
Maria membuka matanya pelan pelan saat merasakan sinar matahari menyentuh wajahnya, dan ketika kesadarannya kembali sepenuh nya, ia mengernyit bingung karena itu bukanlah kamar nya, dan ia semakin bingung karena pakaian nya kini berganti dengan sebuah dress panjang, Maria merentangkan tangan nya dan memperhatikan dirinya sendiri, kepala nya terasa pusing dan perut nya bergejolak. Ia tak ingat apapun yg terjadi semalam.
"Kau sudah bangun?" Maria mendongak pada seorang gadis yg baru saja masuk ke kamar nya.
"Kamu siapa? Aku dimana?" tanya Maria bingung sambil memegang kepala nya.
"Aku Maryam, adiknya Kak Faz, kamu dirumah kami" Maryam mendekat dan ia membawa segelas susus hangat, kemudian ia serahkan itu pada Maria
"Kak Faz?" tanya Maria bingung sambil menerima susu itu.
"Maksud ku, Sarfaraz" lanjut Maryam dan seketika Maria langsung Maria menganga tak percaya, dan bertanya tanya bagaiamana dia ada dirumah bos nya. Dan melihat Maryam, ia jadi teringat pertemuan pertama nya dengan Faraz, dimana Faraz mencari Maryam tapi malah Maria yg datang.
"Tapi bagaiamana dia membawa ku kesini?" Maria seolah bertanya pada dirinya sendiri.
"Mungkin karena kamu menelepon kakak saat kamu mabuk" Maryam berkata dan terlihat meringis. Sama sekali tak pernah menyangka seorang Sarfaraz akan membawa wanita mabuk kerumah nya.
Maria langsung memeriksa ponselnya dan memang benar dia memanggil Faraz, dia merutuki dirinya sendiri. Ia bahkan tidak mengerti bagaiamana bisa Faraz yg dia hubungi.
"Maaf, aku pasti sangat merepotkan" Maria berkata dengan rasa bersalah.
"Engga masalah, Maria. Ngomong ngomong, aku sudah siapkan pakaian untuk mu, jadi sebaiknya kau mandi dan keluar untuk sarapan"
"Engga usah, aku akan langsung pulang saja"
"Ibu ku sudah menunggu kita di luar" mendengar kata 'ibu' Maria terdiam sejenak, mengingat ibunya sendiri yg sangat ia rindukan. Tapi ia juga terkejut karena ibunya Sarfaraz mengetahui keberadaan nya.
"Apa orang tua mu tahu Pak Faraz membawa ku kesini?"
"Tentu, kami engga pernah bisa menyembunyikan apapun dari orang tua kami, selalu saja ketahuan" Maryam berkata sambil tertawa, karena memang benar, baik dirinya maupun Sarfaraz akan selalu tertangkap basah saat berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Apa mereka marah?" cicit Maria.
"Engga, mereka khawatir" jawab Maryam "Aku menunggu mu di luar" lanjut nya kemudian segera pergi dari kamar itu.
Sementara Maria dengan cepat membersihkan diri, fikiran nya kacau, menerka nerka apa yg terjadi dengan nya, kenapa ia menghubungi Faraz, dan apa saja yg sudah ia katakan pada nya, dan yg membuat fikiran nya semakin kacau adalah seluruh keluarga Faraz tau tentang nya yg mabuk dan menghubungi Faraz, apa yg akan mereka fikirkan tentang dirinya.
Maria memperhatikan dress panjang polos yg sudah Maryam siapkan, Maria tidak pernah mengenakan dress seperti itu sebelum nya. Dan dimana pakaian nya?
"Pakaian ku?" pekik Maria, ia ingat semalam dirinya hanya mengenakan hot pants dan kaos tipis "Bodoh sekali kau, Maria. Apa yg akan di fikirkan Pak Faraz melihat ku berpakaian begitu. Bodoh sekali" ia terus merutuki dirinya.
Setelah selesai, Maria segera mengambil ponsel dan tas kecil nya kemudian ia melangkah pelan keluar dari kamar nya. Maria memperhatikan setiap sudut rumah itu yg cukup besar.
"Non, meja makan disana" Maria tersentak saat Bi Mina tiba tiba muncul begitu saja, Maria memperhatikan Bi Mina yg juga berpakaian tertutup dan mengenakan hijab.
Bi Mina membawa Maria ke meja makan, dan disana sudah ada Maria dan ibu nya.
"Silahkan duduk, Maria" ucap ibu boss nya itu sambil tersenyum ramah, dan entah kenapa Maria merasa ada ketenangan merasuk dalam jiwa nya melihat senyum dari wanita yg dia kira berusia sekitar 40 tahunan itu, mengingatkan ia pada ibunya.
