Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 111


__ADS_3

Nabil meminta Aunty Zahra nya untuk berbicara dengan ibunya mengenai perasaan Nabil pada Maria, Nabil berharap ibu nya mengerti dan mau mendukung dan membantu nya mendapatkan Maria, Nabil berharap Aunty Zahra nya bisa bicara dari hati ke hati pada ibunya.


Asma melakukan apa yg di inginkan keponakannya itu, ia meyakinkan adik ipar nya bahwa Maria adalah wanita yg baik, hanya saja ia pernah tersesat karena memang tak ada yg menunujukan jalan pada nya, bahkan Asma sendiri mengatakan ia pernah bisa menerima Maria ketika Faraz hampir menikahi nya. Karena Asma merasa kasihan.


"Aku tahu, Nabil juga sering menceritakan betapa baik nya Maria, Asma. Tapi Nabil masih muda, dan aku yakin dia bisa mendapatkan pendamping yg lebih baik"


"Jadi kamu tetap engga bisa menerima Maria?"


"Maria sendiri engga bisa menerima Nabil karena dia mencintai Faraz. Aku engga suka hal hal ribet terjadi dalam hidup kami"


Asma hanya bisa menghela nafas, karena memang benar yg di katakan Shofia. Ini akan sulit karena ini tentang hati.


"Aku tahu, apapun yg kamu inginkan pasti demi yg terbaik untuk Nabil"


"Aku cuma berharap Nabil bisa melupakan Maria dan fokus pada karirnya sekarang"


"Aku setuju, tapi perasaan engga bisa di paksakan untuk ada atau di hilangkan"


"Aku tahu, karena itulah aku mengatakan aku berharap"


Nabil yg mendengarkan pembicaraan itu diam diam hanya bisa menghela nafas berat dan ia sangat kecewa. Nabil sudah sering membujuk ibu nya dengan begitu lembut dan mencoba membuat ibu nya mengerti perasaan nya, namun seperti nya keputusan ibunya sudah bulat. Dan lagi pula benar juga yg di katakan ibunya, Maria mungkin masih mencintai Faraz. Nabil tersenyum kecut dengan fakta itu dan sekarang ia tahu ia tak seharusnya berharap lagi.


.


.


.


Gaby sudah membuka kasus itu Rossa lagi, perlahan lahan Gabby mengumpulkan bukti dan saksi untuk mengetahui kebenaran tentang kematian Atif Dagezi.


Persidangan nya pun sudah di buka, Granny Amy bahkan ikut menjadi saksi, namun tidak dengan Amar. Dia hanya akan datang ketika benar benar di butuhkan. Amar tak butuh kebebasan ibunya, yg dia butuhkan adalah kebenaran kematian sang ayah.


Sementara Maryam yg melihat suaminya selalu tidak tenang sudah tak bisa menahan diri lagi. Ia memberanikan diri bertanya sebenarnya apa yg terjadi.


"Bukan apa apa, Sayang. Hanya sedikit sibuk dengan beberapa pekerjaan" jawab Amar ketika Maryam bertanya pada nya. Saat ini, Maryam sedang membantu Amar bersiap siap pergi bekerja. Setelah memakaikan kemejea dan dasi pada suaminya itu, kini Maryam mengambilkan jas nya dan memakaikan nya seraya bertanya.


"Aku rasa ini lebih dari pekerjaan, sebenernya aku engga bermaksud memaksa, tapi ku fikir mungkin beban mu bisa sedikit berkurang kalau kamu bercerita" ucap Maryam tetap tenang kemudian mengecup sudut bibir suaminya "Sebagai istri, aku bisa merasakan kalau saat ini suami ku sedang terbebani sesuatu"


Amar mengulum senyum kemudian mengecup kening istrinya.


"Sayang, apa kamu engga pernah membenci seseorang?" tanya Amar sambil mengelus pipi Maryam.

__ADS_1


"Sering" jawab Maryam sambil tertawa kecil.


"Oh ya? Siapa? Dan kenapa?" tanya Amar dengan antusias.


