Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 108


__ADS_3

Afsana dan Maryam menjenguk Maria kerumah sakit, Afsana membawakan sekeranjang buah segar dan Maryam membawakan bunga segar untuk di taruh di kamar rawat Maria.


Maria sendiri merasa malu melihat Afsana mengingat Maria hampir saja merebut cinta nya. Namun Afsana terlihat biasa saja dan ia tetap ramah pada Maria.


"Masya Allah, cantik nya" gumam Afsana yg saat ini menggendong Baby Khair "Khair..." ia menggumamkan nama putri Maria itu "Sebenarnya nya kalau di Indonesia nanti dia bukan bukan di panggil Khair dengan benar, paling jadi hair atau haer"


"Betul..." Maryam menimpali "Tapi nama yg bagus, nama itu kan doa. Semoga semua orang memanggil mu dengan fasih ya, Nak. Khair" lanjut nya.


"Susah mah kalau di Indo. Iya kalau di Arab" ujar Afsana. Sementara Maria hanya tersenyum mendengarkan percakapan antar saudari itu. Maria sendiri tak pernah kefikiran ke hal itu, yg dia tahu nama adalah doa, jadi dia ingin putri nya di panggil dengan nama yg baik, karena penybebab keberadaan nya adalah hal tak baik, setidaknya dia berharap kehidupan yg di jalaninya akan baik.


"Oh ya, kamu sudah makan?" tanya Maryam.


"Sudah" jawab Maria "Makasih ya sudah di jenguk" ucap nya kemudian.


"Sama sama, Maria. Kalau kamu butuh apa apa, jangan sungkan kasih tahu kami" sambung Afsana yg di angguki Maria.


"Aku jadi engga sabar pengen cepat lahiran" ujar Maryam sambil mengelus perut nya membuat Afsana tertawa.


"Aku juga jadi pengen hamil"


"Aamiin"


.


.


.


Sementara itu, Amar menemui pengacara nya, Gaby. Amar meminta Gaby membuka kembali kasus ibu nya karena Amar ingin tahu kebenaran nya, walaupun nenek nya dan ibu nya sudah mengatakan hal itu, namun Amar masih ingin bukti.


Dan walaupun Amar mau membuka kasus itu kembali, bukan berarti dia mau memaafkan ibu nya, dia hanya ingin tahu kebenarannya. Masih sangat sulit bagi Amar unto menghapus kebencian itu, walaupun ia membenarkan apa yg di katakan Maryam bahwa kebencian adalah noda yg akan menggelapkan hati nya dan menggerogoti jiwanya. Memang itulah Amar selama ini.


Setelah menemui Gaby. Amar pergi kerumah sakit untuk menjemput Maryam yg katanya menjenguk Maria. Di perjalanan, Amar menyuruh Bobby membeli buah segar untuk Maria, agar Amar tak datang dengan tangan kosong.


Sesampainya di sana, Amar langsung di sambut hangat oleh istri nya, Maryam bahkan langsung memeluk Amar dengan manja.


"Kangen, hm?" tanya Amar sembari mengecup kening Maryam dengan mesra dan Maryam mengangguk. Tak peduli Afsana dan Maria yg memperhatikan keduanya.


"Hufff, ingat kalau ada penghuni lain di dunia ini" cetus Afsana yg melihat kemesraan Maryam dan Amar.


"Kita bicara di luar ya" ucap Maryam dan menarik Amar keluar.


"Ada apa?" tanya Amar setelah mereka keluar dari kamar rawat Maria.


"Aku mau pulang" rengek Maryam. Karena entah mengapa ia merasa tak tenang jika Amar tidak ada di sisi nya.

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya kamu suka tinggal di rumah Abi?"


"Iya, tapi kalau engga ada kamu, engga suka" serunya dengan sangat manja. Amar terkekeh dengan sifat Maryam yg sangat manja selama kehamilan nya ini. Ia juga tidak suka ketika harus tidur sendirian tanpa memeluk Maryam. Namun Amar takut ia menyakiti Maryam lagi karena fikirannya masih kacau.


"Nanti ya, beberapa hari lagi" bujuk Amar yg langsung membuat melotot pada nya, dan Amar sudah menduga istri nya itu pasti sedang cemberut di balik cadar nya.


"Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?" tanya nya dan kini matanya sudah berkaca kaca. Suara nya pun sudah gemetar.


"Sayang, engga kok. Jangan nangis" ucap Amar lembut membelai pipi Maryam "Ya udah, nanti kita pulang" ucap nya kemudian dan Maryam langsung terlihat senang. Ia bahkan langsung memeluk Amar dengan erat.


"Ya Allah... Pasutri ini kenapa peluk pelukan disini?" tanya Nabil yg baru saja datang.


"Kangen kata nya" jawab Amar dengan santai nya. Membuat Nabil berdecak.


"Ckck... Lebay amat" ucap Nabil dan langsung melewati mereka, ia masuk kedalam ruangan Maria dan melihat Maria yg sedang berbicara dengan Afsana. Sementara Baby Khair masih ada dalam gendongan Afsana.


