Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 121


__ADS_3

Amar menjalani hari nya dengan terus berusaha mengikhlaskan kepergian sang ibu. Dan di setiap sujud nya, ia memohonkan ampun kepada Rabb nya untuk kedua orang tua nya. Meminta agar kelak mereka di satukan kembali di Surga Nya.


Keberadaan Maryam dan Baby Ezra juga sangat membantu Amar merasa lebih baik dan berbahagai.


"Oh ya, apa Maria sudah menyelesaikan tulisan nya?" tanya Amar.


Sudah sepuluh hari berlalu sejak kematian ibu nya, Amar sudah jauh tampak lebih baik walaupun sebenarnya ia masih menyimpan kesedihan.


Saat ini seperti biasa, sebelum ke kantor ia akan sarapan bersama nenek dan istri nya.


"Belum, katanya dia engga menemukan klimaks yg pas" jawab Maryam.


"Aku dengar Baby Khair sakit, karena itulah Maria engga bisa datang ke pemakaman Rosaa. Apa sekarang putri nya sudah sembuh?" tanya Granny Amy.


"Kata nya sih sudah membaik, sudah di bawa ke Dokter. Aku rasa anak nya sakit karena Maria juga sakit dan dia sedang tertekan sekarang" jawab Maryam


"Apa soal orang tua Alex yg ingin hak asuh Baby Khair?" sambung Amar dan Maryam mengangguk "Katakan pada nya kita akan membantu, dan pasti dia akan mendapatkan hak asuh anak nya. Lagi pula aneh juga orang tua Alex itu, tiba tiba datang minta anak orang, tega nya"


"Aku juga engga faham soal itu" ujar Maryam.


"Sebenarnya sih supaya engga ribet ya, suruh aja Maria nerima lamaran Nabil. Kalau Maria sudah punya suami, anak nya punya sosok ayah. Engga mungkin ada yg mau colek colek hak asuh anak nya"


"Haha haha. Bahasa mu, colek colek...emang nya sabun di colek" ujar Granny Amy yg juga mengundang tawa Maryam. Amar yg baru sadar itu juga ikut tertawa.


"Coba deh nanti aku bicara sama Maria, dia juga kayak nya mulai ada rasa sama Kak Nabil"


"Kalau menurut aku, Maria menolak bukan karena dia engga ada rasa sama Nabil, tapi mungkin dia merasa engga pantas buat Nabil" tutur Amar


"Masak sih?" tanya Maryam dan Amar mengangguk.


"Aku pernah ada di posisi nya, Sayang. Masa lalu kita kurang lebih sama, dan jika harus berdampingan dengan orang macam kamu dan keluarga mu apa lagi dengan status keluarga pesantren itu... Itu sebenernya membuat orang seperti kita minder dan merasa engga pantas" tutur Amar dengan suara rendah tapi malah membuat Maryam tersenyum geli.


"Status keluarga kita itu cuma sebuah keberuntungan aja, Sayang. Dan sekalipun seseorang terlahir di keluarga yg religious, itu engga menjamin bahwa dia lebih baik dari orang lain. Karena semua kembali ke pribadi masing masing" jawab Maryam yg membuat Granny Amy malah tampak gemas bahkan sampai mencubit pipi Maryam, membuat Amar tertawa dan Maryam tertawa geli.


"Memang kamu neh, makmum idaman setiap imam" seru Granny Amy.


"Granny bisa aja..."


.

__ADS_1


.


.


Maria menemui Maryam di rumah nya dan ia membawa hasil tulisan nya yg sudah ia selesaikan dalam minggu ini dan tampak nya Maria sudah mendapatkan klimaks dan judul yg membuat ia merasa puas.


"Love is Heal"


"Bukannya itu bagus? Aku rasa kesembuhan Amar dari segala nya karena cinta, kan? Bahkan ketika psikiater tak bisa membuat nya lebih baik, tapi cinta seorang Maryam bisa membuat nya lebih baik"


Maryam tersenyum samar mendengar penuturan Maria, dan ia akui apa yg di Katakan Maria memang benar.


"Oh ya, bagaiamana soal orang tua Alex itu?" tanya Maryam kemudian dan bukan menjawab, Maria malah senyum senyum sambil mengedikkan bahu. Membuat Maryam mengernyit bingung.


"Mereka udah engga ganggu kamu lagi?" tanya Maryam lagi dan Maria mengangguk "Kenapa? Bukan nya mereka mau nuntut kamu?"


"Em sebenarnya... Nabil..."


"Kamu nerima lamaran Kak Nabil?" pekik Maria dan Maria mengangguk namun dengan ekspresi yg tak terbaca. Seolah bahagia tapi juga sedih.


"Sebenarnya aku tahu aku membuat keputusan yg mungkin engga di sukai banyak orang" seru Maria kemudian.


"Maksud ku, aku benar benar engga pantas buat Nabil. Dan mungkin sebagian dari keluarga mu engga akan bisa menerima aku. Tapi jujur, aku nerima Nabil karena aku engga mau kehilangan Khair"


"Dan kamu mencintai Kak Nabil, kan?"


