
Setelah beberapa hari di rawat dirumah sakit, Afsana di perbolehkan pulang namun Afsana di haruskah berisitirahat dan harus hati hati menjaga diri agar bekas jahitan di perutnya cepat pulih.
Asma dan Lita pun membantu Afsana merawat Baby Al. Bahkan Lita menginap dirumah dirumah Asma agar ia bisa merawat anak dan cucu nya dan tak membiarkan Asma melakukan semua nya sendirian.
Faraz pun selalu menjaga Afsana setiap saat, ia bahkan cuti selama beberapa hari karena masih mengkhawatirkan istrinya.
Seperti biasa, kelahiran putra Afsana pun di sambut dengan syukuran yg meriah oleh keluarga besar mereka. Begitu juga dengan keluarga yg di desa. Nabil dan keluarga nya pun ikut senang dan memberikan doa doa terbaik mereka buat putra pertama Faraz.
Muhammad Alfatih adalah anugerah yg luar biasa bagi Lita dan Hubab, terutama bagi Hubab yg memang tak memiliki keluarga setelah kematian Khadijah.
"Assalamualaikum, Baby Al. Sayang sudah mandi hem..." Faraz mencium Baby Al dan menghirup aroma khas bayi yg sangat menenangkan seperti aroma terapi saja. Lita baru saja selesai memandikan cucu nya dan kini ia sedang mengusapkan minyak telon ke tubuh Baby Al sebelum akhirnya di pakaikan baju.
"Baju mu mungil amat sih, Nak" gumam Faraz yg masih setia memperhatikan Lita merawat Baby Al.
"Semungil Baby Al ya..." jawab Lita sambil bercanda dan menggoda Baby Al "Saat nya sarapan, Baby Al Sayang" ujar Lita kemudian memberikan Baby Al pada Faraz. Faraz pun menggendong Baby Al dengan sangat hati hati, ia membawa Baby Al ke Afsana di kamar nya.
"Sayang, Baby Al mau sarapan..." ujar Faraz. Afsana pun merentangkan tangan nya dan menyambut putra nya.
"Lapar ya, Sayang? Ehmm wangi banget putra Ummi" ujar Afsana mencium gemas pipi Baby Al.
"Sayang..." Seru Faraz saat Afsana sedang menyusui putra nya "Boleh engga kalau aku pakek minyank bayi punya Baby Al?"
"Apa?" pekik Afsana tak percaya dan Faraz langsung cengengesan dengan reaksi Afsana.
"Wangi nya enak banget, Sayang. Kayak aroma terapi, bisa hilang penat ku kalau mencium aroma bayi" ucap Faraz sambil menghirup aroma anak nya. Afsana hanya geleng geleng kepala dan ia fikir Faraz hanya bercanda.
"Ini sudah siang, Kak. Kakak engga kerja?"
"Kerja, kakak mandi dulu sebentar"
Afsana hanya mengangguk sementara Faraz segera bergegas ke kamar mandi. Setelah beberapa saat menyusui Baby Al, Baby Al terlihat mengantuk dan mata nya pun perlahan terpejam. Afsana menimang anak nya sebelum akhir nya ia meletakkan nya ke dalam box bayi.
Setelah itu, ia merapikan diri nya dan menyiapkan pakaian Faraz.
Faraz pun sudah selesai mandi, dan ia langsung mengibaskan rambut nya yg basah di depan wajah Afsana.
"Kak... Iseng banget deh" gerutu Afsana sambil mengelap wajahnya yg terkena cipratan air. Faraz hanya terkikik tanpa dosa, setelah itu ia mendekati box baby Al namun Afsana mencegahnya.
"Keringkan dulu rambut kakak tuh, kasian nanti Al terganggu" seru nya sambil menarik Faraz dan membawa nya ke meja rias. Afsana pun mengambil handuk kemudian mulai mengeringkan rambut suami nya. Faraz menikmati sentuhan dan perhatian sang istri.
Setelah itu, Afsana mengeringkan rambut Faraz dengan hair dryer.
Setelah selesai, Afsana menyerahkan baju Faraz.
"Terima kasih, Sayang" ucap Faraz kemudian mengambil pakaian nya dan mengenakannya.
"Ana turun duluan" ucap Afsana dan Faraz mengangguk.
Di meja makan, Lita sudah menyiapkan makanan yg sehat dan penambah darah untuk Afsana.
"Baby Al mana?" tanya Lita.
"Lagi tidur, Ummi"
"Faraz engga sarapan?"
"Lagi siap siap, sebentar lagi turun"
Dan benar saja, tak lama kemudian Faraz turun dan seketika Lita dan Afsana mengendus bau yg enak tapi aneh karena bau itu berasal dari Faraz.
"Kak Faraz beneran pakek minyak bayi?" tanya Afsana dan Faraz mengangguk dengan santai nya.
__ADS_1
"Ya Allah, Faraz... Ke kantor pakek minyak bayi?" tanya Lita sambil tertawa geli.
