Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 75


__ADS_3

Dengan langkah pelan, Afsana berjalan, mencari asal suara yg sejak tadi menganggu nya. Isak tangis seseorang, Afsana mendekati orang itu yg berada di pojok ruangan yg cukup gelap, orang itu memeluk lututnya dan terus terisak, bahkan tubuh nya sampai bergetar.


Afsana memberanikan diri menyentuh pundak orang itu dan dia pun mendongak.


"Maria..." seru nya tak percaya. Rambut Maria acak acakan, bahkan banyak luka di sekujur tubuhnya. Sangat mengerikan.


"Ada apa dengan mu, Maria?" Afsana mencoba meyentuh Maria namun Maria menghindar. Ia menatap Afsana dengan mata yg memerah, sementara air mata mengalir bebas di pipi nya yg juga terluka. Itu bukanlah luka pukulan, tapi sebuah luka yg mengerikan dan menjijikan. Afsana meringis dan bahkan membuat perut nya bergejolak dan mual.


"Afsana..."


"Aaagghh"


"Afsana, ada apa?"


Afsana mengerjapkan matanya berkali kali, menyesuaikan dengan cahaya di kamar nya. Nafas Afsana memburu, keringat dingin memabasahi tubuhnya. Ia melihat sekeliling nya.


"Ada apa, Nak?" sekali lagi suara ibunya membuat Afsana tersentak.


"Jam berapa, Ummi?" tanya Afsana sembari mengelap keringat di kening nya.


Dia bermimpi, Maria dengan keadaan yg mengerikan. Bagaiamana bisa? Ada apa?


"Jam 11, kenapa kamu tidur jam segini? Tadi Faraz kesini, dia membelikan kue untuk mu"


"Kak Faraz kesini?" ibu nya mengangguk.


"Mau turun?" tanya ibunya dan Afsana mengangguk. Jantung nya masih berdebar karena mimpi tadi, sangat mengerikan.


Di bawah, ternyata Faraz masih ada disana. Dan Faraz melempar senyum melihat kedatangan kekasih hati nya. Namun saat Afsana mendekat, Faraz mengerutkan dahi nya melihat Afsana yg tampak pucat.


"Ada apa, Dek? Kamu sakit?" tanya Faraz khawatir dan Afsana langsung menggeleng.


"Seperti nya tadi dia mimpi buruk, tidur di jam segini itu engga baik" sela Ummi nya.


"Jangan terlalu di fikirkan, itu hanya bunga tidur" seru Faraz "Kakak belikan kue buat kamu"


Lita membantu putrinya duduk di sofa kemudian ia sendiri pergi dari sana karena ada pekerjaan katanya. Faraz memberikan kue itu pada Afsana.


"Makasih, Kak" ucap Afsana kemudian mencicipi kue nya.


"Sama sama, Sayang" ucap Faraz mesra.


"Sayang... Sayang. Ingat, belum halal" seru Maryam yg entah bagaimana muncul begitu saja.


Kemudian Maryam duduk di samping Afsana dan ikut menikmati kue itu.


"Kak, berduaan itu engga boleh lho, nanti di goda setan"


"Tadi ada Ummi, Marry. Dia lagi ke belakang sebentar"


"Alasan" tuduh Maryam namun kemudian tertawa geli dan hal itu membuat Afsana mendelik pada nya.


"Ya udah, kakak mau ke kantor" seru Faraz kemudian berdiri, dia mengusap kepala Afsana dan kemudian mencubit pipi Maryam dengan gemas membuat Maryam melotot pada nya.


"Hari ini aku engga ada aktifitas apapun, jadi aku akan nemenin kamu seharian disini" ujar Maryam pada Afsana. Afsana senang dengan hal itu, namun ia masih tak bisa melupakan mimpi nya.


"Marry, sebenernya tadi aku mimpi, sangat mengerikan" ucap Afsana.


"Mimpi apa?"


Afsana menceritakan mimpi nya tentang Maria, dan ia merasa itu sangat nyata, dan juga sangat mengerikan.


Maryam mencoba menghibur Afsana, dengan mengatakan itu hanya bunga tidur, mungkin juga karena Afsana terlalu memikirkan Maria dan perkataan Robert sebelum meninggal. Afsana mencoba berfikir hal yg sama.


.


.


.


Di tengah malam, Afsana terbangun karena mimpi itu datang lagi.


Afsana bahkan merasakan sesak nafas, dan tubuhnya gemetar, Afsana mengambil sebotol air yg ada di atas nakas.

__ADS_1


Ia meneguk nya pelan pelan, kemudian menarik nafas dan menghembuskannya, mencoba menanangkan detak jantung nya yg berdebar.


