Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 83


__ADS_3

Sambil menunggu kedatangan kakek nenek nya, Faraz dan yg lainnya mempersiapkan keperluan untuk acara akad nanti. Rencana nya mereka akan mengadakan akad di pesantren saja, dengan di saksikan keluarga mereka sama seperti akad nya Maryam. Dan karena hanya akad, keluarga dari ibu Faraz pun hanya kakek nenek nya saja yg akan datang, saat resepsi, baru lah mereka semua akan datang.


Faraz juga sudah menyiapkan sebuah cincin pernikahan yg sangat indah dan tentu mahal, dan yg pasti, Faraz membeli semua nya dengan uang nya sendiri.


Dan seluruh pesantren begitu antusias mendengar kabar pernikahan Neng dan Lora mereka.


Hingga akhir nya, hari yg mereka semua tunggu tiba.


Abi Rahman dan Ummi Kulsum juga sudah datang, memberikan hadiah dan juga selamat yg di sertai doa untuk calon mempelai.


Kebahagiaan kedua nya semakin lengkap, karena saudara mereka, putra Shofia yg bernama Nabil juga datang, setelah sekian lama tak pulang ke Indonesia karena terlalu fokus pada pendidikan nya.


"Kak Nabil..." teriak Maryam yg melihat Nabil di kediaman nenek nya. Nabil terkekeh dengan tingkah Maryam yg masih sama, begitu histeris setiap ia pulang "Kak Nabil engga adil banget, waktu nikahan Maryam engga datang" gerutu nya.


"Maaf deh, tapi kakak bawa hadiah kok buat kamu" ucap Nabil. Kemudian memberikan sebuah kotak hadiah besar yg di bungkus kertas kado berwarna kuning, warna favourite adik nya itu.


Afsana dan Lita juga datang karena mereka ingin bertemu Nabil.


"Kak Nabil apa kabar?" tanya Afsana.


"Kakak baik, kamu sendiri? Bagaiamana kaki mu, Dek?" tanya Nabil sambil ia mengusap kepala Afsana. Lita membawa Afsana duduk di sofa.


"Ana baik" jawab Afsana "Apa hadiah nya cuma Marry yg dapat?" tanya nya karena ia melihat Maryam yg begitu antusias membuka kotak hadiah nya.


"Engga dong, kamu juga dapat" Nabil memberikan kotak hadiah yg di bungkus kertas kado warna putih dan tentu sama besar nya.


"Bagaiamana kabar Ummi sama Abi mu, Bil?" tanya Lita.


"Mereka baik, Aunty. Tapi mereka akan pulang saat resepsi Faraz dan Ana nanti. Lagian, itu si Faraz kenapa kebelet banget mau kawin sih? Suruh dia rajin puasa napa"


Lita hanya bisa tertawa mendengar ucapan Nabil. Kemudian ia pun mendatangi Ummi Mufar dan meninggalkan anak anak nya disana, memberikan mereka waktu untuk mengobrol bersama.


Usia Nabil beberapa bulan lebih tua dari Faraz, tapi mereka sangat dekat meskipun tak tinggal bersama, dan terkadang mereka berbagi pengalaman namun tak jarang juga saling mengejek dan bercanda.


Dan soal siapa Nabil, dia bercita cita ingin menjadi seorang Dokter. Karena itulah ia selalu fokus pada pendidikan nya karena sangat tak mudah untuk menjadi seorang Dokter.


Maryam yg sudah berhasil membuka kotak hadiah nya menganga tak percaya, kotak itu sangat besar. Dan isi nya hanya sebuah...

__ADS_1


"Test pack?" pekik Maryam yg seketika membuat Afsana tertawa. Maryam memperhatikan test peck itu dan ia menggeleng tak percaya "Kak, masak hadiah nya test peck sih?"


"Haha, itu nanti bakal jadi hadiah terbesar lho buat keluarga kita kalau test peck nya sudah bergaris dua" jawab Nabil enteng.


"Tapi kalau cuma test peck, Maryam bisa beli sendiri kali, Kak. Masak ia jauh jauh dari arab, bawa kotak segede ini, isi nya cuma test peck?" gerutu Maryam yg tak habis fikir dengan kegilaan kakak sepupunya itu.