Setelah itu Maryam dan Amar juga masuk, mereka mengajak Afsana pulang karena sudah lama mereka dirumah sakit, sementara Afsana masih harus mengurus persiapan resepsi pernikahan nya.


Afsana menyerahkan bayi Maria pada Maria.


"Sekali lagi terima kasih, Afsana" ucap Maria.


"Sama sama, Maria. Aku pergi dulu"


"Kami pulang dulu, Maria. Semoga kamu cepat pulih"


.


.


.


Sebelum pulang, Maryam dan Amar makan malam terlebih dahulu. Setelah itu mereka pamit pulang, walaupun Faraz tampak tak ingin adiknya itu pulang ke rumah suaminya karena takut Amar berlaku kasar lagi pada Maryam. Namun Faraz tak bisa apa apa ketika Maryam sendiri yg sangat ingin pulang.


"Jaga diri ya, Dek. Kalau ada apa apa, langsung telpon kakak" seru Faraz sambil membukakan pintu mobil untuk adiknya itu. Maryam melirik Amar, karena Maryam merasa ada yg aneh dengan perlakuan kakaknya itu.


"Iya, Kak. Jangan khawatir. Kan ada Amar yg jagain Maryam" jawab Maryam. Faraz hanya menanggapi nya dengan mengusap kepala Maryam dengan lembut.


"Jaga emosi mu, dia sedang mengandung anak mu, dan dia mencintai mu, hanya itu yg harus kamu ingat" ucap Faraz setengah berbisik pada Amar karena tak ingin Maryam mendengar nya


"Terima kasih, Faraz. Kami pulang dulu"


"Hati hati" ucap Faraz.


Kemudian ia kembali ke dalam setelah mobil Amar meninggalkan rumah nya.

__ADS_1


"Kak Faraz kenapa?" tanya Afsana yg melihat Faraz tampak tak tenang.


"Engga apa apa, Sayang. Cuma khawatir Karena Maryam sedang hamil"


"Hem, Amar pasti jagain dia kok" ujar Afsana. Kemudian sepasang kekasih itu naik ke kamar mereka, karena Asma dan Bilal pun sudah masuk ke kamar mereka.


"Kak Faraz mau mandi? Biar Ana siapkan air hangat"


"Kamu sudah mandi?"


"Habis Kak Faraz mandi, baru Ana mandi"


"Mandi bareng aja. Kakak kangen"


Faraz memeluk Afsana dari belakang, melingkarkan tangan nya di perut rata Afsana, dan memngelus nya, ia kemudian menghirup aroma Afsana yg kini menjadi candu baginya.


"Semoga segera ada Sarfaraz junior di sini" bisik nya di telinga Afsana kemudian mengecup pipi Afsana.


" Aamiin" ucap Afsana yg kini berbalik badan.


Ia membelai wajah Faraz, dan bulu bulu halus kini tumbuh di pipi nya.


"Berapa lama Kak Faraz engga cukur?" tanya Afsana sambil terus membelai pipi Faraz. Faraz tersenyum, ia menggenggam tangan Afsana yg ada di pipi nya dan mengecup telapak tangan mungil nya dengan begitu mesra.


"Kakak sibuk akhir akhir ini, engga ada waktu"


"Hem, kasihan. Padahal kakak punya istri. Biar nanti istri kakak ini yg mencukur kakak ya" goda Afsana dan ia mengecup sudut bibir Faraz.


"Dan sekarang istri kakak ini harus nemenin suami nya mandi" Faraz balas menggoda dan ia bukan hanya mengecup bibir Afsana namun kini ia mencium bibir Afsana dengan ciuman yg menuntut.


"Hem..." gumam Afsana setelah Faraz melepaskan ciuman nya.


"Setelah mandi kita sholat..." ucap Faraz dan sekali lagi ia mengecup bibir Afsana, kemudian mengecup pipi nya berkali kali dengan begitu gemas.


"Hem..." Afsana hanya bisa menggumam menanggapi godaan suami nya itu.


"Setelah mandi, kita...." Faraz mengecup ujung hidung Afsana. Kemudian ia menatap mata Afsana dengan begitu intens, membelai pipi Afsana dengan begitu lembut.


"Kita?" tanya Afsana dan kini ia balas menggoda Faraz dengan sentuhan lembut nya. Membuat Faraz tersenyum senang.


"Kita buat Sarfaraz junior" ucap nya yg membuat Afsana langsung merona "Malam ini seperti nya kita akan begadang, Sayang. Bayar hutang beberapa bulan sebelumnya" Afsana langsung tersipu malu dan ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Faraz. Membuat Faraz terkekeh dan ia mendekap Afsana dengan begitu erat.


"Mau kan?" tanya Faraz yg masih ingin menggoda. Afsana tak menjawab, ia hanya mengeratkan lingkaran tangan kecil nya di pinggang Faraz.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2