
Khair di perlakukan dengan baik oleh kakek nenek nya, mereka juga menunjukkan foto foto Alex sejak Alex kecil hingga ia dewasa. Khair tidak melihat Alex sebagai pria baik baik karena ada banyak foto nya Alex bersama teman teman wanita nya. Party dan Club. Dan Khair sangat terkejut karena ia melihat foto ibu nya juga ada di sana dengan pakaian yg begitu terbuka.
Membuat Khair langsung merinding dan diam diam ia mengambil foto foto ibu nya untuk ia musnahkan.
Khair juga di kenalkan dengan paman nya yg bernama Gilang, kakak Alex dan anak angkat mereka yg bernama Austin. Mereka menyambut baik Khair dan bertanya bagaimana Khair hidup selama ini. Khair pun menceritakan bagaimana kehidupan nya di Mekkah dan bagaimana Abi nya dan yg lainnya merawat Khair dengan begitu baik tanpa membedakan dengan yg lain nya.
Mendengar itu Sintia merasa terharu, jika ia yg merawat Khair belum tentu Khair akan menjadi seperti sekarang. Sintia juga menyesalkan karena ia tak membantu Maria sama sekali dulu, seandainya Sintia mau membantu, pasti Maria takkan membawa Khair jauh dari nya. Tapi sekarang ia bisa apa?
.
.
.
Sementara itu, Ezra dan Al kini berada di pesantren karena setiap malam mereka harus menyetor hafalan Quran nya pada kakek mereka. Dan mereka melakukan nya dengan baik walaupun harus di paksa. Baik Al maupun Ezra tak seperti Faraz dan Maryam. Mereka sedikit nakal dan malas tapi mereka masih menurut pada orang tua mereka. Mereka juga anak yg cerdas sebenar nya hanya kadang terlalu aktif dan kreatif dalam membuat kenakalan yg membuat keluarga mereka hanya bisa menghela nafas.
Setelah aktifitas mereka selesai, mereka pun di jemput oleh orang tua mereka masing masing karena mereka masih harus mengerjakan PR dari sekolah nya.
Baik Al maupun Ezra sering mengeluh karena mereka lebih banyak belajar dari pada bermain seperti teman teman mereka yg lain . Tapi ketika mereka di suruh main saja dan tidak perlu belajar lagi, mereka sendiri yg masih mau belajar, dan kalau di tanya kenapa tidak main saja. Mereka akan menjawab karena saat dewasa nanti mereka ingin jadi orang yg memiliki pengetahuan luas.
Nah, itu sadar.
.
.
.
Karena ini hari minggu dan Maryam tak ada praktek. Maryam mengajak Amar ke pantai bersama anak anak mereka. Karena Maryam yakin anak anak nya itu juga ingin pergi dan bersenang senang di luar.
Amar mengiyakan saja dan Maryam juga mengajak Afsana. Afsana pun meminta izin pada Faraz dan Faraz mengizinkan, bahkan ia juga akan ikut.
__ADS_1
"Mom, kita ke pantai?" teriak Ava girang pada Maryam yg baru saja turun dari mobil.
"Iya" jawab Maryam "Kalian siap siap gih, kami tunggu. Dimana adik mu?" tanya Maryam dan Ava cengengesan.
"Dia Ava, Marry" ujar Afsana. Ava lebih muda dua menit dari Eva.
"Astagfirullah, suka kebalik" gumam Maryam "An, mending berhenti belikan mereka pakaian yg sama. Ubah juga gaya rambut mereka, benar benar bikin pangling"
"Al aja sering di kerjai. Kalau kami tegur, mereka minta maaf dan menyesal, tapi cuma berlaku beberapa hari. Habis itu ya mulai lagi"
"Itu kali yg namanya tobat sambal" Afsana tertawa mendengar tanggapan Maryam.
Sementara kini si kembar sudah turun sambil berlari lari kecil dan tampak sekali mereka sangat senang.
"Pantai... Horee..."teriak nya dan masuk ke dalam mobil Faraz.
Setelah itu Ava dan Eva segera masuk ke dalam mobil mereka di susul oleh Faraz.
"Abi Bilal bawa Al ke pesantren. Katanya ada kajian di sana" ujar Afsana.
"Ezra juga ikut Amar ke kantor nya sebentar, kata nya nanti mau nyusul"
"Hari minggu ke kantor?"
"Ya, katanya ada hal penting yg harus di selesaikan" jawab Maryam.
Obrolan mereka terhenti saat Faraz menekan klakson mobil nya.
"Ibu ibu kalau udah nge gosip engga ingat waktu ya" gerutu Faraz saat Afsana sudah masuk mobil.
Maryam sendiri masuk ke mobil mereka dan mereka pun meluncur ke pantai.
__ADS_1
"Mom, Apa Kak Khair tidak suka pantai?" tanya Aksahara.
"Oh ya ya. Kenapa kita engga ajak Khair" gumam Maryam dan ia pun menghubungi Maria.
"Ada apa, Maryam?" tanya Maria dari seberang telpon.
"Aku sama Afsana dan juga anak anak mau ke pantai. Ikut Yuk, kami masih di jalan nih. Aksahara juga nanyain Khair" tutur Maryam.
"Oh gitu, Khair lagi dirumah kakek nenek nya" Maryam mengernyit bingung mendengar Maria mengatakan Khair berada dirumah kakek nenek nya.
"Kakek nenek siapa?"tanya nya.
"Papa Mama nya Alex" terdengar suara Maria yg setengah berbisik.
"Serius? kamu kasih tahu Khair tentang siapa dia? apa engga kecepatan? Dia masih kecil loh" tanya Maryam heran.
"Dia tahu tanpa sengaja, nanti lah aku ceritain. Dan dia ngebet banget pengen ketemu keluarga ayah kandung nya"
"Kasihan dia" gumam Maryam "Ya udah deh. Nanti kita bicara lagi, kamu nyusul aja ya ke pantai. Hafsah pasti senang"
"Okey. Mumpung kami di sini" dan setelah Maryam memutuskan sambungan telepon nya, ia kembali memasukan ponsel nya ke dalam tas.
"Mom..." panggil Arkan "Apa maksud nya siapa Khair sebenar nya?" tanya Arkan penasaran. Maryam mengulum senyum dan menggeleng.
"Bukan apa apa, Arkan"
"Mom, sebenarnya ada yg berbeda dengan Khair sekarang. Dia seperti lebih diam dan tertutup" tutur Arkan. Maryam hanya menghela nafas, Maryam bisa mengerti jika sikap Khair akan berbeda setelah ia tahu kenyataan hidup nya.
"Itu karena dia semakin dewasa, Arkan. Dan dia seorang wanita muslimah. Jadi dia harus menjaga sikap nya" jawab Maryam dan tampaknya Arkan percaya.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc....