
Hari yg di tunggu Maria dan Nabil akhirnya tiba. Mereka di nikahkan di pesantren dan menggelar acara sederhana saja. Dan seperti biasa, Walaupun katanya sederhana tapi keluarga Abi Khalil sangat banyak anggota nya sehingga acara itu menjadi meriah. Apa lagi seluruh santri juga di persilahkan menikmati acara mereka.
Maria benar benar tak menyangka ia akan menikah dengan cucu seorang kiai, pernikahan nya di pesantren pula. Sementara diri nya tumbuh besar di Amerika dan sebelum nya seorang ateis, bukan hanya itu ia bahkan...
"Jangan melamun..." Maria tersentak saat merasakan sentuhan di pundak nya bersamaan dengan suara Afsana. Maria tersenyum kaku dan menggeleng.
Acara berlangsung dengan hikmat, seluruh keluarga Nabil memberikan selamat pada Nabil dan Maria dan mereka tampak bisa menerima Maria, atau mungkin hanya sedang berusaha bisa menerima Maria. Namun ketika Tuhan sudah menentukan jodoh seseorang, tak ada yg bisa menghalangi. Mungkin itulah yg keluarga Nabil fikirkan sehingga mereka tak banyak berkomentar tentang Maria.
Walaupun tak bisa Maria pungkiri, ada beberapa orang yg tampak sekali tak menyukai Maria dan Maria bisa merasakan itu dari cara pandang mereka dan mereka yg tak terlalu mau berbicara dengan Maria. Maria hanya bisa membalas nya dengan senyuman, karena ia bisa mengerti jika dirinya sulit di terima di keluarga semacam itu.
Sementara Nabil menemui anggota keluarga yg lain, Afsana datang dan menemani Maria.
"Kamu terlihat engga nyaman, Maria" ujar Afsana.
"Hanya sedikit gugup berbaur dengan mereka" jawab Maria.
"Aku ngerti, tapi sekarang kami semua keluarga mu"
"Terima kasih, Afsana..." Afsana mengulum senyum.
"Cuma kamu satu satu nya orang yg selalu memanggil ku Afsana. Sebenarnya itu terlihat sangat formal, biasa Kak Faraz memanggil ku Afsana saat dia marah atau berbicara sangat serius"
"Memang nya Faraz bisa marah?" tanya Maria yg membuat Afsana terkekeh.
"Bisa lah, dia bukan malaikat kali" dan Maria hanya ber oh ria. Ia fikir orang alim seperti Faraz tak bisa marah.
Afsana menemani Maria sampai Nabil datang. Setelah itu Afsana menemui Faraz dan ia merengek ingin pulang, katanya dia merasa mual dan pusing. Faraz pun membawa Afsana pulang agar istri nya istirahat.
__ADS_1
Dan hari semakin malam, kerabat Nabil pun satu persatu sudah pulang namun ada beberapa yang menginap di pesantren.
Maryam pun juga berpamitan pulang karena ia merasa sangat lelah. Begitu juga Hubab serta Lita dan Bilal serta Asma.
Dan Nabil pun membawa Maria ke kamar nya karena tamu juga tinggal beberapa orang saja.
Dan Sesampainya di kamar Nabil, Maria langsung menghampiri Khair yg masih tidur pulas di box bayi nya.
Maria kembali melamun sambil memandangi putri nya. Ia merasa akan sulit bersama Nabil mengingat beberapa anggota keluarga Nabil yg tak menyukai nya.
"Ada apa?" tanya Nabil yg melihat Maria tampak melamun, bahkan malam ini Maria lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melamun dari pada menikmati acara pernikahan nya.
"Engga ada apa apa" jawab Maria.
"Kamu engga bahagia kita sudah menikah?" tanya Nabil dan Maria menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Bukan gitu..."
"Aku cuma kefikiran sama Khair, takut nya dia bangun"
"Ada yg menjaga nya kan tadi. Jangan bohong, Maria. Bohong sama suami itu dosa lho"
Maria terdiam sejenak, dan tiba tiba ia meneteskan air mata nya. Maria sudah berusaha menahan nya namun air mata itu tumpah begitu saja.
"Aku minta maaf..." lirih Maria sambil menunduk. Nabil mengernyit bingung dan menangkup pipi Maria, membuat Maria mendongak dan menatap nya.
"Minta maaf kenapa?" tanya Nabil sembari mengusap air matanya.
__ADS_1
"Karena..." nafas Maria tercekat, ia merasa malu berdampingan dengan Nabil karena perasan tak pantas masih menyelimuti hati Maria "Karena aku engga sebaik kamu dan keluarga mu..." ucap Maria akhir nya sambil menghapus air matanya sendiri.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Nabil lagi.
"Karena sebelumnya aku pernah...."
"Sshhttt..." Nabil meletakkan jari nya di bibir Maria, memberi isyarat agar Maria diam. Tangis Maria semakin pecah, ia sangat menyesali masa lalu nya. Maria merasa sesak setiap kali mengingat masa masa kelam itu.
"Jangan pernah mengungkit hal itu lagi, Maria. Itu engga boleh di lakukan" ujar Nabil dengan nada yg sangat serius "Masa lalu mu itu bukan urusan ku, itu urusan mu dan Allah. Sementara masa depan mu, baru itu urusan ku dan semoga kita bisa bersama sama menggapai ridho Allah dengan pernikahan ini" tutur Nabil. Maria mencoba menghentikan tangisnya, mencoba mengatur nafasnya.
"Terima kasih sudah mau menerima ku" lirih Maria saat ia bisa menghentikan tangisnya "Terima kasih sudah mau menerima anak ku juga"
"Sekarang dia anak kita, Maria" jawab Nabil sambil tersenyum. Ia menghapus sisa air mata yg masih membasahi pipi Maria.
"Kamu engga takut orang orang akan membicarakan mu nanti?" tanya Maria lagi.
"Jujur, awalnya aku takut. Aku takut dengan tanggapan orang. Apa lagi mereka juga pasti melihat background keluarga ku dan setiap kali membicarakan ku atau menanggapi hidup ku, maka itu akan selalu membawa nama pesantren ini" jawab Nabil dengan jujur dan itu berhasil membuat hati Maria terkesiap dan jantung nya pun berdebar. "Aku juga pernah berusaha melupakan mu tapi aku engga bisa, kemudian aku meminta pendapat kakek Khalil. Dan sebenernya, dia lah yg mendorong ku untuk mendapatkan mu. Dia yg mendukung ku selama ini dan memberi ku banyak nasehat. Lagi pula setiap orang bisa berubah kan? Dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua "
"Oh ya?" tanya Maria seolah tak percaya dan Nabil mengangguk.
"Sekarang pergi mandi, dan janji sama aku ini terkahir kali nya kita membicarakan hal ini, okey?" seru Nabil dan Maria mengangguk saja.
Sementara Maria mandi, kini Nabil yg menjaga Khair dan ia menatap bayi mungil ini.
Nabil tak bisa munafik, tentu ia ingin wanita yg baik dan berasal dari keluarga yg baik pula sebagai pendamping hidupnya. Namun hati nya mencintai Maria dan terlebih Maria sudah berubah, meskipun awal nya Nabil memang merasa kecewa dengan Maria dan memutuskan melupakan Maria, namun cinta nya semakin hari semakin besar di tambah rasa simpati nya juga pada Maria dan anak nya. Sehingga membuat Nabil mengambil keputusan dengan sangat yakin untuk memiliki Maria.
"Semoga kamu tumbuh menjadi wanita yg sholehah, Khair"
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...