Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 119


__ADS_3

"Kamu yakin?" pekik Faraz tak percaya.


Saat ini ia sedang berbicara di telepon dengan Nabil dan Nabil memberi tahu seperti nya Maria akan terkena masalah.


"Bukan yakin lagi, tapi aku dengar sendiri. Kasian aja sih Maria, kamu tahu kan Maria engga mungkin punya uang untuk membayar pengacara kalau sampai hak asuh anak nya di permasalahkan"


"Sebenarnya aku mau bantu, tapi Maria masih terlihat canggung sama aku dan Ana. Kalau menurut aku Maryam yg bisa bantu, Maria juga lebih dekat ke Maryam"


"Coba kamu bicara sama Maryam nanti ya"


"Okey. Kamu tenang aja, banyak yg peduli sama Maria kok di sini"


"Makasih, sepupu"


Dan setelah berbicara dengan Nabil, kini Faraz mencoba berbicara dengan Maryam.


Sama seperti Faraz, Maryam juga hampir tak percaya kalau orang tua Alex kini malah menuntut hak asuh Khair karena selama ini mereka tidak pernah ada untuk Maria. Maryam juga mengatakan pada Faraz dia pasti akan membantu.


Setelah berbicara dengan Maryamy, Faraz baru sadar bahwa Afsana sudah berada dalam ruangan nya untuk mengantar makan siang.


"Maaf, Dek. Kakak engga sadar kamu udah datang" ujar Faraz.


"Engga apa apa, kakak Faraz serius banget tadi ngurusin Maria" ujar Afsana sambil cemberut namun ia mencoba menghindari tatapan Faraz.


Seperti biasa, Afsana menyiapkan makan siang Faraz namun ia diam saja dan tampak kesal.


"Cemburu ya..." goda Faraz yg menyadari mood istri nya itu sedang tak baik.


"Engga" jawab Afsana ketus "Tuh, udah siap semua nya. Ana mau pulang" lanjut nya dan ia hendak pergi namun Faraz segera menahan nya.


"Loh, engga mau nemenin kakak makan?"


"Engga, kali aja kakak mau telpon pengacara buat bantuin Maria. Jadi Ana engga mau ganggu" Faraz langsung tertawa apa lagi saat melihat Afsana yg cemberut sampai pipi nya mengembung.


"Sensi banget Afsana nya Sarfaraz neh" goda Faraz sambil menggoda Afsana dengan menggelitik nya yg membuat mood Afsana kembali baik.


"Lagian kok tumben kamu cemburu? Biasanya engga"


"Namanya juga istri"


"Ya udah, maaf ya istri. Jangan cemberut lagi, kamu pasti belum makan, ayo kita makan" Afsana tersenyum lebar kemudian mengangguk. Membuat Faraz hanya bisa geleng geleng kepala apa lagi akhir akhir ini Afsana lebih sensitif.


.


.

__ADS_1


.


Di sore hari nya, Maryam mengajak Amar untuk menjemput ibu nya. Maryam yakin Rossa pasti mau tinggal bersama mereka dan itu membuat Maryam sangat senang. Awal nya Amar ingin menjemput ibunya sendiri, karena ia tak mau Maryam keluar rumah sampai Maryam benar benar sehat, namun Maryam bersikeras mau ikut. Itu karena Maryam takut Amar tak bisa membujuk ibu nya karena sikap Amar masih cukup dingin pada ibunya. Dengan sangat terpaksa Amar membawa Maryam dan Baby Ezra.


"Kamu jangan turun, di luar banyak debu,kasian anak ku kena debu nanti" ujar Amar sesampainya mereka di depan rumah Rossa.


"Engga apa apa, ini Baby Ezra juga pakek baju, pakek topi"


"Engga boleh. Tunggu di sini..." Maryam hanya bisa menghela nafas namun ia tak bisa lagi membantah suami nya.


Saat Amar turun dari mobil, ia malah berpapasan dengan Jihan, salah satu polisi yg sempat Amar temui saat dulu menjenguk ibu nya. Jihan tampak terkejut melihat Amar disana, kemudian Jihan mengintip ke dalam mobil dan ia melihat Maryam di dalam.


"Ada apa? Kenapa kamu di sini?" tanya Amar. Jihan tampak gelagapan, ia membuka mulut tapi seolah tak bisa bersuara.


Maryam yg melihat Jihan dari dalam mobil nya pun juga turun, apa lagi ia punya firasat yg tak baik.


"Tante, kenapa tante di sini?" tanya Maryam.


"Sebenarnya aku mengambil sesuatu dirumah Rossa" jawab Jihan dengan suara tercekat.


"Oh gitu, sebenernya kami kesini mau jemput Mama, mau ngajak Mama tinggal bersama kita" ujar Maryam dan hal itu malah membuat Jihan meneteskan air mata namun ia segera mengahapus nya.


"Ada apa? Mama engga apa apa kan? Mama dirumah kan? Baby Ezra pasti senang ketemu nenek nya" ucap Maryam lagi dan itu malah membuat Jihan kembali menangis. Amar dan Maryam pun jadi bingung dan cemas, apa kedua nya bisa merasakan firasat yg tak baik.


"Ayo, aku akan bawa kalian ke Rossa" ucap Jihan, kemudian ia bergegas ke mobil nya sendiri. Amar dan Maryam pun masuk ke dalam mobil dan meminta Bobby mengikuti mobil Jihan.


"Sayang, kenapa polisi itu kesini?" tanya Amar pada Maryam, Maryam pun memiliki pertanyaan yg sama.


"Mungkin Mama sakit, semoga saja sekarang Mama baik baik saja" jawab Maryam berusaha tenang padahal hatinya sangat tak karuan.


Jihan turun dari mobil nya begitu juga Amar dan Maryam. Tanpa berbicara, Jihan masuk ke dalam rumah sakit dan tanpa berbicara juga, Amar dan Maryam terus mengikuti nya dari belakang.


"Dimana kamar rawat Mama?" tanya Amar yg membuat Jihan langsung menghentikan langkah nya. Ia menoleh dan Amar melihat Jihan sudah berlinang air mata


"Mama?" tanya Jihan sambil tersenyum "Mama mu sangat merindukan panggilan itu, Amar. Dia pasti senang karena kamu mau memanggil nya Mama lagi" Amar tak bisa menjawab, ekspresi tak tenang.


"Tante, Mama sakit apa? Dan sejak kapan masuk rumah sakit?" tanya Maryam.


"Ayo..." seru Jihan dan ia kembali berjalan, Amar dan Maryam hanya bisa mengikuti Jihan dengan perasaan yg berkecamuk apa lagi Jihan yg terus berjalan melewati setiap kamar rawat.


"Apa masih jauh kamar nya?" tanya Amar dengan suara yg gemetar.


"Di sini...." ujar Jihan sambil berbelok di sebuah lorong dan itu berhasil membuat Amar terpaku di tempat nya, begitu juga dengan Maryam.


Jihan membawa mereka ke kamar jenazah.

__ADS_1


Jihan membuka pintu itu namun Amar dan Maryam seolah tak kuasa untuk melangkahkan kaki nya.


"Tante, aku tanya... di mana kamar Mama...." tanya Maryam setengah berbisik karena hati nya menolak percaya bahwa mertua nya ada di kamar itu. Jihan langsung memeluk Maryam dan ia tak bisa menangis tangis nya.


"Dia sudah pergi, Maryam, Amar. Mama kalian sudah pergi" ucap nya tersendat sebdat


Dan mendengar kabar itu, Maryam dan Amar seolah tak percaya, nafas mereka seperti tercekat dan kaki mereka tiba tiba menjadi sangat lemas.


"Itu engga mungkin...." lirih Amar, memaksakan kaki nya bergerak.


