Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 39


__ADS_3

Sarfaraz tak bisa menghentikan senyum nya mendengar cerita panjang lebar Maria yg katanya Maryam memberikan siraman rohani panjang lebar di kampusnya. Gadis itu mengakui apa yg Maryam katakan masuk akal, dan ia bahkan menanyakan lagi pada Faraz pertanyaan yg ia ajukan pada Maryam. Dan Faraz memberikan jawaban yg sama.


"Sampai sini masih belum mau menerima keberadaan Tuhan?" tanya Faraz.


Saat ini, Faraz, Rian dan juga Maria sedang sibuk di ruangan Faraz yg sedang mengerjakan proyek hotel calon adik iparnya itu.


"Bukan engga percaya, tapi gimana ya, Pak..."jawab Maria sambil menyerahkan sebuah pensil yg di minta Faraz.


"Mungkin Maria ini sama seperti kisah Nabi Ibrahim, Faraz. Yg percaya Tuhan itu ada tapi engga tahu Tuhan itu siapa, dimana dan bagaiamana"


"Betul" jawab Faraz namun sambil ia tetap fokus pada desain kertas di meja nya.


"Terus?" tanya Maria lagi namun Faraz tak menanggapi karena ia masih fokus pada pekerjaan nya.


"Terus kamu pergi ke pengajian deh, biar tahu cerita Nabi Ibrahim. Faraz mah di sini sibuk cari duit, bukan untuk ceramah" sambung Rian yg langsung mendaptkan hadiah lemparan pensil di wajah nya.


"Kisahnya sederhana, Maria" ujar Faraz namun jari jari nya masih dengan cekatan memegang pensil gambar dan penggaris, masih sibuk dengan urusan duit nya"Nabi Ibrahim mencari tahu siapa Tuhan nya, dari mengira apakah bintang itu tuhannya, namun bintang itu tenggelam dan Nabi Ibrahim berkata ia tidak suka pada yg tenggelam, kemudian ia mengira bulan itu Tuhan, tapi bulan terbenam, maka ia juga tak suka pada yg terbenam. Kemudian ia mengira matahari itu Tuhan karena matahari lebih besar tapi rupanya matahari juga terbenam. Maka dari sini Nabi Ibrahim yakin, bahwa Tuhan tidak akan pernah mati, karena jika Tuhan mati maka berakhirlah kehidupan di dunia ini"


"Faham engga?" sambung Rian. Dan Maria mengangguk kemudian menggeleng, namun mengangguk lagi dan menggeleng lagi membuat Rian garuk garuk kepala.


"Inti nya, Tuhan itu ada dan kamu bisa merasakan nya jika kamu mau merasakan nya" ujar Faraz "Bukan nya kamu sudah membaca kisah Muhammad putra Abdullah? Dia juga yatim tapi Allah menjaga nya, dan kamu tahu kisah Bunda Maria, kan?"


"Itu di agama ibu ku, Pak?"


"Iya, aku tahu. Di dalam Al Quran di jelaskan nama nya Maryam, perawan suci yg mengandung dan melahirkan anak, itu kenapa bisa kalau bukan karena kehendak Tuhan? Dan siapa yg menjaga dia yg menyendiri selama kehamilan nya kalau bukan Tuhan? Siapa yg mempermudah ia dalam melahirkan sendirian kalau bukan Tuhan? Maryam juga mendapatkan cobaan yg sangat berat ketika ia di caci maki dan di tuduh berzina oleh kaum nya, tapi dia berserah diri pada Tuhan nya sehingga Tuhan melindungi nya bahkan dengan ajaib bayi dalam buaian ibu nya itu yg menjelaskan dan menjawab tuduhan pada ibu nya. Bahkan kuasa dan kasih sayang Tuhan juga ada pada diri mu, Maria. Kamu masih kecil saat kehilangan ibu mu, ayah mu memukuli mu sejak saat itu. Dari mana kamu mendapatkan kekuatan untuk bertahan sampai sekarang kalau bukan dari Tuhan?"


"Kepanjangan jelasin nya, Faraz" seru Rian yg membuat Faraz mendelik.


"Katanya tadi di suruh jelasin, gimana sih" ujar Faraz dan ia melirik Maria sekilas.