Getaran ponsel nya kembali membuat Afsana tersentak, dengan cepat ia mengambil ponsel nya dan melihat siapa yg mengirim pesan tengah malam begini.


Raut ketenangan terlihat di wajahnya saat ia membaca pesan itu.


^^^Kak Faraz^^^


^^^"Sudah sholat malam?"^^^


Me


"Baru bangun, Kak"


^^^Kak Faraz^^^


^^^"Ya udah, sholat malam gih"^^^


ME


"Kak, Ana mimpi buruk sudah dua kali, Ana takut"


Baru saja pesan itu terbaca, kini Faraz langsung menelepon nya, dengan cepat Afsana menjawab nya.


"Mimpi apa, Dek?" Faraz bertanya dengan khawatir.


"Mimpi Maria, Kak. Sangat mengerikan, sudah dua kali lho"


"Mungkin kamu terlalu memikirkan Maria, jangan khawatir, Maria akan baik baik saja, Dek"


Kata kata Faraz tak bisa menenangkan Afsana begitu saja, apa lagi Robert yg terus memohon bahkan bersujud di depan nya, itu seolah mengambil ketenangan hidup Afsana. Sekarang di tambah mimpi mengerikan itu, apa sebenarnya maksud mimpi itu?


" Dek..." Faraz memanggil nya karena Afsana yg tak kunjung bersuara.


"Besok Ana jenguk Maria ya?"


"Iya, biar kakak jemput. Tapi sore aja ya, kakak ada pekerjaan penting"


"Iya, sekalian Ana ajak Maryam nanti"


"Iya, ya udah kalau gitu, Assalamualaikum, Kak"


"Waalaikum salam"


.


.


.


Hira masih setia menemani Maria yg tak kunjung sadar, dan ia sangat sedih dengan kematian Robert. Apa yg harus ia katakan nanti pada Maria, jika Maria tahu ayahnya meninggal, dia pasti akan semakin depresi.


Dan Faraz, Hira juga tahu, Faraz bisa membuat Maria bertahan, jika saja Faraz mau menerima Maria, maka Faraz bisa menjadi kekuatan Maria.


Tapi rasanya itu terlalu egois, Faraz sudah melakukan banyak hal untuk Maria, bahkan membiayai semua pengobatan nya, Faraz juga punya calon istri.


Hira tersenyum masam membayangkan hal itu, Maria adalah wanita asing di kehidupan mereka, tapi mereka selalu ada untuk Maria seolah Maria bagian dari keluarga mereka. Entah terbuat dari apa hati mereka semua.


"Hira..." Hira mendongak dan Maryam muncul bersama Afsana.


"Hai..." sapa Hira dan ia tersenyum kaku pada Afsana yg baru di kenal nya "Kalian mau jenguk Maria"


"Biar kami yg menjaga nya, kalau kamu mau pulang atau istirahat, engga apa apa. Kita bisa gantian" tutur Afsana dengan senyum manis nya.


"Tapi kamu juga sakit, Afsana"


"Aku engga apa apa" jawab Afsana meyakinkan. Sementara Hira memang harus pulang. Orang tua nya pasti khawatir karena kini Hira lebih sering berada di rumah sakit.


"Iya, makasih ya. Aku memang harus pulang" jawab Hira. Afsana dan Maryam pun mengangguk.


Maria masih terbaring tak sadarkan diri, dan melihat Maria, Afsana kembali teringat pada mimpi nya. Namun ia coba enyahkan itu, seperti kata Faraz, itu hanya bunga tidur, dan mungkin Afsana terlalu memikirkan Maria.


.

__ADS_1


.


.


Dokter memanggil Faraz ke ruangan nya untuk membicarakan keadaan Maria.


Dokter mengatakan tubuh Maria semakin lemah, sementara memar di otak nya semakin melebar bahkan melebihi perkiraan Dokter.


Operasi harus kembali di lakukan. Dan jika Maria masih dalam kondisi selemah ini, maka bisa saja Maria kehilangan nyawa nya saat operasi nanti, tapi jika operasi tak di lakukan, maka memar nya akan semakin parah, dan itu sama saja dengan membuat Maria mati perlahan.


"Jadi, apa yg harus ku lakukan, Dok?"


"Kita harus mengobati Maria dulu, sampai dia lebih baik, kita hanya bisa berdoa semoga semuanya baik baik saja dan kita harus segera melakukan operasi kedua"


.


.


.


Faraz menceritakan kondisi Maria pada Maryam dan Afsana. Tampak kedua gadis itu sangat sedih.


