
Sepulang nya dari kantor, Amar membawa Maryam datang ke pesantren karena sudah lama sekali mereka tak ke pesantren, dan benar saja, Ummi Mufar langsung menyambut hangat mereka dan langsung menggendong cicit tampan nya itu, dan di sana mereka juga bertemu dengan Asma dan Afsana.
Asma bercerita tentang apa yg terjadi pagi ini, ketika Afsana menusuk ayam dengan garpu saat mereka membicarakan poligami.
"Padahal Faraz cuma nanya tentang poligami karena malam ini ia ada jadwal kajian dan tema nya tentang poligami. Dia nanya pendapat Abi karena Abi pernah poligami" tutur Asma.
"Aduh, An... Kenapa pakek nusuk ayam segala, sih? Nanggung tahu, tusuk aja langsung muka nya kakak tuh kalau macam macam" jawab Maryam yg langsung membuat Afsana dan Asma tertawa.
Sementara Faraz yg menyusul Afsana ke pesantren tanpa sengaja mendengar ucapan adik nya itu.
"Astagfirullah, Nyil..." seru Faraz dan seketika Maryam hanya cengengesan melihat kedatangan kakaknya itu "Jangan ajarin istri kakak yg aneh aneh deh"
"Bukan ngajarin yg aneh aneh, Kak. Cuma ngasih saran yg bener" jawab Maryam.
"Ngeri juga perempuan ni..." gumam Faraz yg masih bisa mereka dengar.
"Maka nya, jangan macam macam..." seru Afsana.
"Engga macam macam, Sayang. Cuma satu macam aja, yaitu kamu..." goda Faraz yg membuat Asma geleng geleng kepala.
Di tengah asyik mereka ngobrol, Ummi Mufar datang sembari membawa Ezra yg tampak nya rewel.
"Mungkin lapar, Nek. Biar Maryam susui..." ujar Maryam dan ia segera mengambil putra nya, Maryam pergi ke kamar untuk menyusui Ezra, sementara Ummi Mufar kini bergabung dengan anak anak nya.
"An, kamu hamil?" tanya Ummi Mufar tiba tiba yg langsung mengejutkan semua nya.
"Engga, Nek" jawab Afsana sambil tersenyum kecil. Karena ia sendiri berharap segera hamil.
"Tapi tubuh mu berubah lho, kayak orang hamil"
"Gendutan aja mungkin karena sering nyemil" jawab Afsana lagi.
"Tapi bisa jadi memang hamil, bukan nya akhir akhir ini kamu sering mual, An? Selain itu emosi mu naik turun lagi" sambung Asma.
Faraz dan Afsana saling pandang "Em engga tahu juga sih, coba deh nanti Ana periksa. Tapi apa orang hamil emosi nya naik turun ya?"
"Kadang kadang sih begitu, orang hamil tuh sensi"
"Wah, akhir akhir ini Ana emang sensi banget, dia sering marah marah engga jelas. Tapi habis itu dia normal lagi, manja lagi" sambung Faraz.
__ADS_1
"Sebaiknya besok pagi antar Ana ke Dokter, Faraz. Jadi kalian bisa tahu apa Ana hamil atau engga" saran Ummi Mufar.
"Iya, Nek. Besok Faraz bawa Ana ke Dokter".
"Oh ya, Asma. Kamu sudah tahu kalau Nabil mau menikah sama Maria?" tanya Ummi Mufar yg kini beralih topik.
"Iya, Shofia sendiri yg cerita sama Asma. Apa Ummi keberatan?" tanya Asma ragu ragu. Faraz dan Afsana yg mendengar pertanyaan Asma itu jadi ikut gugup, takut takut Ummi Mufar menjawab keberatan dan benar saja, Ummi Mufar mengangguk.
"Tapi ya semua terserah Nabil, karena Nabil yg akan menjalani kehidupan itu. Ummi cuma engga mau rasanya kalau sampai mendengar desas desus cuci Abi Khalil menikahi wanita yg sudah memiliki anak sebelum menikah"
"Itu pasti terjadi, Ummi. Cuma kan sekarang Maria sudah berubah, dan masa lalu nya biar lah menjadi urusan dia dan Allah. Ya kan?"