Gadis itu tampak termenung dan berfikir ternyata ada begitu banyak di dunia ini orang yg jauh lebih berat hidup nya di banding dirinya. Dan orang orang itu tidak menyalahkan Tuhan?


Mungkin benar kata Maryam, bahwa Tuhan hanya menguji nya. Dan seperti kata Faraz, ujian di perlukan untuk bisa meningkatkan kualitas hidup, seperti ujian di sekolah untuk naik kelas.


"Sesederhana itu ternyata"


.


.


.


Granny Amy menjemput Maryam dan ibu nya ke rumah nya karena ia ingin mengajak merkea untuk berbelanja keperluan pernikahan dan juga untuk memilih undangan nya.

__ADS_1


Namun sebelum itu, Asma menyarankan agar mereka juga Amar supaya Amar juga bisa memilih undangan seperti apa yg dia mau.


Karena itulah, mereka mampir ke kantor Amar dulu.


Di lobi, Granny Amy bertemu dengan seorang wanita yg langsung menyambut Granny Amy dan ternyata itu adalah teman nya.


"Kenalin, calon besan ku, dan calon mantu ku" seru Granny Amy pada wanita itu.


"Jadi itu bukan gosip belaka?" pekik teman nya itu. Kemudian ia meneliti Maryam dari atas sampai bawah membuat Maryam tersenyum kikuk "Sangat cocok dengan Amar" ujar wanita.


"Maryam, kamu duluan ke ruangan Amar ya, Granny sama ibu mu mau mengobrol dulu dengan teman Granny" seru Granny yg di jawab anggukan Maryam.


"Ibu nya Maryam masih sangat muda, aku fikir tadi saudari nya Maryam" Asma tertawa geli mendengar penuturan itu dan mereka lanjut mengobrol.


Sementara Maryam, dia langsung di sambut hangat oleh Cindy.


"Nona Maryam, selamat datang"


"Maryam saja, Cindy" ujar Maryam.


"Itu sangat tidak sopan" jawab Cindy "Oh ya, sebenernya di dalam sedang ada Dilara, dia datang untuk pekerjaan" Maryam terlihat tidak suka dengan kabar itu.


"Kalau gitu, berarti Amar engga bisa di ganggu"


"Tidak apaa apa, kan Nona Maryam calon istri nya. Justru Nona Maryam harus masuk atau Dilara akan menggoda Pak Amar"


"Pekerjaan mah cuma alasan Dilara aja, ayo masuk. Saya juga tidak suka Dilara, dia sudah di larang masuk tapi maksa. Padahal janji meeting nya masih nanti sore" Cindy mendorong paksa Maryam supaya masuk dan benar saja...


"Astaghfirullah, Amar?" pekik Maryam tak percaya dengan apa yg dilihat nya. Maryam segera menutup pintu di belakang nya agar Cindy tak melihat apa yg terjadi di dalam, dan ia menatap penuh kecewa pada Amar. Bagaiama tidak, Amar sedang berada di atas tubuh Dilara yg tergeletak di lantai. Mata Maryam bahkan sudah berkaca kaca melihat pemandangan itu.


Dengan cepat Amar berdiri dan terlihat panik, sementara Dilara berseringai bak iblis.


"Maryam, ini tidak seperti yg kamu lihat" ucap Amar dengan suara sedikit bergetar. Melihat tatapan penuh kecewa Maryam, seketika Amar teringat pada ayahnya yg juga menatap ibunya seperti tatapan Maryam sekarang pada nya. Penuh luka dan kecewa.


"Hai, Maryam. Kamu datang di saat yg salah" ujar Dilara sambil merapikan gaun nya dan ia memeperlihatkan tatapan nya yg begitu licik.


"Maryam, demi Tuhan itu tidak seperti yg kamu fikirkan. Tadi dia masuk begitu saja ke ruangan ku dan langsung duduk di pangkuan ku, aku langsung mendorong nya tapi dia menarik dasi ku sehingga aku terjatuh di atas tubuh nya. Maryam, Sayang. Please percaya sama aku"


Maryam tetap tak bergeming mendengar penjelasan panjang lebar Amar. Matanya bahkan terasa panas dan ia akan segera menangis, Maryam mengerjapkan mata nya berkali kali guna mencegah air matanya keluar.


