Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 100


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Waktu berjalan dengan cepat, dengan perjuangan yg tak mudah dalam setiap langkah nya. Maria tak pernah mengeluh, tak pernah lagi menyalahkan takdir setiap kali ia merasa dalam musibah. Maria mencoba sabar dan tabah, dukungan dari teman teman nya membuatnya menjadi kuat dan tetap tersenyum menghadapi segala nya.


Cacian tersirat maupun terang terangan dari lingkungan nya selalu ia dapatkan hampir setiap hari, tak jarang pula ia dikatakan munafik, penampilan syar'i namun hamil tanpa menikah. Rajin ke majlis taklim tapi perut bunting dan tak tahu siapa ayahnya. Maria hanya bisa menangis, namun ia tak marah dengan cacian itu, ia justru berterimakasih, sangat berterimakasih karena cacian itu mengingatkan Maria pada dosa dosa nya, dan itu membuat Maria selalu dan selalu berusaha memperbaiki diri, mendekatkan diri pada Rabb nya dan memohon ampunan atas masa lalu nya. Ia berterimakasih pada orang orang yg tanpa di minta telah mendorong Maria untuk selalu merasa berdosa, maka ia akan selalu bertaubat seperti taubatan pertama nya.


"Bahkan cucu Nabi pun pernah di hina, dan beliau tak menjawab hinaan itu, justru beliau berterimakasih karena sudah di ingatkan dengan kesalahan yg mungkin tak ia sadari"


Maria dan Maryam baru saja pulang dari majlis taklim rutin yg mereka hadiri, Maryam mengantar Maria hingga ke kamar nya dan saat ini mereka sedang mengobrol sebelum Maryam pulang.


Kehamilan Maria sudah masuk sembilan bulan, Maria merasa gugup setiap kali memikirkan persalinannya, ia merasa takut namun Maryam selalu mengatakan ia dan Ummi nya akan menjaga Maria nanti.


Kehamilan Maryam sendiri sudah mulai membasar. Tanpa terasa waktu benar benar berjalan dengan sangat cepat.


"Aku pun berterimakasih pada mereka, tapi kadang aku juga malu, karena mereka membawa bawa hijab dan pakaian syar'i ku, Maryam. Aku takut mereka malah menghakimi agama ku karena aku"


"Mereka akan menghakimi atau engga, itu engga akan berpengaruh pada agama kita. Karena Islam itu sempurna. Sementara penganutnya tentu saja tidak, karena kita hanya manusia biasa, kita punya akal dan nafsu"


"Makasih, kamu selalu bisa menenangkan ku" ucap Maria sambil menggenggam tangan Maria.


"Bagaimana hubungan mu dengan Kak Nabil?" tanya Maryam tiba tiba.


"Kami hanya teman, dia banyak membantu ku"


"Kalian sangat dekat walaupun cuma di sosmed, aku engga percaya kalian hanya teman"


"Benaran, kami hanya teman. Nabil udah janji engga akan berusaha membuat ku mencintainya"


Maryam langsung tertawa mendengar ucapan Maria itu yg terkesan naif.


"Dan kamu tahu, ketika Kak Nabil bilang dia engga akan berusaha membuat mu mencintainya, saat itulah dia berusaha membuat mu mencintainya, Maria"


"Hah?" Maria mengerutkan kening nya. Ia antara mengerti dan tidak mengerti dengan maksud Maryam "Maksud mu?"


"Maria, laki laki memang begitu" ucap Maryam yg membuat Maria semakin bingung "Ya udah, aku pulang dulu. Mungkin Amar juga sudah pulang"


Maria mengangguk dan sekali lagi ia mengucapkan terima kasih.


Setelah Maryam pergi, ponsel Maria berdering dan terpampang nama Nabil di layar ponsel nya. Seketika Maria langsung teringat kembali dengan kata kata Maryam. Maria menggelengkan kepala nya, mengusir kebingungan itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Dokter" sapa Maria setelah menjawab telpon dari Nabil.


"Waalaikum salam, Bumil. Gimana keadaan kalian hari ini?" pertanyaan yg seperti bel sekolah, itu lagi dan lagi. Namun Maria sangat senang dengan pertanyaan sesderhana itu setiap hari.


"Kami sangat baik, terima kasih" jawab Maria.


"Alhamdulillah, Maria. Sebenernya aku mau ngasih tahu kamu, kalau dua minggu lagi aku akan ke Indonesia"


"Oh ya?"


