Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 19


__ADS_3

Setelah dua hari tak berani keluar rumah karena gosip putri nya, sekarang Asma pergi berbelanja ke sebuah mall bersama Afsana untuk berbelanja. Sementara Maryam masih enggan kemana mana.


Maryam masih tak bisa menghubungi Amar, ia benar benar khawatir dengan teman yg ternyata menyukai nya itu. Namun Maryam tak berani menghubungi nenek nya, ia merasa canggung.


Sementara di mall, Asma pergi ke sebuah toko baju pria untuk membelikan baju suami dan putra nya, dan Afsana dengan begitu pintar nya memilih baju yg pasti akan Faraz sukai. Membuat Asma senang karena keponakannya itu benar benar mengenal putra nya dengan sangat baik.


Dan saat asyik memilih baju, perhatian Asma tertuju pada seorang pria yg baru saja ia kenal tapi cukup memberi pengaruh besar pada kehidupan putri nya.


Asma terlihat risih melihat pria itu, bagaiamana tidak? Seorang wanita yg entah siapa tampak bergelanyut manja di lengan nya.


Dan di saat yg bersamaan, pria itu juga menatap nya dan tamapak sangat terkejut, lantas pria itu langsung melepaskan wanita itu.


"Afsana, ayo pergi dari sini" ajak Asma yg membuat Afsana bingung, pandangan nya pun mengikuti arah pandang Asma, dan betapa terkejut nya ia melihat Amar bersama Dilara.


Afsana pun tampak sangat kecewa, padahal ia yakin Amar benar benar menyukai saudari sepupu nya, tapi apa yg ia lihat sekarang. Mereka pun segera pergi dari sana.


Sementara Amar, sudah dua hari juga ia tak bekerja, ia hanya menegak alkohol dan kembali melukai tubuhnya. Namun akhirnya Amar sadar bahwa ia memiliki bisnis yg harus ia jalankan.


Sekretarisnya mengatakan ia ada janji dengan Sanjaya Putra di sebuah restaurant di mall. Namun yg datang bukan Sanjaya putra melainkan Dilara selaku putrinya, dan ternyata perusahaan Sanjaya kini di ambil alih oleh Dilara, sehingga Amar dan Dilara akan terikat hubungan bisnis.


Dan seperti biasa, wanita itu takkan sungkan sok dekat dengan Amar, menggoda nya dan terus mengejarnya seperti orang bodoh.


Dan betapa terkejut nya Amar saat ia melihat sosok ibu dari wanita yg ia cintai.


Benar, yg Amar cintai. Amar mencintai Maryam. Dan saat melihat Asma, ia baru sadar, ada satu malasalah lagi yg harus ia selesaikan dan jauh lebih penting dari pada bisnisnya.


Apa lagi berita tentang dirinya dan Maryam terus di bicarakan, dan itu juga pasti berdampak bagi keluarga Maryam.


"Meeting nya aku cancel, Dilara" ujar Amar dingin dan ia segera pergi dari sana untuk menyelesaikan masalah yg paling penting.


.


.


.


"Maryam..." teriak Asma memanggil putri nya itu. Maryam pun segera berlari turun dari kamarnya.


"Ada apa, Ummi?" tanya Maryam.


"Apa Amar sama sekali tidak menghubungi mu?" tanya Asma dan Maryam hanya bisa menggeleng pelan.


"Bagus, jangan hubungi pemuda itu lagi" tegas Asma.


"Tapi kenapa, Ummi?" cicit Maryam.


"Karena dia benar benar bukan pria yg baik, dia datang kesini ingin meminang mu, kemudian pergi di tengah tengah obrolan, kemudian menghilang dan ternyata dia kembali berkencan dengan wanita, Ummi melihat nya di mall. Pria macam itu?" seru sang ibu sungguh tak habis fikir bisa ada pria sungguh tak bertanggung jawab seperti itu di dunia ini.


