
"Sayang, bangun. Sudah subuh" Faraz menepuk Afsana yg masih terlelap, namun istri nya itu tampak nya masih terlalu tenggelam dalam mimpi hingga tak menghiraukan Faraz yg sudah beberapa kali menepuk pipi nya dan membangunkan nya.
"Afsana, ayo bangun, Sayang" Faraz memanggilnya dengan suara yg lebih keras dan itu membuat Afsana dengan susah payah membuka mata nya. Melihat Faraz di samping nya, seketika membuat Afsana membuka matanya lebar dan ia langsung memegang selimut yg menutupi tubuhnya. Faraz tertawa geli melihat reaksi Afsana saat menyadari kondisi dan situasi nya.
"Kak Faraz..."
"Iya, Sayang?" Faraz berkata dengan sangat lembut sembari ia merapikan rambut Afsana yg berantakan dan menganggu wajah wanita nya itu, Afsana tersipu dengan perlakuan mesra Faraz.
"Maaf, Ana kesiangan ya?" tanya nya kemdudian. Faraz menggeleng.
"Engga kok, mandi gih. Kakak sudah siapkan air hangat" Afsana mengangguk namun ia masih tak bergeming dari tempat nya semula.
"Mau kakak bantuin?" tanya Faraz namun dengan cepat Afsan menggeleng. Faraz kembali terkekeh melihat Afsana yg masih malu malu. Faraz kembali menggendong Afsana yg masih membungkus diri dengan selimut, Faraz membawa nya ke kamar mandi.
"Kakak tungguin di luar, kalau butuh apa apa, panggil kakak ya" Afsana kembali mengangguk dan ia segera mengunci pintu setelah Faraz keluar dari kamar mandi.
.
.
.
Maria pergi berbelanja ke sebuah mini market untuk membeli keperluan nya.
Maria mengambil satu kotak susu hamil dan ia melihat harga nya yg bagi nya tak murah, namun Maria tetap membeli nya karena ia ingin anaknya tumbuh sehat.
Dan saat ia hendak membayar nya di kasir, tiba tiba seorang pria meletakkan tiga kotak susu hamil yg sama di kasir.
"Maaf, bisa antri sebentar?" tanya Maria dan ia menoleh pada pria itu. Maria mengerutkan dahi nya menatap lekat lekat pria itu yg tak asing bagi nya.
"Itu milik mu" ucap pria itu dengan suara berat nya, membuat Maria heran apa maksud nya.
"Tidak, aku hanya membeli satu" tegas Maria.
"Itu engga akan cukup, aku yg akan bayar" pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan hendak membayar semua belanjaan Maria.
"Tidak, terima kasih" tegas Maria namun pria itu tak memperdulikannya dan meminta kasir membungkus belanjaan Maria termasuk susu hamil nya. Hal itu mengingatkan Maria pada Faraz yg pernah melakukan hal yg sama.
"Aku akan mengganti uang mu" ucap Maria.
"Tidak perlu" tegas pria itu kemudian ia pergi dari sana tanpa menoleh sedikitpun pada Maria. Maria hanya bisa tercengang, pria itu lebih sesuatu dari Faraz. Lagi pula, siapa dia? Dan apa maksud nya dengan semua ini?
Setelah kasir membungkus belanjaan Maria, Maria dengan cepat mengambilnya dan berlari keluar mencari pria itu. Namun ia tak menemukan nya, membuat Maria penasaran setengah mati.
Dan wajah nya... Wajah nya sangat tidak asing.
"Ya Allah, pertemukan kami lagi, ku mohon"
__ADS_1
.
.
.
Maryam keluar dari kamar mandi dengan rambut yg masih basah, ia melihat Amar yg masih bergelut dengan selimutnya. Maryam berjalan mendekati suami nya dan dengan sengaja menyentuhkan rambut nya yg basah ke wajah suami nya, membuat Amar menggeram namun ia masih menutup mata nya. Maryam kembali menggoda nya dan itu membuat Amar langsung menarik Maryam hingga terjatuh menimpa tubuh nya.
"Ada apa, Sayang? Kamu menggoda ku, hm?" Amar mengecup pipi Maryam berkali kali dan semakin menekan tubuh Maryam ke tubuh nya.
"Sudah siang, kamu engga kerja?" tanya Maryam sembari ia mengecup hidung Amar yg mancung.
"Engga, aku capek" bisik Amar "Apa usaha kita tadi malam akan membuahkan hasil?" tanya nya yg membuat Maryam mengulum senyum.
"Kita berdoa saja, Sayang" ucap Maryam lembut.
"Aku selalu berdoa, I really want a baby" seru nya masih memeluk Maryam dan kembali mengecup sudut bibir Maryam "Aku sudah berusaha keras lho semalam" Maryam tertawa geli dengan tingkah suaminya ini.
