Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 70


__ADS_3

Sudah tiga hari Afsana hanya rebahan di ranjang nya, paling ia bangun untuk mandi, sholat pun sholat duduk, makan di anterin. Ummi nya selalu mewanti wanti agar Afsana tidak banyak gerak supaya kakinya cepat pulih. Tapi Afsana merasa sangat bosan, walaupun Maryam setiap hari mengunjungi nya, tapi sekarang Maryam sudah punya suami, tentu dia tak akan selalu bersama Afsana seperti dulu.


Walaupun ibu nya juga setiap hari dirumah, tapi tetap saja tidak bisa mengobati rasa bosan Afsana.


Hari sudah petang, dan Afsana heran karena ibunya sejak siang tadi belum mendatangi Afsana ke kamar nya.


Afsana mencoba meraih tongkat yg ada di samping ranjangnya karena ia ingin turun. Namun tiba tiba pintu terbuka dan ibu nya muncul dengan penampilan yg sedikit acak acakan.


"Ummi ngapain di bawah?" tanya Afsana apa lagi ibunya itu mengenakan apron dan terlihat terkena tepung. Bukan hanya di apron nya, tapi juga di wajahnya.


"Ummi lagi masak, kamu mau kemana?"


"Mau turun, Ana bosan"


"Eh, jangan dulu..."


"Hah? Kenapa?"


Lita menggaruk tengkuk nya, melirik kesana kesini seolah mencari sesuatu.


"Kan kamu lagi sakit, istirahat aja dulu. Nanti turun pas makan malam aja ya"


"Ummi mencurigakan deh" seru Afsana namun ia kembali ke ranjang nya.


"Ingat kata Dokter, jangan terlalu sering menggerakkan kaki mu" seru Lita mencoba mengalihkan pembicaraan.


Afsana manut saja apa kata ibu nya, setelah itu Lita kembali turun. Sementara Afsana meraih buku yg ada di atas nakas dan membaca nya, mengalihkan kejenuhan yg dia rasakan.


.


.


.


Setelah sholat isya, Lita membawa putri nya turun untuk makan malam.


Namun saat di pertangahan tangga, tiba tiba lampu mati dan ruangan itu menjadi gelap. Lita dan Afsana langsung berhenti, Lita memegang Afsana agar tak bergerak.


"Ummi, kenapa mati lampu?" tanya Afsana yg merasa takut.


"Tunggu sebentar, jangan bergerak" pinta Lita.


Dan tiba tiba sebuah cahaya muncul. Lebih tepat nya, cahaya monitor.


"Apa itu?" tanya Afsana namun ibu nya tak menjawab.


Di layar monitor, di tampilkan foto buku dairy Afsana, yg membuat Afsana melotot dan hendak turun, tapi Lita menahan nya. Kembali meminta agar Afsana tak bergerak atau dia akan jatuh lagi.


Foto kini berganti pada lembar pertama di buku diary itu, dimana itu adalah biodata Afsana yg di tulis sendiri. Afsana merasa sangat gugup dan bertanya tanya apa yg terjadi, siapa yg melakukan ini.


Kemudian foto beralih pada lembar berikutnya, sebuah gambar bunga mawar, kemudian lembar berikutnya. Tulisan tangan Afsana, yg mengungkapkan perasaan nya pada Faraz.


Afsana semakin gugup dan ia kembali berusaha turun, dia harus mengentikan video itu sebelum seluruh isi dairy nya terbongkar dan di baca ibunya yg ada disana. Atau pasti ada orang lain disana kan?


"Jangan bergerak, An. Nanti kamu jatuh" titah ibunya.


"Tapi, Ummi. Itu... Siapa... Oh Tuhan" Afsana kalang kabut, dia mulai bergerak gelisah dan panik. Siapa yg mengerjainya?


Setiap lembar buku dairy itu di tampilkan, sekarang Afsana merasa sangat malu pada siapa saja yg ada disana.


"Ummi, hentikan itu..." pinta Afsana memelas namun Lita malah tertawa geli membuat Afsana bingung.


"Kamu romantis juga ya, puitis"

__ADS_1


"Ish, Ummi nih" gerutu Afsana.


Hingga tiba tiba layar monitor menampilkan lembaran baru buku dairy itu, namun itu bukanlah tulisan Afsana, dan kata kata itu...


