Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 66


__ADS_3

Faraz duduk merenung di atas sejadahnya, sementara Afsana sedang tertidur setelah suster memberi nya obat.


Mendengar Afsana kecelakaan membuat Faraz sangat takut, ia tak bisa mengontrol diri. Hal seperti inilah yg selalu ia takutkan jika Afsana jauh dari mereka. Apa lagi Afsana sendirian.


Tapi ketakutan Faraz kali ini seolah menyadarkan ia akan sesuatu, dia bukan hanya takut Afsana terluka, tapi ia juga takut kehilangan Afsana.


Tiba tiba teringat kembali apa yg sering Maryam katakan, bahwa sebenarnya Faraz menyukai Afsana lebih dari saudara. Tapi Faraz tak percaya itu, Afsana adik nya, bagaimana bisa dia akan menyukai Afsana lebih dari itu. Tapi jika Afsana sendiri bisa mencintai Faraz, lalu...


"Ya Allah, perasaan apa yg aku alami ini. Sejak kapan aku bingung dengan perasaan ku pada Afsana?" gumam Faraz.


Faraz berdiri dan melipat sejadah nya, kemudian ia duduk di sofa, Faraz bahkan lupa memberi tahu pada Rian bahwa saat ini ia sedang ada di Lebanon, ia pun mengirimkan pesan Rian dan menyuruh nya untuk mengurus semua pekerjaan nya sampai Faraz kembali, Rian juga menanyakan dimana Maria karena Maria masih tak bisa di hubungi, dengan sangat terpaksa Faraz berbohong dengan mengatakan Maria ambil cuti karena sibuk dengan kuliah nya.


Faraz juga menghubungi Hira, meminta Hira menjaga Maria dan menanyakan bagaiamana keadaan Maria.


Hira mengatakan masih sama, Maria selalu mengurung diri di kamarnya, namun Hira selalu menemani nya dan tinggal dirumah Maria.


Sementara Bilal dan Hubab yg pergi untuk membeli makanan kini sudah kembali.


"Apa Abi memberi tahu Maryam tentang Ana?" tanya Faraz, karena ia tak mau adiknya yg sedang berbulan madu terganggu.


"Engga, Abi juga sudah menyuruh Ummi jangan kasih tahu ke Maryam. Setelah Ana lebih baik dan bisa pulang, baru kita akan memberi tahu nya"


"Ada apa dengan mu, Faraz?" tanya Hubab karena melihat Faraz yg masih tampak tak tenang "Ana ada di hadapan mu, dia akan membaik, itu pasti"


"Faraz tahu, Uncle. Tapi... Entahlah" Faraz berdiri dan membuka horden jendela ruangan itu "Perasaan Faraz aneh, seperti ada sesuatu yg Faraz engga bisa ngerti"


"Maksud mu?" tanya ayahnya.


"Faraz engga tahu, Bi. Faraz keluar dulu" serunya kemudian dan ia segera keluar dari ruangan Afsana.


"Bilal, coba kamu berbicara dengan Faraz, aku khawatir Faraz punya masalah dan menjadi beban, dia selalu terlihat engga tenang" pinta Hubab yg tak tega karena sejak keberangkatan nya, hingga detik ini Faraz masih terlihat tak tenang, selalu bergerak gelisah.


Bilal pun menyusul putra nya itu.


Faraz duduk di kursi didepan kamar Afsana, Faraz mengusap wajah nya dan ia tampak frustasi.


"Ada apa, Faraz?" tanya ayahnya sembari duduk di samping Faraz.


"Engga ada apa apa, Bi. Cuma khawatir sama Afsana"


"Dia ada didepan mata mu dan dia baik baik saja" tegas Bilal. Kemudian ia menatap putra nya itu lekat lekat, dan Bilal memikirkan sesuatu "Ada apa? Kamu selalu berlebihan jika tentang Afsana, Abi tahu dia adik mu, tapi yg kamu tunjukan lebih dari itu"

__ADS_1


"Maksud, Abi?"


"Apa kamu menaruh hati pada Afsana?"


" Astaghfirullah, Bi. Itu engga mungkin, Ana itu seperti Maryam bagi Faraz"


"Lalu kenapa kamu terlihat seolah akan gila sejak mendengar Afsana kecelakaan?"


"Ya karena Ana adik Faraz, Bi. Faraz khawatir"


"Bagaimana jika Afsana tidak bisa di selamatkan dan kamu kehilangan dia"


Deg


Seperkian detik, jantung Faraz seolah berhenti berdetak. Itu yg sangat dia takutkan. Faraz menggeleng dan berkata dengan sangat lirih.


