Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 54


__ADS_3

Aisyah hanya bisa memijat kepalanya mendengar cerita Maryam tentang kelakuan putrinya itu, sementara yg lain tak bisa menahan tawanya termasuk Asma.


"Kenapa sikap Asma engga nurun ke anaknya sendiri? Kenapa malah nurun ke keponakannya?" tanya Aisyah yg tak habis fikir dengan kelakuan putri nya itu.


Sementara Firda, gadis itu tak merasa malu atau merasa bersalah dengan sikap nya. Baginya, dia hanya menikmati hidup dan menjadi diri sendiri.


"Masih darah nya" sambung Rafa yg masih tertawa.


Setelah itu, mereka semua pun melaksanakan sholat maghrib bersama yg di lanjutkan dengan berdizkir dan membaca Al Quran hingga menjelang isya seperti biasa.


Keluarga Asma membicarakan kapan Amar dan Maryam akan melaksanakan akad nikah nya, sementara mereka sudah terlalu lama disana.


Untuk itu, Bilal pun memanggil Amar kerumah nya dan membicarakan kapan akad nikah nya akan di lanjutkan. Berhubung semua nya sudah sangat siap, maka tak sulit bagi mereka untuk melanjutkan hal itu. Kecuali resepsi, karena undangan sebelumnya sudah di sebar namun ternyata resepsi nya di tunda.


Namun Amar meyakinkan bahwa hal itu bisa mereka urus dalam seminggu.


"Jadi, kalian harus melakukan akad di minggu ini" seru Bilal dan Amar mengangguk yakin.


.


.


.


Maria kini merubah penampilan nya, ia mulai belajar menggunakan hijab. Membeli buku buku yg bisa dia pelajari tentang aturan islam. Dan ia juga sering bertanya pada Faraz maupun Maryam saat ia tak mengerti akan suatu hal.


Maria juga mulai berusaha mengambil hati ayahnya, agar mereka tak terus bermusuhan. Maria sadar ia salah karena sudah melawan ayahnya sejak kecil, meskipun ayah nya jahat, tapi seandainya Maria berusaha mengambil hati ayahnya saat itu dan bukan memusuhi nya, sekarang mereka pasti bisa hidup bahagia. Apa lagi Faraz juga sudah mengajarkan Maria untuk menghormati orang tua sekalipun dia tak ada dalam agama nya, untuk tetap menyayangi dan mendoakannya sekalipun ayahnya adalah orang yg salah.


"Daddy..." Maria menyiapkan roti panggang dan juga teh panas di meja. Sementara ayahnya berjalan turun di tangga dan ia tak lagi terkejut melihat Maria yg berpakaian tertutup karena ini sudah hari yg ke sekian.


Dan juga, akhir akhir ini Maria memperhatikan ayahnya, tak lagi berteriak atau memaki nya. Dan hal itu membuat sang ayah bingung.


"Sarapan nya sudah siap" seru Maria "Hari ini Maria mau kerumah teman, dia mau menikah" lanjut nya sembari menarik kursi dan mempersilahkan ayahnya duduk. Sementara sang ayah hanya menatap bingung putri nya yg berubah 180 derajat itu.


"Maria pergi dulu" Maria mencium pipi ayahnya dan segera bergegas pergi.


Robert memegang pipi nya yg di cium Maria. Dulu saat mendiang istri nya masih hidup, mereka sangat bahagia, keluarga yg harmonis dan Robert sangat menyayangi Maria, tapi kasih sayang itu musnah karena ada kesedihan dan kemarahan pada takdir yg telah merenggut istri tercinta nya.


.

__ADS_1


.


.


Maryam sangat terkejut namun juga kagum melihat penampilan Maria yg sangat berubah. Dan Maryam bertanya apa dan bagaiamana ini bisa terjadi.


"Memanynya Pak Faraz engga cerita?" tanya Maria dan Maryam hanya menggeleng. Kemudian Maryam membawa Maria ke kamarnya dan Maria menceritakan panjang lebar bagaimana ia bisa sampai mengambil keputusan ini.


Maryam ikut menangis haru mendengarnya, kemudian ia memeluk Maria dan mengucapkan selamat.


"Selamat juga ya untuk mu, malam ini kamu sudah sah jadi istri Amar Degazi" seru Maria girang yg membuat Maryam bersemu merah membayangkan ia sudah akan jadi istri di usia nya yg masih cukup muda.


Mau bagaiamana lagi, calon sudah ada, cinta sudah tumbuh di antara mereka. Maka pilihannya halalkan atau tinggalkan.


"Maria..." sapa Faraz yg melihat ada Maria di kamar adiknya.


"Kak Faz kok engga cerita soal Maria yg udah meluk islam?" tanya Maryam namun Faraz hanya mengedikan bahu nya.


Kemudian Faraz berjalan dan duduk di samping Maryam. Ia mengusap lembut pipi adiknya itu, tak menyangka unyil nya sudah akan jadi seorang istri itupun dari pria yg sangat jauh dari bayangan keluarga nya.


"Pokoknya kalau sampai Degazi itu menyakiti mu nanti, kamu langsung bilang kakak ya" seru Faraz yg membuat Maryam tersenyum samar namun kemudian mengangguk untuk menenangkan hati kakak nya yg masih tak menyambut calon suami nya itu.


"Amar mencintai Maryam, Pak. Engga mungkin menyakiti nya" sambung Maria.


