Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 124


__ADS_3

Dokter memberikan kabar gembira bahwa benar Afsana sedang mengandung. Hal itu langsung membuat Afsana meneteskan air mata haru nya begitu juga dengan Faraz. Faraz langsung mencium Afsana dan memeluknya.


"Alhamdulillah, Sayang. Terima kasih, trima kasih banyak Afsana" ucap Faraz sambil kembali mencium Afsana.


Sementara Afsana juga semakin terhu melihat suaminya yg tampak sangat bahagia.


"Aana engga sabar mau ngasih tahu Ummi Lita dan Abi Hubab, Kak" seru Afsana.


"Iya, mereka akan jadi orang pertama yg tahu kabar ini" jawab Faraz "Terima kasih banyak, Dokter. Kami semua menantikan kabar ini"


"Sama sama, Pak. Tapi karena kandungan nya masih lemah, sebaiknya di jaga baik baik, ya. Ibu Ana tidak boleh terlalu lelah apa lagi stres, harus mengkonsumsi makanan yg sehat dan bergizi"


"Iya, Dok. Pasti, Inysa Allah" jawab Faraz yg membuat Dokter itu terkekeh. Pasti tapi masih Insya Allah, fikir nya "Kalau makan pedas apa juga engga boleh? Akhir akhir ini Ana suka makan pedas"


"Boleh, asal jangan berlebihan. Hindari Jug makanan yg berbahaya bagi kandungan seperti makan nanas muda atau durian atau makanan yg berbahaya. Karena janin nya masih dalam proses pertumbuhan"


Dokter itu juga meresepkan vitamin untuk Afsana, setelah menebus vitamin nya keduanya pun pulang karena tak sabar ingin memberi tahu kabar bahagia ini.


Orang pertama yg mereka temui adalah Lita, Lita benar benar bahagia saat Afsana mengatakan ian hamil dan menunjukan hasil USG nya. Lita bahkan juga mencium seluruh wajah Afsana saking bahagia nya.


"Oh ya, kalau Ummi saranin neh, jangan cuma bikin anak satu. Bikin yg banyak, Ummi juga dulu mau anak banyak. Tapi setelah melahirkan Afsana entah kenapa engga bisa hamil lagi" ujar Lita sedih.


"Emm Ummi..." Afsana memeluk ibunya itu, memang sering sekali sejak Afsana kecil ibu nya itu mengatakan ia ingin punya anak lagi tapi engga bisa. Tapi Lita dan Hubab sangat bersyukur karena di karunia putri semata wayang mereka.


"Ada apa rame rame?" Hubab muncul dan tampak nya baru bangun tidur.


"Abi engga kerja?" tanya Afsana dan ia mencium tangan Abi nya.


"Engga, Sayang. Abi kecapean" jawab Hubab sambil mengelus kepala istri nya.


"Kami punya kabar yg seperti nya akan menghilangkan lelah Abi" ujar Faraz.


"Oh ya? Kabar apa?" tanya Hubab penasaran.


"Abi akan jadi kakek" jawab Afsana yg langsung membuat Hubab tercengang sesaat namun kemudian langsung memeluk Afsana erat dan mencium pucuk kepala nya berkali kali.


"Alhamdulillah, beneran?" tanya Hubab yg masih tampak tak percaya. Afsana dan Faraz menjawab iya bersamaan "Semoga Allah selalu melindungi kalian, Nak. Abi senang, akhir nya punya cucu juga" ujar Hubab penuh haru.


Kabar itu juga Afsana sampaikan pada yg lain dan mereka semua menyambut kabar kehamilan Afsana penuh suka cita. Dan seperti biasa mereka mengadakan syukuran begitu juga keluarga yg di desa.


Kiki Faraz dan Asma lebih protective terhadap Afsana, apa lagi karena Afsana masih hamil muda dan harus ekstra hati hati. Asma juga mulai menjaga asupan menantu nya itu agar janin nya tumbuh sehat dan kuat.


Kabar itu juga sampai pada Nabil dan keluarga nya di Mekah, mereka memberikan selamat dan doa untuk Afsana dan bayi nya.


Dan Maria yg juga mendengar kabar itu turut senang dan ia memberikan selamat dan doa juga untuk Afsana.


.


.


.


"Siap siap bakal pusing dan serba salah, orang hamil itu ajaib" ucap Bilal pada Faraz. Saat ini keduanya menghabiskan waktu berdua sambil mengulang kembali pelajaran Faraz atau apa yg sudah Faraz ajarkan di pesantren.


Faraz memang sudah lulus di pesantren dan bahkan sudah menjadi Ustadz di pesantren kakek nya. Tapi ia tak pernah berhenti belajar dan bahkan dengan rutin ia belajar secara khusus pada Abi nya. Namun Bilal menyebut itu lebih ke musyawarah, bukan lagi belajar mengajar karena Faraz memang sudah mengimbangi Bilal saat ini. Jadi yg mereka lakukan adalah berbagi pendapat, saling memberi masukan atau yg lain nya.


