
Faraz tersenyum pada gadis yg saat ini menatap nya, gadis cantik dengan kulit nya yg kuning langsat, matanya lebar dan bibir nya yg mungil, ia begitu anggun. Bukan hanya rupanya, tapi juga kepribadiannya.
Afsana, gadis itu sudah Faraz anggap seperti adik kandungnya sendiri, dan ia selalu memperlakukan Afsana sama seperti ia memperlakukan Maryam. Jika Faraz membeli baju untuk Maryam, maka ia akan membelikan baju yg sama untuk Afsana, sehingga banyak sekali barang barang Afsana dan Maryam yg kembaran, entah itu pakaian, tas, sepatu atau buku sekalipun.
"Gimana sekolah mu disana, An?" tanya nya. Saat ini, keluarga Faraz dan keluarga Afsana sedang makan malam di rumah Ummi Mufar untuk menyambut kesadatangan Afsana.
"Sangat menyenangkan, Kak" jawab Afsana dengan girang.
Putri Hubab itu merasa sangat bahagia karena akhirnya hari libur nya yg hanya dua minggu dalam satu tahun itu datang. Dan di hari liburnya, biasanya ia akan menghabiskan waktu bersama Maryam dan Faraz.
"Tahun depan kamu lulus kan, Afsana?" tanya Asma pada keponakannya itu.
"Iya, Aunty. Makanya tahun ini akan jadi tahun berat, karena harus belajar extra supaya bisa lulus"
"Lalu kemana rencana mu setelah lulus?" kali ini Bilal yg bertanya.
"Mengajar di sini"
"Ide bagus, Ana" sambung Maryam.
"Dan bagiamana sekolah psychology mu itu, Marry?" tanya Afsna, karena setiap Afsana liburan, keduanya akan saling bercerita tentang banyak hal.
"Sedikit sulit, tapi menyenangkan"
"Aku engga nyangka kamu benar benar ingin jadi psikolog, sejak kecil kamu sudah sering mengatakan itu, aku fikir itu hanya keinginan masa kecil"
"Maryam tipe yg serius dalam segala hal, dan dia akan menekuni apa yg dia sukai" sambung Bilal yg di sambut senyuman manis Maryam karena ayahnya itu memang sangat mengenal dirinya.
Mereka pun melanjutkan makan malam dan juga obrolan tentang banyak hal, entah itu masa muda mereka yg telah lanjut usia, ataupun rencana rencana para pemuda itu saat masa tua nya nanti.
Hingga sampai pada pembahasan Faraz yg di tanya langsung oleh nenek nya, kapan Faraz berencana akan menikah. Afsana mencuri pandang pada kakak sepupu nya itu, dengan hati yg berdebar ia sangat berharap seseorang belum mengisi hati Faraz.
Karena sejak dulu, entah sejak kapan, ia menaruh rasa yg istimewa pada kakak sepupu nya itu, ia berharap Faraz akan menjadi jodohnya karena Afsana mencintai nya.
Afsana berusaha keras untuk bisa menjadi gadis yg baik untuk Faraz, berharap Faraz juga mencintai nya. Afsana bahkan rela menuntut ilmu hingga ke Lebanon, berharap ia bisa pantas untuk berdampingan dengan Faraz. Afsana selalu berdoa, agar Faraz bisa mencintai nya dan menikahi nya, dan jika hari itu tiba, itu akan jadi hari paling indah dalam hidup Afsana.
"Faraz ingin berkarir dulu, Nek. Faraz belum siap berumah tangga"
"Tapi usia mu sudah 24 tahun lho"
"Baru 24 tahun" jawab Faraz cepat, ia merasa usia itu masih terlalu muda dan lagi pula, ia merasa masih belum pantas untuk menjadi imam dari makmum nya nanti, Faraz merasa dia masih harus memperbaiki diri lebih baik lagi. Dan juga, Maria masih saja mengganggu benak nya, membuat ia kebingungan dengan perasaan apa sebenernya yg ia miliki pada Maria.
__ADS_1
"Kak Faz emang gitu, Nek. Karir terus yg di fikirin, menikah kan ibadah" sambung Maryam.
"Kakak tahu, Nyil. Tapi kalau belum siap, gimana dong? Dari pada di paksakan, nanti malah engga bahagia" jawab Faraz.
"Memang nya Kak Faraz belum menemukan seseorang, gitu?" tanya Afsana malu malu. Faraz terdiam sejenak dan tak tahu harus menjawab apa, namun Maryam dengan cepat menjawab nya.
"Belum, Afsana. Memang nya siapa yg akan Kak Faz sukai? Kecuali teman kantor nya yg selalu dekat dan bekerja sama kakak sejak dulu"
"Teman kantor?" tanya Faraz cepat, karena ia yakin Maryam belum mengenal Maria.
"Iya, Rian itu" jawab Maryam sembari tertawa dan juga yg lain nya. Faraz bernfas lega karena bukan Maria yg Maryam curigai.
"Kakak masih normal"
.
.
.
Maryam menonton TV dengan serius, bukan film apa lagi sinetron, tapi berita mengenai Amar Degazi yg masuk dalam 10 besar pengusaha muda dan sukses, apa lagi tanpa dampingan kedua orang tua nya sejak kecil namun Amar tetap bisa menerjang dunia bisnis yg tentu sangat sulit. Tanpa sadar, Maryam menyunggingkan senyum melihat berita itu seolah ia ikut senang, padahal sebelumnya ia tak pernah tertarik dengan berita bisnis.
"Serius amat, nonton apa sih?" tanya Faraz yg baru saja turun dari kamar nya "Tumben nonton berita gituan" lanjutnya saat tau apa yg adik nya itu tonton, Faraz pun duduk di sisi sofa dan ikut menonton.