"Suami mu itu bisa membelikan mu apapun, memang nya kamu mau apa lagi dari kakak?" tanya Nabil masih terkekeh melihat ekspresi Maryam yg memberengut dengan pipi mengembung.


"Tapi masak test peck, Kak? Yg bener aja"


"Udah, simpan aja itu, buat jaga jaga"


"Kalau hadiah Ana apa, Kak?" tanya Afsana dan ia pun juga membuka hadiah nya dengan di bantu Maryam.


Dan tawa keduanya pecah karena isi nya juga test peck.


"Ana kan belum nikah, Kak. Masak iya juga dapat beginian"


"Tapi kan sebentar lagi menikah" seru Nabil "Dalam sebuah pernikahan, Kehadiran seorang anak adalah anugerah terbesar bagi suami istri" jelas nya.


"Kakak bawa ini dari Mekkah?" tanya Maryam.


"Ya Allah, calon Dokter ini pelit amat" gumam Maryam yg kembali membuat Nabil tertawa.


Kemudian ketiga nya membicarakan banyak hal, sekian lama tak bertemu Nabil, membuat mereka begitu senang ketika Nabil datang. Walaupun Nabil tak selalu bersama sejak kecil, tapi mereka sangat dekat layaknya bersama Faraz dan Rafa. Nabil juga sangat perhatian dan selalu menanyakan adik adik sepupu nya itu.


.


.


.


Semua telah siap, seluruh keluarga juga sudah berkumpul, akad siap di laksanakan. Kedua mempelai juga sudah sangat siap.


Afsana di dandani secantik mungkin, ia menenakan kebaya putih yg sangat cantik, sementara Faraz mengenakan setelan jas berwarna cokelat.


Abi Khalil yg akan menjadi penghulu, dan Hubab sendiri yg akan menikahkan putri satu satu nya itu dengan pria pujaan nya.

__ADS_1


Hubab sendiri sangat bersyukur, dan tak pernah sedikitpun terbersit dalam benak nya bahwa Faraz yg akan menjadi menantu nya, putra dari sahabat nya, pemuda sholeh yg sudah ia anggap putra sendiri.


Detik detik menuju akad, Faraz sangat gugup. Berulang kali ia menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan.


Malam ini, Afsana akan menjadi istri nya. Apakah itu nyata? Apa itu bukan mimpi.


"Relax, kakak ipar! Itu hanya akad" Faraz menoleh dan Amar datang bersama Nabil, keduanya baru bertemu, namun mereka sudah langsung cocok dan dekat, mereka membicarakan banyak hal, tak terkecuali tentang Faraz yg memang sejak kecil selalu posesif pada Maryam dan Afsana.


Nabil sendiri mengatakan ia tak terkejut saat mendengar kabar pernikahan mereka, karena Nabil sudah menduga ini akan terjadi mengingat bagaiamana dekat nya Faraz dan Afsana. Mengingat bagaimana Faraz selalu menunjukan kepemilikannya pada Afsana sejak kecil.


"Minum?" Amar menyodorkan segelas air sambil terkekeh.


"Engga, aku engga haus" jawab Faraz.


"Orang butuh minum bukan hanya saat haus, tapi saat menegangkan seperti ini juga pasti butuh air" tutur Amar kemudian ia meneguk air itu sampai habis.


"Tadi di tawarin, sekarang malah di habisin" ujar Faraz dengan nada kesal.


"Katanya engga haus" Nabil menimpali dengan nada meledek. Faraz enggan menanggapi adik ipar dan sepupu nya itu.


Hingga Bilal mengatakan sudah saat nya melakukan akad.


"Abi.. Abi..." Faraz menarik lengan ayahnya seperti anak kecil dan itu membuat Abi nya menatap heran pada Faraz.


"Apa?" tanya ayahnya.


"Faraz gugup" dan seketika gelak tawa mereka pecah.


"Kenapa gugup? Wong Afsana sudah selalu bersama mu sejak kecil, malam ini tinggal di halalin aja kan, harus nya senang dong, bukan gugup" tutur Bilal.


"Tapi tetap aja gugup, tunggu sepuluh menit lagi, boleh?" tanya Faraz menatap ayahnya memohon.


"Engga" tegas ayahnya tanpa bisa di bantah.


"Kalau butuh air, bilang aja, Kakak ipar"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2