"Aroma nya enak, Ummi. Jadi kayak rilex gitu" jawab Faraz.
"Ada ada aja kamu ini" gumam Lita.
Bilal dan Asma yg mendengar percakapan mereka pun hanya tertawa. Hubab yg juga datang ke rumah mereka pun tertawa geli dengan tingkah Faraz.
semua orang pun menikmati sarapan bersama sebelum beraktifitas dengan pekerjaan nya masing masing.
Setelah itu, para suami berpamitan pada istri istri mereka untuk pergi bekerja.
.
.
.
Rian mengendus aroma bayi dari tubuh Faraz dan Rian langsung tertawa.
"Saking bahagia nya punya bayi sampek pakek minyak bayi?" tanya Rian setengah mengejek.
"Wangi nya kayak aroma terapi tahu, bikin rilex. Coba aja kalau engga percaya" ujar Faraz dengan tenang nya kemudian ia bergegas ke ruangan nya untuk mulai bekerja. Meninggalkan Rian yg hanya bisa geleng geleng kepala.
Semenjak kelahiran putra nya, hidup Faraz seperti berubah, ia lebih bersemangat dalam segala hal, ia selalu menyunggingkan senyum dan selalu tampak bahagia. Dan itu membuat dia bertanya tanya, apakah memang seperti itu setiap pria yg jadi ayah?
Di tengah fokus nya pada pekerjaan nya, Faraz di kejutkan dengan pintu yg tiba tiba terbuka. Dan muncul lah malaikat kecil yang berlari lucu ke arah Faraz.
"Ezra..." seru Faraz kemudian ia turun dari kursi nya, berjongkok dan merentangkan tangan nya. Menyambut Ezra yg langsung melompat dalam gendongan nya. Di susul dengan kedatangan Maryam dan Suster Ezra.
"Kak Faz sibuk?" tanya Maryam dan Faraz menggeleng kemudian ia membawa Ezra ke sofa.
"Pasti dia yg mau ke sini neh. Ya kan?" tanya Faraz sambil mencium ujung hidung Ezra dengan ujung hidung nya sendiri. Entah bagaiamana, Ezra seperti sangat suka dengan Faraz. Setiap kali Maryam melewati gedung kantor Faraz, Ezra akan selalu menangis sambil menunujuk gedung itu. Mereka berdua sudah tak ubahnya ayah dan anak saja.
"Iya, Sayang. Kenapa? Kangen sama Abi?" tanya Faraz dan seolah mengerti saja, Ezra mengangguk sambil cekikikan tidak jelas.
"Kak Faz beneran engga sibuk?" tanya Maryam lagi karena ia tak mau menganggu Faraz.
"Engga kok, tapi kakak memang ada pekerjaan yang harus di selesaikan"ujar Faraz" Kamu bawa Ezra jalan jalan dulu, kakak selesaikan pekerjaan kakak sebentar, setelah itu kita kerumah "
" Iya" jawab Maryam kemudian ia mengajak Ezra keluar jalan jalan di gedung itu.
"Baby Ezra..." Rian menyapa dan Ezra tersenyum menempilkan beberapa gigi nya yg mulai tumbuh.
"Ganteng ya, kayak bapak nya" Rian mencubit gemas pipi Ezra dan Ezra langsung membalas nya dengan mencubit pipi Rian.
"Hem no, baby..." seru Maryam mencegah anaknya yg hendak akan mencubit Rian lagi.
Seperti itulah kebiasaan Ezra, jika ada yg mencubit nya dia akan mencubit balik. Jika ada yg mengelus rambut nya seperti yg selalu di lakukan Maryam, maka dia akan balas mengelus kepala Maryam. Intinya, Ezra selalu melakukan apa yg orang lain lakukan pada nya.
"Gemesan juga ya, kiss me..." Rian menunjuk pipi nya dan ternyata Ezra mengerti. Ia mencium pipi Rian dan itu membuat Rian terlonjak senang "Ya Allah, jadi pengen punya anak sendiri" ujar nya yg langsung membuat Maryam tertawa.
"Jangan kelamaan, asal ada calon nya, gas aja" ujar Maryam.
"Ezra, give me your hands..." pinta Rian dan Ezra langsung mengulurkan tangan nya.
"Dia ngerti lho..." ujar Rian senang dan lagi lagi Maryam hanya tertawa.
"Hug me..." pinta Rian lagi dan dengan cerdas nya Ezra langsung melingkarkan kedua tangan kecil nya di leher Rian. Rian langsung memeluk Ezra dengan gemas.
"Ugh, pengen aku bawa pulang anak satu ini" Gumam Rian yg tampak nya sangat gemas.
__ADS_1
Setelah itu, Faraz muncul dan sempat mendengar ucapan Rian.
"Maka nya, cari calon. Jangan cari uang terus, lagian hidup udah mapan, usia apa lagi. Mau tunggu apa lagi" ujar Faraz dan melihat Faraz Ezra langsung berlari ke arah Faraz. Dan Faraz langsung menangkap nya.
