Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 97


__ADS_3

Asma memberitahu kan kabar kehamilan Maryam pada keluarga nya, dan mereka semua sangat gembira serta mengucapkan syukur. Tak lupa mereka juga memberi tahu Nabil dan kedua orang tuanya yg ada di mekah. Nabil mengatakan Maryam harus berterimakasih pada Nabil, karena benar dugaan nya, test peck itu membawa kabar gembira untuk mereka semua.


Acara syukuran pun di gelar dan semua nya berjalan lancar.


Kini Amar pun berusaha menjadi suami yg lebih baik, ia tak lagi lembur dan lebih sering menghabiskan waktu bersama istrinya.


Dan Amar selalu kalang kabut ketika Maryam mual maul dan bahkan muntah, dan Amar setiap kali hal itu terjadi, Amar bawaannya selalu panggilkan Dokter, padahal Granny Amy sudah menjelaskan hal biasa jika wanita hamil itu mual dan muntah.


"Sudah baikan?" tanya Amar lembut sembari membantu istrinya meminum teh jahe yg di buatian Granny Amy yg katanya baik untuk wanita hamil yg mual mual. Amar sendiri sebenarnya sudah siap pergi ke kantor untuk menghadiri meeting yg penting. Tapi ketika melihat istrinya yg sepertinya membutuhkan nya, Amar menunda meeting itu.


"Iya, aku engga apa apa kok. Kamu berangkat aja, ada Granny yg jagain aku" ucap Maryam mencoba meyakinkan suaminya itu.


"Tapi aku mau jagain kamu sama baby kita" Amar berkata sambil mengelus perut Maryam.


"Beneran aku engga apa apa, nanti kalau aku butuh kamu, aku pasti langsung telpon"


Amar tampak berfikir dan masih ragu untuk pergi, namun Maryam terus meyakinkan nya dan Amar pun bersedia pergi.


Sebelum pergi, Amar memerintahkan semua pelayan rumah nya agar juga menjaga Maryam, tidak memperbolehkan Maryam melakukan sesuatu mengingat sebelum nya Maryam sering membantu pekerjaan dapur. Amar bahkan mengancam akan memecat mereka jika Maryam sampai bekerja, tentu ancaman itu supaya Maryam tidak melanggar perintah Amar untuk istirahat karena Maryam tidak mungkin tega membuat pekerja nya di pecat.


.


.


.


Di kantornya, Amar langsung menemui rekan kerja nya yg dari London di ruang meeting untuk membicarakan hal penting.


Dan di pertengahan meeting, tiba tiba Cindy datang dan membisikan sesuatu pada Amar. Amar pun meminta izin untuk keluar sebentar pada orang orang di ruang meeting itu dan mereka mempersilahkan nya.


Ternyata Maryam ada di luar ruang meeting sedang menunggu Amar.


"Ada apa, Sayang?" tanya Amar khawatir karena Maryam menyusul nya ke kantor.


"Aku pengen belanja" ucap Maryam dengan nada manja dan itu sukses membuat Amar tersenyum geli, saat Cindy mengatakan Maryam ingin menemui nya, Amar sudah dag dig dug berfikir ada apa. T


"Credit card mu itu unlimited dan sudah ku bilang pakek semau mu, Sayang. Kenapa harus jauh jauh ke sini cuma mau izin belanja"


"Bukan mau izin, tapi mau di temenin" Maryam kembali berbicara dengan nada manja nya.


"Belanja sama Granny dulu ya, aku ada meeting" ucap Amar dengan sangat lembut sembari mengelus pipi istri nya yg tertutup kain cadar itu. Tapi tiba tiba saja mata Maryam langsung berkaca kaca dan satu butir air mata nya langsung jatuh dan Amar yg melihat itu jadi panik "Hey, kenapa?" tanya nya.


"Mau nya sama kamu" lirih Maryam bahkan dengan suara yg bergetar. Amar sudah membuka mulut nya hendak menjelaskan betapa penting meeting nya sekarang, tapi melihat Maryam yg menangis ia jadi tak tega.


Amar pun teringat dengan Granny nya yg sudah memberi tahu Amar sebelum nya bahwa kadang orang hamil itu ajaib. Bisa menguji kesabaran dan mental suami.


