Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 53


__ADS_3

"Apa Marry sudah membaik?"


"Iya, kamu jangan khawatir. Banyak yg menjaga Unyil di sini, keadaan kamu sendiri gimana, Dek?"


"Ana baik, Kak. Minggu depan Ana ujian. Doain Ana ya"


"Iya, Kakak engga pernah lupa doain kamu, jaga kesehatan juga ya"


"Kak, waktu Ana sudah habis, inysa Allah besok besok Ana telepon lagi ya"


"Iya, Sayang. Jaga diri disana ya"


"Iya, Kak Faraz. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Faraz mengehela nafas dan meletakkan kembali ponsel nya ke meja. Padahal sudah Faraz sudah meminta pada Aunty Lita nya itu supaya tidak memberi tahu apapun tentang Maryam kepada Afsana. Ia tak mau Afsana terganggu konsentrasi belajar nya terganggu karena memikirkan saudari nya.


"Dia itu adik mu atau istri mu sih" tanya Rian yg sebenarnya sejak tadi berdiri di depan Faraz karena ingin membicarakan proyek hotel Amar yg sudah selesai mereka desain. Tinggal menunjukan itu pada Amar.


Tapi saat Afsana menelepon, Faraz seolah ingin tak ingin di ganggu, bahkan membuat Rian berdiri cukup lama disana. Memperhatikan bagaiamana cara bicara Faraz yg rasanya kelewat lembut kalau hanya kepada adiknya.


"Gila kau" seru Faraz.


"Ya habis, setiap kali Afsana telepon, kamu langsung cuma fokus ke dia, bahkan pekerjaan pun di abaikan"


"Ya karena Afsana jarang nelpon. Jadi ketika dia telpon, ya aku maunya fokus lah"


"Ya udah, sekarang bagaimana ini? Kita sudah atur pertemuan dengan calon adik ipar mu itu"


"Aku males, kamu aja yg temui dia"


"Lah, ini ide mu. Gimana caranya aku ngejelasin nanti nya"


"Huff, ya sudah lah. Kapan pertemuan nya?"


"Besok siang"


.


.


.


Firda terus merengek pada ummi nya agar di izinkan pergi ikut Amar ke kantor nya. Alasan nya hanya satu, ingin melihat sebesar apa gedung Degazi Corp, apakah seperti di film film yg dia tonton. Keponakan sejati Asma Azzahra.


"Firda kenapa, Tante?" tanya Maryam karena melihat Firda yg terus merengek pada Aisyah.


"Mau ikut ke kantor Amar, mau liat gedung perusahaan nya katanya"


Maryam tertawa geli dengan tingkah adik sepupu nya itu.


"Terus kenapa engga di izinin aja?"


"Malu malu in bocah itu" jawab Aisyah.


"Tapi emang Amar kesini?" tanya Maryam kemudian.


"Iya, dia depan sama Abi dan ummi mu" jawab Aisyah. Maryam pun mengangguk dan ia menghampiri kedua orang tuanya itu. Amar menyapa Maryam dengan senyum khas nya. Dan seperti biasa, Maryam hanya menatap nya sekilas dan menyunggingkan senyum samar.


"Sini, Nak. Ada yg ingin kami bicarakan" seru sang ayah. Maryam pun duduk di samping ayahnya.


"Mau bicara apa, Bi?" tanya Maryam.

__ADS_1


"Perihal pernikahan mu yg sempat di tunda" Maryam tak langsung menjawab. Jika di tanya apakah dia mencintai Amar, tentu dia mencintai nya. Tapi apakah dia siap menikah setelah apa yg terjadi?


"Tante, Om. Kalau di izinkan, aku ingin berbicara berdua dengan Maryam" ucap Amar ragu ragu. Bilal sempat berfikir sejenak, tapi kemudian ia mengerti mungkin Amar ingin mengungkapkan perasaan nya pada Maryam.


"Ya udah, kalian boleh bicara disini" Amar mengangguk, kemudian Bilal mengajak Asma untuk meninggalkan mereka.


Kedua nya sama sama terdiam beberapa saatk, hingga kemudian Amar membuka suara.


"Bagaiamana keadaan mu?" Maryam hanya tersenyum samar dan berkata


"Lebih baik" Amar memperhatikan wajah Maryam, dan lebam lebam di wajah nya sudah mulai menghilang.


