Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 135


__ADS_3

12 tahun kemudian...


"Come on, Al... You can do it!"


"Faste Alfatih, You have to win!"


Seorang wanita paruh baya menoleh pada anak yg sejak tadi berteriak menyemangati anak yg bernama Alfatih yg sedang berjuang untuk memenangkan lomba lari di sekolah nya. Semua guru, murid dan juga keluarga para murid menghadiri acara tahunan itu. Dimana setiap tahun akan selalu diadakan berbagai macam loba saat ulang tahun sekolah dasar itu.


"Shhtt!" wanita itu memberi isyarat pada anak di samping nya. Namun anak itu bukan nya diam dia malah berteriak lebih kencang lagi.


"Come on Al... Faster... Faster..."


"Shut up, Ezra!" anak yg bernama Al itu malah balik meneriaki nya sambil tetap berusaha lari secepat mungkin.


"Ezra, kamu mengganggu konsentrasi nya"


"Oh ayolah, Mom. Ezra justru menyemangati Al, dia berlari seperti kura kura yg patah kaki nya" ucap Ezra pada ibu nya yg membuat sang ibu hanya geleng geleg kepala.


Sorak penonton semakin kencang saat detik detik terakhir perlombaan akan selesai dan kin ada dua anak yg mendekati garis finish, Alfatih dan juga seorang gadis berambut pirang.


Suasana berubah menjadi tegang saat beberapa detik lagi mereka akan mencapai garis finish. Ezra bahkan menahan nafas melihat siapa yg akan menang.


"Huaa... Anastasia..." Sorak penonton berteriak mengeluhkan gadis bernama Anastasia yg lebih dulu mencapai garis finish.


Anastasia pun bersorak girang karena kini ia memenangkan perlombaan lari setelah di tahun sebelum nya dia di kalahka oleh Al.


Ezra menghela bernafas lesu karena jagoan nya kalah.


Setelah iu, Al dengan wajah senang nya berjalan menuju Ezra dimana disana sudah ada Maryam dan Afsana.


Afsana merasa heran karena Al malah tersenyum padahal dia kalah. Begitu juga dengan Maryam, hingga gadis yg bernama Anastasia itu datang dan ia menampilkan senyum ejekan nya.


"YOU LOSE!" ucap nya sembari memberikan jempol terbalik nya, bukan pada Al tapi pada Ezra. "Remember your promise, Mr. Degazi" tegas gadis itu kemudian ia pergi dari sana.


"Apa maksud nya?" tanya Maryam karena Anastasia malah mengejek Ezra bukan nya Al sedangkan yg ikut lomba dan yg kalah itu Al.


"Ezra jadiin Al bahan taruhan Mommy. kata nya kalau Al menang dari Anastasia, maka Anastasia harus melakukan apapun yg Ezra mau. Ya kalau Al kalah maka sebaliknya" tutur Al sembari mencoba mengatur nafasnya. Kemudian Afsana mengelap keringat putra nya itu dengan handuk kecil.


"Benar itu, Ezra?" tanya Maryam dan Ezra hanya cengengesan.


"Itu engga baik, Ezra" tutur Afsana "Dan kamu Al, kamu sengaja ngalah?" tanya ibu nya dan Al pun mengangguk sambil tersenyum lebar yg membuat Ezra tampak kesal.


"Kok gitu sih, Al? Tega banget sama suadara sendiri" gerutu Ezra.


"Bukan tega, tapi ngasih kamu pelajaran" jawab Al.


"Itu engga baik, Ezra. Mommy engga mau kamu melakukan taruhan atau tantangan seperti itu lagi, okey?" pinta Maryam dan Ezra mengangguk dengan wajah bersalah nya. Sementara Al malah tampak senang.


Kemudian mereka pun pulang karena acara juga sudah selesai.


"Mom, hari ini Ezra kerumah eyang ya" pinta Ezra saat keduanya sudah ada dalam mobil. Sedangkan Afsana dan Al ada di mobil mereka sendiri.


"Hari ini kamu ada les bahasa Urdu. Ingat?" Ezra langsung menghela nafas berat.