"Faraz engga akan sanggup kehilangan nya, Bi"


Bilal menghela nafas berat. Ia bingung dengan putra nya itu. Faraz pernah mengatakan ia tertarik pada Maria, tapi sikap Faraz pada Afsana menunjukan Faraz mencintai Afsana.


"Faraz, bagaiamana hubungan mu dengan Maria?" tanya Bilal.


"Biasa aja, Bi. Tapi...."


"Bukan, maksud Faraz, perasaan yg Faraz miliki dulu mungkin hanya rasa simpati"


"Kenapa kamu engga konfirmasi itu sama Ummi mu?"


"Kenapa?"


"Karena sejak kamu bilang tertarik pada Maria, Ummi mu itu tidak suka, dia selalu mengkhawatirkan mu, tapi itu sih dulu sebelum Maria memeluk islam"


Faraz hanya tersenyum samar, tak mungkin ia mengatakan pada Abi nya bahwa Maria pernah mengungkapkan perasaan nya dan saat ini ia hamil, bahkan ayahnya malah meminta Faraz menikahi nya. Faraz tak mau membuka aib Maria dan jika Maria mau menerima bantuan nya dengan tinggal di kediaman nenek nya, baru lah Faraz akan menceritakan hal itu supaya keluarga nya mengerti.


"Lalu?" tanya Bilal tiba tiba. Faraz hanya mengedikan bahu.


"Kamu mencintai Afsana?"


"Abi..."


"Kamu engga sadar atau engga mau sadar, Faraz?"

__ADS_1


"Ya, bukan gitu, tapi...."


"Coba tanyakan pada hati mu, rasakan di detak jantung mu" Bilal membawa tangan Faraz ke dada nya, dimana jetak jantung Faraz begitu terasa disana "Dan tanya, perasaan apa yg kamu miliki pada Afsana?"


Dan tanpa sadar, Faraz malah mengulum senyum. Dan ia merasakan jantung nya berdebar.


Afsana.


Kenapa nama adik nya itu kini terdengar indah di telinga nya?


Dan kenapa memikirkan nya malah membuat jantung nya berdebar begini?


Sejak kapan???


Bilal menggelengkan kepala nya, melihat dari tatapan mata Faraz, ekspresi wajah nya dan senyum nya, sudah pasti Faraz merasakan sesuatu yg indah saat ini.


"Ya Allah, Faraz. Usia mu sudah 24 tahun, kamu sudah sangat dewasa, dan sesulit itu mengerti cinta?" ayahnya bersuara dengan setengah mengejek.


"Habis nya Faraz engga di ajari untuk mengerti cinta yg seperti itu sama Abi dan Ummi. Di pesantren cuma di ajari ilmu agama, di kampus di ajari ilmu arsitek. Ya maklum kalau Faraz engga ngerti soal hati dan cinta " jawab Faraz panjang lebar dengan santai nya membuat Bilal menatap tajam pada nya dan tak percaya kini Faraz malah menyalahkan orang tua nya pada ketidak pekaan nya sendiri.


Anak ini....


"Cinta itu engga perlu di ajari atau di pelajari, cukup rasakan di hati mu. Kamu nya aja yg engga peka" tegas Bilal pada putra nya itu.


"Ya karena Faraz fikir Ana itu adik Faraz, Bi"


"Makanya jangan hanya gunakan logika, gunakan juga hati mu" seru Bilal. Kini kedua anaknya sudah menemukan pelabuhan hati nya "Oh ya, kalau kamu memang manaruh hati pada Afsana, Abi akan membicarakan hal itu dengan Hubab, ya siapa tahu Ana mau menerima mu, walaupun kemungkinannya sangat kecil karena dia menganggap mu kakaknya"


Faraz hanya mengulum senyum, bahkan Afsana lebih dulu mengungkapkan perasaan nya, pada kakak nya?


"Jangan" seru Faraz kemudian membuat ayahnya bingung.


"Kenapa? Masih engga ada kepastian di hati mu, eh?"


"Bukan gitu..." jawab Faraz sembari senyum senyum sendiri, ia teringat pada buku diary Afsana dan ia akan memberikan sebuah kejutan pada Afsana nanti "Biar Faraz bicara sama Ana"


.


.


.

__ADS_1


▫️▫️▫️


...Tbc... ...


__ADS_2