Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 22


__ADS_3

Amar terdiam merenung dikamarnya yg gelap gulita, ia tak menyalakan satu lampu pun, menutup semua jendela dan hordenya rapat rapat hingga tak membiarkan sedikit pun cahaya rembulan untuk masuk.


Amar duduk di sebuah sofa yg ada di dekat jendela, pandangannya kosong ditengah kegelapan kamarnya.


Teringat kembali bagaimana keberadaan Maryam seolah memberi nya kekuatan untuk mengontrol emosi nya, padahal Maryam tak melakukan apapun, dia hanya memberi nya segelas air kemudian menyunggingkan senyum samar. Apakah sihir Maryam ada di airnya atau di senyum nya?


Dan sekarang, ia harus menepati janji nya pada ibundanya Maryam, yaitu mempertemukan ibu Maryam dan ibu nya. Dan setelah itu, Amar akan segera memiliki Maryam. Karena Amar merasa Maryam akan merubah hidup nya, Maryam membawa cahaya pada nya jiwa nya yg gelap. Dan demi cahaya itu, Amar akan melakukan apapun.


"Besok, aku akan menemui nya"


.


.


.


Keesokan harinya, Maryam yg masih menunggu tindakan Amar seolah tak sabar. Apakah yg akan di lakukan Amar? Bagaimana ia mempertemukan ibu mereka? Kenapa Amar menyanggupi syarat Ummi nya padahal selama 15 tahun, jangan kan menemui Rossa, menyebutkan nama nya atau pun mengungkitnya saja ia tak pernah.


Amar membakar kenangan ibunya beserta dengan tubuh Amora, dan Amar mengubur masa lalu dirinya bersama ibunya dengan kematian ayahnya.


"Abi engga kerja?" tanya Maryam yg baru turun dari kamarnya, ia melihat ayahnya yg sedang bercengkrama dengan ibunya dan mereka selalu tampak mesra.


Terkadang mereka bertengkar, ah tidak... Tapi sering. Namun pertengkaran mereka selalu bisa di atasi oleh Bilal yg selalu mengalah pada Zahra nya, dan mereka tak pernah berdebat di luar kamar jika ada anak anak mereka.


"Engga, Sayang. Tadi malam Abi lembur, jadi hari ini pengen istirahat"


Maryam yg juga tak punya kegiatan pun bergabung bersama orang tuanya. Baru saja ia menghempaskan tubuhnya di sofa, ponsel dalam genggamannya berdering. Maryam mengernyit melihat siapa yg menelepon.


"Assalamualaikum, Granny" sapa Maryam lembut, mendengar Maryam menyebut Granny, Bilal dan Asma langsung menatap putrinya itu.


"Waalaikum salam, Nak. Maryam, Granny khawatir dengan Amar, dia pergi menemui ibunya sendirian, dia engga mau di temenin. Granny takut bagaiamana Amar akan mengendalikan dirinya disana" terdengar suara Granny Amy yg sangat panik membuat Maryam ikutan panik.


"Jadi, apa...apa yg bisa Maryam bantu?" tanya Maryam yg juga tampak khawatir.


"Bisa kau menyusulnya, Sayang? Karena dia melarang Granny ikut"


"Em iya iya" jawab Maryam cepat.


"Terima kasih, Nak"


"Ada apa, Maryam?" tanya ummi nya setelah Maryam memutuskan sambungan telepon nya dan Maryam terlihat panik.


"Ummi, boleh engga Maryam pergi menyusul Amar, saat ini dia pergi sendirian menemui ibunya" cicit Maryam sambil menatap memohon pada ayah dan ibunya.


"Tapi kenapa? Dia hanya menemui ibunya, kenapa harus di susul" ucap Asma heran.


"Ummi, Amar itu.... Sebenernya Amar itu..."


Maryam tak tahu, haruskah ia memberi tahu kebenaran masa lalu Amar pada orang tua nya? Selama ini Maryam diam karena berfikir masa lalu ibunya Amar itu adalah aib, dan tentu menyebarkan aib orang lain sangatlah di larang.


"Kenapa dengan Amar? Apa ibunya berbahaya? Apa dia orang jahat?" tanya Abi nya yg juga heran dengan ekspresi panik Maryam.


"Sebenarnya..." Maryam menarik nafas dan menatap kedua orang tuanya bergantian "Ibunya itu membuat Amar trauma, dia selingkuh dan saat...saat...." lidah Maryam terasa kelu mengatakan hal itu, tapi sangat penting memberi tahu kebenaran Amar agar orang tuanya mau mengerti keadaan Amar dan mengizinkan Maryam pergi.


