Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 105


__ADS_3

Lebanon.


Afsana tak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya atas kedatangan suami dan orang tua nya. Namun ia harus tahan diri untuk tidak berlari dan memeluk suami nya karena di sini status nya adalah santri.


Sama halnya dengan Faraz, ia harus menahan diri agar tak berlari memeluk dan mencium istri yg sudah sangat di rindukan nya itu.


Bahkan saat acara wisuda pun Faraz dan Afsana masih tak sempat berbicara banyak.


Acara wisuda berlangsung dengan lancar, dan Afsana membuat kedua orang tau nya dan juga Faraz bangga karena Afsana masuk ke dalam sepuluh wisudaWati terbaik, nilai Afsana sangat memuasakan, hampir di semua pelajaran ia kuasai.


Dua haru setelah acara wisuda, barulah pesantren Afsana di luburkan dan bagi yg lulus pun sekalian pamit. Ada yg sebagian tegap disana beberapa waktu namun ada sebagian yg langsung pulang.


Seperti Afsana, ia sudah tak sabar ingin pulang, apa lagi mendengar kabar kehamilan saudari nya.


Setelan Hubab mengurus segala nya, kini mereka bersiap pulang ke Indonesia. Dan heran nya, Faraz malah memesan lain dan memilih ingin di taksi berdua saja dengan Afsana.


Lita dan Hubab menertawakan nya, sementara Afsana hanya tersipu, ia mengerti jika suami nya itu ingin menghabiskan waktu berdua saja.


"Ya sudah, Sayang. Biarkan mereka menghabiskan waktu bersama" ucap Hubab pada Lita.


"Anak muda benar benar gila, ya" gumam Lita namun ia menurut saja pada suami nya.


Kemudian Lita dan Hubab pergi ke taksi mereka, dan Faraz membawa Afsana masuk ke taksi yg lain. Didalam, Faraz langsung memeluk Afsana dan mencium pipi nya dengan gemas, dan menggunakan bahasa arab, dia mengatakan dia sangat merindukan istri nya itu.


Faraz sengaja menggunakan bahasa arab agar sopir itu tak mengira yg aneh aneh. Bahkan sepanjang perjalanan, Faraz dan Afsana terus menempel seperti magnet yg tak bisa di jauhkan.


Sang sopir pun bertanya apa yg sebenarnya mereka lakukan di Lebonon. Faraz menjelaskan bahwa istri nya menempuh pendidikan disana, dan itu membuat mereka terpisah selama beberapa bulan.


Sopir itu tampak kagum mendengar jawaban Faraz.


Bahkan, ketika di pesawat pun Faraz tetap terus menempel pada Afsana, ia terus merangkul Afsana, dan sesekali mencium pipi nya. Seolah lupa kalau mertua nya memperhatikan.


"Kamu tidur aja, Sayang. Perjalanan nya masih lama" ujar Faraz menyandarkan kepala Afsana di bahu nya kemudian membelai kepala Afsana dengan sayang.


Afsana yg memang merasa lelah pun mengangguk, ia memejamkan mata nya dan perlahan terdengar dengkuran halus yg menandakan ia sudah terlelap.


"Dia kayak bapak nya..." gumam Hubab, Faraz mengingatkan ia pada Bilal sewaktu muda dulu. Lita tersenyum dan mengangguk, Faraz memang memperlakukan Afsana dengan begitu lembut, dan Lita sangat senang karena putri nya berada di tangan yg tepat.

__ADS_1


.


.


.


Amar memperhatikan Maryam yg sedang terlelap, saat ini mereka sudah dirumah setelah Dokter memeriksa Maryam dan bayi nya. Dokter mengatakan semua nya baik baik saja dan Maryam di izinkan pulang. Dengan catatan Maryam harus istirahat total, tidak boleh kelelahan sedikitpun, apa lagi setres.


Maryam dan Granny juga sudah tak membicarakan masalah Rossa lagi, karena apa yg sudah harus mereka katakan sudah mereka katakan pada Amar. Sekarang hanya doa yg bisa mereka lakukan supaya Amar mau menghapus benci di hati nya.