"Entahlah, Nabil pantas mendapatkan cinta yg lebih baik dari ku"


"Jangan berfikir seperti itu, Maria. Kita semua sama di hadapan Allah, yg membedakan cuma taqwa. Dan taqwa itu bukan di ukur taqwa di masa lalu, tapi selalu di masa sekarang. Ada seseorang yg dulu bertaqwa, beribadah, tapi kemudian terjerumus pada dosa dengan atau tanpa di sadari. Ada juga dulu orang yg penuh dosa tapi kemudian bertaubat dengan taubatan nasuha. Jadi, yg dulu ya dulu. Yg sekarang ya sekarang"


"Ya sih, aku juga pernah dengar itu saat itu kajian. Tapi yg aku maksud kan, kasian Nabil, Maryam. Orang orang mungkin akan mencemooh dia karena istri nya.... "


"Orang yg mencemooh orang lain bisa jadi lebih buruk dari yg mencemooh. Lagian kamu engga usah fikirin hal itu deh, karena dosa dan pahala mu ya urusan mu sama Tuhan"


"Hem ini enak nya punya sahabat Maryam, berasa punya Ustadzah private" ujar Maria sambil tertawa begitu juga dengan Maryam.


"Engga maksud menggurui, tapi sama sama belajar" seru Maryam dan ia melirik ponsel Maria yg sejak tadi berkedip.


"Kayak nya calon suami tuh..." seru nya dan Maria pun mengambil ponsel nya dan benar saja itu Nabil. Maria lupa kalau ponsel nya di silent.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." seru Maria setelah menjawab panggilan Nabil.


"Waalaikum salam, calon istri. Lama amat angkat telpon nya" terdengar Nabil yg menggerutu dari seberang telephone.


"Iya maaf, Nabil. Tadi hp ku di silent" jawab Maria.


"Nabil? Kan sudah ku bilang, panggil aku 'Mas', masak sama calon suami manggil nama? Engga ada romantis romantis nya"


Maria langsung menutup ponsel nya dengan tangan nya, takut Maryam mendengar ucapan Nabil yg menurut nya sangat lebay itu.


"Tunggu sebentar..." ucap nya pada Maryam kemudian ia keluar untuk berbicara dengan Nabil.


"Baru calon suami, belum suami"


"Lah, pakek ngelawan"


"Bukan ngelawan... Tapi... Ya udah, iya. Mas" Maria berkata dengan sedikit kaku dan itu seperti nya membuat Nabil senang karena ia terdengar tertawa.


"Gitu dong. Anakku dimana?"


"Anak mu?"


"Baby Khair..."


"Oh, masih calon anak..."


"Sudah ku anggap sebagai anak sendiri saat dia lahir. Aku yg adzani dan kasih nama lho"


"Iya deh, iya. Anak mu lagi tidur..." jawab Maria sambil menghela nafas dan sekali lagi terdengar Nabil yg tertawa dan itu membuat Maria tersenyum senang. Ia baru tahu ternyata Nabil punya sifat yg manja dan terkadang sedikit ke kanak kanakan. Keras kepala dan suka sekali memaksakan kehendak nya, dan Maria tak pernah bisa menolak apa yg Nabil kehendaki.


Dan soal lamaran itu, dua hari yg lalu tepat nya. Nabil kembali mengajak Maria menikah, Maria masih menganggap Nabil bercanda, tapi ketika ibu Nabil yg berbicara dan meminang Maria untuk putra nya walaupun hanya lewat telpon. Maria tak bisa menolak, Shofia mengatakan sebenarnya ia ingin melamar Maria secara langsung, dan bahkan Nabil sudah menyiapkan hal itu.


Dan kotak hadiah yg katanya untuk Baby Khair. Ternyata itu untuk Maria, Nabil meminta Maria membuka kotak itu. Dan saat di buka, isi nya adalah sebuah cincin dan sebuah kertas yg bertuliskan 'Kamu akan menikah dengan ku karena aku tahu kamu mencintai ku, kalaupun belum, tapi akan. Dan yg lebih penting, Baby Khair membutuhkan ku sebagai ayah'


Maria tertawa saat membaca surat pendek itu, itu benar benar sebuah pemkasaan. Dan Nabil mengatakan ia memang sengaja menunggu ulang tahun Baby Khair karena ingin memberi Maria waktu untuk move on dari Faraz dan mau menyadari bahwa rasa yg sebenarnya adalah untuk Nabil, Nabil ingin melamar Maria di hari ulang tahun Baby Khair. Tapi sayang rencana nya itu gagal dan harus di lakukan lebih cepat gara gara orang tua Alex.


Dan hal itu kembali membuat Maria tertawa geli. Nabil dengan segala rasa percaya diri nya, harus Maria akui ia memang memiliki rasa yg sama, dan bukan hanya Khair, Maria juga tahu bahwa ia merasa membutuhkan Nabil di hidupnya.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2