"Iya, Afsana sudah ujian, yg artinya dia akan lulus, Inysa Allah. Dan Faraz ingin mengadakan resepsi pernikahan mereka"


Faraz dan Afsana, Maria sangat tidak mudah untuk melupakan Faraz, bagaiamana pun juga pria itu adalah cinta pertama nya dan telah melakukan banyak hal untuk Maria. Dan mereka benar benar sudah tidak pernah berkomonikasi lagi, karena Maria memang ingin menghindari nya. Namun Maria sangat bahagia jika Faraz memang bahagia.


"Aku turut bahagia" ucap Maria lirih.


"Kamu akan datang saat resepsi mereka nanti kan?"


"Aku rasa engga bisa"


"Kenapa?"


"Mereka menganggap mu keluarga, mereka pasti senang kalau kamu datang"


"Aku akan datang kalau di undang" ucap Maria kemudian sambil tertawa kecil.


"Hem okey kalau gitu, anyway, kamu mau oleh oleh apa?"


"Apa?"


"Kalau aku ke Indo nanti, kamu mau aku bawakan apa?"


"Engga usah, makasih"


"Nanti aku bawakan kurma, kurma yg masak bagus untuk ibu hamil yg akan melahirkan"


"Okey, itu saja. Terima kasih banyak Nabil"


"Sama sama, Bumil"

__ADS_1


.


.


.


Mekkah


Shofia berkacak pinggang di ambang pintu kamar putra nya sembari menatap tajam Nabil yg baru saja selesai menelpon Maria. Nabil yg melihat itu hanya tersenyum manis, ia menghampiri ibunya itu dan langsung mencium pipi nya.


"Kami hanya teman" ucap Nabil.


Selama beberapa bulan ini, Nabil dengan sangat rutin menghubungi Maria dan memperhatikan nya. Shofia tak sepolos Maria yg setuju saja bahwa mereka hanya teman.


"Mana ada teman yg setiap hari nanyain kabar" ketus ibu nya, ia sudah tahu perasaan anaknya dan sudah tahu keadaan Maria. Tentu Shofia sangat tidak rela anaknya memiliki hubungan yg lebih dengan Maria.


"Tapi faktanya sampai saat ini kami hanya teman, Ummi. Percaya sama Nabil"


"Lupakan dia, Nabil. Cari wanita lain, yg jauh lebih baik dari dia"


"Ummi... Nabil engga sedang mencari istri, Nabil mau berkarir. Sudah, jangan khawatir tentang Nabil ya, Nabil janji engga akan melakukan apapun yg membuat Ummi kecewa"


"Bukan hanya Ummi, Nabil. Tapi seluruh keluarga kita, mereka engga mungkin menerima seorang wanita yg punya anak dari pria lain dan itu pun di luar sebuah pernikahan" Nabil hanya bisa menghela nafas berat. Inilah alasan nya dia tidak memperjuangkan Maria sekarang sekalipun Nabil memang mencintai nya, tapi Nabil akan membuat keluarga nya menerima Maria suatu hari nanti tanpa melihat masa lalu Maria.


"Nabil faham, tapi kita engga boleh menghakimi orang gitu aja, Maria sudah berubah, dia bertaubat, dia menjalani kehidupan yg jauh lebih baik. Maria juga wanita yg baik, Ummi. Tanyakan aja pada Maryam, karena hampir setiap hari mereka bertemu, dan mereka sangat dekat"


"Ummi engga bermaksud menghakimi dia, Nabil. Ummi cuma mau kamu dapat wanita yg lebih baik dari dia"


"Memang bagaiamana cara nya Ummi menilai siapa yg lebih baik dari siapa? Terkadang orang memang hidup penuh dosa di masa lalu, tapi jika Allah berkehendak dia berubah, bertaubat, maka dia akan menjadi hamba Allah yg taat. Begitu juga sebaliknya. Bahkan Allah mencintai orang yg bertaubat sekalipun orang itu penuh dosa, lalu siapa kita yg akan menghakimi seseorang hanya karena masa lalu nya? "


Shofia hanya tersenyum samar mendengar penuturan panjang lebar putra nya itu. Shofia tahu yg Nabil katakan memang benar, tapi seperti yg Shofia bilang, dia tidak menghakimi Maria, hanya saja sebagai seorang ibu, tentu dia ingin putra nya memiliki istri yg sholeh, dengan latar belakang yg baik.


"Semoga Allah selalu membimbing langkah mu, Nak. Dan semoga Allah menuliskan takdir yg indah untuk keluarga kita" ucap Shofia sembari menepuk nepuk pelan pipi Nabil.


"Aamiin"


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2