Cinta adalah sesuatu yg tak bisa di cerna oleh logika.


Hanya bisa di rasakan oleh hati.


Seperti itu juga cinta Bilal yg tak masuk akal pada Zahra, gadis kecil yg bahkan tak ia tahu nama nya, namun cinta melekat dengan begitu kuat di hati nya.


Seperti itu juga cinta Hubab pada Lita. Yg katanya, Hubab tidak akan jatuh cinta pada gadis asing yg masih kecil, tapi nyata nya Lita juga gadis asing, sama seperti Zahra, dan Lita lebih muda dari Zahra. Tapi cinta tetap bersemayam di hatinya.


Cinta itu akan menyerang tepat di hati, tanpa peringatan.


Cinta itu akan bersemayam di hati, tanpa permisi.


Jika Bilal dan Hubab bisa mencintai seorang gadis kecil dan juga asing.


Lalu bolehkan Sarfaraz mencintai Afsana, yg sudah saling mengenal dan tumbuh bersama sejak kecil sebagai adik dan kakak?


Bisakah di cerna oleh logika bagaiamana hubungan saudara bisa berubah menjadi cinta?


Afsana, maukah kamu menjadi makmum ku dalam rumah tangga ku?


Maukah kamu menjadi pendamping di setiap langkahku?


Afsana berkaca kaca membaca tulisan itu, Afsana mengenal betul itu adalah tulisan tangan Sarfaraz, tapi bagaimana bisa?


Mata Afsana terasa panas dan ia akan segera menangis. Dan kemudian lampu menyala kembali, terang benderang.


Afsana hanya mampu manutup mulut nya dengan tangan nya, sementara mata nya terbuka lebar melihat Abi nya, Bilal, Asma, Maryam, Amar dan bahkan Sarfaraz ada disana. Mereka semua melempar senyum pada Afsana. Dan Maryam yg merekam itu menggunakan handycam memfokuskan nya pada Afsana yg kini menitikan air matanya.


Afsana merasa ini hanya mimpi. Apa yg sedang terjadi sebenarnya?


"Akhir nya terbukti juga kan dugaan Maryam, engga ada yg percaya sih" celetuk Maryam di saat semua nya sibuk memperhatikan Afsana dengan wajah memerah dan mengalirkan air mata.


"Liat sini..." seru Maryam pada Afsana dan seketika Afsana mendongak, kemudian ia menutup handycam itu dengan tangan nya.


"Marry, hentikan" pinta Afsana lirih, ia sungguh malu karena semua orang membaca buku diary nya, tapi ia juga terharu dengan apa yg Faraz lakukan.


Apakah itu arti nya, Faraz juga memiliki perasaan yg sama?


"Afsana...." Asma memeluk Afsana dan ia terlihat sangat bahagia "Rasanya tidak bisa di percaya ternyata kalian saling mencintai"


Afsana tersenyum malu malu mendengar ucapan ibu nya Faraz itu, semburat merah terlihat jelas di pipi nya. Air mata sudah berhenti mengalir namun matanya masih berkaca kaca.


Asma dan Lita membawa Afsana berdiri dekat Faraz, Afsana hanya bisa menunduk malu, sementara Faraz terus tersenyum lebar apa lagi melihat Afsana yg malu malu pada nya.


"Mata, Adik ipar. Masih belum halal" ejek Amar yg mengundang tawa geli semua orang dan Faraz langsung menatap tajam Amar.


Balas dendam neh orang.


Afsana sendiri semakin tersipu.


"Kenapa harus dengan cara seperti ini, Kak? Ana kan malu, itu.. Itu buku diary Ana" Afsana berkata pelan. Faraz menunjukan buku diary nya pada semua orang dan itu sangat memalukan.


Namun semua orang terlihat sangat bahagia dengan hal itu, terutama Lita dan Asma. Setelah sepupu, kini mereka akan jadi besan.


Hubab dan Bilal pun juga tak kalah bahagia nya. Hubab sendiri tak pernah menyangka putri nya bisa mencintai Faraz. Afsana sangat pintar menyembunyikan perasaan nya ternyata.


"Supaya keluarga kita tahu, An. Kalau kita saling mencintai, dan kita tidak akan membuat sebuah hubungan di belakang mereka, apapun yg kita lakukan atau yg akan kita putuskan, itu akan berjalan hanya setelah mereka merestui"


"Nah, kalian berdua bahagia kan?" tanya Maryam lagi yg bertindak seperti wartawan saja, bertanya sambil merekam.

