Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 52


__ADS_3

Erick dan juga pihak kepolisian telah memberikan klarifikasinya bahwa yg terjadi pada Maryam memang tindak kejahatan yg di rencanakan. Erick juga meminta maaf pada Maryam dan keluarga nya yg telah membuat tercoreng nama mereka karena apa yg Erick lakukan.


Setelah semua ini, Amar, Maryam dan keluarga nya sangat berharap semuanya kembali normal. Walaupun Maryam masih terbayang apa yg terjadi padanya, namun Maryam berusaha mengendalikan diri dan menyingkirkan trauma nya. Apa lagi dengan banyaknya yg mendukung dan menguatkan dirinya.


Begitu juga dengan Faraz, saat itu Faraz di tegur oleh Abi nya karena Faraz tak bisa mengendalikan amarahnya. Abi nya sendiri mengatakan ia juga sangat marah, dan jika dia yg memegang pistol saat itu, sudah pasti dia langsung menarik pelatuk nya tanpa fikir panjang.


Namun Abi nya mengatakan amarah itu adalah nafsu, dan nafsu itu di kuasai setan. Membalas kejahatan Erick tak kan mengubah apapun. Dan biar kan hukum yg menjalankan tugas nya. Hanya setelah itulah Faraz bisa mengendalikan amarah nya.


.


.


.


Di perjalanan ke kantor nya, Faraz tanpa sengaja melihat Maria yg duduk di depan masjid tempat ia sholat waktu itu. Membuat Faraz penasaran apa yg di lakukan gadis ateis itu disana.


Faraz pun menghentikan mobil nya dan segera menghampiri Maria.


"Kamu ngapain disini?"


Maria langsung mendongak dan seketika menyunggingkan senyum lebar nya pada Faraz.


"Maryam apa kabar nya, Pak?" tanya Maria.


"Jauh lebih baik, kamu engga kuliah atau kerja gitu. Terus ngapain duduk didepan masjid begini?"


"Oh itu, Pak.. Em anu..."


"Oh em anu, apa?" tanya Faraz heran.


"Aku, eh saya mau..." Faraz tertawa geli mendengar Maria yg tampak gerogi dan entah sejak kapan dia memakai kata 'saya'.


"Kamu kenapa?" tanya Faraz lagi.


"Mau islam"


"Hah?"


"Engga boleh ya?"


"Eh?"


"Boleh apa engga, Pak Faraz?"


"Astaghfirullah" gumam Faraz, entah kenapa ia merasa sangat terkejut dengan Maria yg tiba tiba mengatakan mau islam itu.

__ADS_1


"Jadi boleh apa engga, Pak?" tanya Maria lagi dengan kening yg berkerut.


"Ya Allah, boleh lah, boleh banget" ucap Faraz girang. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan alasan Maria yg tiba tiba ingin masuk islam. Ah dia bilang mau islam "Ayo masuk" ajak Faraz kemudian ia melepaskan alas kaki nya dan Maria mengikuti nya dari belakang.


Karena di pagi hari, masjid agak sepi, namun disana ada petugas masjid dan pemuda pemudi masjid yg sedang menjalankan sebuah program.


Faraz meminta salah satu gadis disana agar membantu Maria mengenakan mukena. Kemudian Faraz dan Maria duduk di tengah tengah masjid dan itu menjadi pusat perhatian pemuda pemudi disana. Dan mereka pun duduk berkumpul disana. Menyaksikan Maria yg akan mendapatkan jati dirinya.


"Apa ini memang pilihan hati mu, Maria?" tanya Faraz dan Maria mengangguk yakin "Kalau gitu, ikuti apa yg aku ucapkan, okey?" sekali lagi Maria mengangguk namun ia tampak gugup. Faraz memanggil salah satu gadis disana untuk menemani Maria agar tidak gugup.


"Jangan gugup, Kak. Cuma bersyahadat aja kok, bukan mau sidang skripsi" ucap gadis itu dan Maria tersenyum geli.


"Aku akan mengucapkan kalimat syahadat dalam bahasa arab, kamu ikuti ya! Setelah itu baru aku akan mengucapkan nya dalam bahasa Indonesia" Maria sekali lagi mengangguk.


"Asyhadu..." ucap Faraz dan Maria pun mengikuti nya.


"Asyhadu..."


"An laa ilaaha illallaah"


"An laa ilaaha illallaah"


"Wa asyhaduanna"


"Wa asyhaduanna"


"Muhammadan rasulullah"


"Muhammadan rasulullah"


Maria mengangguk dan Faraz pun segera mengucapkan syahadat itu dalam bahasa Indonesia.


"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah"


"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah"


"Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah"


"Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah"


Maria mengucapkan nya dengan sangat lancar. Dan tiba tiba ia berkaca kaca seolah terharu.


"Jadi sekarang aku islam neh, Pak?" tanya Maria sambil mengucek matanya yg tiba tiba saja terasa panas. Faraz pun juga terharu melihat Maria yg begitu polos dengan pertanyaan nya dan Faraz mengangguk sambil mengulum senyum.