"Saat apa, Maryam?" tanya Asma.

__ADS_1


Lalu, dengan perlahan dan dengan memilih kata kata yg tepat dan sesederhana mungkin Maryam terpaksa menceritakan masa lalu Amar, ibunya yg selingkuh dan berhubungan badan ekstrim dan di saksikan langsung oleh ayahnya, dirinya dan bahkan adik nya yg berusia 6 tahun, bagaiamana tragisnya sang adik meninggal karena ibunya dan bagaiamana ayahnya juga meninggal karena ibu nya. Sementara saat itu Amar hanyalah anak berusia 13 tahun, tentu hal itu mengguncang jiwa nya dan bahkan menghancurkan nya.


"Astaghfirullah..."


"Ya, Allah. Kasihan sekali"


Bilal dan Asma bergumam, merasa kasihan pada hal mengerikan yg menimpa Amar.


"Karena itulah Ummi, dia benci bahkan hanya untuk mendengar kata ibu. Karena trauma yg ia alami, dan jika mendengar kata ibu saja membuat ia hilang kendali, lalu bagaimana jika ia bertemu dengan ibunya? Dan karena itulah juga ia melukai dirinya, sebenernya itu adalah pelampiasan emosi yg dia selalu tahan, kebencian, kemarahan dan kesedihan, emosi itu menyatu hingga emosi itu menjadi begitu besar, dan cara menyalurkan nya adalah dengan melukai dirinya, karena ia tak punya siapapun untuk di jadi kan sandaran atau memberinya dukungan dan ia juga selalu menutup diri, bahkan neneknya pun tak bisa membantu"


"Apa dia juga bisa melukai orang lain?" tanya Asam takut. Membayangkan seseorang mengiris atau menyayat tubuhnya sendiri sangat mengerikan.


"Engga, Ummi. Kalau melukai orang lain namanya psikopat, bukan self harm"


"Jadi apa yg harus kau lakukan sekarang, Nak?" tanya Abi nya.


"Maryam ingin menyusul nya, siapa tahu Maryam bisa membantu"


"Seperti saat kamu membawakan air untuk nya waktu itu?" tanya ayahnya lagi yg mengingat Maryam tiba tiba membawakan air untuk Amar sementara ia tak tahu kenapa.


Maryam mengangguk pelan "Saat seseorang dalam puncak emosi, maka kita harus menenangkan nya dengan cara yg lembut, itukan yg selalu Ummi dan Abi ajarkan?"


Asma dan Bilal saling pandang, rasa simpati nya begitu besar pada Amar setelah mendengar cerita Maryam.


"Ayo, biar Abi yg antar" seru Bilal


"Ummi juga ikut" sambung Asma.


"Kemana kita harus menyusul nya? Dimana ibunya tinggal?" Bilal bertanya saat mereka bertiga sudah masuk mobil.


"Penjara" jawab Maryam yg membuat Asma dan Bilal sangat terkejut.


"Granny Amy dan Amar memenjarakan nya atas kematian ayah Amar. Dan ibunya Amar membenarkan itu, dia mengaku dengan sengaja mendorong suami nya sehingga dia di jatuhi hukuman seumur hidup"


.


.


.


"Rossa, ada yg ingin menemui mu"


Rossa, penampilan wanita paruh baya itu sangat mengerikan, tubuhnya kurus kering, rambut nya berantakan dan matanya begitu cekung, ia lebih terlihat seperti mayat hidup atau orang gila.


Mau bagaiamana lagi?


Itu adalah hukuman atas dosa dosa nya, ia tak bersalah karena yg terjadi adalah kecelakaan, tapi ibu mertua dan putra nya sangat membenci nya dan melaporkannya pada polisi. Dan dengan senang hati Rossa akan menerima hukumannya dan mengaku bersalah, berharap dengan itu sedikit beban dosa nya berkurang.


"Siapa?" tanya Rossa heran. Karena selama 15 tahun ia di penjara, tak pernah ada satupun yg menemui nya, bahkan keluarga nya sendiri.


"Putra mu"


Dan seketika tubuh Rossa menegang. Putra nya? Amar?


Rossa segera berbalik badan dan melihat foto foto Amar yg ia ambil dari koran dan ia tempel di dinding sel tahanan.

__ADS_1


Sekarang putra nya sudah 28 tahun, dan terakhir kali ia melihat nya saat usia nya 13 tahun. Sekarang putra nya tumbuh menjadi pria yg sangat tampan, mempesona, persis seperti ayahnya.


"Ayo, Rossa. Dia sungguh menunggu" ucap petugas polisi itu namun Rossa menggeleng dan seketika air matanya jatuh membasahi pipi nya yg sudah keriput, tirus dan kusam.