"Masih belum masuk kuliah?" tanya Amar lagi dan Maryam menggeleng. Karena memang sejak kejadian itu, ia tak pernah keluar rumah bahkan tidak ke pesantren.


"Maaf ya, semua ini karena aku" Amar berkata penuh penyesalan namun Maryam menggeleng.


"Ini sudah jalan nya" jawab Maryam.


"Tapi tetap saja aku alasan di balik jalan ini" lirih Amar "Maryam, aku ingin menikahi mu, dan aku janji hal itu engga akan terjadi lagi, aku akan melindungi mu lebih baik lagi" lanjut Amar. Kemudian ia menggulung kemeja nya, memperlihatkan beberapa sayatan disana "Tapi siapa yg aku melindungi aku dari diri ku sendiri?" seketika Maryam mendongak, dan ia melihat lengan Amar yg memiliki beberapa bekas luka.


"Aku baru bisa mengendalikan diri ku sejak aku bersama mu, dan kalau kamu meninggalkan ku, maka aku akan kembali kehilangan arah dalam hidup ku"


Maryam hanya bisa mendengarkan dengan seksama apa yg Amar katakan.


"Aku mencintai mu, dan aku tahu kamu mencintai ku. Aku membutuhkan mu, Maryam. Walaupun aku tahu kamu sekali tidak membutuhkan ku" Amar berkata dengan suara lirih. Dia masih sangat ingin memiliki Maryam, dan baginya, Maryam adalah kekuatan nya, arah jalan hidup nya.


Sementara Maryam, dia juga ingin memiliki Amar, dan apa yg Amar katakan tentu sangat menyentuh hati Maryam.


"Jadi mau mu apa?" tanya Maryam dengan suara rendah.


"Menikahi mu" jawab Amar tegas dan yakin "Aku janji aku akan melindungi mu, aku engga akan biarin satu orang pun menyakiti mu"


"Hem" hanya itu tanggapan Maryam yg tak pernah tahu kalau pria bisa banyak mengumbar janji.


"Pernikahan kita hanya di tunda, bukan di cancel" jawab Maryam pada akhir nya yg tentu membuat Amar langsung ingin melompat girang.


"Jadi kapan kita bisa melanjutkan kembali pernikahan kita? Semua nya sudah siap" tutur Amar penuh kebahagiaan.


"Itu, kamu bicara sama Abi aja" jawab Maryam mengulum senyum.


.


.


.


"Tapi, Bi... Faraz khawatir sama Maryam" seru Faraz saat Abi nya memberi tahu bahwa mereka akan melanjutkan pernikahan Maryam yg tertunda. Faraz tentu tak langsung setuju dengan hal itu karena masih terbayang apa yg terjadi pada Maryam.


"Faraz, Amar sudah bisa menunjukan bahwa dia bisa bertanggung jawab pada Maryam"


"Dan Maryam sendiri bisa menerima Amar" lanjut ibunya. Faraz hanya bisa mendesah lesu.


"Kalau memang itu keputusan Maryam, ya sudah. Faraz cuma takut dia kenapa napa" tutur Faraz khawatir.


"Allah akan selalu menjaga nya" seru Bilal pada putra nya itu.


"Lagian kenapa engga nunggu Maryam selesai kuliah aja sih?" tanya Faraz lagi.


"Amar selalu berusaha mendekati Maryam, dan itu engga baik. Jadi akan lebih baik kalau hubungan mereka di halalkan saja"


Ujar sang ayah karena memang benar Amar selalu mendekati Maryam bahkan sejak dulu, apa lagi sebelum nya keputusan mereka sudah sangat yakin dengan pernikahan itu seandainya tak ada tragedy menyedihkan yg terjadi mungkin mereka sudah bahagia sekarang sebagai suami istri.


"Ya udah deh, yg penting unyil bahagia, tapi kalau sampai Maryam tersakiti lagi karena Degazi itu, aku akan membuat dia berakhir di tangan ku"

__ADS_1


"Astaghfirullah, Faraz. Bicara tuh yg baik baik, Nak" ujar sang ibu.


.


.


.