"Iya, sekarang islam adalah indentitas mu, jati diri mu" jawab Faraz. Dan seketika Maria terisak saking ia merasa bahagia nya dan ia pun hendak memeluk Faraz namun Faraz segera menghindar.

__ADS_1


"Astaghfirullah, baru juga islam. Udah mau melanggar aturan islam" tegur Faraz dan pemuda pemudi disana tertawa geli dengan tingkah Maria.


"Maaf, Pak. Lupa, saking bahagia nya. Ternyata begini ya rasanya punya jati diri" ucap Maria sambil menghapus air matanya dengan ujung mukena yg ia kenakan.


Untuk pertama kalinya, Maria merasa memiliki sesuatu dalam hidup nya, dalam jiwa nya. Dia seperti menapakkan kaki nya di suatu tempat yg pasti.


Selama ini ia melangkah hanya dengan logika nya dan membiarkan jiwa nya kosong.


Tapi sekarang ia akan melangkah dengan tuntunan islam dan jiwa nya telah terisi dengan iman.


Gadis gadis disana memeluk Maria bergantian dan memberikan ucapan selamat kepada Maria, menyambut penuh suka cita Maria sebagai saudari mereka.


"Ya ampun, padahal aku engga kenal kalian, jadi sekarang kalian saudari ku neh?" tanya Maria lagi dan gadis gadis itu mengangguk.


"Kita saudara seagama, Kak" jawab salah satu gadis disana.


"Makasih, Pak" ucap Maria tulus pada Faraz dan Faraz pun menjawabnya dengan senyum lebar.


Sekarang Maria islam?


Rasanya Faraz masih tak percaya namun ia juga sangat bahagia. Ia berharap setelah ini Maria bisa menjalani kehidupan yg lebih baik, melangkah sesuai tuntunan islam, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan nya. Faraz sangat siap membantu Maria dalam hal itu.


.


.


.


"Jadi, kalau boleh tahu, apa yg membuat mu ingin masuk islam?"


Faraz mengantarkan Maria ke kampus nya, karena dia bilang sudah dua kali dia tidak masuk kuliah dan dua hari juga ia selalu duduk di depan masjid itu dan memikirkan banyak hal. Hal yg tak pernah Maria pedulikan selama ini. Ia juga bertanya tanya arti hidup nya, seperti yg pernah Maryam tanyakan waktu itu, Maria juga mempertanyakan jati dirinya.


"Aku melihat Maryam berdoa saat itu, Pak. Dia menangis tapi terus berdoa. Dan apa yg Maryam alami, sangat mengerikan bagi wanita, tapi Maryam sama sekali tidak menyalahkan takdir nya, dia justru semakin bergantung pada Tuhan nya, dia juga meng introspeksi diri kenapa dia bisa mengalami musibah itu. Jika orang sebaik Maryam masih introspeksi diri, lalu bagaimana dengan orang seperti ku?"


Mata Maria berkaca kaca mengingat kondisi Maryam saat itu, itulah yg membuat hatinya bergemuruh dan ia seperti tertarik pada sesuatu yg tak ia mengerti.


Faraz masih mendengarkan dengan seksama.


"Dan keajaiban terjadi, bagiamana bisa Maryam selamat dari pelecehan itu? Sementara waktu itu dia sendirian dan tidak ada yg melindungi nya. Seluruh keluarga kalian juga terpukul dan bahkan nama besar keluarga kalian tercoreng, dan ini sangat tidak adil untuk kalian, tapi kalian masih berdoa, berserah diri"


"Karena kita semua milik yg menciptakan kita, Maria" jawab Faraz tanpa sedikitpun menoleh pada Maria "Apapun yg Allah kehendaki, kita hanya bisa menerima nya, tapi apapun yg Allah berikan itu pasti demi kebaikan kita sendiri, hanya saja kadang manusia hanya melihat dari sisi negatif nya. Padahal semua hal pasti mengandung sisi positif nya. Seperti yg terjadi pada Maryam, jika kita melihat dari sisi penderitaan adik ku, dan terpukul nya keluarga ku, tentu itu sangat tidak adil. Tapi sisi positif nya, lihat diri mu, kamu menjadi seorang muslim berkat kejadian ini, dan juga, Maryam ingin jadi psikolog, tentu dia harus memahami mental orang lain, membantu mereka keluar dari masalah mental nya. Dan jika Maryam mengalami sendiri apa yg mengguncang mental nya, maka dia akan lebih memahami bagaimana cara menangani nya. Dan itu akan sangat bermanfaat jika ia bisa membantu orang lain keluar dari masalah yg sama. Ada begitu banyak orang yg menjadi motivator setelah mereka mengalami hal yg sangat buruk, ada begitu banyak orang yg memberikan inspirasi bagi orang lain dari kisah hidup mereka"


"Kamu benar, Pak Faraz. Semua hal yg terjadi seharusnya bisa menjadi pelajaran dan pasti mengandung hal yg positif"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2