Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 118


__ADS_3

"Dia ngambil uang cuma 50 juta, apa yg bisa dia dapatkan dengan uang 50 juta?" Amar seolah bertanya pada dirinya sendiri. Ia baru tahu kalau Rossa hanya menarik uang 50 juta.


"Entahlah, mungkin Mama mau buka usaha"jawab Maryam sambil menidurkan Baby Ezra di box.


Maryam yg sudah sangat membaik di izinkan Dokter untuk pulang, namun tentu Maryam di haruskan tetap beristirahat dan tidak boleh terlalu lelah.


"Dengan uang segitu? Emang nya cukup?" tanya Amar lagi yg membuat Maryam hanya bisa mengulum senyum, Maryam berfikir seperti nya Amar tidak pernah hidup kekurangan, Amar terlahir dari keluarga yg bergelimang harta.


"Ya cukup, tergantung usaha apa dan dimana" jawab Maryam, kemudian ia naik ke atas ranjang dan langsung berandar di pundak suaminya yg sejak tadi menunggu nya "Aku senang kamu mau melepaskan rasa benci mu, itu arti nya beban hidup mu berkurang satu"


"Ini berkat kamu, terima kasih banyak sudah mau menerima ku sebagai suami mu"


"Kembali kasih"


.


.


.


Setelah Maria menidurkan putri nya, ia kembali membaca tulisan nya. Dua buku yg belum ia temukan klimaks yg tepat, dan di tengah ke seriusan nya. Maria di kagetkan dengan dering ponsel nya dan ternyata itu Nabil. Tanpa sadar Maria tersenyum, cukup lama Nabil tak menghubungi nya, atau mungkin itu hanya perasaan nya saja?


"Apa?" tanya Maria sedikit ketus dan terdengar tertawa di seberang telpon.


"Ketus amat neng, lagi dapet?" Maria mendengus mendengar pertanyaan Nabil itu.


"Ada perlu apa? Baby Khair udah tidur" ucap nya lagi karena memang biasanya Nabil menelepon juga cuma mau menanyakan anak nya.


"Oh, ya udah. Aku telpon besok aja kalau dia bangun"


Dan tepat setelah mengucapkan hal itu, Nabil benar benar memutuskan sambungan telpon nya yg membuat Maria hanya bisa menganga.


"Bener bener aneh, mau telpon pas Khair bangun juga percuma, wong dia belum bisa bicara"


"Lagian aneh banget, bapak nya juga bukan. Ngapain tanyain anak ku terus, tanyain ibu nya kek, katanya teman"


"Pengen ngadopsi anak kali ya...."


"Huff, tau ah"


Setelah puas menggerutu, Maria kembali fokus pada pekerjaannya, membaca kembali tulisan nya hingga terdengar suara anak nya yg merengek. Maria pun segera meninggalkannya aktifitas nya dan kini mengurus buah hati nya yg ternyata popok nya sudah penuh.


Maria pun mengganti nya dengan yg baru, kemudian ia menyusui Baby Khair hingga sang buah hati kembali terlelap.


Maria memandang wajah anaknya lekat lekat, dan setiap malam, setiap kali ia memandang anak nya, maka itu akan mengingatkan Maria pada masa lalu nya. Pada kesalahan dan dosa nya, Khair adalah buah dari kesalahan dan kebodohan nya, namun anak nya itu suci, karena siapa pun takkan mau terlahir karena sebuah kesalahan.


"Mama akan berjuang keras supaya kamu mendapatkan kehidupan yg jauh lebih baik dari kehidupan Mama, Sayang. Tapi kamu jangan nakal nanti ya, nurut sama Mama. Karena Mama engga mau kamu terjerumus ke lubang yg sama seperti Mama"


Bagi Maria, anak nya adalah sebuah anugerah sekaligus hukuman dalam hidup nya. Namun apapun itu, sekarang Maria hanya harus mensyukuri hidup nya, dan berjuang keras demi hidup anak nya. Buah hati tercinta nya.


.


.


.


Di pagi hari nya, Maria kedatangan tamu yg sama sekali tak pernah Maria duga, kedua orang tua Alex, Sintia dan Sony. Maria bahkan merasa gugup melihat mereka berdiri di depan Maria saat ini.

__ADS_1


"A.. Ada yg bisa ku bantu, Om, Tante?" tanya Maria berusaha bersikap tenang.


"Apa kabar, Maria?" tanya Mama nya Alex .


"B... Baik" jawab Maria.


