
Nabil mendatangi rumah Maria karena Maria tak kunjungi menghubungi nya, ia ingin menanyakan perihal jual beli rumah Maria.
Sesampainya disana, Anggi yg membukakan pintu, dan Nabil senang melihat Anggi yg kini telah merubah penampilan nya menjadi lebih baik.
"Bagaiamana luka mu, Anggi?" tanya Nabil sembari masuk meskipun tak di persilahkan.
"Sudah membaik" jawab Anggi mengikuti Nabil masuk.
"Kamu?" seru Maria yg melihat Nabil sudah ada dalam rumah nya.
"Apa surat surat nya sudah di persiapkan?" tanya Nabil tanpa basa basi, ia bahkan menjatuhkan dirinya di sofa dengan santai.
Maria menggeleng, karena ia masih tidak bisa memutuskan apakah ia benar benar mau menjual rumahnya. Apa lagi ia juga masih memikirkan tawaran Anggi.
" Rumahnya engga jadi di jual" jawab Anggi yg membuat Maria memelototinya namun Anggi seolah tak peduli "Tunggu sebentar" seru nya kemudian ia berlari naik ke kamar Maria.
Tanpa izin Maria, Anggi mengambil laptop Maria dan memperlihatkan Email dari perusahaan papa Anggi, tak lupa Anggi menceritakan tulisan Maria dan tentu itu membuat Nabil tercengang, namun kemudian ia terlihat senang.
Dan Nabil pun me nulis email balasan tanpa seizin Maria, yg menyatakan Maria akan menyerahkan tulisan nya.
"Kau gila?" teriak Maria.
Anggi dan Nabil adalah orang asing dalam hidup nya, tapi keduanya mengambil keputusan seenak jidat.
"Tunggu sebentar, kali aja ini bakal jadi rezeki mu" seru Nabil, berharap ia segera mendapatkan email balasan dari perusahaan papa Anggi.
"Oh ya, apa ada kopi? Tolong buatkan aku kopi, Maria. Aku ngantuk" ucap Nabil yg membuat Maria menganga.
Memang nya dia siapa?
"Engga ada yg ngopi di sini, sebaiknya kamu pergi. Rumah nya engga jadi di jual" seru Maria kesal.
"Sudah di balas... Wow, cepat juga" seru Nabil yg seolah tak mendengar kata kata Maria sebelum nya. Anggi juga begitu antusias membaca isi email.
"Besok, jam 11.00. Di kantor papa. Wow..." seru Anggi girang.
Sementara Maria hanya bisa membuka mulut dengan kelakuan dua makhluk Tuhan di depan nya ini.
"Tapi aku belum memutuskan itu, Anggi" seru Maria dan ia terlihat bimbang.
"Ini akan jadi awal yg baru dalam hidup mu, Maria" ujar Nabil meyakinkan namun Maria menatap tak suka pada Nabil yg bagi nya terlalu ikut campur.
__ADS_1
"Kamu engga kenal aku, dan begitu juga sebaliknya, Tuan. Jadi tolong jangan ikut campur dalam hidup ku" tegas Maria "Sebaik nya kau pergi dan jangan menemui lagi"
Bukannya bersedih atau tersinggung, Nabil malah mengulum senyum dan itu membuat Maria heran.
"Bagaimana jika aku katakan, aku mencintai mu, Maria"
Maria hampir saja jantungan mendengar kata kata itu dan ia menatap tajam Nabil.
"Kenapa? Aku tahu kalian sekeluarga selalu menolong orang lain, bahkan Faraz pernah ingin menikahi ku karena kasihan, dan sekarang kau juga?" teriak Maria marah, baru beberapa kali ia bertemu Nabil dan sekarang Nabil mengatakan mencintainya?
"Aku memang mencintai mu sejak lama, Maria. Sejak saat aku melihat foto mu di saat pernikahan Mbak Laila. Aku mencintai mu dari hati dan ini bukan rasa kasihan" tegas Nabil "Tapi aku tahu hati mu mencintai orang lain" lanjut nya dengan nada sedih.
Sementara Maria tentu tak percaya begitu saja dengan apa yg di katakan Nabil. Bagaiamana bisa seseorang mencintai orang lain hanya karena melihat foto nya?
"Berhenti membual, Tuan" tegas Maria "Aku engga butuh di kasihani"
"Maria..." Anggi mencoba menenangkan Maria yg tampak kesal namun Maria tak peduli.