Setelah itu, Faraz membawa Maryam dan Ezra pulang.
.
.
.
Di rumah, Ezra langsung di sambut nenek nya dan langsung di hujani ciuman yg membuat Ezra terkikik.
"Kok tumben pulang nya cepat, Kak?" tanya Afsana yg melihat suaminya sudah pulang. Afsana turun sambil membawa Baby Al di gendongan nya.
"Iya, Sayang. Tadi ada Maryam sama Ezra jadi Kakak bawa mereka kesini" jawab Faraz kemudian ia mengambil baby Al dari gendongan Afsana "Assalamualaikum, Baby Al. Baby Al ngapain aja hari ini, Nak?" tanya Faraz sambil mencium Baby Al.
"Dia rewel engga?" tanya Faraz pada istri nya.
"Engga kok, cuma tadi dia tidur sebentar aja. Nangis terus tiap kali tidur"
"Hem putra Abi engga nyenyak ya... Atau mimpi? Semoga Allah melindungi mu, Nak. Semoga mimpi buruk engga pernah datang dalam tidur mu" bisik Faraz dan tiba tiba Ezra datang sambil menarik narik celana Faraz.
"Bi... Bi..." Ezra mengulurkan tangannya meminta gendong dan Faraz pun memberikan Baby Al pada Afsana atau Ezra akan menangis kencang jika ia tak segera di gendong.
Faraz membawa Ezra ke sofa dan mendudukan Ezra di sana.
"Stay here, okey?" pinta Faraz dan seperti orang dewasa saja Ezra mengangguk.
Kemudian Faraz kembali meminta Baby Al dan meletakkan nya di pangkuan Ezra tentu Faraz masih memegang nya dan itu membuat Ezra mengerjapkan mata nya berkali kali dan ia tampak shock. Semenjak kejadian di rumah sakit waktu itu, Ezra seperti trauma jika dekat dekat dengan Baby Al.
"Sayang, tenang ya.. Dia adik, sayang" Maryam datang dan mengambil tangan Ezra kemudian perlahan mengelus kan tangan Ezra ke wajah Baby Al. Bermaksud agar ia tak takut lagi dekat dengan Baby Al karena kejadian di rumah sakit juga Ezra yg salah karena tiba tiba mencubit pipi Baby Al dengan keras.
Ezra yg awalnya tampak shock dan takut karena sebelumnya dia sudah membuat Baby Al menangis kencang, sekarang ia sudah terlihat lebih tenang.
"Good, Ezra. He's your brother. Baby Al, dedek Al. Okey" seru Faraz pelan pelan "Putra Abi juga, sama seperti Ezra. Harus sayang" ucap nya pelan pelan. Ezra hanya mengerjap dan ia memandang ibu nya.
"Kiss him..." pinta Maryam dan Ezra tampak takut "Its okey, kiss him..." ucap nya dan perlahan Ezra mencium Baby Al, dan ternyata Baby Al tak menangis. Baby Ezra mencium Al lagi dan kali ini Al tertawa yg membuat Ezra ikut tertawa.
"Hem sudah akur rupanya..." Maryam mendongak dan mendapati suami nya yg sudah menyusul nya.
Tadi Maryam memang meminta Amar kesana untuk menjemput nya.
"Iya dong, mumpung masih bayi harus di akur akurin. Biar tetap akur sampai gede nanti. Kalau masih bayi udah kayak tom and Jerry, gimana gede nya" ujar Faraz yg membuat semua orang tertawa.
Asma yg memperhatikan hal itu dari jauh tanpa sengaja meneteskan air mata haru nya.
Sebuah kebahagiaan yg begitu besar, keluarga nya yg begitu sempurna, tak pernah sedikitpun terlintas dalam benak Asma selama ini. Apa lagi pernikahannya yg di mulai dengan cara yg tak wajar. Menjalani pernikahan nya pun penuh luka dan air mata.
Tak pernah sekalipun Asma membayangkan semua nya akan berakhir dengan begitu indah. Putra putri terbaik ia dapatkan, merkea juga mendapatkan pasangan yg terbaik dan sangat mencintai mereka, dan sekarang cucu cucu yg seperti malaikat kecil juga ia dapatkan.
Lita mengejutkan Asma saat ia menyentuh pundak Asma dengan tiba tiba. Sontak Asma langsung menghapus air matanya.
"Engga usah di hapus, toh itu air mata bahagia" ujar Lita.
"Aku engga nyangka semuanya begitu indah dan sempurna, Ta" Ujar Asma sambil tersenyum.
"Itulah yg nama nya takdir. Semua nya pasti adil dan sudah di rencanakan oleh penulis takdir itu sendiri. Ingat engga waktu kamu nangis di rumah ku saat tahu kamu sudah di nikahkan? Saat itu aku bilang apa? Mungkin sekarang semuanya terlihat tidak adil, tapi Allah pasti merencanakan kebahagiaan yg besar untuk mu"
"Kamu benar, Ta. Memang engga ada yg lebih adil dari Allah"
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc....