Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 28


__ADS_3

Setelah makan malam, Maryam dan Afsana menghabiskan waktu bersama Rafa sambil membicarakan banyak hal. Membicarakan rencana masa depan mereka, keinginan mereka dan sebagai nya.


Saat ini, ketiga nya berada di samping halaman rumah Maryam, dimana dulu ada taman dan ayunan disana, namun sekarang ayunan nya sudah tidak ada, kini taman itu di buat menjadi sebuah ruangan terbuka dimana cucu cucu Abi Rahman akan berkumpul disana dan mengobrol.


"Kak Rafa udah hampir 27 tahun lho, masak iya belum ada niatan nikah" ujar Afsana sambil mengunyah keripik yg menemani obrolan mereka.


"Nanti, kalau calon makmum kakak udah siap" jawab Rafa enteng.


"Wah, emang udah ada calon nya, Kak? Siapa?" Maryam bertanya antusias.


"Tadinya sih kamu, eh malah keduluan Amar. Ya udah, kakak nunggu Afsana aja kalau gitu" Rafa berkata sangat santai, namun kedua adik sepupu nya itu langsung tercengang, dan seketika tawa Rafa pecah melihat ekspresi kedua adik gadis nya itu, bahkan Afsana sampai berhenti mengunyah dan Maryam menganga lebar.


"Kakak bercanda" tegas Rafa yg langsung membuat Afsana dan Maryam bernafas lega "Lagian kalian GR banget, masak iya kakak naksir kalian, adik adik kakak, bahkan kakak yg mandiin kalian dulu, pernah cebokin juga lagi, kakak juga pernah ngejar Maryam sampek ke depan cuma buat makein celananya sampek di ke tawain santri"


"Ishhh, engga usah di ungkit ungkit juga kali, Kak" gerutu Maryam merasa malu.


"Tau, namanya juga kakak ya harus rawat adik nya tanpa pamrih dong dan engga usah di ungkit ungkit" Afsana menimpali sambil memberengut.


Memang benar, Selain Yasmin, Rafa juga selalu menjaga adik adik sepupu nya itu, sejak kecil Rafa sudah memperlihatkan sikap bertanggung jawab nya ia selalu mengalah dan mengerti adik adik nya tak terkecuali Sarfaraz.


Mereka melanjutkan mengobrol hingga malam namun Rafa segera memerintahkan Maryam untuk tidur dan ia sendiri mengantar Afsana pulang karena kakek nenek nya pasti sudah menunggu.


"Ana..." panggil Rafa saat mereka sudah hampir sampai dirumah Afsana.


"Kenapa, Kak?" tanya Afsana sambil menoleh dan menatap kakak nya itu, dan kakaknya itu terlihat sangat tampan tat kala sinar rembulan menyentuh wajah nya.


"Engga apa apa, rencana kamu setelah lulus kemana?"


"Ana pengen ngajar di pesantren Kakek, sejauh ini, itu saja rencana Ana"


"Hem begitu, kalau kakak boleh tanya, apa kamu atau Abi mu sudah punya calon untuk mu" Rafa bertanya setengah berbisik.


"Aku sudah punya pemilik hati ku, tapi apakah dia akan jadi imam ku, aku engga tahu"


"Ana..." Rafa melamabaikan tangan nya didepan Afsana, karena bukannya menjawab pertanyaan Rafa, Afsana malah melamun.


"Entahlah, Kak. Ana fokus sama pendidikan dulu" jawab Afsana "Tapi kenapa Kak Rafa nanya gitu?"


"Oh itu... Em karena..." Rafa menggaruk belakang kepala nya sambil melirik ke kanan ke kiri "Ya karena Maryam sudah punya calon, dia kan setahun lebih muda dari mu, terus kamu gimana? Engga mau nyusul Maryam gitu?" akhirnya Rafa menemukan kalimat pertanyaan itu.


"Hehe, ya kan jodoh orang engga ada yg tahu, Kak. Kapan datang nya, siapa, dimana. Ya, kan?"


"Ya sih" bisik Rafa sambil tersenyum samar.


"Ya udah, Ana masuk dulu" ujar Ana karena kedua nya sudah sampai didepan rumah Afsana.