"Terima kasih, Tante. Maaf merepotkan, dan aku rasa aku akan pulang saja" tutur Maria pelan.
"Sarapan dulu, Nak. Biar Maryam nanti mengantar mu pulang sekalian Maryam pergi ke kampus nya" Asma berkata dengan sangat lembut. Padahal Maria sudah membayangkan mungkin kedua orang tua Faraz akan mencaci maki dirinya karena apa yg terjadi, ia sama sekali tidak menyangka akan di sambut dengan ramah.
"Duduk sini, Maria" Maryam memberi isyarat agar Maria duduk di samping nya. Dengan sungkan, Maria pun duduk disana.
Maria menoleh dan mencari keberadaan Faraz, entah bagaimana dia akan menghadapi boss nya itu nanti.
"Putra ku sudah pergi ke kantor jika kamu mencari nya" Maria langsung salah tingkah mendengar kata kata ibu boss nya itu.
"Iya, maksud ku, aku hanya ingin meminta maaf karena sudah merepotkan nya dan ber terima kasih karena sudah membantu" cicit Maria.
"Tidak masalah, sesama manusia kita memang harus saling menolong" ucap Asma kemudian mereka pun memulai sarapan, dan di tengah sarapan, terdengar suara Afsana yg memanggil Maryam.
Saat Afsana memasuki ruang makan, ia sedikit terkejut karena melihat wanita asing disana.
"Sini, An" panggil Asma dan menyuruh Afsana duduk di samping nya, Afsana pun bergabung sambil menatap heran pada Maria, begitu juga dengan Maria. Ia juga memandang Afsana yg anggung dengan pakaian islami nya membuat nya semakin terlihat anggun, untuk pertama kalinya, Maria berada di tengah tengah wanita wanita muslimah seperti mereka. Dan Maria menyadari satu hal, ketiga wanita di depan nya ini tampak sangat cantik dan seolah wajahnya bersinar. Sangat menenangkan mata saat di pandang.
__ADS_1
"Hai, aku Maria" Maria mengulurkan tangan nya pada Afsana dan Afsana pun menyambut nya.
"Afsana, panggil saja Ana" ucap Afsana sambil menyunggingkan senyum dan senyum itu membuat nya semakin anggun.
"An, jadi kan mau ikut ke kampus?" tanya Maryam sambil menyuapkan makanan ke mulut nya. Kemudian Bi Mina datang dan juga menyiapkan makanan untuk Afsana.
"Iya, makanya aku kesini" jawab Afsana "Makasih, Nena" ucapnya kemudian pada Bi Mina.
"Sama sama, Neng. Makan yg banyak ya, setiap pulang dari pesantren Neng Ana pasti kurus"
"Hehe, soalnya stress, Bi. Mikiran ujian dan sebagai nya" jawab Afsana.
"Ngapain di bawa stress, jangan terlalu di paksakan untuk menguasai semua mata pelajaran mu" sambung Asma, karena ia sendiri memang tidak pernah mau stress karena pelajaran sejak kecil.
Mereka mengobrol sambil menikmati sarapan mereka, dan tentu mereka tidak mengabaikan Maria, Asma bertanya bagaiamana Maria menjalani hidup, walaupun Faraz sudah memberi tahu, tapi Asma hanya tidak ingin merasa Maria sungkan, sehingga dia juga mengajak Maria berbicara, begitu juga dengan Maryam dan Afsana. Setelah tahu Afsana sejak kecil tinggal di Amerika, Afsana dan Maryam bertanya bagaimana rasanya tinggal disana.
Maria merasa senang, dan sejak kematian ibunya, ini pertama kali nya ia bisa tersenyum senang, bahagia dan merasa memiliki seseorang sebagai keluarga. Apa lagi perlakuan Asma yg begitu lembut dan sering memanggil nya 'Nak' membuat Maria benar benar merasa nyaman berada disana, penuh kehangatan.
Setelah selesai sarapan, Maryam pun segera bersiap pergi ke kampus nya, dan seperti biasa, sebelum ia pergi dari rumah, ia selalu pamit pada ibunya, mencium tangan dan pipi ibunya, begitu juga dengan Afsana. Maria yg melihat hal itu, ia juga ingin melakukan hal itu, ia bersalaman dengan Asma dan mencium tangan nya. Membuat ketiga wanita itu sedikit terkejut terutama Asma.