"Aku engga ada waktu untuk membual, Maria. Aku bahkan datang ke Indonesia tujuan utama ku adalah bertemu dengan mu, aku sama sekali engga nyangka akan di hadapkan pada kenyataan seperti ini"
"Karena aku hamil?" tanya Maria
"Ya" jawab Nabil tegas "Aku kecewa" ia berkata lirih kemudian dan entah kenapa tiba tiba Maria merasa sedih. Ia memegang perut nya yg mulai membuncit.
"Tapi kamu punya kesempatan untuk merubah masa depan mu" ujar Nabil, Maria mendongak dan ia menatap Nabil "Terima saja tawaran dari perusahaan Papa nya Anggi, lakukan sesuatu untuk hidup mu" Nabil mencoba meyakinkan Maria dan Maria mengangguk setuju. Membuat Anggi berteriak girang dan langsung memeluk Maria.
"Jadi besok kita ketemu papa mu?" tanya Maria dan seketika raut wajah Anggi berubah sedih.
"Kamu, Maria. Aku engga mungkin menemui Papa, aku takut" cicit Anggi.
"Tapi kamu harus kembali pada orang tua mu, Anggi" ujar Nabil "Kamu masih sangat muda, kamu masih tanggung jawab orang tua mu, dan kamu juga harus buktikan pada orang tua mu kalau kamu sudah berubah"
"Bagaiamana kalau Papa dan Mama marah?"
"Terima kemarahan mereka, karena kamu memang salah. Tapi kemarahan mereka adalah bentuk cinta dan kepedulian mereka untuk kamu, Anggi"
Mendengar ucapan Nabil, Anggi langsung menangis. Karena memang benar orang tua nya peduli, Anggi tahu orang tua nya sering mencari Anggi tapi Anggi sendiri yg tak mau bertemu mereka dan tak peduli pada mereka, tak peduli pada mereka yg kehilangan anak perempuan nya.
"Besok kita menemui Papa"
.
__ADS_1
.
.
Keesokan hari nya, Nabil mengantar Maria dan Anggi ke perusahaan Papa nya Anggi.
Anggi merasa sangat gugup karena sudah satu tahun ia tak pernah bertemu mereka. Anggi juga tak bisa membayangkan reaksi mereka jika melihat Anggi sekarang yg sudah berhijab.
Mereka di sambut oleh tim editor PT Gunawan Media yg di pimpin oleh seorang wanita bernama Vita.
Membicarakan tentang tulisan Maria yg siap mereka luncurkan sebagai sebuah novel. Namun vita n
"Aku sudah membaca novel mu, tapi aku saran kan agar novel mu menjadi dua bagian. Bagian pertama, yaitu tentang pencarian jati diri mu, dan itu akan di hentikan saat kau mengetahui kehamilan mu"
"Bukan nya itu nanggung?" tanya Maria. Vita tersenyum dan mengangguk.
"Itu akan membuat pembaca penasaran, lalu apa yg terjadi selanjutnya? Kau sudah mengalami banyak hal sejak kecil, pencarian jati diri mu juga menempuh perjalanan yg panjang. Dan saat kau menemukan jati diri mu, ternyata itu bukan akhir dari perjalanan mu, tapi justru awal dari segala nya"
Maria menoleh pada Nabil seolah meminta pendapat Nabil. Dan Nabil mengangguk, memberi isyarat agar Maria setuju saja.
"Jadi, itu artinya tulisan ku untuk novel pertama sudah selesai?" tanya Maria.
"Iya, tapi kami akan sedikit merevisi nya, tidak akan jauh dari kisah nyata mu, hanya memperbaiki beberapa hal agar menarik para pembaca. Mengubah nama tokoh dan sebagai nya"
"Nama tokoh?" tanya Maria lagi dan Vita mengangguk.
Tiba tiba Maria teringat bahwa kisah ini bukan hanya kisah nya, tapi juga kisah Sarfaraz dan Maryam.
Maria bahkan menuliskan kisah pelecehan Maryam karena itulah awal mula nya ia begitu yakin memeluk agama nya yg sekarang. Karena ia melihat Maryam dan keluarga nya yg saat itu sangat hancur tapi mereka tabah dan tetap percaya bahwa Tuhan penuh kasih.
"Tidak tidak... Ini bukan hanya kisah hidup ku, tapi kisah orang lain. Mereka bisa marah jika..."
"Engga akan, Maria" seru Nabil "Kita akan bicarakan ini sama Maryam dan Sarfaraz. Selain itu, dan aku yakin mereka akan setuju"
"Tapi..."
"Percaya sama aku, lagi pula semua nya di samarkan, nama tokoh dan tempat nya"
Maria sangat tidak yakin dengan keputusan itu, namun ia akan mengikuti saran Nabil untuk bicara dengan Maryam.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...