"Semoga Ana engga se ajaib itu, Bi. Tapi.... Ya sih, akhir akhir ini dia memang sering buat Faraz pusing, dia sensi nya minta ampun"


"Itu mah hal biasa. Dulu saat Ummi mu hamil kamu, Abi sering tidur di luar lho. Karena kalau Abi salah dikit dia ngambek dan ngurung diri di kamar"


Faraz tertawa mendengar hal itu, ia berfikir jangan sampai Afsana seperti itu. Karena mood nya akhir akhir ini memang membuat Faraz suda kewalahan.


"Ya udah, untuk saat ini sampai di sini dulu. Sekarang Abi lapar" seru Bilal sambil menutup kitab nya.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke meja makan dan tampak nya makan malam sudah siap.


"Kebetulan banget, Sayang. Aku sudah lapar" ujar Bilal pada Asma yg saat ini menyiapkan makanan Bilal ke piring nya.


Afsana pun melakukan hal yg sama untuk Faraz dan kemudian mereka makan bersama.


"Oh ya, An. Kamu engga ngidam sesuatu?" tanya Asma karena ia melihat Afsana anteng anteng saja, paling dia hanya mual. Sementara Asma dulu ngidam ini itu yg membuat Bilal harus ekstra sabar.


"Engga, Ummi. Tapi Ana lebih suka makanan yg pedas sekarang, itu aja" jawab Afsana.


"Owalah, biasanya kalau istri nya engga ngidam. Nanti suami nya lho yg ngidam" ujar Asma yg membuat Faraz tak percaya.


"Masak iya laki laki bisa ngidam, Ummi. Kan yg hamil istri nya" Faraz menimpali.


"Bisa lah, banyak yg gitu" ujar Asma.


"Semoga aja Ana engga ngidam yg aneh aneh. Apa lagi kalau ngidam nya tengah malam kayak Maryam" tutur Faraz.


"Jadi Kak Faraz takut di repotin neh?" tanya Afsana dan dengan cepat Faraz menggeleng. Jangan sampai sensi isteri nya kambuh lagi.


"Bukan gitu, Sayang. Kakak akan lakuin apa aja yg kamu mau, kok" goda Faraz dan Afsana tertawa geli.


"Lebay" ujar Afsana yg membuat Faraz mendengus dan mengundang tawa mertua nya.


.


.


.


Keesokan harinya, Amar dan Faraz pergi ke sebuah panti asuhan di luar kota untuk menyumbangkan baju baju bayi perempuan yg Amar beli saat Maryam hamil dan juga memberikan sebagian uang hasil jual rumah Mama nya seperti yg di inginkan Mama nya. Sementara Faraz pergi untuk memberikan sejumlah sumbangan sebagai bentuk rasa syukur atas kehamilan istrinya. Mereka pergi menggunakan mobil Amar supaya tidak perlu menggunakan dua mobil. Dan mereka memilih panti asuhan di luar kota karena di rekomendasikan Jihan, kata nya panti asuhan di sana benar benar kekurangan dana untuk merawat anak anak disana.


Dan sepulang nya dari panti asuhan, Amar dan Faraz membicarakan hotel Amar yg akan segera di buka. Di tengah asyik mengobrol, Faraz tiba tiba meminta Bobby berhenti.


"Kayak nya itu pohon ada buah nya ya" Amar dan Bobby mengikuti arah pandang Faraz dan memang benar pohon itu memiliki buah yg masih kecil kecil.


"Iya, memang seperti nya akan musim mangga" ujar Bobby dan ia kembali menjalankan mobil nya tapi sekali lagi Faraz meminta Bobby berhenti.


"Apa lagi, Faraz?" tanya Amar kesal.


"Aku pengen makan mangga nya..." ucap Faraz ragu ragu yg membuat Bobby dan Amar tercengang.


"Itu punya orang kali, Faraz. Mending beli nanti. Jalan, Bob" ujar Amar.


"Tunggu.... Tunggu...." teriak Faraz yg membuat Bobby dan Amar semakin aneh dengan sikap kakak Maryam ini.


"Aku mau nya yg ini... Sumpah, pengen banget" ujar Faraz meyakinkan dan bahkan menatap Amar setengah memohon. Amar melongo, apa lagi Bobby.


"Itu masih kecil, Faraz. Masih muda, mana bisa di makan. Pasti kecut"


"Pasti enak, di rujak pasti enak banget" ujar Faraz bahkan menelan liur nya dan Amar serta Bobby kembali melongo. Apa lagi terlihat jelas Faraz seperti benar benar menginginkan mangga muda itu.


