
Maryam pulang saat hari menjelang sore, kegiatan nya masih sama seperti biasanya, kuliah, mampir ke resto ibu nya atau pun ke pesantren tentu dengan selalu di temani Rika dan Gina.
Sesampainya di rumah, ia di sambut oleh Fifi, kepala pelayan rumah nya. Dan ada yg berbeda dari Fifi, biasanya wajah nya datar, bibir nya tersenyum datar dan senyum itu tak pernah sampai ke mata nya, tapi sekarang kepala pelayan nya ini senyum senyum geli dan mata nya pun tampak berbinar.
"Ada apa, Fi?" tanya Maryam heran.
"Tidak ada apa apa, Nyonya" jawabnya masih dengan mengulum senyum geli.
"Amar sudah pulang?" tanya Maryam karena mobil Amar ada di depan
"Iya, Nyonya" jawab Fifi sembari berjalan mengekori Maryam dari belakang. Maryam melepas cadar nya sesampainya di dalam rumah nya.
"Biar saya bawa kan barang barang anda ke kamar, Nyonya" seru Fifi namun Maryam menggeleng.
Seperti itulah setiap ia pulang, bahkan ransel nya pun juga akan di bawa kan oleh Fifi, padahal Maryam sudah berkali kali mengatakan tak perlu seperti itu. Maryam akan melakukan sendiri apa yg bisa dia lakukan.
"Suara berisik apa di dapur?" tanya Maryam kemudian ia menghentikan langkah nya yg hendak ke kamar kini beralih ke dapur.
Mulut Maryam terbuka lebar dengan mata melotot sempurna. Melihat dapur yg sudah seperti kapal pecah, dan para pelayan juga tampak meringis namum tak bisa melakukan apa apa ketika Tuan nya bergerak kesana kesini sedang memasak. Bahkan Granny pun hanya bisa menggaruk kepala nya melihat apa yg di lakukan cucu nya.
Amar, suami Maryam, CEO Degazi Corp itu sedang memasak dan ia mengenakan apron pink dengan motif bunga bunga. Mungkin dia mau masak sup, karena ia memasak air dan mencemplungkan potongan wortel, potongan dada ayam dan beberapa sayuran ke teflon, ya, sebuah teflon mungil. Dan di panci yg cukup besar, ia sedang menumis sesuatu, aroma nya wangi, hanya saja itu tampak mencurigakan.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Amar sembari tangan nya sibuk mengaduk teflon yg berisi bahan bahan sup itu dengan sebuah sendok kayu.
Kemudian ia mengambil semangkuk udang, Maryam fikir dia akan buat sup udang, eh, udang nya masuk ke dalam panci yg sebelum nya sudah ada bawang yg di tumis disana.
"Kamu ngapain, Amar?" tanya Maryam kemudian berjalan masuk, jangan tanya apa kabar lantai yg biasanya kinclong, kini sudah lecet, lengket, air, minyak, sayuran, semua menodai lantai itu.
"Mau masak buat kita, lebih tepat nya, buat kamu" Maryam hanya bisa menggaruk tengkuk nya dan menaikan sebelah alis nya.
"Tapi kamu engga bisa masak, kenapa engga suruh Nur aja? " tanya Maryam.
"Aku pengen buat masakan special buat kamu, sebagai permintaan maaf ku" tutur Amar dengan tulus, membuat Maryam tersentuh. Kemudian ia mencium pipi Maryam saat Maryam mengintip ke dalam panci dan teflon itu. Tentu hal itu membuat Maryam malu apa lagi semua pelayan bahkan nenek mertua nya juga ada disana dan memperhatikan mereka.
Para pelayan yg melihat adegan romantis itu hanya bisa menunduk sambil mengulum senyum. Boss nya yg dulu seperti robot kini tampak seperti romeo saja.
"Mana ada orang buat sup di teflon" gumam Maryam kemudian.
"Aku niat nya buat sup sedikit, jadi pakek alat yg kecil aja" jawab Amar dengan senyum sok pintar nya.
"Tapi kan ada panci yg kecil, terus kenapa kamu masak tumisan di panci segede ini?" tanya Maryam lagi karena memang panci nya cukup besar bahkan cukup untuk masak sup jika ada acara makan malam keluarga besar mereka.
"Biar minyak nya engga kemana mana" jawab Amar lagi yg seketika membuat Maryam tertawa geli.
__ADS_1
"Terus kamu mau buat apa dengan adonan tepung mengerikan ini?" Maryam menunjuk adonan tempuk yg memang tampak mengerikan bentuknya.
"Mau bikin paratha, abis ini aku buat curry. Kamu mau curry daging sapi atau ayam?"
Maryam tak bisa menjawab, dia hanya bisa menggeleng.
"Maryam, bisa tolong bawa suami mu pergi dari sini?" tanya Granny Amy yg sudah tak tahan melihat tingkah cucu nya itu.
"Sejak tadi Granny terus mengusir ku, padahal aku hanya ingin membuat sesuatu yg special for my lovely wife" jawab Amar sambil sesekali mengintip layar ponsel nya, mungkin dari sanalah ia dapat panduan memasak.
