
Jam sebelas acara sudah selesai, dan para kerabat yg datang pun juga sudah pulang. Begitu juga dengan Granny Amy yg tak henti henti nya menangis haru, tak percaya cucu nya bisa menikah itupun dengan seorang gadis seperti Maryam, cucu seorang kiai yg sangat berbeda dengan Amar. Granny Amy mencium gemas wajah Maryam berkali kali sambil terus mengucapkan doa dan harapan nya untuk kehidupan mereka.
Sopir mengantar Granny pulang, sementara Amar tentu saja dia akan tinggal bersama istrinya dulu, setelah resepsi nanti baru lah mereka akan pindah kerumah Amar.
.
.
.
Amar masuk kedalam kamar istri nya setelah sedikit berbincang dengan mertua nya. Sementara Faraz, jangan tanya kemana dia, dia sudah masuk kamar sejak tadi, katanya mengantuk.
Di dalam kamar, Amar sedikit dibuat bingung dengan Maryam yg memungut kelopak bunga mawar yg di tabur di atas ranjang dengan bentuk hati. Dekorasi kamarnya sudah sangat indah untuk sepasang pengantin baru, semakin indah dengan taburan kelopak mawar di atas ranjang itu dan wangi semerbak yg tercium ke seluruh penjuru kamar. Tapi Maryam malah memungut nya.
"Baby..."
"Eh..." Maryam sedikit terkejut karena ia tak menyadari Amar masuk kedalam kamar nya dan kini sudah menutup pintu.
"Kamu ngapain?" tanya Amar berjalan mendekati istri nya yg entah sejak kapan sudah berganti pakaian dengan piyama tidur namun tetap menggunakan hijab.
"Eh itu... Em maaf ya, aku buangin bunga nya. Soalnya tidur di atas bunga, gimanaaa gitu" ucap Maryam malu malu, karena memang entah kenapa dia merasa aneh tidur di atas ranjang dengan taburan bunga itu. Amar hanya mengulum.
"Mau aku bantu, Baby?" tanya nya, dan entah kenapa, panggilan Baby itu membuat Maryam merasa panas dingin, pipi nya terasa panas dan ia yakin pasti wajahnya saat ini sudah semerah kepiting rebus.
"Ehem..." Maryam berdeham sekalipun tenggorokannya baik baik saja "Engga usah, kamu mandi aja. Aku udah siapain air hangat" jawab Maryam kemudian, Amar hanya mengangguk. Namun sebelum ke kamar mandi, ia mendaratkan kecupan singkat di pipi sang istri membuat Maryam semakin merasa dag dig dug saja
.
.
.
"Kenapa melamun?" tanya Bilal yg melihat istri nya itu tampak melamun, Bilal merangkak naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya dari belakang, mengecup pipi nya dan menghirup aroma rambut panjang nya.
"Sebentar lagi Maryam akan ikut Amar, dia engga tinggal bersama kita lagi" ucap Asma sedih.
"Engga tinggal bersama, bukan berarti meninggalkan. Lagi pula rumah nya masih di kota ini kok. Kita bisa mengunjungi nya, dan dia pasti akan mengunjungi kita" Asma memaksakan bibir nya tersenyum mendengar kata kata panjang lebar suami nya itu yg ingin menenangkan nya.
Asma berbalik badan, dia ingin mendesakan tubuh nya ke tubuh sang suami, meminta pelukan hangat nya.
"Sekarang tidur lah, sudah malam" seru Bilal dan memberikan ciuman selamat malam sang istri.
.
.
.
__ADS_1
Amar yg tak sabar ingin bersama istri nya dengan cepat menyelesaikan mandi nya. Bahkan ia yakin, seumur hidup ia tak pernah mandi dengan waktu sesingkat ini.
Namun saat keluar dari kamar mandi, Amar di kejutkan dengan istri nya yg tampak tertidur pulas sambil memeluk guling.
"Baby...."
"Sayang..."
"Maryam..."
Satu satu nya yg Amar dapatkan sebagai jawaban hanyalah dengkuran halus sang istri. Membuat Amar hanya bisa menghela nafas berat.
Bagaiamana bisa di malam pertama mereka, Maryam malah tertidur pulas begitu, fikir nya.
Amar merendahkan tubuhnya, menatap wajah Maryam dari dekat. Cantik, sangat cantik. Itu yg dia lihat. Amar hanya bisa mengulum senyum, kemudian mengecup lama kening sang istri sebelum akhir nya ia bergabung, berbaring di samping Maryam dan memeluknya dengan begitu posesif.
Ingin rasanya Amar membangun kan istri nya itu, mengajak nya memadu kasih sebagai perayaan hidup baru mereka dan ungakapan cinta nya, namun apalah daya. Amar menarik selimut dan menutupi tubuh kedua nya.
"I love you. Sweet dreams, Baby"
.
.
.
Hingga ia menyadari ada sesuatu yg melingkar di perut nya, sontak Maryam membuka mata lebar lebar, nafasnya tercekat dan ia langsung berteriak, melepaskan diri dari tangan yg memeluk nya.
"Aaaggh..." Maryam mendorong sang pemilik tangan kemudian ia segera menyalakan lampu di samping ranjang nya.
" Aduh... Maryam...."