Sementara Maryam, ia hanya bisa terdiam, dan hatinya seperti di cubit mendengar penuturan sang ibu.


Ada apa?


Kenapa?


Bukankah itu bukan urusan Maryam jika Amar berkencan dengan banyak wanita karena mereka hanya teman, itu kan yg Maryam katakan?


Tapi seperti nya, hatinya mengkhianati fikirannya.


Setelah mengatakan unek unek nya, Asma segera kembali ke kamar nya hendak membersihkan diri. Dan saat Maryam juga ingin naik, terdengar suara bel pintu, tanpa fikir panjang Maryam pun bergegas membukakan pintu.

__ADS_1


Dan betapa terkejut nya ia, melihat pria yg sudah membuat hidupnya kacau dua hari ini muncul di depan nya.


"Amar? Kamu ngapain disini?" tanya Maryam setengah berbisik.


Amar tak menjawab, ia hanya memandangi wajah Maryam yg ternyata ia rindukan. Sementara Maryam berusaha menghindari tatapan Amar.


"Aku kesini untuk menemui orang tua mu" jawab Amar pada akhir nya, Maryam mendongak dan ia menyadari wajah Amar yg tampak sangat kacau.


"Buat apa lagi?" tanya Maryam segera menundukan kembali pandangan nya.


"Untuk meminta maaf"


"Tidak perlu, tidak ada yg perlu di maafkan. Jadi sebaiknya kamu pergi" usir Maryam halus.


"Tapi, Maryam..."


Ucapan Amar terhenti saat mendengar suara mobil yg memasuki rumah dan tampak Bilal keluar dari mobil.


Bilal terlihat heran melihat Amar yg datang dan berbicara dengan putrinya.


"Assalamualaikum, Om" sapa Amar saat Bilal sudah berada di depannya. Sementara Maryam hanya bisa menunduk tak berani menatap ayahnya.


"Waalaikum salam, Amar. Apa yg kamu lakukan di sini?" tanya Bilal berusaha bersikap tenang padahal selama dua hari ini tak ada satupun dari keluarga nya yg merasa tenang karena tiba tiba saja mereka seperti selebriti yg selalu jadi incaran wartawan.


"Om, saya datang kesini untuk meminta maaf"


"Setelah dua hari?" Bilal berkata cepat. Amar tampak merasa sangat bersalah dan juga malu.


"Maaf, Om. Bahkan saya sendiri baru keluar dari kemar setelah dua hari"


"Kenapa?" tanya Bilal lagi


"Saya..." Amar melirik Maryam dari ekor matanya kemudian ia kembali menatap Bilal "Harus saya akui, segala hal pembicaraan tentang ibu, sangat tidak bisa saya terima, dan itu membuat saya sangat marah dan sangat sulit mengontrol emosi saya. Setelah dua hari saya baru bisa mengendalikan diri saya"


"Maryam, masuk ke kamar mu dan panggilkan Ummi, katakan ada tamu" perintah Bilal, Maryam pun segera melaksanakan perintah ayah nya itu.


"Silahkan masuk, Amar. Kita bicara di dalam"


Amar segera mengikuti Bilal ke ruang tamu, Amar semakin merasa malu karena Bilal memperlakukannya dengan sangat baik setelah apa yg ia lakukan.


"Bi Mina, bisa tolong bawakan teh?"


"Tidak perlu, Om" ucap Amar merasa tak enak hati.


Sementara Asma kini sudah turun karena Maryam mengatakan abinya menyuruhnya turun karena ada tamu. Dan Asma terlihat sangat tidak menyukai kedatangan Amar.


"Assalamualaikum, Tante" sapa Amar.


"Apa yg kamu lakukan di sini?" tanya Asma tanpa berniat menjawab salam Amar. Membuat Bilal menatap heran pada istri nya.


"Sayang, Amar kesini dengan niat yg baik" ucap Bilal lembut dan Amar terlihat heran dengan kelembutan Bilal pada Asma, padahal kedua nya sudah bukan pasangan muda lagi, tapi keduanya tampak seperti pasangan yg masih segar dan mesra.


