap Maryam menangkis nya dan menepis tangan Dilara dengan kasar. Dilara menatap Maryam penuh dendam.
Sementara Amar? Pria itu tak bisa berkata apa apa lagi, Maryam gadis yg lemah lembut dan mungil, tak pernah ia sangka Maryam seberani ini dan itu membuat Amar bangga dan semakin mencintai nya, semakin yakin bahwa dia harus memperistri wanita seperti Maryam.
__ADS_1
"Jangan berani menyentuh nya, Dilara!" tegas Amar dan maju selangkah, seolah melindungi Maryam dari Dilara "Sekali lagi kau mengangkat tangan mu pada nya, kau tidak akan pernah bisa membayangkan apa yg bisa ku lakukan pada mu" Amar berkata dengan sangat tajam dan tatapan nya sangat mengerikan pada Dilara.
"Maryam, ayo kita pergi. Kamu bilang ada jam kuliah siang" dan entah bagaiamana bisa, saat menatap Maryam, kini tatapan itu berubah lembut dan berbicara dengan lembut pula "Aku akan mengantar mu" lanjut nya sambil mengambil ransel Maryam dan membawakannya.
"Tapi dimana Granny?" tanya Maryam kemudian Kedua nya melangkah keluar tak peduli Dilara yg masih ada disana dan menatap penuh dendam pada kedua nya.
"Dia pasti sudah pulang" jawab Amar sambil terkekeh.
"Dia sengaja melakukan nya supaya kita bisa menghabiskan waktu berdua kan?" tanya Maryam dan Amar tak bisa berbohong.
"Tapi itu bukan rencana ku, dia melakukan nya sendiri"
"Aku tahu" jawab Maryam sambil mengulum senyum.
Dan didepan pintu keluar, Bobby dan mobil nya sudah siap menati mereka.
Amar segera membukakan pintu mobil untuk Maryam, membuat Maryam malu saja karena di perlakukan bak Tuan putri.
"Aku bisa sendiri" lirih Maryam sambil masuk kemudian di susul oleh Amar.
"Terima kasih" ucap Amar setelah keduanya di dalam mobil dan perlahan mobil mulai melaju.
"Untuk?" tanya Maryam heran.
"Karena sudah menerima ku dalam hidup mu, dan maaf karana... Karena masa lalu ku sungguh buruk, penuh dosa dan..."
"Aku tidak ingin tahu masa lalu mu, Amar" tegas Maryam "Dan kamu tidak perlu memberi tahu ku, semua orang selalu punya kesempatan untuk bertaubat. Dan ingat, Allah sangat benci hamba Nya yg membuka aibnya sendiri padahal Allah sudah menutupi nya" jelas Maryam namun tampak nya Amar tak mengerti dengan hal itu.
"Maksud mu?" tanya nya.
"Maksud ku, jika kamu melakukan dosa, maka jangan beri tahu siapapun, cukup sesali itu, bertaubat dan jangan ulangi lagi. Jangan pernah membicarakan dosa mu pada siapapun termasuk aku"
"Aku fikir kamu harus tau karena kamu calon istri ku"
"Tidak semua hal harus di beri tahu demi kebaikan kita sendiri, jika kamu memberi tahu ku, maka itu hanya akan melukai perasaan ku" lirih Maryam penuh luka dan tampak raut kecewa di wajahnya.
Sungguh, ia sebenarnya sangat sakit hati saat Dilara mengatakan Amar menghabiskan malam yg panas dengan nya dan banyak wanita lain. Saat itu, Maryam bahkan merasa gemetar karena tak menyangka sejauh itu calon suami nya tenggelam dalam dosa. Namun ia sudah terlanjur mencintai Amar, dan cinta itu seharusnya membawa kebaikan untuk kedua nya.
Maryam mencintai Amar dengan tulus, sehingga saat tahu keburukan Amar, dia tidak akan lari menjauh apa lagi meninggalkan nya. Tapi Maryam akan lari mendekat dan berusaha membantu Amar agar tak lagi tenggelam dalam hal buruk itu.
"Maafkan aku, aku janji aku akan berusaha tak menyakiti mu lagi" Amar menjawab dengan suara yg lirih pula. Dia tahu Maryam pasti sedih dan sakit hati setelah mengetahui masa lalu nya yg penuh dosa itu.
Tapi Amar sudah meninggalkan dosa itu dan berusaha memperbaiki diri.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1