"Kamu bahkan engga tahu teflon di pakek buat apa, panci buat apa" balas neneknya yg tampak nya sudah sangat kesal "Kamu engga tahu apa apa tentang dapur"
"Tapi zaman sekarang semuanya bisa di pelajari lewat internet" jawab Amar yg tak mau kalah "Ini hampir masak, Sayang. Tumis udang special buat istri ku, kamu suka udang kan?"
"Special dari mana nya? Wong cuma pakek bawa putih dan bawang bombay gitu kayaknya"
Sayang nya Maryam hanya bisa mengeluh dalam hati.
"Ah ya, garam nya lupa" seru Amar kemudian ia mengambil sesuatu yg dia fikir itu adalah garam
"Itu soda, Tuan" seru Nur dengan cepat saat Amar hendak menuangkan soda itu ke dalam panci yg berisi udang.
"Aku juga tahu ini soda" jawab Amar yg tak mau kehilangan wibawa nya karena bahkan tak bisa membedakan mana soda mana garam "Cuma mau cek, kapan expired nya" lanjut nya masih dengan nada bossy nya. Dan ternyata di botol itu memang tertulis soda kue "Buang aja, udah mau expired" Amar melempar soda itu ke tong sampah. Sebenarnya expired nya masih dua tahun lagi. Mau bagaiamana lagi, Amar tak mau kelihatan bodoh.
"Tapi, Sayang, aku mau masakin buat kamu. Sebentar lagi pasti selesai kok"
"Engga usah, aku udah maafin kamu" ucap Maryam pelan dan terus menarik paksa Amar.
Di dapur, semua pelayan kini tertawa geli dengan tingkah Amar. Sementara Granny hanya bisa gelang gelang kepala kemudian juga pergi dapur tentu setelah meminta Nur membuatkan makan malam yg lezat.
Di kamarnya, Maryam melepas apron yg Amar kenakan dan melemparnya ke keranjang baju kotor.
"Kamu mandi gih, bau asap" pinta Maryam. Namun Amar tak bergeming. Sementara Maryam meletakkan ranselnya di sofa, kemudian melepas hijab nya.
Ia di kagetkan saat Amar tiba tiba memeluk nya dari belakang.
"Maaf" bisik Amar sembari merapikan rambut Maryam "Aku pasti sangat menyakiti mu, kan?" lirih nya.
"Kamu membuat ku takut" jawab Maryam kemudian "Kalau kamu engga suka dengan apa yg aku lakukan, kamu tinggal bilang aja, kita bisa membicarakan semuanya baik baik. Aku... Aku benci di bentak dan di kasari" ucap Maryam dengan mata yg kembali berkaca kaca.
Amar mengecup pundak Maryam berkali kali dan terus menggumamkan kata maaf.
Maryam berbalik dan memeluk suami nya. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Amar mengecup pucuk kepala Maryam.
__ADS_1
"Ini sudah sore, ayo kita mandi" goda Amar kemudian yg langsung mendapat hadiah cubitan di pinggang nya.
"Kamu aja mandi duluan"
"Engga mau, ayo kita mandi bareng"
Amar berkata dengan manja. Namun Maryam yg masih memeluk Amar menggeleng. Iseng, Amar melepas ikat rambut Maryam, menyingkap rambut yg kini terurai dan membuka ret sleting gamis nya yg ada di belakang.
"Amar..." protes Maryam dan segera melepaskan pelukan nya. Maryam mencoba menaikan kembali ret sleting nya namun ia kesulitan. Hal itu tak di sia siakan Amar.
"Biar aku bantu" ucap Amar menggerling nakal.
"Engga usah, kamu mandi gih" tapi Amar tak memperdulikan kata kata istrinya itu.
Ia membalik tubuh Maryam hingga memunggungi nya. Amar kembali mengecup pundak Maryam yg terbuka.
"Hentikan, Amar. Ini masih sore" seru Maryam.
Sementara Amar, ia hanya terdiam dan melihat bekas kuku di pundak Maryam.
"Apa ini karena aku?" bisik nya sembari membelai bekas cengkramannya semalam.
Maryam ikut terdiam sejenak, namun kemudian ia segera berbalik, menghadap suami nya.
Tampak penyesalan di mata Amar.
"Engga apa apa, cuma luka kecil" gumam Maryam membelai pipi suami nya untuk menenangkan nya karena kilat mata Amar tampak sangat sedih.
"Aku menyakiti mu" Amar berkata seolah frustasi.
"Kamu engga sengaja" jawab Maryam meyakinkan.
"Tapi..."
"Sshhtt..." Maryam meletakkan jemari nya di bibir Amar "Cukup janji sama aku, ini engga akan terulang lagi"
Maryam menatap mata Amar dengan begitu Intens. Amar langsung memeluk Maryam dengan erat.
"Aku janji, aku janji engga akan pernah menyakiti mu lagi. Maaf, Sayang"
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1