"Kita serahkan aja semuanya sama Allah, doa udah, usaha udah. Ya kan? Allah akan memberikan apa yg kita butuhkan bukan apa yg sekedar kita inginkan, dan Allah akan memberikan nya di waktu yg tepat" tutur Maryam panjang lebar mencoba menghibur suami nya itu yg sudah sangat menginginkan seorang Baby.
Amar mengangguk, membelai dengan lembut pipi sang istri yg masih lembab karena habis mandi.
"Kamu masih sangat muda, maaf jika aku malah ingin anak, padahal kamu juga masih kuliah. Apa aku egois?" bisik nya.
"Engga" jawab Maryam meyakinkan "Ummi juga masih sangat muda dan masih sekolah saat hamil Kak Faraz, tapi Ummi tetap bisa menjadi ibu yg baik. Dan Kehadiran seorang anak akan semakin memperkuat cinta kita, jadi sama sekali engga egois, Sayang. Aku juga menginginkan nya"
"Anak engga akan jadi penghalang untuk itu, Inysa Allah. Anak itu anugerah"
"Aku sangat beruntung mendapatkan mu, Maryam. Aku mencintai mu"
"Aku juga mencintai mu" balas Maryam.
Amar menatap Maryam dengan begitu intens, dan ia mendekatkan wajah nya hendak mencium Maryam namun suara ketukan di pintu kamar nya membuat aksinya itu terhenti.
"Tuan, Nyonya... Ada tamu" terdengar suara teriakan Fifi dari luar kamar nya.
"Apa, Fi?" teriak Amar dengan kesal.
"Sshht, jangan kasar begitu" bisik Maryam sembari melapaskan diri dari pelukan Amar kemudian ia berjalan membuka pintu.
"Siapa, Fi?" tanya Maryam setelah membuka pintu.
"Katanya Tuan Nabil, Nyonya" seru Fifi.
"Oh, Kak Nabil. Itu kakak sepupu ku, Fi. Sebentar lagi bilangin aku turun ya"
Fifi mengangguk dan meninggalkan Maryam.
__ADS_1
"Kak Nabil di bawah" seru Maryam kemdudian ia berjalan ke meja rias dan mengeringkan rambut nya.
"Ya udah, aku mandi sebentar" jawab Amar merangkak turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.
Di bawah, Nabil cukup takjub dengan besar nya rumah suami adik nya itu.
Granny Amy menemui Nabil dan mengobrol beberapa hal. Bagi Granny Amy, Nabil tak jauh berbeda dari Faraz, beradab, berbicara dengan sopan dan selalu menyunggingkan senyum. Membuat Granny Amy merasa sangat nyaman berbicara dengan Nabil.
Tentu saja, satu kaum.
Sementara pelayan sudah menyajikan minuman segar dan cemilan untuk Nabil.
Tak lama kemudian Maryam datang bersama dengan Amar.
"Udah lama, Kak?" tanya Maryam sembari duduk di sofa berdampingan dengan Amar.
"Engga kok, Dek" jawab Nabil "Tadi kebetulan lewat sekitar sini, terus mampir"
"Ya, sering sering mampir kesini, mumpung kamu lagi di Indo" sambung Amar yg langsung di angguki Nabil.
"Ngomong ngomong, aku fikir CEO itu jam segini sudah ada di kantor" seru Nabil.
"CEO juga mau libur dan menghabiskan waktu bersama istri" ucap Amar sembari melingkarkan tangannya di pundak Maryam.
Nabil yg melihat itu tersenyum lebar, kedua adik perempuan nya telah mendapatkan pasangan yg ideal, yg mencintai mereka dan siap memberikan apapun untuk mereka.
Kemudian mereka mengobrol, dan Granny Amy yg lebih banyak berbicara dengan Nabil, menanyakan apa yg Nabil lakukan, kenapa tidak tinggal di Indonesia dan sebagai nya.
"Bagaiamana dengan calon istri?" tanya Granny Amy yg langsung membuat Nabil mengulum senyum samar.
"Paling belum ada" Maryam menjawab nya karena kakak sepupunya maupun tante nya tidak pernah membicarakan pasangan untuk Nabil, apa lagi Nabil yg terus fokus pada pendidikan ke dokteran nya.
"Ada" jawan Nabil yg membuat Maryam terkejut.
"Benar kah? Siapa?" tanya Maryam antusias.
"Seseorang" jawab Nabil seolah penuh misteri.
Maryam terus menanykan siapa wanita itu, namun Nabil masih enggan memberi tahu nya, Maryam juga menanyakan apakah orang Indonesia apa orang Arab, dan sekali lagi Nabil membuat nya menjadi sebuah misteri yg membuat Maryam menjadi gregetan sendiri.
"Yg penting wanita itu bisa jadi makmum yg baik buat Kak Nabil"
"Inysa Allah, dia wanita yg baik"
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1