"Ya udah, tunggu sebentar ya. Aku harus bicara dulu dengan mereka" mata Maryam langsung kembali berbinar dan ia mengangguk antusias. Maryam juga tersenyum senang di balik cadar nya dan senyum itu membuat tatapan matanya menjadi tampak indah, membuat Amar tersenyum juga.


Kemudian Amar kembali ke ruang meeting dan meminta maaf dengan sangat karena tak bisa melanjutkan meeting nya sekarang. Tapi rekan bisnis nya itu mengatakan meeting itu sangat meeting sementara mereka sudah harus kembali ke London malam ini.

__ADS_1


Amar pun mengatakan akan melanjutkan meeting nya nanti sore, dan sebagai permintaan maaf, mereka akan di antarkan pilot Amar tentu menggunakan jet pribadi nya ke London. Dan sebelum itu, mereka akan di bawa ke hotel bintang lima milik Amar agar mereka bisa beristirahat disana, jika pun mereka ingin pergi ke suatu tempat, Amar sudah menyediakan mobil dan sopir yg siap mengantar mereka.


Walaupun sempat keberatan meskipun dengan semua penawaran itu, namun akhir nya mereka setuju setelah Amar mengatakan istri nya sedang hamil dan saat ini membutuhkan Amar.


.


.


.


"Kamu mau belanja apa, Sayang?" tanya Amar pada Maryam yg bergelanyut manja di lengan Amar.


Saat ini kedua nya sudah dalam mobil untuk pergi berbelanja.


"Engga tahu, kita liat aja ada apa disana" jawab Maryam. Dan saat Bobby hendak berjalan lurus menuju sebuah mall, Maryam malah menyuruh nya belok.


"Kita belanja ke pasar tradisional" seru Maryam yg membuat Amar semakin bingung "Oh ya, disana credit card engga berlaku, harus pakek cash" ia berkata pada Amar dan Amar mengangguk. Memberi isyarat ia memiliki uang cash nya.


Dan sesampai nya disana, Amar sempat ragu untuk turun karena ia tak pernah pergi ke tempat seperti itu, namun istri nya yg sudah meluncur keluar dari mobil membuat ia mau tak mau ikut keluar.


"Kita mau belanja apa di sini?" tanya Amar sembari melihat ke sekliling nya dan ia menutup hidung nya saat mencium aroma ikan, daging dan sebagai nya.


"Entahlah, sebenarnya aku lapar dan aku pengen masak sendiri" jawab Maryam karena nafsu makan nya memang menurun sejak ia hamil. Membayangkan makanan saja sudah membuat nya mual.


"Jangan, nanti kamu capek, suruh Nur aja ya, kita pulang sekarang"


"Kita belanja di super market aja ya, lebih bersih, Sayang" bujuk Amar yg melihat lingkungan pasar yg bagi nya tampak mengerikan.


"Tapi lebih segar di pasar ikan dan daging nya" balas Maryam yg membuat Amar hanya bisa menghela nafas berat.


Dengan di ikuti Rika dan Gina yg memang selalu setia mengawal Maryam, mereka pun mulai menjelajahi pasar itu. Walaupun berkali kali Amar merasa akan muntah karena bau pasar itu, dan ia bahkan merasa pusing, tapi Amar berusaha tetap menemani istrinya.


"Rika, ambilkan masker ku di mobil" perintah Amar pada akhir nya yg sudah merasa tak tahan dengan aroma pasar itu. Rika pun melaksanakan perintah Tuan nya. Sementara Maryam tampak merasa bersalah ketika menyadari raut tersiksa di wajah Amar.


"Kamu tunggu di mobil aja, biar aku sama Gina dan Rika yg belanja" tutur Maryam namun Amar menggeleng.


"Engga apa apa, aku mau temenin kamu"


"Jangan, tunggu aja di mobil" bujuk Maryam namun Amar tak mengindahkan nya.


Rika datang dan langsung memberikan masker nya pada Amar. Amar langsung mengenakan nya dan mengajak Maryam untuk berbelanja.


Maryam membeli beberapa ekor ikan segar, daging, bawang dan semua kebutuhan dapur nya. Dan setelah berbelanja yg menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam saja, Maryam segera mengajak Amar pulang karena ia sudah tidak sabar mau memasak dan memakan masakan nya sendiri.