"Aku engga mau, dia...dia akan menatap ku penuh kebencian, aku engga sanggup"


Rossa berkata dengan suara gemetar.


"Rossa, setelah bertahun tahun akhirnya dia menemui mu, mungkin dia mau memaafkan mu" ucap petugas polisi wanita itu yg sudah mengenal Rossa dan kisah hidup nya yg penuh dosa. Rossa masih menggeleng namun akhirnya petugas polisi itu berhasil meyakinkannya.


Sementara diruang tunggu, Amar bergerak gelisah, dada nya terasa sesak, tubuhnya panas dingin, bahkan ia sampai mengucurkan keringat dingin di kening nya.


Ia masih dan akan selalu membenci wanita yg telah melahirkan nya. Namun ia datang hanya untuk mengatakan bahwa calon ibu mertua nya ingin menemui nya, itu saja.


Dan saat terdengar langkah kaki pelan mendekati nya, Amar mendongak. Ia mengernyit melihat sosok wanita dengan penampakan menyedihkan di depan nya. Wanita itu semakin mendekat, meneteskan air mata, dan melangkah dengan tubuh nya yg bergetar. Pandangannya terus memandangi Amar tanpa berkedip sedikitpun. Amar yg tadinya duduk kini berdiri, ia juga memandangi wanita yg tak ia kenali itu namun juga tak asing.


"Amar..." suara bergetar wanita itu membuat Amar tersentak.


Bayangan masa lalu kelamnya kembali menari bebas dalam benak nya, bagaiamana wanita itu melakukan hubungan terlarang di ranjang ayahnya, bagaimana tubuh mungil adik kecil nya hangus terbakar, sangat mengerikan. Dan bagaiamana ayahnya meninggal di pangkuannya dengan kepala yg pecah dan berdarah.


Amar melangkah mundur dengan tubuh yg limbung, kepalanya terasa berat dan pusing, dada nya semakin sesak, ia bahkan kesulitan bernafas.


Sementara wanita didepan nya hanya bisa menangis melihat reaksi Amar melihat dirinya. Amar lebih dari membenci nya.


Amar berbalik hendak pergi, namun ia tak sanggup lagi melangkah karena tiba tiba lututnya terasa lemas ia hampir terjatuh namun seseorang dengan sigap menangkap nya.


"Abi, Amar harus di bawa pergi"


Amar mendengar suara lembut yg ia sukai, ia mendongak dan tatapan nya bertemu dengan tatapan wanita yg memberikannya seberkas cahaya dalam jiwa nya dan juga wanita yg meminta nya bertemu dengan ibunya.


Dan pria yg begitu baik hati memapahnya berjalan keluar.


"Tante..." panggil Amar pada Asma "Jika Tante ingin menemui nya, dia..." Amar berkata dengan setengah berbisik.


"Sebaikanya kita pulang, Nak" seru Asma lembut.


"Maaf, kami harus membawa nya pulang. Kondisinya bisa lebih buruk jika dia berada lebih lama disini"


Maryam berkata dengan lembut dan pelan pada Rossa, Maryam sendiri meringis melihat penampilan Rossa yg benar benar memprihatinkan.


Rossa hanya mengangguk sementara air matanya terus mengalir deras.


Tanpa di sangka, Maryam mendekat, menyerahkan sapu tangan miliknya pada Rossa dan berkata.


"Jangan menangis, Tante. Doakan saja semoga suatu hari nanti Amar bisa memaafkan Tante" tangis Rossa semakin pecah mendengar kata kata Maryam yg begitu menyentuh. Bahkan ibu mertua nya ataupun keluarganya sendiri tak pernah memberinya kesempatan apa lagi dukunngan. Sehingga dukungan kecil Maryam yg hanya meminta nya tak menangis itu sungguh menyentuh.


"Maryam, itu nama mu kan?" Rossa bertanya yg di jawab anggukan oleh Maryam "Aku sudah melihat foto mu dan berita mu di koran, kau sangat cantik, Amar pasti sangat mencintai mu. Apakah dia kesini karena permintaan mu, Nak?"


"Bukan, Tante" jawab Maryam sambil menggeleng "Tapi memang untukku"


Maryam menoleh dan melihat Abi dan Ummi nya sudah membawa Amar keluar.


"Terima kasih, Maryam. Karena mu aku bisa melihat putra ku secara langsung setelah 15 tahun"


"Sama sama, Tante. Jangan menyerah dan terus berdoa, semoga Amar membuka hati dan pintu maaf untuk, Tante"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2