"Setelah dua hari? Dan setelah berkencan dengan wanita lain?" tanya Asma menyudutkan yg membuat Bilal semakin heran.


"Tante, itu hanya salah faham, wanita yg tadi di mall adalah rekan kerja"


"Rekan kerja tapi bergelanyut manja di depan umum?"


"Zahra..." desis Bilal, ia mengulurkan tangan nya dan segera di sambut Asma, ibunda Maryam itu pun duduk di samping suami nya "Setidaknya biarkan Amar menjelaskan dulu"

__ADS_1


"Tapi, Bi. Dua hari ini hidup kita seperti berubah, bahkan Maryam engga pergi ke kampus karena takut ia di hujani dengan pertanyaan tentang hubungan nya dengan Amar"


"Aku mengerti ke khawatiran mu pada putri kita, tapi setidaknya biarkan Amar menjelaskan dulu" Bilal berharap istri nya itu mengerti, apa lagi Bilal mulai curiga jika Maryam memiliki perasaan lebih pada Amar "Bicaralah, Amar" pinta Bilal.


"Saya benar benar minta maaf, Om, Tante. Waktu itu saya pergi karena saya tidak bisa menahan emosi dalam jiwa saya, dan bahkan selama dua hari ini pun saya juga selalu di kamar. Dan perempuan yg tadi Tante lihat, dia adalah Dilara, dia rekan kerja bisnis saya, dia juga tahu saya menyukai Maryam. Tapi ya, harus saya akui, Dilara dan masih banyak wanita di luar sana sering menggoda dan mendekati saya, dan dulu saya meladeni mereka, tapi itu dulu. Setelah bertemu Maryam, hidup saya berubah, jangankan untuk meladeni mereka, untuk melirik merekanpun saya tidak tertarik"


Asma menatap tepat di mata Amar yg juga menatap nya dan Bilal bergantian, Asma mencari cari kebohongan di mata pemuda tampan keturunan Pakistan itu namun entah mengapa dia hanya melihat kejujuran. Begitu juga dengan Bilal, keduanya tak langsung merespon, masih mencerna setiap kata yg diucapkan pemuda yg ingin meminang anak gadis mereka itu.


"Tapi gaya hidup mu dan bagaimana kamu menjalani kehidupan mu bisa membuat putri ku tersakiti, apa lagi dengan banyaknya wanita di sekitar mu" akhirnya Asma angkat bicara.


"Saya sudah menjauhi mereka"


"Tapi mereka takkan mungkin mau menjauhi mu"


"Saya akan lakukan apapun untuk menjaga perasaan Maryam"


Maryam yg kembali menguping pembicaraan mereka tersenyum dan tersentuh dengan kata kata Amar, bahkan begitu juga dengan Bilal, ia melihat keseriusan dan ketulusan di mata Amar, tapi tentu itu tidaklah cukup untuk menerima Amar begitu saja. Apa lagi Asma, yg jelas jelas melihat Amar bersama wanita lain dan memperlihatkan ke tidak sukaan nya pada Amar.


"Saya mohon, Om, Tante. Berikan satu kesempatan lagi bagi saya. Saya..." Amar menelan ludahnya dengan susah payah, ia tak pernah mengatakan cinta bahkan pada dirinya sendiri "Saya mencintai Maryam, dan saya ingin menjadikan dia pendamping hidup saya, penunjuk jalan ketika saya salah melangkah, dukungan ketika saya terjatuh, saya ingin menjadikan Maryam segala nya dalam hidup saya"


Asma terdiam, entah mengapa dalam diri Amar, ia seolah melihat Bilal. Mencintai dengan begitu besar, namun Asma masih tak ingin semudah itu menerima Amar.


