Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 8


__ADS_3

Setelah mengantar Maria pulang hingga ke depan rumahnya, Sarfaraz segera pulang karena ia yakin ibunya pasti menunggu nya.


Meskipun Faraz sudah menghubungi ibunya dan mengatakan ia akan pulang terlambat karena mengantar teman nya kerumah sakit, tapi Faraz tahu ibunya itu tak akan tidur sampai Faraz datang.


Dan benar saja, sesampainya dirumah, Faraz melihat ibunya yg sedang menonton TV.


"Assalamualaikum, Ummi" ibu nya segera mendongak mendengar suara putra nya dan seketika ia bernafas lega.


"Waalaikum salam, Faraz"


"Kenapa Ummi engga tidur aja? Kan udah Faraz bilangin Faraz engga akan kenapa napa"


"Seorang ibu engga aka tenang sampai dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa anak nya baik baik saja" sambung ayahnya yg baru saja keluar dari dapur dan membawa cemilan.


"Abi juga engga tidur?"


"Abi mana bisa tidur kalau Ummi engga bisa tidur" Faraz mengulum senyum dengan kekompakan kedua orang tua nya.


"Ya udah, sekarang Abi sama Ummi harus tidur. Ini sudah malam, Faraz engga mau Abi sama Ummi sakit"


"Kamu juga ya, jangan begadang" pinta Ummi nya sembari mengusap ngusap pipi Faraz. Faraz menangkap tangan Ummi nya dan mencium nya dengan kasih sayang. Bagi Faraz, anugerah terbesar dalam hidup nya adalah memiliki Asma Azzahra sebagai ibunya, wanita yg penuh kasih sayang, berhati lembut dan perhatian pada siapa saja.


"Iya, Ummi"


.


.


.


Berkat Faraz yg membuat sketsa para tersangka dengan sangat baik, membuat polisi bisa dengan mudah mencari pelaku, dan terkuak pula bahwa sudah banyak korban dari ketiga penjahat itu, dimana korban nya ke banyakan adalah wanita yg pulang malam, dengan berkedok sebagai sopir taksi, tentu sangat mudah bagi mereka untuk menjebak korbannya, namun tak ada yg berani melapor karena korban di ancam.


"Pak..." panggil Maria yg sejak tadi berdiri di belakang Faraz "Mereka mengambil jam tangan ku, bisakah Pak Faraz tanyakan pada mereka dimana jam ku? Itu jam tangan ibu ku"


"Apa ada barang barang milik Maria bersama pria pria itu?" tanya Faraz pada polisi yg menangani kasus itu.


"Iya, ada beberapa barang, tas, ponsel, uang dan juga perhiasan. Kami menyimpan nya sebagai bukti"


"Bisa kami melihat nya? Dia sangat menyayangi jam tangan yg mereka ambil" pinta Faraz, polisi itu tampak berfikir sejenak namun kemudian mengangguk.


Ia memperlihatkan barang barang yg mereka sita, dan Maria segera mengambil jam tangan nya yg ada bersama sama barang barang yg lain nya.


"Bolehkan saya membawa nya?" pinta Maria dengan wajah memelas.


"Tentu, kalian sudah membantu kami. Kami sangat berterima kasih" ucap pria itu.


Setelah itu, Faraz segera membawa Maria keluar dari kantor polisi dan hendak kembali ke kantor nya karena hari sudah sore.


"Jika sampai ada pria yg melecehkan mu, maka salah nya bukan hanya di pria itu, tapi juga di kamu, Maria" Faraz berkata dengan sedikit kesal mengingat bagaimana Maria berpakaian malam itu.


"Maksud nya?" tanya Maria tak mengerti.


"Kamu pertontonkan tubuh mu, itu sama saja kamu mengundang mereka untuk menikmati tubuh mu"


"SARFARAZ!" bentak Maria yg merasa di rendahkan dengan kata kata Faraz "Apa hak mu berbicara seperti itu? Waktu itu aku di luar jam kantor, dan aku bebas berpakaian seperti apapun yg aku mau. Kamu engga berhak mengomentari aku seperti itu"


"Dan lihat hasil nya..." balas Faraz juga marah.


"Itu salah mereka yg kurang ajar, engga bisa menghargai wanita" Maria berkata dengan nada tinggi, ia tak menyangka Faraz seolah menyalahkan dirinya.