"Iya sih, dulu Ummi takut Faraz menikahi Maria, saat Faraz menikahi Afsana Ummi lega. Eh sekarang malah Nabil"
"Hehe, mungkin Maria memang berjodoh dengan keluarga kita" ujar Asma kemudian
.
.
.
"Belum tidur, Sayang?" gumam Faraz yg melihat istri nya masih terjaga.
"Ana gugup" ujar Afsana
"Gugup kenapa?" tanya Faraz sambil berusaha duduk dan bersandar ke kepala ranjang dan ia menarik Afsana ke pelukan nya.
"Ana hamil Benar an atau engga"
"Rasa nya sih kamu hamil, Dek. Benar kata Nenek, tubuh mu juga berubah, agak berisi" ujar Faraz sambil terkekeh. Dan bukan nya senang, Afsana malah tampak tersinggung dan bahk ia mendengus.
"Jadi maksud kakak Aana gendut?" tanya nya fengan nada kesal. Faraz sudah membuka mulut nya hendak menjawab namun ia urungkan niatnya dan menggeleng.
"Kamu kurus kok" ujar Faraz.
"Bohong!" tuduh Afsana.
"Engga, An. Kamu masih kurus. Percaya deh"
__ADS_1
"Tadi kakak bilang Ana berisi"
"Ya karena memang berisi..."
"Tuh kan..." gerutu Afsana dan ia tampak sangat kesal, pipinya sudah mengembang dan bahkan hidung nya sudah kembang kempis.
"Astagfirullah, Sayang...." Faraz langsung menangkap pipi Afsana dan mengecup bibir nya "Kamu cantik, kurus, seksi..." goda Faraz dan hal itu membuat Afsana langsung tersipu membuat Faraz hanya bisa geleng geleng kepala "Sekarang tidur, sudah malam"
"Iya" jawab Afsana dan ia mendesakkan tubuhnya ke tubuh Faraz. Kambuh lagi manja nya, fikir Faraz.
.
.
.
Setelah memandikan putri nya, Maria merekam baby Khair yg sudah tampak segar dan ia sudah bisa duduk. Kemudian ia mengirimkan rekaman itu pada calon suami nya.
Calon suami...
Rasanya Maria sudah berusaha tak terikat dengan apapun yg memiliki ikatan dengan Faraz, tpi ketika takdir menginginkan hal lain, Maria bisa apa?
Dan saat ini Maria seperti dikaruniai banyak sekali kebahagiaan karena buku nya yg berjudul Love is Heal sudah di terbitkan. Vita mengatakan untuk saa ini mereka bisa berharap pada tulisan Maria yg berlatar belakang kisah nyata sahabatnya itu. Vita sendiri mengakui cerita itu indah dan bisa di terima di semua kalangan. Dan saat ini Maria sedang menyelesaikan buku nya dai kisah nya sendiri seperti yg di inginkan Vita. Maria sudah menemukan klimaks yg bagus dan sangat, yaitu semuanya akan berakhir dengan indah bahkan untuk kisah Maria yg penuh kegelapan sekalipun.
Maria menidurkan Khair di box sementara ia lanjut menuliskan sesuatu.
"Non, sarapan dulu. Baru lanjut kerja nanti" seru Bi Siti yg mendatangi Maria ke/kamar nya.
"Bibi duluan aja, Maria menyelesaikan ini sebentar" jawab Maria.
"Ya udah, tapi jangan sampai telat sarapan lho, nanti sakit"
"Iya, Bi" jawab Maria.
Di buka nya, Maria mengucapkan terima kasih pada Faraz dengan bahasa yg tersirat. Karena bagaimana pun juga semua yg terjadi pada Maria berkat Faraz.
Faraz mempertemukan Maria dengan Maryam, dimana Maryam berperan banyak dalam hidup Maria. Dan Faraz juga mempertemukan Maria dengan Nabil, yg kini menjadi imam dalam hidup Maria.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...