"Iya, selamat malam" seru Rafa yg di jawab senyuman oleh Afsana kemudian melambaikan tangan dan masuk kedalam rumah nya. Setelah memastikan Afsana masuk, Rafa pun segera kembali pulang.


.


.


.


Di kantornya, Amar langsung di suguhkan dengan jadwalnya yg sangat penuh hari ini oleh Asisten seksi nya yg bernama Cindy.


"Ini file untuk meeting pagi ini, Pak"

__ADS_1


"Besok kosongkan semua jadwal ku" perintah Amar sambil memeriksa file yg Cindy berikan.


"Apa Bapak ada pekerjaan ke luar negeri atau keluar kota?"


"Aku mau keluar kota, jet ku sudah harus siap jam 10"


"Baik, Pak"


"Satu hal lagi" Amar meletakkan file itu kemudian mengambil ponsel nya, dan ia membuka sebuah gambar kalung berlian dan jam rolex dan menunjukan nya pada Cindy "Dapat kan dua barang ini, aku mau besok pagi kedua barang ini sudah ada"


" Apa untuk Nyonya Amy? Dan bukankah jam tangan itu Pak sudah punya?" tanya Cindy penasaran.


"Bukan, itu hadiah untuk seseorang" jawab Amar "Sebaiknya sekarang kamu keluar dan kerjakan kerjaan mu, dan ingat! Besok pagi kedua barang ini sudah harus ada di meja ku" tegas Amar dingin yg langsung di angguki Cindy.


Amar tak punya waktu jika harus membeli nya sendiri karena hari ini ia benar benar sibuk.


Dan untuk siapa perhiasan itu?


Tentu saja oleh oleh untuk kakek nenek nya Maryam, Amar yakin ia akan diizinkan menjemput Maryam dan menemui keluarga Maryam di desa.


"Satu hal lagi, Cindy..." teriak Amar saat Cindy sudah hampir mencapai pintu keluar, Cindy pun menoleh.


"Ya, Pak?" tanya Cindy.


"Em belikan sesuatu yg bisa di bawa sebagai oleh oleh untuk keluarga di desa"


"Keluarga di desa?" tanya Cindy sambil mengernyit heran, karena ia sungguh tak mengerti apa yg Big boss nya itu bicarakan.


"Maksud ku, untuk keluarga Maryam yg ada di desa. Mereka keluarga besar, banyak anggota nya, aku bingung harus bawa apa untuk mereka. Mungkin juga ada anak anak disana, aku engga tahu"


Biasanya Amar hanya berbicara singkat dengan nada perintah dan wajah dingin.


"Cindy?" desis Amar tajam karena Cindy hanya melamun.


"Eh, iya, Pak"


"Iya pak iya pak..." geram Amar "Kamu ngerti kan maksud ku?"


"Iya, Pak. Saya mengerti" jawab Cindy "Kalau mau bawa oleh oleh untuk orang, Pak. Harus tahu dulu mereka tipe orang yg seperti apa dan bagaimana. Jadi nanti kita bisa bawakan sesuatu yg cocok untuk mereka"


"Aku mana tahu mereka seperti apa dan bagaiamana" ujar Amar sambil menatap dingin pada Cindy.


"Begini saja, belikan mereka pakaian syar'i, sarung, sejadah, mukenna"


"Kamu fikir mau sumbangan ke masjid" ujar Amar yg membuat Cindy serba salah.


"Terus Bapak mau nya apa?" tanya Cindy akhirnya yg kesal dengan boss nya itu.


"Malah balik tanya" ujar Amar tajam membuat Cindy kembali menciut "Pokoknya belikan sesuatu yg sebagai oleh oleh"


"Iya, Pak. Nanti saya fikir kan" jawab Cindy dengan nada suara rendah.


Baru kali ini boss nya membuat ia pusing dengan hal konyol seperti itu, dan Cindy tak habis fikir kenapa boss nya itu tidak belanja sendiri atau meminta nenek nya, kenapa harus Cindy? Ya memang Cindy itu asisten pribadi nya yg memang harus melakukan apapun yg Amar minta.


"Belikan sembako ajalah, pasti bermanfaat tuh"


.