"Mom, I don't like Urdu language, it's so difficult" rengek nya.

__ADS_1


"Itu gampang, Sayang. Asal kamu belajar nya dengan senang hati, masak kalah sama adik mu. Dia sudah bisa bicara dalam bahasa Urdu lho"


"Okey" bisik Ezra setengah hati. Sebenarnya Maryam tak ingin memaksa Ezra belajar bahasa eyang nya itu tapi Granny Amy masih ingin anak anak Amar juga menguasai bahasa asli suami nya.


"Oh ya, ingat jangan pernah lagi taruhan apapun dengan siapapun di sekolah" tegas Maryam karena jujur saja, anak pertama nya ini sedikit nakal.


"Siap, Kapten" seru Ezra yg membuat Maryam tertawa.


Sementara itu, Al dan Afsana kini sudah hampir sampai kerumah. Al bertanya apakah ibu nya kecewa karena Al kalah dalam lomba lari.


"Engga kok, ya bagus juga kamu ngalah jadi biar jadi pelajaran buat Ezra supaya engga meremehkan orang lain. Taruhan itu juga engga bail" tutur Afsana.


Sesampainya dirumah, Al langsung di sambut oleh dua gadis kecil yg berusia 7 tahun. Ava dan Eva, si kembar adik kesayangan Al.


"Kakal, piala mana?"


"Hadiah mana?"


Eva dan Ava sama sama bertanya karena Al pulang dari lomba tapi tidak membawa apapun.


"Piala sama hadiah nya nyusul ya, Dek. Sekarang kakak punya hadiah untuk kalian.... Tara..." Al memberikan sebuah gambar diri mereka masing masing. Al sengaja meminta Ezra melukis adik adik nya supaya mereka tidak kecewa jika Al kalah lomba dan tidak membawa pulang piala, karena biasa nya mereka selalu meminta piala Al jika Al ikut lomba apapun.


Ezra suka melukis dan besok di sekolahnya akan di adakan lomba melukis.


Hem, seperti nya sekarang giliran Al yg mengerjai Ezra.


"Cantik, pasti Kak Ezra..." ucap Ava.


"Betul sekali" seru Al.


"Al, kamu mandi gih. Habis ini guru les bahasa Arab mu akan datang" ujar Afsana.


"Iya, Ummi"


Dirumahnya, Ezra terdiam sambil memperhatikan kedua adik laki laki nya yg bernama Arkan yg berusia 10 tahun dan Syafiq yg berusia 8 tahun. Ia sedang berfikir besok akan melukis apa supaya menang? Biasanya adik adik nya ini akan membantu menemukan ide tapi sekarang mereka malah sibuk menonton kartun.


"Kakak..." Ezra menoleh dan mendapati seorang gadis mungil dengan mata yg lebar dan senyum yg merekah membuat Ezra langsung mendapatkan ide.


"Perfect" ucap Ezra langsung.


"Apa yg perfect?" tanya gadis mungil itu.


"Kamu, adik kakak yg paling spesial" ujar Ezra.


Gadis itu adalah Akshara yg baru saja menginjak usia 6 tahun. Putri satu satu nya Amar dan Maryam. Gadis itu cantik dan memiliki kulit yg putih, tubuh tinggi dan ia benar benar terlihat seperti orang Pakistan.


"I am not perfect, I can't read or write" ujar gadis itu tanpa menatap Ezra.


Akshara Degazi, putri bungsu Amar itu adalah gadis autis yg mengidap disleksia.


"But you always can do what we never can do" hibur Ezra.


Benar, di balik keterbatasan nya, Akshara punya daya ingat yg kuat. Ia bisa bahasa inggris, bahasa arab dan bahasa urdu hanya dengan di ajari secara lisan oleh Amar, Maryam dan Granny Amy. Ezra bahkan kalah, sampai detik ini Ezra hanya menguasai bahasa Inggris saja.


"Dinner is ready..." Nur memberi tahu ke empat majikan kecil nya. Kemudian Syafiq dan Arkan pun langsung berlari ke meja makan.

__ADS_1


"Jangan lari..." perinatah Ezra dan kedua adik nya itu pun langsung berhenti berlari. Sementara Ezra berjalan pelan pelan dengan Akshara.