"Bolehkah aku memeluk mu, Tante" pinta Maria malu malu, dan Asma pun mengangguk kemudian memeluk Maria. Maria langsung memeluk Asma dengan erat dan seketika bayangan ibunya muncul dalam benaknya. Matanya berkaca kaca, ia sangat merindukan pelukan hangat dari seorang ibu seperti ini.
"Ada apa, Nak?" tanya Asma yg melihat mata Maria memerah dan seolah akan menangis.
"Aku sangat merindukan ibuku, dia meninggal saat usia ku 9 tahun"
"Berapa usia mu sekarang?"
"20 tahun"
"Kau seumuran dengan Maryam, dia juga baru 20 tahun, nama kalian juga mirip" ucap Asma menghibur membuat Maria tersenyum.
"Baiklah, hati hati" ucap Asma kemudian.
.
.
.
Setelah kelas nya selesai, Maryam dan Afsana tetap di kelas sembari menunggu kelas selanjut nya, mereka berbincang tentang banyak hal.
Hingga tiba tiba Maryam di kejutkan dengan kemunculan Amar.
Maryam masih sangat marah pada pria itu dengan apa yg sudah di lakukan nya.
"Maryam, aku ingin berbicara"
"Mau bicara apa lagi?" tanya Maryam menahan kesal nya.
"Aku ingin minta maaf atas apa yg terjadi kemaren"
"Aku cuma engga ngerti bagaimana kamu bisa mengucapkan hal itu didepan umum, dan lihat siapa kamu, Amar! Apapun yg kamu lakukan, atau siapapun yg berhubungan dengan mu, itu akan menjadi sorotan media, dan aku engga suka jika aku harus terseret kesana"
"Aku tahu, dan aku benar benar meminta maaf, tapi percayalah, Maryam. Aku serius dengan apa yg aku katakan, aku menyukai mu, dan aku ingin menikahi mu"
Mendengar ungkapan perasaan Amar, Maryam tampak frustasi namun beda halnya dengan Afsana yg malah senyum senyum dan baginya itu tampak sangat romantis.
"Kita hanya teman, Amar. Ku mohon, mengerti lah" tegas Maryam kemudian ia berlalu dari kelas nya sambil menarik Afsana.
Amar tampak sangat frustasi dengan penolakan mentah mentah Maryam itu, saat ia hendak mengejar Maryam, Afsana tiba tiba saja muncul di depan nya.
"Kenalin, aku Afsana. Sepupu nya Maryam" ucap Afsana buru buru, kemudian ia menoleh ke belakang takut takut Maryam menyusul nya, karena tadi Afsana mengatakan ada yg tertinggal di kelas nya.
"Aku Amar" Amar memperkanalkan diri tentu tanpa berjabat tangan.
__ADS_1
"Aku sudah tahu, sebenarnya Maryam sudah menceritakan banyak hal tentang mu, aku lihat kamu memang benar benar menyukai nya, dan saran ku adalah, jangan katakan pada Maryam kalau kamu ingin menikahi nya, tapi katakan itu pada kedua orang tua nya"
"Maksud mu?" Amar bertanya tak mengerti.
"Maksud ku, jika kamu menyukai anak gadis seseorang, maka datangi orang tua nya, katakan niat baik mu itu dengan cara yg baik dan benar, dan jika kedua orang tua Maryam menerima mu, maka pasti Maryam akan menerima mu, karena dia putri yg taat pada ayah ibunya"
Belum sempat Amar berbicara, Afsana sudah segera pergi, karena ia tak ingin Maryam mengetahui apa yg sudah ia lakukan.
Maryam memang sudah menceritakan tentang Amar pada Afsana, dan Afsana bisa meraskan Maryam juga sebenarnya pasti tertarik dengan Amar, mungkin gadis itu belum menyadari nya atau mencoba menyembunyikan nya, Afsana tidak tahu.
.
.
.
Asma yg baru selesai mengajar kelas terakhirmya segera mengunjungi ibu mertua nya untuk pamit pulang apa lagi hari sudah sore, ia yakin Maryam dan Afsana pasti sudah pulang kerumah nya. Saat mendatangi kediaman ibu mertuanya, terlihat ibu mertua nya itu memang menunggu Asma.
"Ada apa, Ummi?" tanya Asma sembari duduk di sofa tepat di depan Ummi Mufar.
"Ini..." Ummi Mufar menyerahkan sebuah koran, Asma pun mengambil nya dan matanya melebar sempurna melihat apa yg ada di koran itu.
Dimana koran itu memberitakan bahwa Amar Degazi memperkanalkan calon istri nya pada karyawannya di Degazi Corp. Bahkan Amy Degazi yg merupakan nenek dari Amar Degazi membenarkan hal itu, dan yg lebih mengejutkan nya lagi, ada foto Amar dan Maryam di sana, bahkan ada foto foto Amar saat di Zahra Resto yg ternyata milik keluarga Maryam.
"Astaghfirullah, apa ini?" tanya Asma tak percaya.
"Justru Ummi yg mau bertanya, apa itu?"
"Asma juga engga ngerti" gumam Asma yg masih shock, ia masih membaca berita itu baik baik dan ia berharap itu kesalah fahaman.
"Apa Bilal sudah tahu?" tanya Ummi Mufar, Asma hanya bisa menggeleng.
"Asma saja baru tahu" ujar Asma, kemudian ia melipat koran itu "Asma pulang dulu, Ummi. Mau bicara sama Maryam" Asma berkata antara marah, khawatir dan tak percaya.
"Tunnggu, Nak" seru ibu mertua nya saat Asma hendak pergi "Tanyakan pelan pelan ya sama Maryam, minta penjelasannya, jangan marahi dia" pinta nenek Maryam itu. Asma mengangguk dan pergi.
.
.
.
Sementara Maryam yg sedang membaca buku di kamar nya bersama Afsana, di kagetkan dengan pintu yg terbuka tiba tiba.
"Kak Faraz sudah pulang?" tanya Afsana namun Faraz tak menjawab nya dan ia terlihat marah. Maryam yg sejak tadi tiduran di tengah ranjang pun segera duduk dan ia juga terkejut dengan kedatangan kakak nya itu.
"Lihat, kamu bilang cuma teman?" tanya Faraz sembari menyerahkan koran dimana ada berita Amar dan Maryam disana.
Maryam menerima koran itu dan membaca nya, ia juga tak kalah kagetnya dengan berita itu meskipun ia sudah menduga ini pasti terjadi.
"Kak, ini cuma salah faham" seru Maryam dan menatap kakak nya itu berharap kakaknya percaya.
"Salah faham bagaimana? Dia sering datang ke restaurant, dan kamu juga mendatangi kantornya. Apa yg kamu lakukan disana, Maryam?" tanya Faraz masih berusaha mengontrol amarahnya, dia marah karena berfikir Maryam telah menjalin hubungan dengan pria yg salah. Dia marah karena dia tidak mau adik tercinta nya jatuh pada pria yg salah.
"Karena nenek nya yg mengajaknya, maksud Maryam. Waktu itu kami bertemu di mall, ada Afsana juga, ya kan An?" Maryam menoleh pada Afsana dan Afsana mengangguk cepat "Lalu dia bilang dia ingin makan di restaurant kami, tapi dia ingin berkunjung ke kantor Amar sebentar dan mengajak kami, kami sudah menolak nya tapi nenek nya Amar membujuk kami, jadi kami engga tega yg mau nolak"
"Yg di katakan Maryam benar, Kak" sambung Afsana.
"Maryam..." desis Faraz merasa kesal dan juga khawatir pada adik nya itu, khawatir karena berfikir Maryam telah jatuh pada pesona Amar Degazi "Kamu engga tahu seperti apa dia, Dek. Dan sekarang, pasti orang orang terutama media akan mencari mu, dan mereka pasti juga akan mencari latar belakang mu dan itu akan di jadikan berita oleh mereka, apa lagi kakak mu adalah arsitek nya, pasti sangat mudah melakukan itu bagi mereka"
"Maafin Maryam, Kak" ucap Maryam lirih, bahkan matanya sudah terasa panas dan berkaca kaca, ia merasa bersalah dan takut nama keluarga nya ikut di seret. Faraz merangkul adiknya itu dan menenangkan nya, ia juga merasa bersalah karena sempat memperlihatkan kemarahannya pada adik tersayang nya itu.
Mungkin gosip dan pemberitaan seperti itu adalah hal biasa, tapi tentu tidak biasa bagi Maryam dan keluarga besar nya. Apa lagi Maryam adalah anak gadis mereka yg masih sangat muda, dan dari lingkungan pesantren, kerabat kerabat mereka juga pasti akan mempertanyakan dan berfikir Maryam menjalin hubungan dengan Amar Degazi.
Ya, Amar memang sempurna, baik secara materi maupun fisik, bahkan sangat sempurna. Tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa Amar mengencani banyak wanita, ia juga tipe pria yg dingin. Dan tentu Maryam tidak cocok bersanding dengan nya, terutama dengan masa lalu kelam Amar dan kebiasaan buruk yg masih Amar sembunyikan dari dunia.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...