Sementara di bawah, baik keluarga Asma maupun Bilal sudah berkumpul, tak sabar menanti akad malam ini. Acara nya sangat sederhana seperti rencana awal. Hanya di hadiri kerabat terdekat mereka, tak ada pesta melainkan hanya syukuran.


"Maryam, kalau boleh tahu, apa yg membuat mu mau menikah dengan Amar? Maksud ku, Amar sangat berbeda dari keluarga kalian" tanya Maria.


"Aku tahu, dia bahkan sama sekali bukan suami yg aku idamkan selama ini. Tapi mau bagaiamana lagi, kami saling mencintai dan akan lebih baik jika hubungan kami segera di halalkan. Amar memang sangat berbeda tapi dia baik dan bertanggung jawab. Setelah menikah nanti, kami bisa saling melengkapi"


"Hem begitu" gumam Maria "Apa dia akan jadi imam yg baik untuk mu? Karena dia sama seperti ku, hidup tanpa arah, dan masih sangat jauh dari ilmu agama"


"Dia pasti akan berusaha untuk itu, Maria. Memang sebagai wanita, kita membutuhkan imam yg faham ilmu agama, supaya dia bisa membimbing kita, menuntun kita, tapi semua orang bisa mempelajari ilmu agama begitu juga Amar"


Maria terdiam sejenak, fikiran nya berkelana mencerna kata kata Maryam.


"Apa aku juga harus memilih calon suami yg seperti itu?" tanya Maria kemudian. Dan Maryam mengangguk.


"Iya, aku akan berdoa semoga kamu mendapatkan imam yg sholeh nanti, yg akan selalu membimbing langkah mu"

__ADS_1


Maria mengulum senyum, dan bersmaan dengan itu, ia melihat Faraz yg berjalan di depan kamar Maryam karena memang pintu nya terbuka dan Maria duduk menghadap pintu.


Maria kembali mengingat pertemuan pertemuan nya dengan Faraz, bagaiamana Faraz selalu membantu nya, selalu ada untuk nya, dan bahkan Faraz yg membimbing nya mendapatkan jati dirinya.


"Tidak ada imam yg jauh lebih baik untuk ku, selain Sarfaraz"


.


.


.


Malam hari tiba, semua orang sudah berkumpul di ruang tamu dan ruang keluarga rumah Bilal. Dan walaupun kata nya hanya kerabat yg datang, ternyata mereka sudah memenuhi rumah Bilal yg cukup besar.


Akad akan di laksanakan di musholla, tepat di tengah musholla, sudah di sediakan meja, cincin, seperangkat alat sholat, uang tunai sebagai mahar nya.


Amar yg sudah terlihat sangat tampan dengan kemaja koko yg serba putih terlihat sangat tidak tenang. Ia bahkan berkeringat saking gugup nya menanti akan nikah nya yg hanya beberapa menit lagi. Berkali kali Amar menarik nafas, kemudian menghembuskan nya perlahan untuk mengatur detak jatung nya yg berdebar seperti drum yg di tabuh. Ia bahkan terus terusan meminum air untuk menghilangkan rasa gugup nya.


Dan saat akan meminum air lagi, seseorang tiba tiba menarik gelas nya.


"Sarfaraz, sini air nya. Aku huas" seru Amar. Namun Faraz malah menegak air itu hingga habis.


"Kalau kamu minum terus, nanti kamu pipis di sana" seru Faraz mengejek yg memuat Amar menatap tajam calon kakak iparnya itu.


Faraz sendiri terlihat sangat tampan dengan baju koko yg berwarna putih, baju yg pernah Afasan dan Maryam belikan waktu itu. Kemudian datang Rafa yg juga sangat tampan dengan baju koko berwarna abu abu nya.


"Santai, Amar" seru Rafa. Kemudian ia memberikan teks kalimat apa yg harus ia jawab nanti saat Bilal menguapkan kalimat ijab nya.


"Huff..." sekali lagi Amar menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan.


Sering sekali Amar melirik ke arah tangga, tentu saja menunggu calon istri nya yg sudah pasti sangat cantik malam ini dengan kebaya hasil designer se kelas Valerie. Namun sayang nya, Faraz mengatakan Maryam hanya akan keluar setelah Amar menyelesaikan ijab Qobul nya. Ah Amar tak mengerti kenapa harus seperti itu, karena biasanya mempelai laki laki dan pria duduk berdampingan. Tapi ya sudah lah, yg penting dia menikah dulu. Setelah itu, dia bukan hanya akan berdampingan dengan Maryam. Tapi akan hidup bersama dan akan terus menempel seperti magnet.


"Sudah waktu nya" seru Rafa kemudian dan memang Bilal sudah siap disana untuk menyerahkan putri nya, dengan Abi Rahman dan Abi Khalil yg menjadi saksi, tentu dengan anggota keluarga yg lain juga.


Dengan sangat gugup, Amar duduk di depan Bilal dan jarak mereka terhalang oleh meja. Amar berdeham dan sangat tampak ke gugupan di wajah nya, membuat Bilal tertawa kecil mengingat dulu ia juga sangat gugup saat akad nikah nya dengan Zahra. Ya, dengan Zahra nya yg padahal jarak mereka saat itu ribuan kilometer.


"Tenang, Amar. Ini hanya ijab qobul" seru Bilal, mengucapkan kembali apa yg dulu di ucapkan Abi nya.


"Ini bukan hanya, Om. Ini pintu untuk hidup baru ku" dan sekali lagi, jawaban Amar membuat Bilal teringat pada dirinya sendiri.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2