Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 12


__ADS_3

Setelah selesai sholat maghrib, Faraz segera membaca Al Quran, ia tak berhenti hingga terdengar adzan isya yg berkomandang.


Setelah adzan selesai, ia segera melaksanakan sholat sunnah yg di lanjutkan dengan sholat isya, dan setelah sholat, berdizkir, berdoa dan ia kembali membaca Al Quran dan tak berhenti bahkan saat jam sudah menunukan pukul 9.


Hingga sebuah ketukan mengentikan bacaan nya dan sedikit membuat nya tersentak.


"Masuk" teriaknya pada siapa saja yg mengetuk pintu.


Kepala Maryam muncul dari balik pintu yg hanya di buka sedikit.


"Kak, makan yuk! Maryam lapar" seru Maryam dengan nada manja nya. Karena selama ini ia memang tidak bisa makan sendirian, sementara kedua orang tuanya menginap di pesantren.


"Ajak Nena aja, Nyil. Kakak lagi ngaji nih" jawab kakak nya.


"Nena udah makan tadi sore, katanya masih kenyang" rengek nya.


Faraz pun menyudahi bacaan nya dan segera mengajak adiknya itu untuk makan, karena ia tau Maryam takkan makan kecuali di temani.


Di meja makan, Faraz diam saja membuat Maryam sedikit heran, apa lagi Faraz yg membaca Al Quran cukup lama, dan itu sudah berlangsung beberapa malam terakhir.


"Kak..." panggil Maryam yg hanya di jawab gumaman oleh Faraz "Kak Faz lagi ada masalah, ya?" seketika Faraz mendongak, menyunggingkan senyum tipis dan menggeleng. Yg justru senyum itulah yg memberi tahu Maryam bahwa kakaknya memang sedang dalam masalah.


"Jangan bohong, ingat ya, Maryam itu calon psikolog. Maryam bisa tahu keadaan mental dan fikiran Kakak" goda Maryam namun Faraz enggan menanggapi membuat Maryam semakin yakin dengan kecurigaan nya "Fikiran Kakak lagi kacau, ya?"


"Udah deh, mending makan cepatan, habis itu pergi belajar dan tidur, okey?" ujar kakak nya dengan sangat serius. Maryam pun faham kakaknya itu benar benar dalam mood yg tak karuan. Ia pun diam dan membiarkan kakaknya itu makan dengan tenang.


Benar, Faraz memang lagi dalam masalah besar, masalah hati. Hati yg entah sejak kapan terisi oleh asisten pribadinya, mungkin karena mereka terlalu sering berdua dan dekat, sehingga pelan tapi pasti Faraz mulai tertarik pada gadis yg masih tak percaya pada Tuhan itu. Membuat Faraz bingung, awalnya ia fikir hanya ketertarikan biasa karena Maria gadis yg unik, sebelum nya Faraz tak pernah dekat dengan perempuan selain keluarga nya dan ia tak pernah menghadapi seseorang yg beda agama apa lagi tak beragama. Sehingga ia fikir Maria adalah sesuatu yg baru dalam hidup nya dan itulah yg membuat nya tertarik, tapi ternyata tidak, lebih dari itu.


Faraz mulai merasa suka saat dekat dengan nya, dan merasa rindu saat jauh dari nya, Faraz mulai memikirkan nya dan gadis itu mulai memenuhi benak Faraz. Faraz ingin menghapus Maria dari benak nya, seperti dahulu ayahnya yg ingin menghapus bayangan ibunya dari benak nya yaitu dengan cara beribadah, membaca Al Quran dan terus berdoa, Faraz pun melakukan hal yg sama. Namun Maria seolah menguasai fikirannya, dan Faraz harus segera menghapus itu sebelum Maria juga menguasai hati nya.


.


.

__ADS_1


.


Amar mendatangi nenek nya di kamar nya, dan terlihat neneknya itu sedang memperhatikan busana busana muslimah yg telah ia beli bersama Maryam.


"Granny..." panggil nya dan neneknya pun menoleh sambil tersenyum, tampak senang dengan apa yg ia lewati hari ini.


"Selera Maryam bagus juga ya" ujar nenek nya dan mencoba satu gamis syari, Amar hanya menanggapinya dengan senyum dan kemudian ia duduk di tepi ranjang "Granny saranin, kamu cepat lamar Maryam, karena seperti nya gadis itu bukan tipe yg akan berpacaran"


"Astaga, Granny..." pekik Amar dengan celetukan asal nenek nya itu "Kami hanya teman, baru saja berteman. Masak iya asal lamar aja"


"Ya kalau gitu, dekati Maryam dan keluarga nya, ya. Lagi pula, kamu sudah kenal kakaknya kan?"


