
Maria terus menangis di pelukan Hira, setelah sadar ia menceritakan semuanya dengan beruarai air mata. Dan Faraz yg mendengar pengakuan Maria tak tahu harus bereaksi seperti apa, ia sangat tidak percaya ternyata pergaulan Maria begitu bebas dan bahkan sekarang dia hamil dan mencoba bunuh diri.
Faraz hanya bisa menenangkan Maria dan mengatakan semua nya akan baik baik saja.
"Bagaiamana semuanya akan baik baik saja? Aku hamil, Daddy di penjara" lirih Maria.
"Dan itu salah mu" geram Faraz tanpa sengaja. Ia tak bisa mengatakan 'sabar Maria' karena apa yg Maria alami adalah hasil dari perbuatan nya sendiri yg sudah tahu sangat salah tapi tetap di lakukan. Maria hanya bisa menanggapi ucapan Faraz dengan isak tangis nya "Maaf, bukan maksud ku menghakimi mu, Maria. Aku cuma engga habis fikir bagaimana bisa kamu berbuat sejauh itu, dan kamu malah mencoba bunuh diri. Bunuh diri itu dosa besar, Maria" lanjut Faraz dengan suara rendah.
"Aku bingung harus apa, hidup ku sudah berakhir"
"Tentu saja belum, ini adalah konsekuensi dari perbuatan mu, kamu harus menanggung nya. Dan bunuh diri bukan jalan untuk menyelesaikan masalah mu"
Maria tak bisa lagi menjawab, kini semua nya diam. Hanya terdengar isakan kecil Maria.
"Aku harus pulang" ucap Faraz pada akhir nya "Besok pagi aku akan kesini lagi. Tolong jaga dia ya, Hira"
"Iya"
.
.
.
"Sayang..." Amar mengecup pundak Maryam yg saat ini sedang menyisir rambut panjang nya di meja rias. Maryam hanya menjawab nya dengan gumaman "Kamu ketemu Dokter Gea?" Maryam terkejut mendengar pertanyaan Amar. Sekarang ia bertanya tanya siapa yg memberi tahu Amar, Rika, Gina atau Dokter the Gea?
"Engga" jawab Maryam pelan. Amar mengulum senyum dan mencium pipi Maryam cukup lama.
"Kamu bohong" bisik Amar di telinga Maryam membuat Maryam bisa merasakan nafas hangat Amar bahkan membuat nya merasa gugup.
Kemudian Maryam balas menggoda suaminya, di tangkupnya wajah sang suami, kemudian Maryam mendekatkan wajah nya dan berbicara tepat di depan bibir Amar.
"Kata siapa?"
Amar menggeram merasakan nafas Maryam menyapu wajahnya. Apa lagi bibir kedua nya tak lagi memiliki jarak sama sekali.
"Ini..." Amar memegang liontin yg masih menggantung indah di leher Maryam. Seketika Maryam mengeritkan kening nya. Tak mengerti maksud suami nya itu "Ini adalah pelacak" seru Amar sembari mengulum senyum nakal dan Maryam melotot terkejut.
"Jadi kamu mata matain aku?" tanya Maryam dengan nada tinggi kemudian beranjak dari kursi nya. Ia menatap tajam Amar sambil bersandekap dan Amar malah tertawa geli.
"Ya bisa di bilang begitu, aku hanya ingin tahu kamu ada dimana" jawab Amar sambil berjalan mendekati Maryam. Dan tanpa aba aba, ia langsung melingkarkan tangan nya di pinggang Maryam, menarik tubuh Maryam hingga menempel di tubuh nya.
__ADS_1
"Jadi karena itulah kamu bisa menemukan ku waktu itu?" tanya Maryam dengan suara rendah. Karena ia meraskan jantung nya yg berdebar dengan posisi yg begitu intim dengan suami nya.
"Ya" jawab Amar dengan suara serak. Dan ia mengecup sudut bibir Maryam, membuat Maryam terkesiap. Amar sudah sering melakukan nya, tapi Maryam masih belum terbiasa "Kira kira, kapan kau akan siap?" bisik Amar dan ia mengecup duan telinga Maryam.
Maryam teringat apa yg Dokter Gea katakan.
"Aku... Aku siap" bisik Maryam dengan wajah merona. Amar langsung mencium Maryam dengan ciuman bertubi tubi, membuat Maryam terkikik geli namun kemudian terbuai.
"Amar..." Maryam mencoba mendorong dada Amar dengan pelan.
"Hem..."jawab Amar namun masih mencium pipi dan leher Maryam.
"Sholat dulu" bisik Maryam mencoba melepaskan diri dari suami nya itu.
"Kan tadi udah" jawab Amar dan kini malah membelai pipi Maryam, pandangannya pun mulai berkabut dengan hasrat.
"Bukan sholat isya, tapi sholat sunnah"
"Hem aku ngerti" jawab Amar dan ia memberikan kecupan singkat di bibir Maryam sebelum ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu secara bergantian dengan Maryam.