"Apa Tuan Faraz ngidam? Secara Nyonya Afsana hamil" ujar Bobby yg justru sekarang Faraz yg melongo. Dan ia teringat kembali kata kata Ummi nya kalau laki laki bisa juga ngidam. Amar juga tercengang namun kemudian tertawa geli.


"Afsana yg hamil masak Faraz yg ngidam, Bob"


"Bisa, Tuan. Beberapa orang gitu" Bobby meyakinkan dan Amar mengangguk anggukan kepala nya seolah mengerti "Kalau memang ngidam, ya kasih aja tuan. Dari pada Baby nya nanti ileran" lanjut Bobby dan malah membuat Amar semakin tertawa geli. Sementara Faraz sudah tampak mau ileran saking ingin nya makan buah mangga itu.


"Itu cuma mitos..." ujar Amar menggoda Faraz karena ia pernah mengatakan hal itu saat Maryam hamil.


"Mau itu mitos atau engag... Tapi fakta nya sekarang aku benar benar pengen makan mangga itu. Sumpah, Mar. Rasanya benar bener engga tahan, pengen makan itu sekarang juga" tutur Faraz yg membuat Amar dan Bobby tertawa.


"Ya udah, kita cari dulu itu pemilik pohon siapa" ujar Amar dan meminta Bobby putar balik dan pergi ke seberang.

__ADS_1


Setelah itu, Faraz dan Amar langsung turun, Faraz memandangi mangga muda itu dan ingin sekali ia memakan nya saat itu juga.


"Siapa yg punya nih pohon?" tanya Faraz tak sabaran. Sementara Amar menoleh ke kanan ke kiri dan ia menemukan seorang wanita paruh baya yg berjualan bensin di pinggir jalan.


"Permisi..." ucap Amar dan wanita itu mendongak.


"Ada apa, Pak?" tanya wanita itu.


"Bu, yg punya pohon mangga itu siapa ya?" tanya Amar sambil menunjuk pohon itu.


"Oh, punya nya pak Sugeng, Pak. Kenapa?" tanya ibu ibu itu.


"Teman saya ngidam, Bu. Istri nya lagi hamil, pengen makan mangga nya kata nya" tutur Amar. Faraz juga menghampiri wanita itu.


"Iya, Bu. Pengen banget" seru Faraz.


"Ya sudah, ambil saja. Engga apa apa kok. Orang orang juga banyak yg ngambil kalau pengen" ujar wanita itu yg membuat Faraz terkekeh.


"Jangan begitu, harus izin dulu. Memang nya dimana rumah pak sugeng nya"


"Di belakang sana..." wanita itu menunjuk ke belakang arah nya.


"Belakang?" tanya Amar.


"Iya, ada jalan di ujung sana. Jalan kecil, engga bisa masuk mobil. Jalan kaki aja, nah nanti ada rumah pertama cat kuning, itu rumah nya" jelas wanita itu.


Amar memandang Faraz "Kita pulang aja. Beli aja mangga nya, ya" bujuk Amar tapi Faraz malah menggeleng dan seolah merajuk.


"Kamu tunggu aja di mobil, biar aku yg kesana" ujar Faraz. Karena merasa kasihan, Amar pun menemani Faraz.


Setelah berjalan beberapa meter, mereka menemukan rumah pak sugeng. Faraz mengucapkan salam dan seorang nenek nenek datang menemui mereka. Tampak nenek itu terkejut melihat dua pemuda ber jas yg mendatangi rumah nya.


"Cari siapa ya?" tanya nenek itu.


"Cari pak sugeng, Nek. Mau beli mangga yg di pinggir jalan itu" ujar Faraz.


"Oh, itu anak ku..." jawab nenek itu. Kemudian seorang wanita yg katanya istri pak Sugeng datang. Faraz pun kembali mengutarakan maksud kedatangan nya.


Wanita itu tampak tertawa karena mereka jauh jauh datang cuma mau membeli mangga. Padahal mangga itu ada di pinggir jalan dan biasanya orang kalau mau ya ambil aja.


Wanita itu bahkan membawa galah dan membantu Faraz mengambil beberapa buah.


Faraz mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan beberapa lembar uang.


"Ini kebanyakan, Dek" ucap wanita itu.


"Engga apa apa, Bu. Sudah rezeki Ibu, makasih sekali lagi mangga nya" seru Faraz.


"Saya yg makasih, kalian mangga saya di jual juga engga akan dapat uang segini. Makasih banyak ya" ucap wanita itu.


"Kembali kasih, Bu. Ya sudah, saya pamit. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Dan setelah itu Faraz terlihat sangat senang dan hal itu membuat Amar tertawa geli.


"Sudah dapat?" tanya Bobby setelah kedua tuan nya datang.


"Sudah" jawab Faraz girang.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2