
Maryam sangat antusias menemui saudari nya itu setelah mendengar kabar dari Ummi nya kalau Afsana sudah datang. Amar mengantarkan Maryam kerumah Abi nya, dan sampai sekarang tak ada yg tahu kalau Maryam sebelum nya pendarahan, Maryam yg meminta Granny Amy dan Amar untuk tidak memberi tahu siapapun. Maryam tidak mau mereka khawatir dan bertanya kenapa bisa pendarahan.
Saat ini, Maryam sedang memakan masakan Bi Mina dengan sangat lahap.
"Aku dengar kamu ngidam bubur ayam Nena tengah malam" seru Afsana yg juga makan menemani Maryam.
"He'em. Selama hamil, aku sering ngidam masakan Nena. Jadi kalau aku lapar, ya aku pulang kesini" jawab Maryam karena memang benar ia sering sekali mengidam masakan Bi Mina.
"Kamu udah periksa kandungan mu, kan?" tanya Asma yg ikut bergabung dengan mereka.
"Udah, Ummi. Bayi Maryam sehat, Alhamdulillah"
"Alhamdulillah, kamu harus jaga bayi mu baik baik, jangan sampai kenapa napa"
"Inysa Allah, Ummi. Semoga Allah selalu menjaga kami"
"Aamiin, ya sudah. Kalau lanjutkan mengobrol nya. Tapi ingat, jangan gosipin orang, apa lagi dengan kamu lagi hamil. Engga baik" Maryam hanya tertawa kecil dan mengangguk.
Kemudian Asma berpamitan pergi ke pesantren.
Sementara Afsana meminta Maryam membantu memilih dekorasi untuk acara resepsi pernikahan nya nanti, karena semua nya sudah harus di persiapkan dari sekarang. Faraz mengatakan ia tak mau buang buang waktu lagi dan sudah tak sabar untuk mengadakan resepsi.
"Rose gold bagus kali ya?" tanya Afsana.
"Bagus, terlihat mewah. Oh ya, apa Kak Faz udah booking hotel untuk acara kalian?"
"Katanya sudah, besok Kak Faraz mau bawa aku kesana"
"Padahal kan bisa pakek hotel Amar"
"Orang akan berfikir kami memanfaatkan suami mu" Afsana berkata sembari tertawa.
"Ya engga lah, kalau Kak Faz memang tetap mau bayar ya engga apa apa"
"Engga apa apa, untuk menghindari omongan orang juga"
"Ya deh, terserah kalian aja. Tapi kalau butuh apa apa nanti bilang aja ya, siapa tahu aku bisa bantu"
"Siap Nyonya, Degazi" seru Afsana yg membuat Maryam tertawa geli.
"Aku dengar, Kak Nabil besok pulang" seru Maryam.
"Aku juga dengar dia dekat dengan Maria" balas Afsana.
"Hanya dekat, aunt Shofia engga akan setuju dengan itu"
"Dan Kak Nabil engga akan melakukan apapun yg tak di sukai ibu nya"
__ADS_1
.
.
.
Faraz di kejutkan dengan kedatangan Amar ke kantor nya. Bahkan wajah ipar nya itu tampak kacau.
"Ada apa?" tanya Faraz antara khawatir dan penasaran. Faraz memang selalu tampak tak dekat dengan Amar, tentu saja. Faraz merasa aneh karena klien nya menjadi iparnya, selain itu Faraz masih selalu takut jika mungkin Amar menyakiti Maryam. Namun sejauh ini Amar terlihat memperlakukan Maryam dengan sangat baik.
"Aku... Apa kamu sibuk?" tanya Amar kemudian, Faraz mengernyit bingung. Berfikir ada apa dengan ipar nya ini.
"Engga, kenapa? Perlu sesuatu?" tanya Faraz kemudian ia menutup laptop nya.
"Kita bicara di luar aja, sambil makan siang" Faraz pun mengangguk tanpa bertanya lagi.
Amar menyuruh Bobby pulang, karena ia akan pergi bersama Faraz, sore nanti Amar memerintahkan Bobby untuk menjemput Amar dan Maryam di rumah Faraz.
Faraz membawa Amar ke sebuah restaurant yg tak jauh dari kantor nya.
"Ada masalah sama Maryam?" tanya Faraz, karena Amar terlihat sangat kacau. Mereka memang jarang bertemu karena kesibukan masing masing, kecuali Amar berkunjung kerumah mereka.
"Sebenarnya aku... Beberapa hari yg lalu, aku..." Amar bergerak gelisah, ia masih tak bisa melupakan apa yg sudah ia lakukan walaupun Maryam tampak sudah tak mempermasalahkan itu lagi namun Amar sangat takut jika itu terjadi lagi.
"Kenapa?" tanya Faraz tak sabar, baru kali ini ia melihat ipar nya itu ragu mengatakan sesuatu.
"Beberapa hari yg lalu Maryam pendarahan karena aku engga sengaja dorong dia" ucap nya penuh penyesalan. Faraz yg mendengar itu langsung melotot sempurna, ia mengepalkan tangannya, menahan diri yg sangat ingin meninju Amar.