Sesampainya dirumah, Amar langsung memerintahkan Maryam untuk mandi, keramas dan segera menyuruh pelayan untuk mencuci pakaian Maryam dan tentu pakaian nya.


Tapi Maryam mengatakan dia akan mandi setelah masak namun suami nya kembali memerintahkan Maryam untuk membersihkan diri karena ia tak mau Maryam sakit dan bayi nya kenapa napa karena menurut nya di pasar tadi banyak debu dan kotor. Maryam pun mau tak mau mengikuti perintah suami nya. Amar sendiri melakukan hal yg sama.


Setelah mandi, Maryam segera ke dapur dan terlihat Nur sudah membersihkan ikan dan daging nya, juga sudah menyiapkan bumbu bumbu yg Maryam butuhkan.

__ADS_1


"Sayang, aku harus kembali ke kantor" seru Amar yg kini sudah segar dan berganti setelan jas nya.


"Tunggu sebentar, makan siang sama aku ya dirumah" Maryam meminta dengan wajah memelas. Amar pun mengangguk dan itu membuat Maryam tampak sangat senang.


Amar tetap berada di dapur dan memperhatikan istri nya yg sibuk memasak, terlihat sekali Maryam sudah sering berada di dapur dan ia terlihat pandai dalam memasak.


Maryam memasak ikan goreng dan sayur bening, tak lupa dengan sambal yg cabe nya membuat Amar bergidik ngeri.


"Sayang, jangan banyak banyak cabe nya. Baby kita kepanasan nanti" Amar memperingatkan, dan Maryam mengurangi sedikit cabe nya.


Setelah semua selesai, pelayan segera menyiapkan nya di meja makan. Dan Granny Amy baru saja turun dari kamar nya dan terlihat ia seperti bangun tidur.


"Amar, tumben makan siang dirumah?" tanya Granny Amy kemudian duduk di kursi dan ia melihat ikan goreng yg tampak menggugah selera nya.


"Mau nya Maryam, Granny. Ini juga Maryam yg masak, tadi kami pergi berbelanja"


"Maryam belanja dan masak? Kenapa di biarin?" tanya Granny Amy tampak kesal dengan Amar.


"Mau nya Maryam sendiri, Granny" sambung Maryam yg ikut bergabung di meja makan.


"Tapi lain kali jangan, kalau kamu kecapean, kasian bayi mu" Maryam mengangguk sambil tersenyum. Ia sendiri tak mengerti kenapa ingin masak sendiri dan berbelanja sendiri. Yg membuat nya lebih heran, ia benar benar ingin Amar menemani nya.


Saat Maryam hendak memakan ikan nya, ia kembali mual dan mendorong ikan itu menjauh.


"Kenapa, Sayang?" tanya Amar heran.


"Engga mau ikan nya" jawab Maryam yg membuat semua orang kembali bingung.


"Kan kamu yg masak, pasti enak" bujuk Amar namun Maryam masih enggan.


"Kamu aja yg makan" ujar Maryam dan menyajikan makanan untuk Amar.


"Terus kamu mau makan apa?"


"Aku makan sayur bening nya aja, Granny juga mau ikan?" tanya Maryam.


"Granny bisa ambil sendiri. Kamu makan aja, Nak" jawab Granny. Ia pun mengambil sedikit ikan itu dan saat memakan nya, ia tampak tersiksa "Asin" ujar Granny kemudian ia langsung meneguk air.


"Engga kok" jawab Amar yg kini menikamati ikan itu dengan lahap.


"Tapi kata Granny asin, jangan di makan kalau asin" seru Maryam namun seperti nya ikan itu memang cocok di lidah Amar.


Granny dan Maryam berfikir Amar hanya menghargai Maryam atau ingin membuat Maryam senang saja, namun seperti nya tidak, karena Amar memang sangat lahap dan bahkan ia nambah dua kali dan Amar tampak sangat menikmati ikan itu yg di cocol dengan sambal yg pasti sangat pedas.


Tentu saja Maryam senang dengan hal itu, namun beda hal nya dengan Granny Amy yg tampak meringis, apa lagi sebelum nya Amar tak pernah suka pedas dan ikan nya juga memang benar benar asin.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2