"Ini aneh, Kak" seru Maryam "Kita berjuang mati matian untuk kehidupan Maria, tapi Maria sendiri tak ingin hidup dan malah ingin mati"


"Tapi kita harus tetap membantu nya, Dek. Jika Maria meninggal, maka Maria meninggal karena bunuh diri, dan kita tahu itu dosa besar dan tempat nya di neraka. Sedang Maria sekarang adalah saudara segama kita, kita harus membantu nya sebisa mungkin untuk menghindarkan dia dari murka Allah"


Afsan tiba tiba beridiri dan mengambil kruk nya setelah mendengar perkataan Faraz, ia masuk kedalam ruang rawat Maria,ia berjalan mendekati bangsal Maria kemudian mengelus kepala Maria dengan lembut.


"Jangan meninggal dalam keadaan seperti ini, Maria" seru Afsana lirih.


Afsana teringat dengan mimpi nya, dan ia juga teringat dengan kata kata Robert, benar kah hanya Faraz yg bisa membuat nya bertahan?


"Kak Faraz disini, Maria. Dia selalu ada untuk mu, setidaknya, bertahanlah untuk dia. Karena dia mencintai mu"


"Afsana?" seru Faraz dengan mata yg melotot sempurna, tak percaya dengan apa yg Afsana katakan pada Maria.


Afsana menoleh pada Faraz yg berada di ambang pintu, dan Afsana sudah berlinang air mata. Sangat sakit rasanya mengatakan hal itu pada Maria, tapi jika dengan itu Maria bisa bertahan hidup, maka Afsana tak apa melakukan nya.


Maryam yg mendengar itu juga tak percaya.


Maryam segera membawa Afsana keluar dari ruangan itu.


"Apa yg kamu katakan, An?" tanya Maryam tak percaya. Afsana duduk di kursi dan ia menangis.


"Aku mimpi, Marry. Maria di ruangan yg gelap, dengan luka mengerikan di sekujur tubuhnya"


"Itu hanya mimpi, Afsana..." seru Faraz kesal.


"Tapi bagaiamana jika itu petunjuk, Kak? Dan Kak Faraz sendiri yg bilang, jika Maria meninggal, maka dia meninggal karena bunuh diri. Dan kita tahu itu dosa besar dan Allah akan murka pada nya, tapi mungkin Allah akan lebih murka pada kita, karena kita bisa menolong nya, tapi kita tidak menolong nya"


"Apa yg kamu bicara kan, Ana?" tanya Maryam sembari duduk di samping Afsana.


"Marry, Maria sangat mencintai Kak Faraz, maka Kak Faraz bisa menjadi kekuatan nya untuk bertahan, dia bisa menjadi alasan untuk Maria supaya mau bertahan hidup"


"Tapi kakak tidak mencintai nya, Afsana. Dan kakak engga bisa memilih nya hanya karena kasihan"


"Bukan sekedar kasihan, Kak. Tapi menolong dua jiwa dari kegelapan"


"Cukup, Afsana. Kamu membuat kakak pusing" seru Faraz dengan geraman tertahan. Ia tak habis fikir dengan apa yg di bicarakan Afsana.


"Kak Faraz..." Afsana berusaha berdiri walaupun sedikit kesulitan. Ia berdiri didepan Faraz.


"Jika kakak mau menerima nya, menjadi kekuatan nya, maka dia punya kesempatan kedua untuk hidup dan menjalani hidup yg lebih baik, kakak bisa membimbing nya ke jalan Allah, Kak. Kakak bisa menolong dua jiwa, Kak"


"Tapi bagaiamana dengan mu, Afsana?" sela Maryam. Dengan berderai air mata, Afsana berkata


"Aku masih bisa memiliki Kak Faraz sebagai kakak ku, seperti dulu. Tapi Maria tidak punya siapa siapa, yg dia punya hanya cinta nya, dan itu hanya Kak Faraz"


"An... Kita bisa menolong Maria dengan cara yg lain" seru Faraz "Kakak mencintai mu, dan kakak engga bisa kehilangan kamu"


"Kita masih bisa saling memiliki sebagai kakak adik" jawab Afsan dengan cepat "Dan dengan cara apa lagi kita bisa menolong Maria?" tanya Afsana sambil terisak dan Faraz tentu tak bisa menjawab, karena Dokter sudah melakukan segalanya untuk Maria namun Maria masih tak menunjukan kemajuan apapun.


"Kita engga bisa mengambil keputusan seperti ini begitu saja, keluarga besar kita tahu kalian saling mencintai, mereka bahagia dan antusias menunggu pernikahan kalian. Kita harus berbicara dengan mereka, dan menanyakan apa yg seharusnya kita lakukan selanjutnya" seru Maryam.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2