Keduanya melaksanakan sholat, bacaan sholat Amar sudah jauh lebih baik, dan untuk dzikir tentu dia bisa dengan sangat baik. Setelah berdoa, kini kedua nya sudah siap menyatukan cinta mereka.
Amar bisa melihat Maryam yg tampak tegang, Amar menenangkan nya, ia menggenggam tangan Maryam dengan lembut, mengecup nya dengan mesra.
Ya ampun...
Kemana saja gadis menggemaskan ini selama ini?teman teman kencan Amar adalah wanita lihai, mereka takkan malu melepaskan pakaian mereka tanpa di minta. Tapi Maryam?
Amar mencoba membuai Maryam dengan sentuhan lembut nya, mencoba menghipnotis Maryam dengan ciumannya. Hingga Maryam benar benar terbuai dan hanyut dalam keindahan yg Amar berikan. Dan saat tangan Amar bergerak, mengarah pada kancing piyama Maryam, Maryam seketika ingat pada tragedi saat itu. Maryam membuka mata lebar lebar.
"Ini aku, Sayang" bisik Amar.
Amar tahu kenapa Maryam pergi menemui Dokter Gea, karena ia terus membujuk Dokter Gea untuk memberi tahu kenapa Maryam menemui nya. Amar sangat sedih karena ternyata Maryam masih trauma akan hal itu. Tak heran, wanita nya ini bahkan tidak mau bersalaman dengan Amar, tentu sebuah sentuhan yg tak seharusnya akan menggoreskan luka yg dalam.
Maryam menatap tepat di manik mata Amar. Amar menyunggingkan senyum lembut untuk menenangkan Maryam. Amar memberikan kecupan hangat di kening nya.
"Jangan tutup mata mu, Sayang. Lihat lah aku!" pinta Amar lembut. Kemudian ia melanjutkan aksi nya dengan lembut, pelan, penuh cinta. Memuja Maryam lewat sentuhan nya yg tentu membuat Maryam kembali tergoda.
"Amar..." seru Maryam dengan suara yg sangat lirih. Dan Amar hanya menggumam sembari mendorong pelan Maryam ke tengah ranjang.
"Lampu nya" rengek Maryam karena lampu di kamar nya masih terang benderang.
__ADS_1
"Engga apa apa" jawab Amar yg tak menghiraukan permintaan kekasih nya itu. Tapi tiba tiba Maryam mendorong Amar hingga jatuh ke samping nya membuat Amar terkejut "Apa?" tanya Amar kesal, jangan bilang malam ini ia gagal lagi.
"Sebentar, aku haus" ujar Maryam santai, kemudian ia merangkak turun dari ranjang, mengambil botol minum yg sudah kosong dan segera bergegas keluar kamar setelah mengenakan jilbab nya. Meninggalkan Amar yg menggeram kesal.
"Eggh... Masak gagal lagi sih" gerutu nya sambil melempar guling ke lantai dengan kesal.
"Aku cuma haus, tunggu sebentar napa" Amar sangat terkejut mendengar suara Maryam dari balik pintu, membuat ia hanya bisa menganga.
.
.
.
Amar tak tidur, tak peduli pagi yg akan segera menjelang. Ia terus memandang kekasih hatinya yg saat ini dalam pelukan nya, menyatu dengan nya tanpa penghalang apapun.
Memaduh kasih dengan kekasih yg halal rupanya sangat indah, tak bisa di ungkapkan dengan kata kata. Pria seperti Amar tentu tak hanya sekali dua kali melakukan hubungan seperti itu. Tapi melakukan nya dengan kekasih halalnya terasa sangat berbeda.
Ia puas, senang, bahagia dan ingin mengulang nya lagi dan lagi. Amar merasa seperti pria yg baru saja tahu rasa nya ber cinta. Bahkan setiap sentuhan istri nya seperti morfin bagi nya.
Amar mencium kening istri nya, kemudian turun mengecup hidung nya, dan bibir nya yg merah merona tak bisa ia lewat kan begitu saja. Membuat sang empunya menggeliat terganggu dan mengerang kesal.
"Amar, aku masih ngantuk" gumam nya dan semakin mendesakan tubuh nya pada tubuh suami nya.
"Kamu manis, Sayang" bisik Amar dan sekali lagi menggoda bibir Maryam.
"Aku belum gosok gigi" jawabnya masih dengan menutup mata. Amar tersenyum geli.
"Kalau gitu cepat bangun, gosok gigi mu dan kita lanjutkan lagi" goda nya yg membuat Maryam tersipu malu.
"Sudah hampir subuh" jawab Maryam dan menyembunyikan wajah nya yg sudah memerah di dada Amar.
"Masih ada waktu" balas Amar yg masih ingin memadu kasih lagi. Ia bahkan dengan sengaja mengusap punggung Maryam membaut Maryam terkesiap.
"Tapi...."
"Engga ada tapi tapi, jangan salahkan aku, salahkan dirimu yg terasa lezat dan manis" Maryam terkekeh dan mencubit pinggang Amar membuat Amar meringis.
"Memang nya aku pancake?"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...