"Maksudnya?" Maryam langsung menutup bibirnya rapat rapat, ia keceplosan. Karena selama ini ia tidak memberi tahu siapapun bahwa ia berteman dengan Amar "Kamu menyebut nama depan nya aja, seolah sudah kenal dekat" lanjut Faraz tajam.
"Em, Kak. Sebenarnya Maryam berteman sama Amar" cicit Maryam takut takut. Dan benar saja, Faraz langsung memperlihatkan ketidak sukaan nya mendengar kabar itu.
"Berteman bagaiamana, Maryam? Apa kamu tahu siapa dia?" dan ketika Faraz memanggil adik nya itu 'Maryam' maka berarti Faraz sangat serius.
"Cuma berteman aja, Kak. Engga lebih" lanjut Maryam, ia pun menceritakan bagaiaman ia bertemu dengan Amar, dan bagaiamana keduanya berteman. Maryam mengatakan ia hanya merasa simpati pada Amar, apa lagi setelah Maryam bisa menebak kondisi mental nya, Maryam juga tak lupa menceritakan bahwa ia bertemu dengan nenek nya Amar.
Bukan nya lega mendengar penuturan Maryam, Faraz malah tampak semakin tak suka.
"Dek, jauhi dia. Okey? Kakak percaya kamu bisa nenjaga diri dan engga akan melanggar batasan mu, tapi kamu engga cocok berteman dengan orang seperti Amar"
"Kenapa? Apa karena dia seorang billionaires?" tanya Maryam dengan polos nya "Tapi saat bersama Maryam, dia tampak seperti pria biasa"
"Bukan karena status nya, tapi dia itu sering berkencan dengan banyak wanita, dia bahkan pernah mengencani putri rekan kerja nya sendiri dan setelah itu di campakan"
"Lalu?" tanya Maryam lagi karena ia merasa bukan urusannya jika Amar berkencan dengan banyak wanita, dan Faraz hanya bisa menghembuskan nafas kasar nya.
__ADS_1
"Dia ia itu cuma modusin kamu, Dek. Pokoknya Kakak mau kamu jauhi dia!"
"Tapi, Kak..."
"Ada apa?" kakak beradik itu menoleh pada ibunya yg datang dan bergabung dengan mereka. Faraz melirik Maryam, dan tak berniat dia mengatakan sesuatu, tapi tatapan nya memerintahkan Maryam untuk memberi tahu ibunya "Kenapa pada diam?" tanya Asma sambil menatap putra dan putri nya itu bergantian.
"Mungkin Maryam mau mengatakan sesuatu" seru Faraz "Ummi, Faraz mau ke pesantren dulu" Faraz pun mencium tangan ibunya dan berpamit pergi.
Setelah Faraz pergi, Maryam mematikan TV dan ia duduk menghadap ibunya, selama ini kedua orang tuanya tidak pernah membatasi Maryam maupun Faraz untuk bergaul dengan siapapun, namun kedua orang tuanya selalu memperingatkan kedua anak nya terutama Maryam, bahwa Maryam adalah seorang muslimah, tentu harus tau segala batasannya.
"Ada apa, Maryam?" tanya ibunya karena Maryam seolah takut untuk berbicara.
"Sebenarnya, maksud Maryam em... Ummi tahu Amar Degazi, kan?"
"Klien kakak mu itu?" Maryam mengangguk "Ada apa dengan nya?"
"Kami berteman, Ummi. Tapi hanya sekedar teman, engga lebih. Kadang dia menemui Maryam di restaurant dan kami makan di sana" Maryam berkata sambil menundukan kepala nya.
Asma menatap putrinya itu lekat lekat, ia cukup terkejut, karena selama ini Maryam tak pernah berteman dengan seorang pria.
"Lalu?" tanya Ummi nya dan seketika membuat Maryam mendongak dan menatap ibunya.
"Kak Faz larang Maryam berteman dengan nya, katanya dia sering berkencan dengan banyak wanita"
Asma menarik nafas dan berkata "Mungkin itu lebih baik, Nak" Maryam sedikit kecewa dengan jawaban ibunya.
"Tapi kami hanya berteman, dan soal dia berkencan dengan banyak wanita, itu bukan urusan Maryam"
"Tentu itu bukan urusan mu, tapi yg Faraz maksud adalah, jika dia bisa berkencan dengan banyak wanita, mungkin dia juga ingin berkencan dengan mu"
"Tapi dia bilang dia engga akan ngajak Maryam kencan" Asma tertawa kecil, putrinya itu sudah dewasa, kuliah psychology, tapi ternyata masih ada sisi polos dan lugu dalam dirinya.
"Jangan percaya dengan omongan pria, Maryam. Pria akan menyesuaikan diri seperti apa kamu untuk menarik perhatian mu, dan setelah itu perlahan dia akan mencoba meluluhkan hati mu, dan Ummi engga mau hati mu luluh pada pria yg salah. Mungkin sekarang dia hanya ingin berteman, dan besok?"
Maryam tampak bingung mendengar kata kata Ummi nya, entah kenapa ia yakin Amar takkan seperti itu.
"Nak, selama ini Ummi sama Abi engga pernah melarang mu berteman dengan siapapun, karena kami yakin kamu sudah dewasa, bisa membedakan yg baik dan buruk, dan tentu bisa menjaga diri mu tetap berada dalam batasanmu, tapi Ummi minta, jauhi seseorang yg bisa memberikan pengaruh buruk untuk mu"
"Iya, Ummi. Maryam faham, Inysa Allah Maryam akan selalu berada di jalan yg sudah Abi dan Ummi ajarkan"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...