"Kami ingin bicara hal yg penting, Maria. Boleh kami masuk?" tanya Sony. Maria pun mempersilahkan mereka masuk.


Sintia dan Sony memperhatikan rumah Maria yg cukup besar dan mewah, namun mereka tahu rumah itu hanya sebuah warisan sementara hidup Maria sendiri sebenarnya hanya pas pasan.


Maria mempersilahkan kedua orang tua Alex itu untuk duduk.


"Mau saya bikinkan teh atau kopi?" tanya Maria masih merasa gugup.


"Engga usah" jawab Sintia dingin "Kami ke sini hanya ingin bertanya, benar kah anak mu itu anak Alex?" tanya nya dan Maria mengangguk "Kalau kami ingin melakukan tes DNA, apakah kamu akan mengizinkan?"


Maria terdiam sejenak, benak nya bertanya tanya apa yg di inginkan kedua orang tua Alex dari nya. Dan kenapa baru sekarang mereka mempertanyakan anak Maria.


"Ya, tapi untuk apa?" tanya Maria penasaran.


" Aku ingin mengambil hak asuh anak mu, jika dia memang cucu kami" tegas Sony yg membuat Maria langsung merasa lemas namun kemudian ia tertawa kecil.


"Maaf, Om. Tapi Alex sendiri engga mau mengakui anak ku. Dan sekalipun memang sangat benar Khair anak Alex, tapi aku engga akan kasih dia ke Om dan Tante" tegas Maria.


"Ayo lah, Maria. Kamu akan tetap jadi ibu nya, hanya saja anak pertama ku, Gilang. Kamu tahu kan dia sudah menikah sejak lama dan belum di karuniai anak?"


"Lalu apa hubungan nya dengan Baby Khair?"


"Tentu saja ada, dari pada Gilang mengasuh anak orang lain dari panti asuhan, lebih baik dia mengasuh darah daging nya sendiri"


Maria kembali tertawa hambar, dan ia menggeleng.


"Aku meminta dengan cara baik baik, Maria. Jangan sampai aku menempuh jalur hukum, dan kamu pasti kalah. Karena kamu engga akan bisa membiayai anak mu seperti kami, kamu merawat nya sendirian dengan uang yg pas pasan. Itu akan menjadi kekalahan telak di pengadilan. Dan anak mu adalah darah daging kami juga, kami juga punya hak yg sama dengan mu"


Maria menarik nafas dan ia tak bisa membendung air mata nya mendengar ancaman mereka, Maria menjadi sangat takut.


"Sebaiknya kalian pergi..." tegas Maria sambil menghapus air matanya.


"Maria..."


"Aku bilang pergi..." teriak Maria sambil berdiri, kedua orang tau Alex tampak sangat marah namun mereka harus pergi.


Setelah mereka pergi, Maria berbalik hendak naik ke kamar nya namun ia di kejutkan dengan Bi Siti yg berdiri sambil memegang ponsel Maria yg menayala.


"Tuan Nabil...." cicit Bi Siti sambil memberikan ponsel nya pada Maria.


"Sejak kapan?" bisik Maria, ia berharap jangan sampai Nabil mendengar apa yg mereka bicarakan.


"Barusan sih, tapi seperti nya sempat dengar" ujar Bi Siti yg ikut berbisik.


Maria menarik nafas, tersenyum, dan menyapa Nabil dengan suara yg ia buat girang.


"Anakku tidur lagi" ucap Maria.


"Kamu ibu kandung nya, mereka engga punya hak yg sama dengan mu" Ujar Nabil yg membuat Maria menghela nafas berat.


"Selain itu mereka juga engga pernah membiayai mu atau menjaga mu di masa kehamilan mu, dan dimana mereka saat kamu melahirkan. Kenapa baru datang sekarang? Dan anak mereka juga menolak bertanggung jawab pada mu dan menolak mengakui anak mu, itu juga akan jadi kekalahan telak untuk mereka di pengadilan nanti"

__ADS_1


Tutur Nabil panjang lebar yg membuat merasa merasa terhibur dan kembali tersenyum.


"Terima kasih" ucap Maria "Tapi kalau mereka benar benar menuntut untuk ngambil anakku gimana?"


"Hanya ada satu jalan keluar. Kamu nikah sama aku, Baby Khair jadi anak kita. Dia punya ibu, punya ayah, punya keluarga besar, dan yg pasti semua kebutuhan nya akan terpenuhi"


"Innalillah..." satu jawaban Maria itu berhasil membuat Nabil tertawa geli.


.


.


.


