
Semua yg berkumpul di kediaman Ummi Mufar menggeleng tak setuju dengan apa yg Afsana tuturkan.
"Maria dalam keadaan koma, dan dia butuh dorongan untuk segera sadar" Bilal bersuara, mengingat ia sendiri pernah dalam keadaan koma "Jadi maksud mu, kamu ingin memberikan dorongan pada Maria dengan mengatakan Faraz akan menikahi nya?" Bilal bertanya dengan ragu dan Afsana malah mengangguk.
"Itu sama saja membohongi nya, Afsana" seru Bilal.
"Ana hanya merasa kasihan, Uncle. Apa lagi sudah dua kali Ana bermimpi tentang Maria, ayahnya yg juga memohon dan itu seperti beban dan ketakutan sendiri bagi Ana"
"Pasti ada cara lain, An" seru Asma "Aku engga mau punya menantu yg hamil anak orang lain"
"Dan itu mempertaruhkan nama keluarga besar kita, Nak. Terutama nama Kakek Khalil, nama Bilal dan nama Faraz" sambung Lita "Cepat atau lambat, orang akan tahu bahwa Maria hamil sebelum menikah, dan orang akan menuduh Faraz yg menghamili nya"
"Dan orang akan berkata, mereka mengajarkan ilmu agama tapi mereka melanggar hukum agama" Maryam menimpali dan benar benar kecewa dengan keinginan Afsana.
"Itu benar, Nak. Pernikahan tidak bisa di awali dengan cara seperti ini, ini sama saja membohongi Maria, dan hidup Maria tidak akan bahagia karena Faraz mencintai mu, bukan dia" tutur Bilal.
"Ana tahu..." jawab Afsana sambil menunduk "Tapi bagaiamana jika seandainya Ana atau Marry yg ada di posisi Maria?" lirih nya yg membuat semua orang semakin terkejut "Maria dalam keadaan koma, dan entah kapan akan dia akan bangun atau mungkin dia tidak akan bangun lagi. Tapi jika Kak Faraz ada di sisi nya, mendukung nya, mungkin Maria bisa sadar"
"Ini sangat sulit, Afsana. Semuanya di pertaruhkan di sini, perasaan kalian, kehormatan kami, dan juga masa depan Faraz"
"Jika kita lakukan pengorbanan ini tulus, ikhlas, Allah akan mengurus sisa nya" jawab Afsana "Mungkin Allah sedang menguji kita"
"Tidak sesederhana itu, An" sela Maryam "Benar kata Ummi, semua nya di pertaruhkan"
"Ketika Nabi Ibrahim di perintahkan menyembelih putra nya, semua nya juga di pertaruhkan, perasaan sang ibu, nyawa sang anak, dan mungkin masyarakat akan mengecap sang Nabi sebagai pembunuh putra nya sendiri, tapi ketika Nabi melakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan menolong nya"
"Ini berbeda, Afsana" sanggah Faraz.
__ADS_1
"Ana tahu, Kak. Tapi ada kesamaan nya, ujian keihlasan dan kesabaran. Dari sekian banyak orang yg Maria kenal, kenapa dia selalu bergantung pada mu, Kak? Dan dari sekian banyak orang yg butuh pertolongan, kenapa hanya Maria yg selalu ada didepan kakak dan dia selalu butuh pertolongan?
"Ini keputusan yg berat, Nak" seru Ummi Mufar "Tapi Nenek bangga, kamu bisa berfikir semulia itu, semoga Allah selalu merahamati mu, Sayang"
"Kita perlu memikirkan semua ini, dan juga semua keputusan terakhir ada di tangan Faraz" Asma berkata sembari menatap putra nya itu.
"Faraz engga bisa memutuskan apapun, Ummi. Faraz menyerahkan semua nya sama Ummi dan Abi"
"Tapi ini hidup mu, Nak"
"Ketika seorang anak tak tahu harus memilih jalan yg mana, maka kewajiban orang tua menunujukan jalan pada nya"
.
.
.
Bilal memeluk punggung istri nya itu, mengecup kepalanya.
"Allah sudah janji tidak akan menguji hamba nya melebihi batas kemampuan nya, Sayang"
"Tapi ini sangat sulit, dan kita tidak ada hubungan apapun dengan dengan Maria"
"Allah selalu punya rencana dalam setiap hal, kita hanya berserah diri"
"Lalu apa yg harus kita lakukan? Dan kenapa Afsana malah membuat keputusan seperti itu?"
__ADS_1
"Afsana masih sangat muda, dia juga masih sangat naif dengan apa yg dia hadapi"
"Bilal, aku engga mau Faraz menikah dengan Maria. Itu sama saja menyiksa Faraz dan Maria. Afsana engga ngerti dengan apa yg sudah dia putuskan, seperti kata mu, dia terlalu naif"
.
.
.
Sama seperti kedua orang tua nya, Faraz tak bisa tidur, dan ia memikirkan hal yg sama. Kenapa harus dirinya?
Faraz berfikir ini bukan hanya ujian cinta nya dan Afsana. Tapi juga ujian nya sebagai manusia, tapi kenapa harus seberat ini?
Sama seperti Faraz, Afsana juga mikirkan hal yg sama. Mungkin dia di uji keihlasan nya dengan keberadaan wanita asing yg sama sekali tak ada hubungan dengan mereka. Lalu kenapa harus terikat seperti itu?
"Ana..."
"Masuk, Ummi" seru Afsana. Lita muncul dengan raut sedih nya.
"Kenapa kamu lakukan semua ini, An?"
"Entahlah, Ummi. Bayang bayang Ayahnya Maria yg terus terus memohon, belum lagi mimpi mimpi ku, itu membuat Ana berfikir, mungkin Kak Faraz memang bisa membantu Maria"
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1