"Aku tahu aku salah, dan karena itulah aku ingin bicara dengan mu. Aku ingin Maryam tinggal bersama kalian dulu, sampai aku bisa menenangkan diri ku. Aku takut aku lepas kendali lagi"
"Memang apa masalah mu? Kamu selingkuh, huh?"
"Astaghfirullah, Faraz. Engga akan pernah aku selingkuh dari Maryam ku" tegas Amar.
"Terus kenapa kamu sampai mendorong dia? Maryam engga pernah di perlakukan kasar di keluarga kami, jadi tolong jangan kasar sama dia. Kami menyerahkan Maryam pada mu karena kami percaya sama kamu"
"Aku tahu" ucap Amar menunduk.
Amar menceritakan kepada Faraz apa yg membuat dia begitu emosi, tentu saja karena masalah ibu nya yg di ungkit kembali. Dan jujur saja, Amar sebenernya memikirkan perkataan Granny nya yg mengatakan bahwa ayahnya terjatuh sendiri. Amar sangat penasaran dengan fakta itu, ia terus memikirkan hal itu dan terkadang ia tak bisa mengontrol diri. Karena itulah Amar sangat mengkhawatirkan Maryam jika terus ada di samping nya, karena emosi nya sedang tak stabil.
Faraz mencoba memahami kondisi Amar, walaupun jauh dalam hatinya dia sangat marah karena Amar sudah menyakiti adiknya, bahkan sampai pendarahan. Namun coba ia tahan hal itu.
"Jadi?" tanya Faraz setelah Amar selesai bercerita.
"Aku ingin memastikan apa yg di katakan Granny itu benar atau engga"
"Artinya kasus nya harus di buka kembali?"
__ADS_1
"Iya, sebenernya aku ingin menemui nya sekarang dan bertanya langsung padanya" lirih Amar.
Faraz merasa bersimpati pada Amar, terlihat sekali dia tersiksa. Di satu sisi Amar ingin tahu apakah ibunya pembunuh ayahnya atau bukan, namun di sisi lain ia masih tak siap bertemu ibunya apa lagi mengingat bagaimana reaksi nya saat terakhir kali mereka bertemu.
"Ayo, aku akan mengantar mu" ucap Faraz. Amar tampak ragu, namun ia harus segera menyelesaikan hal ini dan memuaskan rasa ingin tahu nya.
Faraz membawa Amar ke penjara dimana ibunya di tahan, Faraz bisa melihat dengan jelas Amar yg tampak sangat gelisah. Ia bahkan berkeringat dan tatapan nya seolah tak fokus.
"Faraz, bisa kamu aja yg masuk? Aku tunggu disini" ujar Amar. Faraz menghela nafas dan menggeleng.
"Ini masalah mu, kamu harus menyelesaikan nya. Lagi pula kamu ingin tahu apakah ibu mu pembunuh ayah mu, jadi kamu harus bertanya sendiri sebagai anak"
Amar berfikir sejenak. Namun kemudian ia turun dari mobil.
.
.
.
Sementara Rossa di beri tahu bahwa ada yg ingin menjenguk nya, Rossa berfikir itu besan nya, karena sejak Maryam tak di perbolehkan menjenguk nya oleh Amar, Asma lah yg sering menjenguk Rossa. Kini kondisi Rossa sudah jauh lebih baik dan ia mulai terlihat terurus.
Namun petugas polisi mengatakan dua orang pria yg ingin bertemu. Rossa mengernyit bingung, dua pria?
Di ruang tunggu, Amar semakin tampak frustasi, ia teringat kembali masa lalu nya saat mereka semua bersama sama hingga berpisah dengan cara yg sangat mengerikan dan tak bisa Amar lupakan.
Rossa sangat terkejut melihat Amar dan Faraz disana, namun rasa senang hinggap di hati Rossa karena anak nya mau menemui nya lagi. Ia melihat ini sebagai harapan baru dalam hidup nya.
Sementara Amar mulai merasa sesak nafas, kepala nya juga terasa sakit dan pusing. Ia masih tak bisa melupakan apa yg menimpa ayah dan adiknya.
"Amar..." Rossa membisikan nama putranya penuh kerinduan. Namun Amar seolah benci mendengar suara itu.
"Apa kamu membunuh Papa?" tanya Amar langsung pada intinya. Rossa tersenyum kecut, dan ia menggeleng.
"Lalu kenapa kamu mengaku bersalah waktu itu?" tanya Amar menahan emosi nya.
"Karena kalian sangat membenci ku, semua nya membenci ku" lirih Rossa dengan air mata yg tak bisa terbendung lagi.
"Dan kami semakin membenci mu setelah kematian Papa" Amar menggeram tertahan. Matanya pun sudah memerah dengan nafas yg tak teratur.
"Karena itulah aku lebih memilih penjara" jawab Rossa.
Amar yg sudah tak kuasa berada di sana segera mengajak Faraz pergi. Ia sama sekali tak menyangka fakta ini, tapi hati kecil nya merasa lega mengetahui fakta itu.
"Mar, kalian kan belum selesai bicara" ucap Faraz.
"Aku engga bisa, Faraz. Aku rasa aku akan pingsan" gumam Amar dan ia memang terlihat tak bertenaga lagi. Sementara ibunya hanya bisa kembali menangis, rupanya kebencian itu telah mendarah daging pada jiwa Amar.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...