Amar mencium kening Maryam dengan lembut, ketakutan masih menyelimuti hati nya mengingat ia telah mendorong Maryam dengan begitu keras hingga membuat Maryam pendarahan, rasa bersalah pun tak bisa ia singkirkan begitu saja. Terngiang kembali dalam benak nya apa yg di katakan Maryam, bahwa kebencian adalah noda yg akan menggelapkan hatinya, dan memaafkan akan membawa kediaman.


"Andai semudah itu, tapi fakta nya lebih sulit dari itu..." gumam Amar.


"Kenapa engga tidur?" tanya Maryam saat merasakan sentuhan tangan suami nya di pipi nya.


"Apakah seorang monster bisa berdampingan dengan peri?" tanya Amar tiba tiba yg membuat Maryam mengernyit. Ia pun duduk dan berandar di kepala ranjang.


"Seperti beauty and the beast?" tanya Maryam dengan polosonya. Amar hanya mengulum senyum dan mengagguk.


"Apakah juga kebencian?"


"Hem" Maryam mengangguk "Kebencian itu seperti apa, dan cinta seperti air"


"Baiklah, sekarang tidur lah. Ingat kata Dokter kau harus banyak istirahat"


Amar membaringkan tubuh nya dan ia menarik Maryam kedalam pelukan nya.


"Lain kali, jangan pernah biarkan aku menyakiti mu, Maryam. Jika aku kasar, kamu lawan saja aku, dan yg lebih penting. Jangan pernah memancing emosi ku" lirih nya. Maryam hanya mengulum senyum dan mengangguk.


.


.


.


"Sayang, ayo bangun..." Faraz menepuk nepuk pipi Afsana pelan. Perlahan Afsana pun membuka matanya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya nya dengan suara paraunya.


"Sebentar lagi kita akan mendarat" ucap Faraz. Afsana menggeliat dan mencoba meregangkan otot nya yg kaku dan lelah.


"Aku ke toilet dulu"


"Iya, mau aku antar?"


"Engga, aku bisa sendiri kok"


Lita dan Hubab yg tadi tidur juga kini sudah bangun, mereka bergantian ke kamar mandi untuk mencuci wajah mereka.


Karena mereka mengambil penerbangan siang di Lebanon dengan perjalanan lebih dari tiga belas jam, alhasil mereka mendarat pagi hari di Indonesia.


Di bandara, Bilal sendiri yg menjemput mereka. Dia ingin menyambut kedatangan menantu yg sudah ia anggap putri sendiri itu.


"Bagaiamana perjalanan kalian?" tanya Bilal saat mereka sudah datang.


"Perjalanan ku dan istri ku biasa saja. Tapi entah perjalanan pengantin baru yg terus nempel seperti magnet" seru Hubab sembari memasukan barang barang Afsana ke bagasi mobil Bilal.


"Hem sudah ku duga" seru Bilal. Sementara Afsana hanya tersenyum malu. Beda hal nya dengan Faraz yg tersenyum lebar.


"Kangen banget, Bi. Berbulan bulan engga ketemu, dengar suara nya aja jarang. Ini aja masih kangen banget" ujar Faraz kemudian mencium gemas pipi Afsana. Membuat orang tua mereka itu malu sendiri dengan tingkah Faraz, pipi Afsana juga sudah semerah kepiting rebus menahan malu.


"Abi ngerti" ucap Bilal "Tapi sabar kali, nanti tuntaskan rasa kangen nya dirumah aja, jangan di sini"


"Hehe, kan cuma cium pipi, Bi"


"Tapi kasian istri mu, malu dia tuh. Pipi nya aja sampek kayak kepiting rebus gitu"


"Kayak engga pernah ngelakuin aja" sambung Lita tiba tiba. "Kak Mukhlis pernah cerita gimana lebay nya Bilal saat mau ke Singapore dan berpisah sama Asma. Abi Khalil aja sampek bingung liat Bilal kayak engga mau pisah gitu" ucap nya.


Faraz yg juga pernah mendengar cerita itu pun tertawa, sementara Bilal hanya bisa mengulum senyum samar, cinta memang bisa membuat orang tidak waras, fikir nya.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2