
Amar sudah mengurus semuanya untuk ke berangkatan mereka ke pakistan. Namun sebelum itu, dia harus melakukan satu meeting penting dengan wakil perusahaan jepang, karena mereka sudah sampai dan tak mungkin di cancel.
Sementara Maryam, ia pergi ke penjara untuk menjenguk ibu mertua nya.
Rossa langsung memeluk Maryam dan mengucapkan selamat juga mendoakan Maryam dan Amar.
"Maaf ya, Ma. Aku baru ada waktu untuk jenguk Mama"
Rossa tertegun dengan Maryam yg memanggil nya Mama, panggilan yg sudah tak pernah ia dengar lagi selama 15 tahun. Air mata haru Rossa tak bisa di bendung nya.
"Kenapa kamu begitu baik, Maryam? Kamu pasti tahu dosa apa yg sudah aku lakukan pada keluarga ku" lirih Rossa di tengah isak tangisnya.
"Aku hanya manusia biasa, Ma. Aku engga berhak menghakimi kehidupan seseorang. Dan lagi pula, aku yakin Mama udah bertobat dan Mama berhak mendapatkan kesempatan kedua"
"Aku engga berani mengharapkan kesempatan itu, Maryam. Terlalu banyak dosa yg aku lakukan pada putra ku"
"Mama jangan menyerah, terus berdoa meminta sama Allah supaya bisa membukakan pintu hati Amar, karena sesungguhnya hati itu hanya segumpal darah, yg artinya hati itu lembut"
"Inysa Allah, Nak. Terima kasih banyak, Maryam"
"Sama sama, Ma"
.
.
.
Setelah semua siap, Maryam mampir kerumah orang tua nya dan juga ke kediaman kakek nya untuk berpamitan namun Maryam tak menemukan kakak nya.
Setelah itu, baru lah Amar dan Maryam melakukan penerbangan ke Islamabad, Pakistan. Maryam begitu antusias, karena ia tak pernah ke Pakistan, dimana ia begitu suka dengan adat dan pakaian khas Pakistan dan India yg unik.
Di dalam jet nya, Maryam bergelanyut manja pada Amar yg masih sibuk dengan laptop nya. Maryam membelai bekas luka di tangan Amar dan mengecup nya. Itu mengalihkan perhatian Amar dari laptop nya dan kini ia fokus memandang wajah istrinya.
"Ada apa?" tanya Amar lembut.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Maryam pelan.
"Apapun untuk mu, Sayang" jawab Amar cepat.
"Bisa kau membantu Lily dan kedua orang tua nya?"
Amar langsung memicingkan matanya, menatap Maryam lekat lekat.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku kasihan sama Lily, dia harus bekerja padahal masih sekolah. Apa lagi sekarang kakak nya di penjara, Lily juga berhenti dari restaurant. Itu pasti sulit untuk mereka"
"Sayang, putra mereka sudah sangat jahat, apa kamu engga dendam sama mereka"
"Aku benci apa yg pria itu lakukan dan aku senang dia mendapatkan hukuman nya. Tapi hal itu tidak ada hubungan nya dengan keluarga nya"
"Akan ku fikirkan nanti" Amar berkata sembari merangkul pundak Maryam dan mencium pipi nya.
"Jangan terlalu banyak berfikir untuk hal yg baik, tapi dimana mereka sekarang?"
"Di luar kota. Setelah apa yg terjadi tak mungkin mereka tinggal di kota ini"
"Tolong bantu mereka ya, untuk gadis itu"
Amar mengulum senyum dan ia memberikan kecupan kecupan kecil dengan sangat gemas si pipi Maryam.
"Iya"
.
.
.
Faraz dan Hira membawa Maria ke penjara untuk menjenguk ayahnya.
"Maria, apa yg kamu lakukan?" tanya ayahnya karena melihat pergelangan tangan Maria yg di perban.
"Maria menyerah, Dad" bisik Maria di pelukan ayahnya.
"Jangan, Sayang. Selama ini kamu adalah gadis yg kuat, dan kamu akan selalu kuat"
"Tapi apa yg harus Maria lakukan sekarang?"
"Jalani saja hidup mu, Nak. Daddy yakin kamu pasti bisa melewati nya" Maria hanya mampu mengangguk.
"Tuan..." seru Robert pada Faraz.
"Faraz saja, Om" jawab Faraz.
"Faraz" Robert berkata dengan mata yg berkaca kaca "Aku tahu kamu tidak ada hubungan apapun dengan kami selain kamu adalah boss nya Maria, tapi bisakah kamu menjaga putri ku? Dia sebatang kara sekarang, dan belum lagi kehamilan nya, orang orang akan menghujat dia dan mengucilkan nya"
"Jangan khawatir, kami akan menjaga nya" jawab Faraz pelan.