__ADS_1


.


.


Jam satu siang, Amar baru baru punya sedikit waktu luang. Dan sampai sekarang Marian belum mengabari nya apakah dia bisa menjemput nya atau tidak.


Amar menyederkan punggung lelah nya di sandaran kursi, ia memejamkan mata nya dan tiba tiba terdengar pintu yg terbuka, membuat Amar geram siapa gerangan yg berani masuk tanpa mengetuk pintu.


"Hai, Baby..." ugh, Amar sungguh benci wanita murahan yg terus mengejarnya itu.


"Berani sekali kamu masuk ke ruangan ku tanpa mengetuk pintu" Amar berkata sambil menatap dingin wanita didepan nya ini, ah siapa lagi kalau bukan Dilara.


"Aku bawa kan makan siang, kamu pasti belum makan" ucap Dilara tanpa memperdulikan tatapan benci Amar padanya.


"Keluar dari ruangan ku" tegas nya, namun malah dengan kurang ajarnya, Dilara berjalan mendekat pada Amar dan langsung mendaratkan bokong nya di pangkuan Amar membuat Amar langsung berdiri sehingga Dilara jatuh terjerembab.


"Kamu kasar banget sih, Amar" bentak Dilara kesal sambil berusah berdiri dan membenarkan rok pendek nya.


"Kamu engga tahu malu ya masih menggoda ku begitu? Aku engga tertarik sama kamu, Dilara. Jadi berhenti mendekati ku"


"Kenapa? Karena gadis berjilbab itu?" tanya Dilara seolah meremehkan Maryam.


"Iya, karena dia. Aku adalah calon suami nya, jadi engga boleh ada wanita lain yg mendekati ku karena aku sudah menjadi milik nya"


"Aku rasa itu hanya gosip. Lagi pula belum ada pengakuan dari gadis itu, aku dengar dia dan keluarga nya enggan menanggapi gosip itu"


"Itu bukan urusan mu"


"Ayolah, Sayang" Dilara kembali menggoda Amar, bahkan tangan nakalnya kini bergerliya di dada Amar "Paling kamu cuma penasaran aja kan sama gadis itu, pengen di di cicipi aj...."


"Dilara..." bentak Amar dengan dan kini ia menatap seolah ingin menghabisi Dilara. Dan dengan kasar ia menepis tangan Dilara dari dada nya "Dia bukan gadis seperti mu, ingat itu. Dan aku sama sekali engga penasaran sama dia, aku mencintai nya dan aku ingin menikahi nya"


"Kamu yakin?" tanya Dilara seolah menantang "Sejak kapan kamu bisa mencintai seseorang?"


"Sejak aku bertemu dengan nya" jawab Amar tegas.


"Tapi aku juga mencintai mu, Amar. Memang apa yg kurang dari ku di bandingkan dia? Kamu bahkan baru mengenal nya tapi kamu sudah mencintai nya" Dilara berkata dengan emosi yg meluap. Sudah lama ia berusaha mendapatkan cinta Amar tapi kini ia harus di singkirkan oleh gadis kecil itu.


"Yang kurang dari mu adalah kamu tidak mampu memberiku apa yg ku butuhkan"


"Memang apa yg kamu butuhkan? Aku sudah memberikan segala nya pada mu" Dilara merendahkan suara nya, ia kembali mendekati Amar dan mencoba menggoda nya lagi.


"Cinta yg menenangkan dan cahaya. Maryam membuat ku merasa tenang dan dia membawa cahaya dalam hidup ku, sementara perempuan seperti mu hanya bisa semakin menenggelamkan ku dalam kegelapan" desis Amar tajam.


"Sekarang keluar dari kantor ku sebelum aku menyeret mu seperti dulu"


Dilara menatap tajam Amar, ada dendam dan luka di mata nya.


"Perjuangan ku belum berakhir" ucap nya kemudian ia segera keluar dari hadapan Amar. Amar menghembuskan nafas berat. Ia mengenal Dilara, wanita itu ambisius dan keras kepala.


Amar takut Dilara akan melakukan hal buruk pada Maryam.


"Tidak akan ku biarkan siapapun menyakiti calon istri ku"


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2