"Banyak, dan dengan berbagai alasan. Dulu aku benci dengan salah satu teman sekolah ku karena dia kadang menganggu ku, tapi aku benci hanya saat ini menganggu ku. Aku bahkan benci dosen killer di kampus ku, tapi ya aku benci nya saat dia menyebalkan aja dan masih banyak lagi yg lain" Amar menatap bingung pada Maryam.


Maryam tersenyum dan menarik Amar supaya duduk di tepi ranjang, Maryam langsung mengerti ini ada hubungan nya dengan ibu Amar.


"Maksud ku, benci itu manusiawi. Semua orang pernah membenci, karena kita punya nafsu. Tapi selain itu, kita punya hati nurani dan akal sehat, jadi cobalah jangan memendam rasa benci, supaya hidup terasa damai, aman, tentram dan sentosa, taraaaaa" tutur Maryam dengan mata berbinar dan senyum yg lebar sembari merentangkan kedua tangannya membuat Amar tertawa geli.


"Kamu ini, selalu bisa membuat ku merasa bahagia..." ucap Amar kemudian mengecup seluruh wajah Maryam dengan gemas membuat Maryam terkikik


"Nanti siang aku ke kantor ya, bawain makan siang" ujar Maryam sembari mengambilkan tas kerja suaminya.


"Iya, Sayang. Kita makan siang bersama" jawab Amar, sekali lagi mencium kening dan pipi Maryam kemudian perut nya "Daddy kerja dulu ya, Nak. Jagain Ummi" bisik nya.


"Hati hati" ucap Maryam sembari mengantar suami nya ke bawah.


.


.


.


"Ummi..." Afsana membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan ibu mertua nya masuk, disana Faraz sudah tampak rapi untuk pergi bekerja.


"Ummi, kenapa engga panggil Faraz aja kalau ada perlu" ujar Faraz sembari membawa ibunya duduk di sofa panjang yg ada di dekat jendela.


"Sebenarnya Ummi mau ngasih ini ke kamu" ucap Asma sembari menyerahkan map itu. Faraz mengambil nya, membuka dan membaca nya.


"Surat rumah?" tanya Faraz dengan dahi mengkerut. Asma mengangguk sambil tersenyum.


"Sebenarnya itu warisan dari mendiang Mbak Khadijah buat kamu, dia meminta Ummi memberikan nya setelah kamu menikah" tutur Asma. Faraz cukup terkejut mendengar hal itu, karena memang selama ini Asma tak pernah menceritakan wasiat itu pada anak anak nya.


"Tapi bukannya Ummi Khadijah meninggal bahkan sebelum aku ada dalam kandungan Ummi?" tanya Faraz bingung.


"Iya, saat itu bahkan Ummi engga tahu apakah Ummi akan punya anak laki laki atau engga, tapi Mbak berpesan warisannya untuk anak laki laki Ummi. Ya kamu tahu kan Mbak itu engga punya sanak saudara lagi selain Kak Hubab. Semua yg dia miliki di wariskan pada putra suami nya, yaitu kamu Faraz"


Faraz tak bisa berkata apa apa, ia terkejut dan tak menyangka istri pertama ayahnya akan memberikan seluruh harta nya pada dia yg bahkan belum di ketahui apakah akan terlahir atau tidak.


"Padahal kan bisa dia berikan pada Abi Hubab sebagai ahli waris nya karena dia satu satu nya keluarga nya, kan? Atau Ummi Khadijah bisa memberikan nya sebagai amal pada sebuah yayasan. Faraz fikir ini agak aneh kenapa dia mewariskan seluruh harta nya pada orang yg belum ada"

__ADS_1


Sekarang Asma yg tak tahu harus menjawab apa, karena Asma tahu Khadijah memberikan harta nya pada anak Asma untuk menebus rasa bersalah nya atas keguguran Asma dulu. Sementara baik Asma, Bilal ataupun anggota keluarga yg lain nya tak pernah menceritakan hal itu pada anak anak mereka. Tak pernah lagi mengungkit atau membicarakan kesalahan istri pertama Bilal.