Di meja makan, Granny sudah menunggu. Maryam dan Amar pun bergabung dengan mereka.


"Bagaiamana persiapan lomba mu besok, Ezra?" tanya Amar.


"Sudah siap, Daddy. Ezra yakin Ezra bisa menang"


"Optimis itu bagus, tapi jangan sampai jadi ambisi, okey?"


"Okey, Dad"


"Lalu bagaiamana sekolah Syafiq dan Arkan hari ini?"


"Lancar, Dad" jawab Arkan.


"Dan kamu, Syafiq?"


"Lancar"


Di antara ketiga putra Maryam itu, Ezra adalah yg paling nakal dan aktif. Dan Arkan adalah anak yg baik dan ia bisa berfikir lebih dewasa dari pada Ezra. Sedangkan Syafiq adalah anak pendiam dan pemalu, dan Syafiq sangat tidak cocok dengan Akshara karena jika keduanya di tinggalkan bersama, maka takkan ada aktifitas apapun. Hanya akan ada keheningan karena keduanya sama sama diam.


Sementara Arkan akan menjaga Akshara sebagai kakak dan ia tipe orang yg serius. Sementara Ezra justru lebih dekat karena Ezra bisa berperan sebagai kakak sekaligus teman bagi Askhara.


Keluarga Degazi pun makan dengan tenang dan sesekali di selipi obrolan antara mereka. Di sela kesibukan Maryam dan Amar, kedua nya tetap mengutamakan keluarga. Dan di akhir minggu kedua nya selalu membawa anak anak nya ke taman bermain atau yg lain nya.


Sejauh ini, Maryam dan Amar berperan dengan sangat baik sebagai orang tua. Mereka tak membedakan satu anak dengan anak nya yg lain. Dan jika pun mereka lebih memperhatikan Akshara bukan karena Akshara putri satu satunya, tapi karena Akshara memang memiliki kebutuhan khusus dan ketiga kakak nya pun sangat mengerti hal itu.


"Kakak Al... Makanan siap" Al yg baru saja membuka gadget nya di kagetkan dengan adik nya yg tiba tiba membuka pintu sambil berteriak.


"Ava, jangan berteriak begitu. Kakak dengar" ujar Al.


"Dengar apa nya? dari tadi Eva udah panggil kakak kata nya tapi kakak Al engga nyaut. Jadi Eva nyuruh aku yg panggil" ujar adik nya, Al tampak terdiam sejenak dan kemudian berkata...


"Oh, mungkin tadi kakak di kamar mandi" seru nya kemudian ia pun menuju meja makan bersama sang adik. Di sana sudah ada kakek nenek nya dan juga saudara kembar adiknya.


"Ummi, kuah Ava mana?" tanya Ava yg membuat Al mengernyit bingung kemudian ia menoleh ke arah adik nya yg tadi memanggil nya, yg ia kira itu Ava padahal sebenarnya dia adalah Eva. Dan Eva seperti nya memang sengaja mengerjai nya.


Mereka adalah kembar identik, tak hanya itu, mereka juga punya potongan rambut yg sama dan selalu memakai pakaian yg sama. Suara keduanya juga sama jika tidak di dengarkan dengan seksama sehingga bukan kali ini saja baik Al maupun yg lain nya terkadang tak bisa membedakan Ava dan Eva.


"Ummi, kayaknya Ava sama Eva harus di kasih tanda biar kita bisa membedakan mereka" gerutu Al karena sudah sering adik adik nya itu mengerjai nya.


"Memang nya adik mu mengerjai mu lagi?" tanya Faraz dan Al mengangguk cepat. Membuat Faraz dan Afsana geleng geleng kepala.


"Engga boleh seperti itu, Sayang" Afsana mengingatkan.


"Bohong itu engga boleh, Nak. Harus selalu jujur" Asma menimpali.


Ava dan Eva pun mengangguk.


"Maaf, Kak" ucap Eva pada Al.


"Iya, tapi ini yg terakhir lho ya"


"Iya" jawab Ava dan Eva bersamaan.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2