"Amar, aku percaya jika kamu memang mencintai putri ku" Bilal berkata sambil menatap lekat lekat Amar "Tapi tentu kami ingin putri kamu berada di tangan yg tepat, jika kamu bisa membuktikan bahwa kamu bisa menjaga nya, kami bisa saja menerima mu, tapi tetap saja, keputusan yg sebenernya ada di tangan Maryam. Jadi buktkan pada nya dan pada kami, apakah kamu bisa menjadi pendamping yg baik untuk nya"


Asma menatap tajam suaminya itu yg malah memberikan kesempatan begitu saja pada Amar, namun Bilal membalas tatapan tajam istri nya dengan tatapan yg sangat lembut dan tersenyum.


"Apapun akan saya lakukan, Om" jawab Amar senang.


"Ada dua hal yg kami inginkan, Amar" ujar Asma "Pertama, pertemukan kami dengan ibu mu. Kedua, pasti kan tidak ada wanita yg berkeliaran di samping mu"


Amar tersentak, ibu mu, lagi lagi kata itu, itu bahkan sudah hampir membunuhnya dua hari ini. Tapi ibu dari Maryam ini kembali memancing amarahnya.


Setiap kali seseorang mengatakan tentang ibu pada Amar. Maka yg terlintas dalam benak Amar adalah perselingkuhan ibunya, kematian adik dan ayah tercinta nya.


Mata Amar yg semula tampak sayu, kini berkilat penuh amarah, rahangnya mengeras dan ia mengepalkan tangan nya kuat. Ia sangat benci topik ini dan saat emosi nya benar benar akan memuncak, tiba tiba...


"Amar..." Amar segera mendongak mendengar suara lembut itu begitu pun dengan Bilal dan Asma.


"Maryam apa yg kamu lakukan di sini?" tanya Bilal karena ia sudah memerintahkan putrinya itu kembali ke kamar.


"Maaf, Abi. Maryam cuma mengantar air" ucap Maryam, ia berjalan mendekati Amar yg tatapan amarah nya berangsur kembali melembut, bahkan otot otot rahang nya pun kini kembali mengendur dan ia melepaskan tangan nya yg mengepal kuat.


"Air, minumlah" Maryam menyerahkan segelas air putih pada Amar. Sebenarnya Maryam sengaja masuk saat ibunya mengatakan syarat untuk Amar tadi, dan Maryam tahu Amar takkan bisa mengontrol emosi nya jika sudah ada topik ibu nya.


Asma dan Bilal menatap heran pada putri mereka yg saat ini sedang memperhatikan Amar yg sedang meneguk air dari gelasnya hingga habis. Maryam menyunggingkan senyum pada Amar dan entah bagaiamana itu membuat Amar kembali tenang.


"Duduk sini, Maryam" perintah ayahnya, dan Maryam pun duduk di antara ayah dan ibunya "Karena ini tentang mu, maka kamu berhak tahu apa yg kami bicara kan" Maryam hanya mengangguk.


"Maryam menyerahkan semuanya pada Abi sama Ummi" ujar nya pelan.


"Saya akan melakukan nya, Tante" ucap Amar sambil menatap Maryam yg masih menunduk "Saya akan menepati dua syarat yg Tante ajukan"


Asma tak terlihat senang karena ia terlanjur tak menyukai Amar, namun ia menghargai keputusan Amar, sementara Maryam tampak khawatir, bagaiamana caranya Amar akan mempertemukan ibu mereka?


Sementara Bilal, ia merasa bangga dengan sifat gantle Amar.


Mungkin jika di lihat dengan mata, Amar yg penuh kekurangan sangatlah tidak pantas untuk seorang Maryam putri Bilal. Tapi seperti kata Bilal dahulu saat Abi Rahman mengatakan Asma begitu banyak kekurangan di bandingkan dengan Bilal, saat itu Bilal berkata..


"Setiap manusia punya kekurangan, Paman. Ada yg terlihat dan ada yg tidak, bahkan mungkin kekurangan ku yg tidak terlihat lebih besar dari pada kekurangan Zahra yg terlihat"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2