"Mungkin dia yakin kalau suaminya akan di karuniai seorang putra yg tampan" ucap Asma pada akhir nya sembari menepuk pipi Faraz sambil tersenyum membuat Faraz ikut tersenyum. "Dan keponakan kandung nya pun tanpa sengaja malah kebagian harta nya" lanjut nya kemudian beralih menatap Afsana dan tersenyum lebar, Afsana pun ikut tersenyum.


"Jadi, apa yg harus Faraz lakukan dengan warisan itu?" tanya Faraz kemudian dengan polos nya yg membuat Asma tertawa geli.


"Ya tempati, Nak. Gunakan harta itu sebaik mungkin" seru Asma.


Faraz dan Afsana saling pandang. Membuat Asma menatap mereka dengan bingung.


"Apa kalian berniat membeli rumah sendiri?" tanya nya dan Faraz langsung menggeleng. Ia kemudian menggenggam tangan ibu nya dan mengecup nya.


"Sebenarnya Faraz dan Ana sudah sepakat akan tinggal di sini, dirumah ini, sama Abi dan Ummi. Faraz engga mau ninggalin Abi dan Ummi, Faraz masih pengen jagain Abi dan Ummi" ucap Faraz dengan pelan dan hati hati. Karena ia tak tahu Ummi nya itu akan merespon seperti apa. Namun Asma langsung berkaca kaca dan ia mengelus pipi putra nya itu.


"Ummi senang, Faraz. Tadi nya Ummi sudah berfikir akan tinggal sendirian saja bersama Abi, tanpa anak anak Ummi. Karena kalian sudah berumah tangga"


"Engga kok, Ummi. Kami masih akan menjaga Ummi Zahra dan Ummi Lita. Kami akan berusaha tetap menjaga dan bersama kalian" Afsana menyambung dan ia memeluk ibu mertua nya itu.


"Terima kasih, Sayang" ucap Asma. Kemudian ia mencium kening putra dan menantu nya bergantian "Tapi mendiang Mbak Khadijah mungkin ingin kalian menempati rumah itu, sayang juga kan engga ada yg menempati nya selama ini"


"Nanti pasti ke pakai kok, Ummi. Apa lagi nanti kalau kami sudah di karuniai anak anak"


"Kalau rumah itu sudah di wariskan ke Faraz, itu berarti Faraz punya hak penuh atas rumah itu kan?" Asma mengangguk "Gimana kalau rumah itu jadikan tempat tinggal buat karyawan Resto? suruh mereka patungan bayar listrik sama air nya aja. Engga usah ambil uang sewa nya, soalnya kasian mereka, apa lagi ada sebagian dari mereka yg sambil membiayai keluarga nya. Mungkin itu bisa sedikit membantu "


"Ide bagus, semuanya terserah kamu, Faraz. Itu rumah mu, Nak" ujar sang ibu.


"Menurut mu gimana, An?" tanya Faraz meminta pendapat istri nya itu.


"Benar kata Ummi, itu ide bagus" jawab Afsana yg membuat Faraz yakin dengan keputusan nya.


Setelah itu, Asma pergi keluar dari kamar mereka dengan perasaan lega karena sudah menyampaikan amanah istri pertama suami nya. Dan baru saja ia menutup pintu kamar Faraz, ia di kejutkan dengan suaminya yg langsung menarik pinggang nya.


"Astaghfirullah, Bi... Mau bikin aku jantungan?" gerutu Asma sambil melepaskan diri dari suaminya.


"Hehe, engga lah, Sayang" jawab Bilal sambil cengengesan "Gimana? Lega?" tanya Bilal sambil berjalan mengikuti istri nya masuk ke kamar. Asma menghentikan langkah nya secara tiba tiba yg hampir saja membuat Bilal menabrak nya.


"Alhamdulillah, lega" jawab Asma tersenyum lebar.


"Sekarang siap siap gih, kita sudah terlambat" ucap Bilal karena pagi ini keduanya di undang ke pernikahan salah satu alumni santri di pondok pesantren Al Hikmah. Asma mengangguk dan segera bersiap siap. Sementara Bilal yg sudah siap menunggu di bawah.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2