"Granny ini bicara apa sih? Kami jauh dari hubungan seperti itu"


"Tapi kamu menyukai nya kan? Ah bukan, mencintainya, iya kan?"


"Engga lah"


"Ngaku aja apa susah nya sih, kamu engga sadar apa, sejak bertemu Maryam hidup mu itu berubah, kamu bahkan bisa tersenyum"


"Engga pernah, paling cuma menyeringai, tersenyum sinis, tatapan mu juga selalu tajam seolah kamu melihat mangsa mu dan akan segera memakannya, kamu juga selalu kaku dan nada bicara mu sangat kasar"


"Apa semengerikan itu?" tanya Amar sambil meringis, karena ia merasa dirinya tak seperti itu. Tapi ia sadar, sejak bertemu Maryam, ia merasa ada satu warna cerah yg menembus kegelapan dalam hidup nya.


"Lebih dari itu, cuma Granny engga tahu menjabarkan yg jelas itu bagaimana"


"Granny, jangan berharap banyak pada Maryam, karena Maryam sama aku benar benar berbeda. Maryam pasti ingin imam yg baik dalam hidup nya, bukan seperti aku yg bacaan sholat saja engga hafal"


"Kalau gitu hafalin dong" ujar sang nenek yg seolah tak mau mengerti maksud Amar, membuat Amar mengehala nafas berat kemudian memeluk nenek nya dengan manja.


"Aku takut, Granny. Papa..."


"Sshtt..." nenek nya pun segera merangkul cucu nya itu "Yg terjadi pada papa mu, tidak akan terjadi dengan mu, karena itulah nenek ingin Maryam yg menjadi pendamping hidup mu, dia sangat taat pada agama, dan dia pasti akan taat pada suami nya, dia akan menjaga mu"

__ADS_1


Amar tersenyum samar karena jauh dalam hatinya, rasa tertarik itu perlahan menjadi cinta. Namun masa lalu masih membayangi Amar, bagaimana jika rumah tangga nya seperti rumah tangga ayahnya? Ia masih takut membuka hati untuk mencintai, terlebih ia masih tak bisa mengendalikan diri untuk tidak melukai dirinya saat emosi memuncak dalam jiwanya. Maryam pasti tak mungkin menerima seorang seperti Amar dalam hidup nya.


.


.


.


Sementara itu, Asma sedang membantu salah satu santri yg jatuh dari tangga dan terluka. Asma merawatnya dengan lembut dan memperhatikannya seperti ia memperhatikan putri nya sendiri, dia bisa mengerti bagaiamana rasanya saat sakit dan jauh dari orang tua.


Santri itu dan teman temannya mengucapkan banyak terima kasih pada Asma atau yg lebih mereka kenal dengan Nyai Zahra, istri Kiai Bilal. Tak ada satu pun santri putra baik putri yg tak mengenal Nyai Zahra, istri Bilal yg lembut, penuh kasih pada siapapun dan ibu dari kedua anak Bilal yg cerdas, cantik tampan, dan sholeh sholehah. Seolah menyempurnakan sosok Asma di kalangan pesantren.


Setelah mengurus santri itu, Asma pun kembali ke rumah mertua nya dan di sana ia melihat Hubab dan Lita.


"Maryam belum datang juga?" tanya Asma pada Hubab.


"Belum, katanya sebentar lagi" jawab Hubab dan kemudian Faraz pun datang untuk menemui nenek nya.


"Uncle mau kemana?" tanya Faraz


"Mau jemput Ana ke bandara"


"Ya Allah, Afsana sudah liburan ya, engga kerasa" ujar Faraz karena memamg waktu berjalan terasa sangat cepat "Oh ya, tumben Unyil engga ikut jemput, biasanya dia engga pernah absen kalau di suruh jemput Afsana"


Baru saja Faraz selesai berbicara, Maryam sudah datang sambil cengar cengir karena kegirangan akan segera menjemput saudarinya.


"Nah, pas banget kan dia datang, Mas Hubab ke sini karena memang mau nungguin Maryam" sambung Lita.


"Ayo, Uncle. Maryam udah siap" seru Maryam girang. Ia selalu senang ketika harus menjemput Afsana saat liburan dari pesantren nya di Lebanon.


Maryam sendiri tak habis fikir kenapa Afasna jauh jauh ke Lebanon padahal di Indonesia banyak sekali pesantren yg bagus, tapi Afsana mengatakan dia ingin keluar negeri karena ia yakin akan dapat banyak hal dari sana.


Hubab dan Maryam pun segera pergi untuk menjemput Afsana ke bandara setelah Maryam menemui nenek nya.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2