Jihan melepaskan pelukan nya dari Maryam yg terdiam mematung seolah tak percaya dengan apa yg di lihat nya. Suara tangis Ezra membuat Maryam tersadar kembali dan ia membawa Ezra keluar dari sana, sambil menangis Maryam mencoba menenangkan putra nya.


Jihan membawa Amar untuk melihat ibunya yg terbaring pucat dan tak bernyawa. Amar tak bisa membendung air mata nya, namun ia juga tak mampu bersuara. Amar hanya bisa berdiri di samping mayat ibu nya, memandangi wanita yg telah melahirkan nya namun sangat Amar benci bahkan sudah ia anggap mati padahal ibu nya masih hidup. Dan ketika ibunya benar benar sudah mati, Amar tak bisa menerima kenyataan itu dan ia sangat terpukul.


"Ma.. Ma..." Amar mengangkat tangan nya yg gemetar dan menepuk pipi ibu nya yg begitu tirus, keriput, dan pucat.


"Ma, bangun. Aku mau jemput Mama pulang, Ezra juga di sini..." lirih nya sambil berusaha menahan tangis nya namun itu sia sia.


"Ma, ayo bangun.... Ku mohon" Amar semakin keras menepuk pipi sang ibu. Dan tangis nya semakin pecah. Jihan mencoba menenangkan Amar namun Amar tak mempedulikannya.


"Bangun, Ma... Ku mohon, bangun... Ayo lah, Ma. Mama engga mau liat cucu Mama?" Amar mengguncang pundak Rossa berkali kali, namun Rossa tetap tak bergeming dan itu membuat Amar histeris.


"Aku bilang bangun, Ma. Mama jahat... Kenapa Mama ninggalin aku?" teriak nya bahkan sampai terdengar keluar oleh Maryam.


Di tengah isak tangis nya, Amar terus menerus menyuruh ibu nya bangun, terus mengguncang tubuh sang ibu tak peduli Jihan yg terus mencoba menghentikan nya.


Hingga Maryam yg juga menangis sesegukan datang. Maryam menyerahkan bayi nya pada Jihan dan meminta Jihan menbawa nya keluar, sementara Maryam mencoba menenangkan suami nya.


"Amar, hentikan, Sayang. Jangan seperti ini..." bujuk Maryam namun Amar seolah tak mendengar nya.


Amar terus menangis histeris dan meminta ibunya bangun, ia bahkan membuat ibu nya duduk dan kemudian menepuk nepuk pipi ibunya, memaksa ibunya membuka mata dan bangun.


"Amar... Hentikan" seru Maryam lagi namun Amar tak peduli hingga satu tamparan dari tangan mungil istri nya mendarat di pipi Amar dan seketika itu membuat Amar terdiam beberapa saat, kemudian ia kembali menangis namun tak histeris seperti tadi. Amar menidurkan kembali tubuh sang ibu, Amar mengecup kening dan pipi ibu nya sambil berlinang air mata bahkan hingga membasahi wajah ibu nya.


Kemudian ia kembali menutupi tubuh ibunya dengan kain putih itu dengan tangannya yg masih sangat gemetar. Setelah itu Amar berhambur ke dalam pelukan istri nya yg juga masih menangis. Dan keduanya terjatuh ke lantai dan terus menangis.


"Kita harus terima semua ini, Sayang" ucap Maryam lembut sembari mengelus kepala suaminya "Kamu harus tenang, aku tahu ini berat. Tapi kita engga boleh seperti ini terus" lanjut nya sembari berusaha menghentikan tangis nya sendiri. Amar pun juga berusaha menghentikan tangisnya.


"Aku bahkan belum meminta maaf" lirih nya masih dengan punggung yg gemetar.


"Mama pasti maafin kamu, Mama sangat mencintai mu"


"Kenapa Mama ninggalin aku di saat aku ingin bersama nya? Kenapa Tuhan ngambil Mama saat aku sudah bisa memaafkan mama?"


"Karena Tuhan jauh lebih sayang sama Mama, dan Mama jauh lebih bahagia di sisi nya"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2