Setelah terus merengek, akhirnya Firda di izinkan oleh Aisyah untuk ikut dengan Amar ke kantor nya. Tapi ternyata tak cukup sampai disana, Firda malah memaksa Maryam untuk ikut juga, katanya takut Firda di culik. Yg tentu itu alasan Firda saja karena ia ingin Maryam keluar rumah setelah beberapa hari terus mengurung diri.


Alhasil, dua sepupu itu ikut Amar di sore hari nya, Amar bahkan memanggil sopir dan mobil khusus untuk Firda yg langsung membuat Firda terpekik girang. Apa lagi saat sang sopir membukakan pintu dan berbicara sangat sopan.


"Silahkan, Nona Firda"


Firda terus cekikikan dan merasa ia sedang berada dalam dunia khayalan nya.


"Merasa jadi putri, hihi hihi" celetuknya yg membuat Maryam tertawa dari balik cadar nya. Faraz meminta Maryam mengenakan cadar saat keluar rumah, tentu supaya tak ada yg mengenali nya lagi dan menargetkan nya karena menjadi calon istri Amar Degazi, dan juga untuk menutupi bekas pukulan yg masih sedikit membiru di wajahnya.


"Belum tahu aja rasanya naik jet pribadi" Maryam hanya menggumam karena ia tak mau Firda membuat malu jika harus merengek meminta naik jet pribadi Amar.


Hingga mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit. Seorang pria dengan setelan jas nya langsung membukakan pintu untuk kedua nya yg lagi lagi itu membuat Firda terkikik.


Amar yg ada di mobil yg lain pun juga di perlakukan sama.


"Wow..." seru Firda sambil mendongak dan menatap besar, tinggi dan megah nya gedung itu Degazi Corp itu.


"Silahkan, Nona" seru pria tadi mempersilahkan Firda dan Maryam masuk tentu dengan Amar di samping mereka.


"Jangan buat malu ya, Fir" Maryam memperingatkan karena Firda yg celengokan ke kanan ke kiri bahkan juga ke belakang.


"Selamat datang, Nona Maryam. Senang melihat mu kembali" sapa Cindy yg membuat Firda heran karena Cindy langsung mengenali Maryam yg sudah memakai cadar dan hanya terlihat mata nya saja.


"Mbak langsung mengenali Mbak Maryam, ya?" tanya Firda dan Cindy mengangguk.


"Tentu, siapa lagi yg akan datang dengan Pak Amar kalau bukan Nona Maryam" jawan Cindy sangat formal.


"Pak, lima menit lagi wakil perusahaan dari Jepang akan menghubungi" seru Cindy pada Amar dan Amar hanya mengangguk tanpa berniat bersuara seperti biasanya.


"Oh ya, Cindy. Tolong bawa sesuatu untuk Maryam dan Firda"


"Engga usah, Amar"


"Boleh, Kak. Mau di bawakan apa?"


Mereka berkata bersamaan yg membuat Maryam menghela nafas berat. Amar tertawa geli dengan tingkah Firda.


"Kamu mau apa, Fir?" tanya Amar.


"Apa aja boleh" jawab Firda santai.


"Cindy, pesankan cemilan untuk mereka dan bawa ke ruangan ku" titah nya layaknya seorang big boss dan melihat itu, Firda hanya menganga kagum.


"Keren, kayak boss boss mafia di film film " gumam nya yg membuat Maryam langsung membekap mulut nya.


Amar pun membawa mereka masuk ke ruangan nya, dan sekali lagi Firda berdecak kagum melihat besar nya ruangan Amar. Dan ia langsung berlari ke arah jendela yg memperlihatkan pemandangan kota yg suds sore.


"Aduh, Kak. Ini tinggi amat" seru Firda sambil melihat ke bawah "Kak Amar jangan dekat dekat jendela ya, kalau jatuh pasti mati lho"


"Astaghfirullah, Firda..." geram Maryam yg sudah tak tahan dengan tingkah konyol adik nya itu. Sementara Amar langsung tertawa lepas mendengar celotehan Firda. Dan untuk pertama kalianya, Maryam melihat Amar yg tertawa begitu lepas, membuat hati Maryam juga merasa senang. Dan Amar terlihat sangat....tampan saat tertawa.


"Aku harus mengurus pekerjaan, kalian nikmati waktu kalian di sini. Kalau mau liat liat gedung ini juga boleh" seru Amar dan Maryam mengangguk saja.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2