Granny Amy menyarankan agar Amar memperbolehkan Rossa tinggal bersama mereka, agar hubungan mereka menjadi lebih baik. Maryam pun sangat menyetujui usulan nenek nya itu. Awal nya Amar menolak, namun Maryam membujuknya pelan pelan dan akhir nya Amar menyetujui nya.


"Bagaiamana? Apa kamu setuju Rossa tinggal di sini?" tanya Granny Amy yg baru datang seperti nya habis belanja. Ia ikut bergabung bersama Maryam dan Amar yg saat ini sedang sarapan.


"Granny dari mana pagi pagi begini?" tanya Amar karena jam masih menunujukan pukul 9.


"Belanja keperluan cicit Granny dong" ujar Granny Amy dengan senyum lebar, kemudian ia duduk di salah satu kursi dan mengeluarkan beberapa buku anak anak dari paper bag yg dia bawa. Maryam dengan antusias memeriksa nya namun kemudian ekspresi wajah nya berubah saat melihat buku apa itu.


"Apa, Sayang?" tanya Amar karena melihat ekspresi Maryam yg tampak aneh.


"Buku gambar, tapi.... Lihat deh" Maryam menyerahkan buku itu pada Amar dan seketika Amar tertawa.


"Ini bahasa Urdu, Granny" ujar nya kemudian ia memeriksa semua isi paper bag dan ternyata semua adalah buku yg berisi gambar hewan, manusia, dan yg lain nya namun semua nya menggunakan bahasa Urdu. Dan yg lebih membuat Amar tak habis fikir nenek nya bahkan membeli buku untuk mempelajari dasar dasar bahasa resmi Pakistan itu.


"Ya memang, Granny mau nya Baby Ezra belajar bahasa Urdu sejak dini. Biar dia engga lupa asal muasal nya" jawab Granny Amy.


"Bahasa inggris lebih penting, bahasa internasional. Apa lagi di dunia bisnis zaman sekarang. Jadi biar Baby Ezra belajar bahasa inggris lebih dulu" ujar Amar kemudian memasukan kembali semua buku itu ke paper bag nya.


"Ya bahasa kakek moyang nya juga penting. Belajar bahasa inggris kan gampang, bisa di sekolah. Kalau bahasa Urdu kan jarang orang mempelajari nya"


Dan Maryam hanya bisa memijat kepala nya mendengar perdebatan suami dan nenek nya itu. Fifi dan Nur yg mendengar itu juga hanya tertawa geli. Baby Ezra bahkan belum bisa mengucapkan sepatah kata pun, dan mereka sudah memperdebatkan bahasa yg akan di pelajari Baby Ezra.


"Tuan, Nyonya... Kalau saya boleh kasih saran..." Nur yg sedang menuangkan air untuk Maryam pun bersuara.


"Kasih saran apa, Nur?" tanya Maryam.


"Sebaiknya ajari Baby Ezra bicara dulu, baru nanti putuskan mau belajar bahasa yg mana lebih dulu" ujar Nur yg langsung membuat Maryam tertawa geli.


"Bener banget, lagian Baby Ezra tuh cuma bisa nangis sekarang, Amar, Granny. Insya Allah nanti kalau Baby Ezra tumbuh dengan sehat dan cerdas, dia bisa belajar dua bahasa itu bersamaan" tutur Maryam.


"Ya deh, ya udah ini simpan baik baik ya" ucap Granny menyerahkan paper bag itu pada Maryam.


"Kalau menurut kamu sendiri, Baby Ezra belajar bahasa apa yg paling penting, Sayang?" tanya Amar kemudian.


"Bahasa arab, aku mau nya dia bukan hanya hafal Quran, tapi aku mau dia mempelajari tafsir Quran dan Hadist"


Amar dan Granny Amy saling pandang, kemudian Kedua nya hanya bisa berdeham dan mengulum senyum samar. Sementara Nur yg mendengar itu hanya bisa menganga.


"Semoga Baby Ezra di karuniai kecerdasan tingkat tinggi ya, biar bisa memenuhi kemauan semua orang" ucap Nur yg lagi lagi membuat Maryam tertawa geli.


"Aamiin, inysa Allah, Nur" jawab Maryam.


Maryam sadar, sebagai ibu dia harus memiliki cita cita yg besar dan mulia untuk anak nya, mempersiapkan anak nya untuk jalan hidup yg luar biasa. Namun ia juga sadar, ia tak memiliki kewajiban dan keharusan bahwa semua keinginan nya terhadap anak nya harus terpenuhi, dia hanya berkewajiban untuk berusaha melakukan yg terbaik.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2