Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 30


__ADS_3

Maryam tidak tahu harus bereaksi seperti apa melihat kedatangan Amar. Bukan terkejut tapi...


"Selamat datang di rumah kami, Tuan Degazi" Rafa yg menyapa dan berjabat tangan dengan nya.


Sementara Yasmin dan Firda tak bisa mengalihkan pandangan nya dari Amar, dan Afsana terus terkikik geli bahkan membuat Maryam harus mencubitnya supaya diam.


Bagaiamana tidak?


Amar datang dengan sebuah mobil mewah lengkap dengan sopir dan yg pasti itu bukan Bobby. Amar mengenakan setelan jas Cardinal abu abu nya di padukan sepatu Gino Mariani hitam. Sangat formal.


"Dia mau menjemput mu atau menemui presiden sih?" tanya Yasmin.


"Ya Allah, Mbak... Ganteng banget, tajir lagi, kayak di film film yg Firda tonton" Firda menimpali dengan mata berbinar melihat pemuda yg bak dewa yunani itu.


"Dia jemput Maryam pakek jet pribadi lho" tutur Afsana "Dia juga mengirimkan dua bodyguard buat Maryam. Kurang sempurna apa lagi coba"


"Hush, diam deh" geram Maryam.


Mereka mengintip kedatangan Amar dari jendela kamar Maryam. Bahkan Maryam sendiri terkejut dengan penampilan sangat formal Amar, dan oh ayolah... Itu adalah pedesaan, ya meskipun tidak benar benar desa seperti rumah Fatimah, lebih tepatnya mereka tinggal di pinggiran kota.


Tapi datang dengan penampilan seperti itu? Tentu itu sangat mencolok dan menarik perhatian semua orang.


"Dia kayaknya mau nginep deh, bawa koper dia tuh" ujar Yasmin lagi yg melihat sopir Amar membawa koper. Sementara Amar sendiri membawa sebuah paper bag kecil di tangan nya.


Terlihat Rafa mempersilahkan Amar masuk. Sementara paman dan Tante Tante Rafa sedang mengajar, sehingga yg menyambut Amar hanya Rafa dan juga suami Yasmin yg bernama Khalid.


Sementara Abi Rahman dan Adil sedang dalam perjalanan pulang setelah mengisi sebuah kajian di desa tetangga nya.


"Silahkan duduk" Khalid mempersilahkan Amar duduk. Sementara Rafa pergi ke belakang untuk memunta Bi Ida membuatkan teh sekaligus menemui nenek nya dan memberi tahu Amar sudah datang.


Yasmin dan yg lain nya pun segera menghampiri Rafa.


"Raf..." panggil Yasmin pada Rafa yg sedang meminta Bi Mina membuatkan teh.


"Kenapa, Mbak?" tanya Rafa.


"Yakin teh aja cukup? Apa dia mau minum teh biasa? Dia seorang presdir lho" goda Yasmin yg di tunjukan pada Maryam.


"Ish, kasih air putih aja juga sudah cukup" balas Maryam menekuk wajah nya "Nenek mana?" tanya nya kemudian.


"Nenek masih mau sholat Dzuhur" jawab Rafa.


"Sambil nunggu nenek, kita kenalan sama calon suami nya Mbak Maryam yuk, Mbak" ujar Firda girang sambil menarik Yasmin. Tak peduli perintah Rafa agar Firda tak keluar. Afsana pun juga menarik Maryam kekuar dan alhasil, ke empat wanita itulah yg menemui Amar.


"Yasmin, dimana nenek?" tanya Khalid pada istri nya itu.


"Lagi sholat, Mas. Sebentar lagi keluar" jawab Yasmin sambil memandang Amar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Begitu juga dengan Firda yg terang terangan menatap Amar dengan mata nya lebar bahkan membuat Amar sampai salah tingkah.


"Assalamualaikum, Kak. Nama ku Firda, aku adik sepupu nya Mbak Maryam" seru Firda sambil tersenyum lebar.


"Waalaikum salam, Firda. Aku Amar..."


"Calon suami nya Mbak Maryam" potong Firda cepat yg membuat Maryam tersipu dan Amar hanya tersenyum geli karena melihat seperti nya Firda tipe gadis yg energik.


"Firda, sebaiknya kamu masuk. Kenapa kamu engga sekolah?" tanya Khalid.


"Penasaran sama calon suami nya Mbak Maryam, jadi pengen ketemu dulu" jawab Firda terang terangan yg membuat Yasmin langsung mencubit pinggang nya.


"Sekarang sudah melihat nya, kan? Sebaiknya kamu pergi ke sekolah atau Abi mu akan memarahi mu" ujar Khalid lagi dan Firda tampak nya tak menyukai perintah itu. Ia malah duduk di samping Khalid dan menarik Yasmin juga duduk, sementara Afsana dan Maryam hanya berdiri.

__ADS_1


"Kak Amar, Kakak kerja apa? Usia kakak berapa? Terus kakak tinggal nya dimana? Kalau sudah nikah nanti, sering sering datang kesini ya"


"Firda..." desis Maryam antara kesal pada Firda dan malu pada Amar. Namun Amar menanggapi nya dengan tawa kecil.


"Aku punya beberapa perusahaan di berbagai bidang, usia ku 28 tahun, dan tentu aku tinggal nya di Jakarta. Dan Inysa Allah nanti kami akan sering berkunjung ke sini" jawab Amar sambil melirik Maryam yg sekali lagi membuat Maryam tersipu, karena jawaban terakhir Amar seolah memastikan bahwa mereka bener bener akan menikah.


"Wah, selisih 8 tahun ya sama Mbak Maryam. Kalau perusahaan nya banyak, kaya dong"


"Firda..." kali ini Maryam berkata dengan sedikit tajam, kemudian ia menarik Firda dan hendak membawa nya masuk, sementara yg lain hanya bisa geleng geleng kepala dengan tingkah Firda.


"Maaf, Amar. Dia kalau ngomong memang suka gitu" ucap Maryam.


"Engga apa apa, oh ya aku bawa oleh oleh untuk kalian, mungkin Firda juga suka. Ada beberapa cemilan di dalam"


Amar menyerahkan koper yg tadi sopir nya bawa itu pada Maryam.


"Satu koper?" pekik Firda girang "Wah, apa aja isi nya?" Firda sudah bergerak ingin membuka koper itu namun dengan cepat Afsana mencegah nya.


"Terima kasih, Amar. Kami pasti menyukai nya" ujar Afsana kemudian Afsana dan Maryam menarik paksa Firda masuk sebelum gadis kecil itu membuat mereka semakin malu.


"Dia memang seperti itu, mirip Tante nya. Bar bar" ujar Yasmin.


"Tente nya?" tanya Amar


"Iya, Tante Asma. Ibu nya Maryam"


"Oh, aku fikir dia wanita yg anggun"


"Ya, sejak punya anak dia berubah. Sewaktu muda dulu, semua orang di buat pusing dengan sikap bar bar dan ke kanakan nya. Tapi untung aja sifat buruk nya itu engga nurun ke Maryam"


"Ya, Maryam gadis yg kalem" lirih Amar.


"Itu pasti kakek" ujar Yasmin kemudian bergegas membuka pintu dan benar saja kakek nya sudah datang bersama Abi nya Yasmin.


"Amar sudah datang?"tanya Abi Rahman.


" Iya, Kek. Di dalam lagi ngobrol sama Mas Khalid"


"Maryam dimana?" tanya Adil pada putri nya itu.


"Di dalam, Bi. Sama Ana dan Firda" jawab Yasmin kemudian mengekori ayah dan kakek nya itu masuk.


Di dalam, ternyata Ummi Kulsum sudah berada di ruang tamu dan tampak menyapa Amar.


"Assalamualaikum" ucap Abi Rahman yg juga tampak terkejut dengan penampilan sangat formal Amar. Biasanya tamu yg datang kerumah nya itu berpakaian casual atau mengenakan baju koko.


"Waalaikum salam" jawab Amar kemudian berdiri dan berjabat tangan dengan Adil dan Abi Rahman bergantian.


"Apa sudah lama, Amar?" tanya Abi Rahman sembari duduk didepan Amar dan begitu juga Adil. Bersamaan dengan itu, Bi Ida dan Rafa datang membawa teh dan juga kue kering buatan Ummi Kulsum. Sementara Yasmin segera menyusul adik adik nya ke dalam kamar Maryam.


" Tidak, Tuan. Baru saja" jawab Amar yg membuat Abi Rahman tertawa kecil karena memanggil nya Tuan.


"Jangan panggil Tuan, panggil saja kakek" ujar nya dan Amar pun mengangguk canggung.


"Bagaiamana kabar mu dan keluarga, Amar?" kali ini Adil yg bertanya.


"Kami sangat baik, terima kasih" ucap Amar.


Amar merasa bodoh, karena ia gugup, dan kenapa gugup ia pun tidak tahu. Amar sudah pernah bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan, entah dari kalangan bisnis nya, orang orang politik, menteri bahkan dia pernah bertemu dengan presiden tapi ia tak pernah merasa segugup ini. Amar seperti tidak tahu harus bersikap seperti apa didepan mereka yg memilik aura berbeda dari orang orang yg biasa Amar temui.