Amar yg terjerembab di lantai meringis kesakitan sambil memegang pinggang nya.
"Aa... Amar...?" Maryam berbisik seolah tak percaya.
"Iya, ini aku, Baby. Kenapa kamu mendorong ku?" ringis Amar sembari berusaha berdiri dan Maryam hanya melihat tanpa ada niatan membantu suami nya itu. Atau dia lupa Amar adalah suami nya?
Maryam menggaruk kepala nya yg masih terbungkus jilbab. Fikiran nya melayang, mencari jawaban kenapa bisa ia tidur dalam pelukan Amar. Hingga beberapa detik selanjutnya Maryam hanya bisa cengengesan menyadari tingkah konyol nya pada suami nya itu.
"Mmm...Maaf, maaf" ucap nya kemudian membantu Amar kembali duduk di tepi ranjang "Kamu engga apa apa?" tanya Maryam pelan, ia melihat ekspresi Amar yg masih tampak meringis, sepertinya bukan karena sakit di pinggang nya, tapi karena heran di malam pertama nya ia di dorong hingga terjatuh dari ranjang oleh istri nya.
"Hehe... Maaf ya, tadi...em aku kaget pas bangun ada yg meluk aku" lirih Maryam, menyunggingkan senyum dan menampilkan rasa bersalah nya.
"Kamu lupa aku ini suami mu? Ini malam pertama kita lho"
"Hehe maaf, Amar. Aku engga sengaja"
__ADS_1
"Kamu ini aneh, tiga pulus juz Quran bisa di ingat, masak bisa lupa kalau semalam kita sudah menikah" gerutu Amar lagi yg membuat Maryam semakin merasa bersalah dan hanya bisa cengar cengir.
"Ya kan aku udah minta maaf" ucap Maryam lagi dan memasang wajah memelasnya dan itu berhasil membuat hati Amar luluh seketika. Amar menarik Maryam hingga Maryam yg masih berdiri terjatuh di pangkuan Amar yg duduk di tepi ranjang.
Sontak Maryam langsung menunduk malu namun tak berniat melepaskan diri. Amar membelai pipi Maryam dengan begitu lembut, menciptakan desiran hangat di darah Maryam.
Amar tak bisa mengalihkan pandangan nya dari wajah Maryam yg kini merona.
"Sebagai suami, aku sangat beruntung memiliki istri seperti dirimu, Maryam" lirih nya dengan suara yg begitu rendah. Bahkan suara nya kini menjadi serak "Tapi sebagai pengantin, aku sungguh tidak beruntung, karena di malam pertama ku, istri ku tertidur pulas dan saat terbangun, dia malah mendorong ku hingga jatuh dari ranjang" lanjut nya dengan menahan senyum geli.
Maryam meringis mendengar penuturan suami nya itu.
Semalam ia begitu gugup, membayangkan ia akan menghabiskan malam bersama seorang pria yg kini berstatus sebagai suami nya. Ia menunggu Amar, namun entah bagaimana rasa kantuk tiba tiba menyerang nya dan ia tertidur begitu saja.
"Maaf" bisik Maryam yg masih menunduk. Amar mengapit dagu Maryam, membuatnya mendongak hingga tatapan keduanya bertemu. Amar menatap Maryam dengan begitu intens.
"Aku engga butuh maaf mu, Baby. Aku butuh sesuatu yg lain" ujar Amar dengan suara nya yg kian berat.
Maryam tak berani menjawab, yg bisa ia lakukan hanya berusaha menghindari tatapan Amar yg seolah ia adalah makanan lezat dan Amar sangat ingin menyantap nya.
Amar mendekatkan wajah nya ke wajah Maryam, begitu dekat hingga keduanya bisa saling merasakan hembusan nafas hangat mereka.
Amar sudah sangat siap menghapus jarak di antara mereka, namun tiba tiba terdengar suara adzan yg berkumandang dan itu membuat Maryam bergerak menghindar.
"Sudah waktu nya sholat subuh" bisik Maryam yg membuat Amar menggeram tertahan.
Oh Tuhan... Dulu mereka tak boleh berdekatan karena belum menjadi pasangan yg halal. Tapi setelah halal pun, kenapa masih ada halangan untuk...
"Baiklah, tapi setidak nya.... Aku ingin mencium mu" goda Amar yg sekali lagi membuat Maryam bersemu merah. Namun Maryam mengangguk dan mendekatkan pipi nya pada Amar. Tapi Amar menggeleng.
"Di sini" bisik Amar menyentuh bibir Maryam yg seketika membuat Maryam melotot dan tampak gugup.
"Jangan... Maksud ku... Aku... Em belum gosok gigi" cicit Maryam malu malu.
Gelak tawa Amar pecah seketika mendengar jawaban konyol Maryam. Dan itu berhasil membuat Maryam memberengut, mengembungkan pipi nya dan menatap kesal pada Amar yg menertawakan nya.
Kemudian ia turun dari pangkuan Amar dan segera bergegas ke kamar mandi.
Amar hanya bisa tersenyum geli dengan reaksi istri nya itu. Amar tak percaya Maryam yg sudah 20 tahun, tapi masih begitu polos.
Di kamar mandi, Maryam berusaha menenangkan detak jantung nya yg berdebar debar.
Kenapa malam pertama nya menjadi konyol begini?
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1