
"Kakak mau menikahi mu sekarang juga"
"Apa?"
Afsana bahkan hampir jatuh saat dia hendak duduk di sofa, Setelah dari rumah sakit, Faraz langsung membawa Afsana pulang karena tak ingin Afsana kelelahan. Dan baru saja mereka sampai dirumah Afsana, Faraz malah mengatakan hal yg membuat Afsana hampir jantungan.
"Hati hati, Dek" seru Faraz kesal dengan kecerobohan Afsana.
"Kak Faraz ngomong apa tadi?" tanya Afsana serius karena ia merasa mungkin salah dengar.
"Kakak mau menikah sama kamu, kakak engga mau nunggu kamu lulus, iya kalau kamu lulus, kalau engga?"
Afsana tentu saja di buat bingung dengan Faraz.
"Kakak takut kehilangan mu, Afsana. Kamu hampir saja membuat kakak kehilangan mu" Faraz berkata dengan sangat sedih
"Tapi kan engga jadi, Kak" balas Afsana.
"Tapi tetap saja, kamu membuat kakak takut, kamu mengingatkan kakak pada pernikahan pertama Abi, kakak engga mau seperti itu, An" lirih nya.
"Maafin Ana, Kak. Ana hanya berfikir Maria jauh lebih membutuhkan kakak dan kita belum menikah. Tapi jika kita sudah menikah, ya Ana engga mungkin melepaskan kakak gitu aja"
"Karena itulah kakak mau kita cepat cepat menikah. Ya..." Faraz berkata dan menatap Afsana memelas.
Jujur saja, Faraz sangat takut kehilangan Afsana, dan Faraz takut jika ia harus menempatkan wanita lain seperti apa yg di alami istri pertama ayahnya. Mungkin ya, Abi nya masih bisa berlaku sangat baik sebagai suami, tapi Faraz tak yakin ia bisa melakukan hal yg sama.
"Tapi Ana masih sekolah"
"Ummi juga masih sekolah waktu menikah, ya???"
"Terserah kakak aja lah"
.
.
.
Sebelum pulang ke rumah, Maryam mampir ke kantor suaminya, sekalian ingin mengajak nya makan siang bersama.
Dia sambut oleh Cindy disana, Cindy mengantarkan Maryam ke ruang meeting, padahal Maryam sudah mengatakan dia akan menunggu Amar jika memang ada meeting. Tapi Cindy mengatakan itu perintah Amar. Maryam pun ikut saja.
Disana, Maryam yg langsung membuka pintu ruang meeting itu menarik perhatian semua orang.
"Maaf..." ucap Maryam dan hendak pergi namun suara Amar menghentikan langkah.
"Sayang, sini..." Amar melambaikan tangannya memanggil Maryam.
Semua orang di ruang meeting itu malah heran melihat Amar begitu, apa lagi cara dia memanggil istri nya.
__ADS_1
"Aku tunggu di ruangan kamu aja" tutur Maryam.
"Tunggu disini, aku lagi bahas saham perusahaan, biar kamu juga ngerti, kan kamu juga pemilik perusahaan ini"
"Eh?" Maryam tak mengerti apa yg Amar bicarakan. Dan saham? Dia tak mengerti apapun tentang saham. Maryam masih berdiri mematung, namun tiba tiba Amar menghampiri nya dan menarik nya masuk.
"Aku yakin kalian semua pasti kenal istri ku, Maryam. Aku harap kalian tidak keberatan jika dia ada di sini"
"Tentu saja tidak, Pak" jawab mereka.
Maryam tersenyum kikuk dan ia tak tahu harus berbuat apa, Maryam juga hanya diam saja saat Amar mendudukan Maryam di kursi Amar. Sementara Amar duduk di sisi nya.
"Aku engga ngerti saham" bisik Maryam malu "Aku tunggu di ruangan mu aja ya?"
"Engga usah, di sini aja. Nanti aku ajari kamu tentang saham ya, meskipun kamu mau jadi psikolog, tapi kamu juga pemilik perusahaan ini dan suatu hari kamu pasti di butuhkan di sini"
Tutur Amar dengan lembut dan ia bahkan berbicara sambil tersenyum dengan mata yg berbinar.
Orang orang yg ada disana tentu saja semakin bingung, merasa tak lagi mengenali Amar Degazi yg dulu sangat dingin.
Maryam pun mengangguk saja meskipun ia tak mengerti kenapa ia juga pemilik perusahaan itu? Perasaan dia belum berinvestasi disana.
.
.
.
"Lebih baik, Ummi. Tapi seperti nya dia masih enggan menerima kehamilan nya"
"Kasihan sekali, dia masih sangat muda, masa depan nya masih panjang" gumam Ummi Mufar "Lalu jika ayahnya meninggal, apa dia akan tinggal sendirian dirumah nya? Kata Faraz, rumah nya cukup besar dan gadis itu merawatnya sendirian"
"Asma juga engga tahu, sekarang kita hanya fokus pada kesembuhannya dulu"
"Ummi engga keberatan kalau dia tinggal sama Ummi di sini, Ummi akan merawat nya dan banyak orang disini yg akan merawat nya"
"Terima kasih, Ummi. Nanti Asma coba bicarakan dengan Maria. Oh ya, Asma harus mengajar"
"Makan siang dulu, Nak"
"Nanti saja, Asma pergi ke kelas dulu.
.
.
.
Maria masih terlihat murung, memikirkan bagaiamana ia melanjutkan hidup sekarang apa lagi dengan janin di perut nya.
__ADS_1
Maria tak mungkin menggugurkan nya, karena benar kata Tante Zahra, jangan menutupi dosa dengan dosa.
Bayi itu tetap hidup meskipun Maria sendiri hampir mati. Itu sebuah keajaiban. Maria mengelus perut nya, dan air mata menetes begitu saja dari sudut matanya.
Dia memutuskan akan merawat bayi itu, mungkin bayi itu ada agar ia memiliki seseorang dalam hidup nya.
Maria berjanji pada dirinya sendiri, dia akan meperbaiki segala nya.
"Hai..." sapa Hira yg baru saja datang dengan membawa buah segar "Bagaiamana keadaan mu?"
"Lebih baik, aku pasti sangat merepotkan mu ya,Ra?"
"Engga lah, kalau aku yg ada di posisi kamu, kamu juga pasti akan melakukan hal yg sama untuk ku, kan?"
Maria tersenyum samar sambil mengangguk.
"Oh ya, Ra. Aku boleh minta tolong engga?"
"Anything for you, Bebs" jawab Hira.
"Aku mau jual rumah ku"
"Hah, kamu gila? Itu satu satu nya peninggalan ibu mu" pekik Hira tak percaya.
"Aku engga punya jalan lain, Ra. Aku juga engga mungkin tinggal disini lagi" ucap Maria sedih.
"Maksud mu?" tanya Hira tak mengerti.
"Aku mau kembali ke Amerika, aku mau memulai semua nya dari awal"
"Dalam keadaan seperti ini? Dan apa yg akan kamu lakukan disana?"
"Bekerja, aku punya teman disana, aku yakin dia bisa membantu ku"
"Di sini kami semua juga bisa membantu mu, Maria"
"Tapi aku engga bisa, terlalu banyak yg aku alami disini. Aku juga selalu merepotkan orang lain"
"Tapi Maria..."
"Aku sudah memikirkan ini, dan aku yakin dengan keputusan ku"
Hira hanya bisa menghela nafas lesu namun jika itu keputusan Maria, maka Hira akan mendukung nya.
"Aku akan meminta Papa mencarikan pembeli rumah mu"
"Terima kasih banyak, Hira"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...