"Bukan itu maksud ku, Faraz. Tapi..." Robert melirik Maria yg masih terisak "Maria mencintai mu, sejak mengenal mu, dia banyak berubah" Faraz menahan nafas, menduga apa yg selanjutnya akan dikatakan oleh Robert.
__ADS_1
"Aku senang membantu nya" jawab Faraz mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Daddy..." Maria memberi isyarat agar ayahnya tak berbicara lagi. Tapi Robert seolah tak menghiraukan nya.
"Faraz, maukah kamu menikahi putri ku?" Faraz terkejut mendengar kata kata itu, walaupun ia sudah menduga nya.
"Maaf, Om. Tapi....."
"Hanya sampai dia melahirkan, Faraz" pinta Robert memelas, membuat Faraz merasa prihatin "Maria sudah menderita sejak kecil, kasian dia jika harus menderita lagi, orang orang pasti akan menggunjing nya, jika anaknya lahir tanpa ayah, maka anaknya juga akan menderita dan orang orang akan menanggilnya anak haram"
"Daddy, please. Jangan libatkan Pak Faraz dalam hal ini" pinta Maria.
Faraz sendiri merasa serba salah, namun tetap saja, ia tak mungkin menerima pemintaan Robert. Tak mungkin ia menikahi wanita yg hamil anak orang lain, dan keluarga nya... Keluarga nya takkan mungkin setuju terutama ibunya.
"Maaf, Om. Kami bisa menjaga dan merawat Maria, dia bisa tinggal di pesantren dan ada banyak wanita yg bisa menjaga nya disana, tapi untuk menikahi nya, itu hal yg sangat besar untukku dan keluarga ku" jawab Faraz dengan sangat hati hati, berharap tak menyinggung Robert apa lagi Maria.
"Engga apa apa, Pak. Pak Faraz engga ada kewajiban sama sekali dengan hidup ku" jawab Maria dengan suara yg tercekat.
Tentu ia mengerti, tak mungkin Faraz menerima wanita yg mengandung benih pria lain.
"Tapi aku bisa membantu mu, Maria. Aku bisa menempatkan mu di kediaman nenek, aku yakin nenek juga mau memabantu, kamu juga engga perlu bekerja lagi, kami akan memenuhi kebutuhan mu dan juga bayi mu"
Faraz tak tahu harus menjelaskan bagaimana, dia hanya mencoba membantu Maria tanpa harus menikahi nya.
Namun Maria salah menanggaapi kata kata Faraz, Maria merasakan sesak di dada nya karena kata kata Faraz membuat ia tersinggung. Seolah Maria pengemis yg butuh pertolongan dan belas kasihan.
"Tidak perlu, Pak Faraz" tegas Maria "Aku bisa menjaga diri ku sendiri" lanjut nya dengan marah.
Sudah cukup Maria merasa malu pada Faraz karena sebelum nya sudah mengungkapkan perasaan nya pada Faraz, kemudian ia hamil, itu sudah membuat nya merasa tak punya muka. Dan sekarang Faraz memperlakukan nya seperti itu.
Tanpa berkata kata lagi, Maria segera pergi dari sana dan Hira segera mengikuti nya.
"Maria, kenapa kamu marah? Maksud Faraz baik" seru Hira sembari mempercepat langkah nya.
"Dia fikir dia siapa?" Maria berkata sembari menangis "Aku memang sendirian tapi aku bisa menjaga diri ku, kenapa dia harus berbicara seolah aku pengemis yg memohon bantuan nya? Dia bilang akan menempatkan ku di kediaman nenek nya, akan memenuhi kebutuhan ku dan bayi ku. Memang nya aku pengemis?"
"Faraz engga mungkin menganggap mu begitu, Maria"
Namun Maria tak memperdulikan teriakan Hira. Ia terus pergi menjauh. Membuat Hira hanya bisa menghela nafas lesu.
Sementara Faraz tak menyangka Maria malah salah menanggapi kata kata nya.
Tak mungkin kan jika Faraz mengatakan akan menbawa Maria kerumah nya? Itu sama saja mengundang fitnah untuk keluarga nya. Sementara jika di kediaman nenek nya, ada banyak wanita yg mengabdi disana. Dari yg masih gadis, sudah menikah, bahkan ada yg janda. Tinggal di sana juga baik untuk Maria agar tak bertemu banyak orang yg mungkin akan menggunjing nya. Atau lebih tepat nya, Maria bisa bersembunyi di kediaman neneknya sampai dia melahirkan.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...