"Sayang, ku mohon... Percaya sama aku. Aku engga mungkin mengkhianati kamu, aku tahu sakit nya di khianati" Amar berbisik di akhir kalimat nya. Maryam menatap mata Amar dan Maryam tahu Amar berkata jujur, ia juga bisa membaca bahasa tubuh orang.


"Ku mohon, percaya sama aku. Aku janji ini engga akan terulang lagi"

__ADS_1


Sementara Dilara, ia sangat berharap Maryam tidak percaya pada Amar namun ternyata Maryam malah mengangguk pelan sambil menghapus air mata yg sudah meluncur di sudut matanya. Amar bahagia Maryam percaya pada nya, Amar sudah mendekat ingin memeluk Maryam saking bahagia nya tapi Maryam malah melangkah mundur. Ah, Amar sampai lupa mereka belum menjadi pasangan yg halal.


"Jangan menangis ya, dan maaf sudah menyakiti mu" ucap Amar lembut sambil menyerahkan sapu tangan milik nya. Maryam menerima nya dan sekali lagi hanya bisa mengangguk.


Bersmaan dengan itu, pintu kembali terbuka dan Granny Amy juga Asma terlihat terkejut melihat suasana yg tampak tegang disana apa lagi ada wanita asing di sana, Asma ingat wanita itu yg ia lihat di mall bersama Amar waktu itu.


"Sebenarnya siapa wanita itu?" tanya Asma tajam apa lagi ia melihat mata putri nya yg tampak memerah.


"Tante, dia mantan rekan bisnis ku. Ini hanya kesalah fahaman"


"Mantan rekan?" pekik Dilara tak percaya karena mereka masih punya hubungan antar perusahaan.


"Iya, aku memutuskan hubungan kerja kita. Perusahaan ku dan perusahaan mu tidak akan bekerja sama lagi" tegas Amar.


"Apa kau gila? Kita akan rugi besar, Amar" seru Dilara antara marah dan tak percaya Amar memutuskan hubungan kerja mereka begitu saja.


"Aku engga peduli" jawab Amar dingin.


"Tapi aku bisa menuntut mu karena kamu memutuskan hubungan kerja secara sepihak"


"Silahkan! Dan aku yakin kamu pasti tahu sangat tidak mungkin mengalahkan ku di pengadilan" desis Amar yg membuat Dilara menggeram marah karena di banding kekuasaan Amar, kekuasaanya tidak ada apa apa nya. Emosinya bahkan sudah sampai ke puncak kepala nya.


"Kamu lakukan ini demi gadis kecil itu?" teriak nya menunjuk Maryam.


"Gadis kecil itu calon menantu ku" sambung Granny Amy marah "Jangan berani mengangkat jari mu pada nya" lanjut nya.


Setelah itu, Amar segera memanggil Cindy dan meminta Cindy menghubungi pengacara nya untuk mengurus perusahaan nya dan perusahaan Dilara. Amar juga meminta Cindy untuk memanggil security agar mengusir Dilara dari kantor nya dan melarang Dilara atau siapapun dari perusahaan Dilara mendekati gedung perusahaan nya.


Tentu hal itu membuat Dilara semakin di bakar api amarah dan dendam.


Dilara segera pergi dari sana dengan tatapan yg begitu tajam pada Maryam.


"Seharusnya tidak perlu sejauh itu" ucap Maryam kemudian setelah Dilara pergi.


"Itu sudah seharusnya Amar lakukan sejak dulu, wanita itu seperti orang gila yg terus mendekati Amar dan mengikuti nya seperti bayangan. Sangat menjengkelkan" sambung Granny yg tampak kesal.


"Maaf Amar, demi putri ku kamu harus menanggung rugi di perusahaan mu. Tapi harus Tante akui, Tante benci wanita itu karena sudah membuat putri ku menangis"


"Aku juga benci apapun yg menyakiti Maryam, Tante. Dan soal rugi, aku rela bahkan kehilangan nyawa ku demi Maryam" ucap nya yakin yg tentu saja itu menyentuh hati Maryam.


"Baiklah, sebaiknya kita pergi. Ada banyak yg harus kita urus dan kita beli. Waktu nya semakin sempit" sambung Granny Amy.


Amar segera memerintahkan Cindy untuk meng cancel semua meeting nya hari ini, karena ia ingin ikut berbelanja bersama calon istri nya.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2