
Maria segera membuka pintu setelah mendengar suara ketukan beberapa kali, dan ia cukup terkejut ketika mendapati Nabil berdiri di depan pintu dengan senyum yg merekah. Yg tentu saja membuat Maria merasa sedikit aneh, Maria fikir setelah menolak lamaran Nabil, maka Nabil tidak akan menghubungi nya lagi, namun nyatanya kini Nabil malah bertamu kerumah nya.
"Hai... Assalamualaikum" sapa Nabil sembari menghela nafas.
"Wa..Waalaikum salam" jawab Maria sedikit merasa gerogi.
"Boleh aku masuk?" tanya Nabil dan Maria pun mempersilahkan nya dengan sedikit canggung "Dimana Baby Khair?" tanya Nabil sembari mendaratkan bokong nya di sofa, mengambil remote TV dan menyalakan nya tanpa sungkan. Seperti rumah sendiri.
"Ti.. Tidur" jawab Maria yg masih merasa aneh dengan sikap Nabil.
"Hem bangunkan dia, kita akan jalan jalan hari ini"
"Apa?" Maria masih berdiri dan menatap Nabil yg malah asyik menonton TV.
"Aku bilang kita akan jalan jalan hari ini, karena besok sore aku sudah harus kembali ke Mekkah. Karena aku sudah bekerja di rumah sakit disana, aku engga boleh cuti terlalu lama"
Maria tiba tiba terdiam dan menunduk. Ia berfikir pasti akan mudah bagi Nabil untuk melupakannya dengan jarak sejauh itu, fikir nya. Namun Maria langsung menggelengkan kepala nya dan mengusir fikiran yg aneh itu, padahal seharusnya ia senang jika Nabil melupakannya.
"Maria, malah melamun. Ayolah, aku cuma mau menghabiskan waktu bersama Baby Khair, bukan dengan mu" tegas Nabil yg membuat Maria tersenyum kaku.
"Gitu ya, hemm ya udah. Tunggu sebentar"
Maria segera naik ke kamar nya dan sebenarnya ia merasa bodoh kenapa harus selalu mengikuti apapun yg di katakan Nabil.
"Bukan bodoh, hanya sebagai tanda terima kasih atas bantuan nya selama ini. Thats it" batin Maria membela diri.
Kemudian ia memasukan barang barang Baby Khair yg mungkin akan di butuhkan nanti ke dalam tas dan setelah itu ia pelan pelan menggendong putri nya yg sedang terlelap itu.
__ADS_1
"Biar aku yg gendong dia" seru Nabil sembari berlari ke Maria yg saat ini ada di tengah tangga.
"Engga usah, nanti tangan mu pegal" ucap Maria. Namun Nabil memaksa nya, Maria pun sekali lagi mengikuti saja apa yg Nabil mau. Kemudian keluarga nya segera pergi setelah berpamitan pada Bi Siti.
"Oh ya, kamu duduk belakang ya. Di depan ada Ummi"
"Hah?"
Maria menjadi sangat gugup ketika Nabil mengatakan hal itu, bahkan terlintas dalam benak nya untuk membatalkan acara keluar nya namun Nabil sudah berjalan menuju mobil nya. Dan benar saja, Shofia turun dari Mobil dan tanpa di sangka, ia malah langsung meminta Khair pada Nabil. Nabil pun memberikan nya.
"Biar Tante yg gendong dia" ucap Shofia. Maria yg masih merasa canggung hanya bisa mengangguk sungkan.
Nabil membukakan pintu untuk ibu nya kemudian untuk Maria namun Maria mencegahnya.
"Aku bisa sendiri, terima kasih, Nabil" gumam nya. Nabil pun masuk kedalam mobil dan segera menjalankan mobil nya.
Di mobil, Shofia menimang Baby Khair dan Shofia tak bisa menghentikan bibir nya tersenyum melihat anak Maria yg sangat mungil dalam tidur nya itu. Shofia merasa jatuh cinta saat pertama kali melihat nya tadi.
Sebenarnya, itu adalah ide Shofia. Dia ingin tahu seperti apa sebenarnya wanita yg sangat di cintai anak nya itu meskipun sudah tahu bahwa wanita itu mencintai saudara nya. Selain fakta maupun sekedar berita yg Shofia dengar tentang Maria, membuat Shofia merasa tak bisa menerima jika anak nya mencintai Maria.
Dan kemarin sore, ketika Shofia menghampiri Asma setelah mengajar di salah satu kelas di pesantren, ia mendapati Asma yg sedang berbincang sangat serius dengan seorang santri yg masih sangat muda. Asma memperkenalkan santri itu yg tak lain adalah Anggi, yg Asma dan Anggi bicarakan adalah tentang Anggi yg masih tak bisa melupakan masa lalu kelam nya, dia masih merasa hancur, kotor, dan juga menyesal. Anggi juga menceritakan apa yg dia rasa kan sejak ada di pesantren dan perubahan apa saja yg terjadi dalam hidup nya.
Biasanya Anggi berbicara dan bercerita pada Maryam, tapi jika Maryam tak ada maka Anggi berbicara dengan Asma karena bagi Anggi, anak dan ibu itu memiliki pemikiran yg sama.
Di sana lah Asma bercerita tentang siapa Anggi, asal usul nya, dan apa yg membuat dia bisa berada di pesantren saat ini. Semua itu terjadi berkat Maria. Asma juga mengatakan jika seseorang pernah mengalami sebuah luka, maka dia tak akan ragu menolong orang lain yg memiliki luka yg sama dengan dirinya. Dan pertolongan Maria yg juga pernah ada pada posisi Anggi membawa perubahan yg besar dalam hidup Anggi dan bahkan keluarga nya juga akan selalu merasa berhutang budi dan berterimakasih pada Maria.
Saat itulah Shofia ingin mengenal Maria lebih dekat lagi.
__ADS_1
"Apa rencana mu saat ini, Maria?" tanya Shofia.
"Hanya fokus merawat Baby Khair, Tante" jawab Maria.
"Sendirian?" tanya Shofia lagi yg membuat Maria sedikit salah tingkah.
"Inysa Allah, Allah akan memberi jalan, Tante" jawab Maria lagi. Shofia mengangguk anggukan kepala nya.
"Semoga Allah memberi jalan yg terbaik" ucap Shofia kemudian.
Nabil membawa mereka ke sebuah taman anak anak, Shofia turun dan seketika Baby Khair bangun dan langsung menangis. Maria hendak meminta nya tapi Shofia bisa dengan mudah menenangkan Baby Khair.
"Dia pasti haus, kamu bawa susu nya?" tanya Shofia dan Mario mengangguk, ia mengambil botol susu yg tadi dia siapkan karena ia sudah menduga anaknya pasti bangun karena tidur nya sudah cukup lama.
Shofia membawa Baby Khair duduk di kursi, ia kembali menimang nya, sesekali bercanda sambil memberikan susu nya. Maria berdiri di sisi Shofia seperti seorang bodyguard.
Dan ketika Shofia berjalan sembari terus bercanda dengan Baby Khair, Maria terus mengikuti nya dari belakang.
"Maria, aku engga mungkin menculik anak mu. Biarkan kami jalan jalan, kamu tunggu saja di kursi sana" ucap Shofia yg membuat Maria kembali canggung. Sementara Nabil yg mendengar itu tertawa geli.
"Eh.. Em bukan gitu, Tante. Aku cuma takut Baby Khair ngerpotin, atau takut nya nanti Tante pegal" cicit Maria.
"Engga lah, aku sudah pernah jadi ibu. Jadi aku tahu cara ngurus bayi" ucap Shofia "Ya kan, Nak... Masya Allah. Kamu punya mata yg berbinar ya, semoga mata indah mu ini hanya memandang yg baik baik ya..." gumam nya pada Baby Khair.
Sekali lagi Shofia memerintahkan Maria untuk tak mengikuti nya, Maria pun kembali duduk di kursi yg segera di ikuti Nabil. Kedua nya di masing masing ujung kursi, namun tak ada yg mengeluarkan suara. Semua nya sama diam diam dengan kesibukan fikiran nya masing masing.
Nabil sibuk memandangi ibu nya yg terlihat senang bermain bersama putri Maria. Sementara Maria sibuk dengan perasaan aneh nya yg tak bisa ia mengerti, perasaan yg sebenarnya sangat indah. Keluar ke tempat terbuka bersama Nabil dan ibu nya juga Baby Khair, Maria merasa sangat bahagia. Untuk sesaat ia merasa hidup nya sempurna.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...