__ADS_1


Mau bagaiamana lagi, saat di beri tahu bahwa Faraz ingin memberi kejutan seperti ini untuk Afsana. Maryam langsung melompat girang, akhirnya dugaan nya memang tak salah. Dan untuk moment bahagia ini, tentu harus di abadikan. Apa lagi mengingat bagaimana tidak peka nya Faraz dengan perasaan nya dan pada akhir nya ia menyadari nya.


"Hentikan, Marry" pinta Afsana lagi namun Maryam tak menanggapi nya.


Maryam merekam semua orang yg ada disana dan terus mengungkit bahwa ia sudah sejak lama menduga Faraz menyukai Afsana tapi tak ada satupun orang yg percaya.


"Tapi aku percaya, Sayang" seru Amar dan seketika Maryam tertawa.


"Iya, cuma Amar yg percaya sama Maryam"


"Ya karena dia cinta sama kamu, apapun yg kamu katakan dia pasti percaya" sanggah Faraz.


"Bukan karena itu aku percaya, Faraz. Tapi aku melihat sendiri, di pernikahan Mbak Laila, saat Rafa mengatakan akan mengambil Afsana, kamu terlihat marah dan tidak terima. Itu semua terlihat di mata mu"


"Suami istri sama saja, sama sama sok tahu"


"Bukan sok tahu, tapi kami benar benar tahu, sekarang sudah terbukti" balas Maryam ngotot yg membuat Faraz tak bisa lagi membalas ucapan nya.


"Oh ya, Ummi. Cincin nya, sebagai tanda kalau Kak Faraz sudah meminang Ana, jadi kalau ada pria yg ingin meminang Ana, harus langsung di tolak ya! Terus nikah nya kapan nih?"


Asma tertawa geli dengan tingkah putri nya yg tampak nya tak sabar ingin melihat Faraz dan Afsana bersatu.


"Ngomong nya satu satu dong, Maryam" seru ayahnya yg membuat Maryam cengengesan.


Kemudian Afsana Faraz memberikan sebuah cincin permata pada ibunya.


Asma meminta tangan Afsana, dan dengan gugup Afsana mengulurkan tangan nya.


Asma menyematkan cincin itu di jari manis Afsana.


Dan soal pernikahan, Faraz sudah membicarakan itu pada kedua orang tuanya dan kedua orang tua Afsana. Faraz akan menikahi Afsana setelah Afsana menyelesaikan pendidikannya.


"Cantik" gumam Asma, kemudian mencium pipi Afsana.


Maryam masih setia merekam semua adegan bahagia itu.


"Jadi, bisa kita makan malam? Aku sangat lapar" seru Hubab.


"Makan malam sudah siap" jawab Lita kemudian membawa semua orang ke meja makan.


Di meja makan sudah ada banyak sekali makanan.


"Ummi yg masak semua ini?" tanya Afsana, apa lagi di sore hari nya ia memang melihat Ummi nya yg tampak kacau.


"Ya, di bantu Maryam"


"Marry kesini?" Maryam mengangguk, dan sekarang Afsana mengerti kenapa ia di larang turun.


"Ini untuk merayakan cinta Kak Faz dan kamu" tutur Maryam.


Afsana masih tak percaya dengan apa yg terjadi, hal yg tak pernah ia bayangkan sama sekali. Dan bahkan dia mendapatkan jawaban dari perasaan nya lebih cepat dari yg dia perkirakan, dan jawaban nya tak pernah ia bayangkan akan seindah ini.


Mereka semua duduk di kursi nya masing masing, Asma membantu calon menantu nya itu duduk.


Maryam yg melihat kebahagiaan di wajah mereka, berharap akan selalu melihat kebahagiaan yg sama setiap hari.


"Letakkan handycam nya, Sayang. Ayo makan" seru Amar lembut, mengambil handycam dari tangan Maryam dan meletakkanny di tas Maryam.


Melihat itu, Asma juga bahagia, kedua anak nya mendapatkan pasangan yg sangat mencintai mereka.


Dan anak anak nya akan menjalani pernikahan seperti yg Asma inginkan. Yaitu atas dasar cinta.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2