__ADS_1


"Kamu terlihat canggung, Nak" suara lembut Ummi Kulsum membuyarkan lamunan nya "Santai saja, kami di sini keluarga mu" lanjut nya.


"Hem iya" jawab Amar sungkan seperti seorang gadis yg menemui calon mertuanya.


"Oh ya, saya ada bawa hadiah untuk Tuan eh kakek dan nenek" ujar Amar kemudian mengeluarkan isi paper bag itu dan menyerahkan satu kotak kecil untuk Abi Rahman dan juga untuk Ummi Kulsum "Saya harap kalian menyukai nya"


"Apa ini?" tanya Ummi Kulsum sambil membuka kotak itu, dan betapa terkejut nya ia melihat sebuah kalung berlian yg pasti sangat mahal "Amar, maaf nenek engga bisa nerima ini" Ummi Kulsum menutup kembali kotak itu dan menyerahkan nya kembali pada Amar.


"Benar, kami engga bisa terima hadiah semahal ini" sambung Abi Rahman yg melihat jam tangan mahal sebagai hadiah nya itu.


"Itu hadiah, Kek. Saya akan sangat sedih jika hadiah saya di tolak" ucap Amar dengan tatapan memohon agar kakek nenek Maryam itu mau menerima nya.


"Tapi ini..."


"Saya mohon..." sela Amar sebelum Ummi Kulsum berbicara.


"Tidak, Amar. Ini berlebihan, Nak" seru sang nenek.


"Tidak ada yg berlebihan dalam memberikan hadiah untuk menunjukan cinta, kan? Saya mencintai cucu kalian, dan tentu saya juga akan mencintai apa yg dia cintai"


"Saya mohon, terima lah hadiah itu bukan dari Amar Degazi, tapi dari Amar yg ingin memperistri cucu kalian"


Kakek nenek Maryam itupun mau menerima hadiah itu. Dan mengucapkan terima kasih pada Amar.


"Oh ya, ceritakan tentang dirimu, Amar" ujar Adil "Kamu masih sangat muda, tapi sudah se sukses ini. Bagaiamana bisa? Dan bagaiamana cerita nya kamu bisa mencintai keponakan kecil ku itu?"


"Entahlah, semuanya terjadi begitu saja. Bahkan aku sendiri tidak mengerti" jawab Amar.


Kemudian mereka mengobrol tentang beberapa hal dan perlahan rasa canggung Amar pun menghilang, karena mereka sungguh ramah dan membuat Amar merasa nyaman.


Sementara di kamarnya, Maryam hanya bisa geleng geleng kepala melihat Firda yg mengeluarkan semua cemilan dari koper Amar.


"Engga ada satupun dari makanan ini yg di jual di warung sebelah" ujar Firda sembari membaca satu cemilan yg bertuliskan huruf Arab tapi itu bukan bahasa Arab melainkan bahasa Urdu.


"Ini pasti dari Pakistan" ujar Afsana yg melihat cemilan itu.


"Dan ini... Mungkin dari Amerika atau Australia" Yasmin menimpali sambil mengambil satu pack cokelat.


"Yang pasti, semua ini import" lanjut Afsana.


"Pantas di warung engga ada yg jual" balas Firda.


"Bagi bagi nanti itu sama teman mu, Fir" ujar Maryam karena Amar benar benar membawakan satu koper penuh.


"Engga mau" jawab Firda tegas yg membuat ketiga kakak perempuan nya itu melotot.


"Kok pelit sih?" tanya Afsana tak percaya.


"Ya bukan pelit, tapi kalau Firda kurang nanti mau beli dimana? expired nya juga masih lama, jadi semua nya buat Firda ya?" tanya Firda dengan senyum jahil nya.


"Itu banyak banget lho, Fir. Bagi bagi dikit juga engga akan habis" seru Maryam lagi.


"Ya udah deh iya" jawab Firda sambil cemberut "Ini aja bagi bagi nanti" Firda mengeluarkan beberapa bungkus permen dan Maryam ingat saat bertamu ke rumah Amar untuk pertama kali nya, ia di suguhkan permen itu yg katanya dari Malaysia.


"Dasar pelit" ujar Afsana sambil mengambil dua pack cokelat untuk dirinya sendiri.


"Biarin" jawab Firda sambil cekikikan, senang dengan hadiah yg di bawa calon suami Mbak nya itu.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2