__ADS_1


"Jika wanita bisa menghargai dirinya sendiri, maka pria akan lebih menghargai nya. Setidaknya berusahalah menjaga kehormatan mu dengan menutupi tubuh mu. Apa kau tahu, untuk menikmati tubuh seorang wanita, seorang pria tak perlu langsung menyentuhnya, mereka juga bisa melakukan nya lewat mata dan menikmatinya dalam benak mereka, dan jika itu terjadi mereka bisa bertindak secara fisik. Karena itulah akan lebih baik kalau kamu menutup tubuh mu, supaya tidak jadi tontonan para pemuja nafsu"


"Itu sama saja mengekang kebebasan seorang wanita, Pak. Wanita seharus nya bebas berpakaian seperti yg mereka suka" tutur Maria yg masih tak setuju dengan penuturan Faraz.


Seketika Faraz langsung menginjak rem membuat Maria terkejut.


"Ayo kita makan, sejak tadi siang kita belum makan" ucap Faraz yg membuat Maria mengernyit, seperti nya sedetik yg lalu mereka sedang berdebat panas, dan sekarang apakah dia lapar?


Sebelum turun dari mobil, Faraz mengeluarkan kantong plastik warna putih yg transparan, kemudian ia memasukan uang dan ponsel nya ke dalam plastik itu membuat Maria semakin kebingungan dengan tingkah bos nya ini.


"Ayo" seru Faraz hendak turun membawa plastik yg berisi uang dan ponsel nya itu.


"Tunggu, Pak. Kau mau membawa uang begini?" tanya Maria heran. Faraz mengangkat plastik itu dan mengangguk dengan polos "Pak, itu sama saja mengundang copet untuk mengmbil uang dan ponsel mu" ujar Maria, Faraz menatap Maria dengan menaikan sebelas alis nya.


"Terserah aku dong, aku bebas membawa uang dan ponsel ku dengan cara yg aku suka"


"Tapi nanti Pak Sarfaraz juga yg rugi kali" jawab Maria tak habis fikir.


"Tepat sekali, Maria" ucap Faraz tegas "Seperti uang dan ponsel ini yg berharga, maka kita harus menyimpan nya dengan baik baik dan tidak memberikan kesempatan pada orang lain untuk memgambil nya, apa lagi wanita. Wanita di berikan aturan berpakaian bukan untuk mengekang, tapi untuk menjaganya dan jika wanita tak bisa menjaga diri dengan alasan kebebasan, maka dia juga yg rugi. Apa kau faham?"


Maria tak bisa menjawab, ia hanya tercengang. Sudah dua kali Faraz membalas argument nya dan membuat ia speechless dengan hal hal yg alami, sederhana, dan masuk akal.


"Sudah ayo cepetan turun, aku sudah lapar" seru Faraz kembali memasukan uang ke dalam dompet dan ponsel nya ke dalam saku nya.


.


.


.


"Kita pernah bertemu sebelum nya, kau ingat?" Maryam melayani tamu yg tak biasa, Granny Amy. Entah apakah nenek Amar itu hanya kebetulan saja atau sengaja datang ke restaurant nya, Maryam tak tahu. Tapi ia menyembut wanita lansia itu dengan sangat ramah. Membuat Granny Amy langsung menyukai Maryam.


"Panggil saja Granny, semua orang memanggil ku begitu"


"Baiklah, kau mau pesan apa, Granny?"


"Menu yg paling istimewa, dan ya dua porsi ya"


"Baiklah, mohon tunggu sebentar"


Selagi menunggu pesanan, Granny Amy memeperhatikan sekelilingnya, tempat itu cukup ramai, dan sepertinya menjadi teman makan untuk keluarga karena sebagian dari yg dia lihat disana adalah sebuah keluarga. Dan ia juga melihat pelayan nya adalah gadis gadis muda dan semuanya mengenakan busana muslimah dan tanpa riasana di wajah nya seperti gadis gadis pada umumnya.


Maryam datang dan menyajikan dua porsi makanan di meja Granny.


"Tolong temani Granny makan ya"


"Hah?" Granny Amy tertawa cekikikan dengan reaksi Maryam yg sangat menggemaskan apa lagi dengan mata yg melotot sempurna.


"Kenapa kaget gitu, Granny engga kuat kalau harus makan dua porsi"


"Tapi saya fikir..."


"Granny memang ingin makan dengan mu"


"Nenek sama cucu sama aja" batin Maryam merasa heran. Apa lagi ia sama sekali tak mengenal nenek nenek cantik di depan nya ini. Dan walaupun dia nenek nenek, tapi penampilannya glamour, bahkan ia memakai tas hermes asli, jam rolex asli, lengkap dengan busananya yg bermerk kelas sosialita.


"Tapi kenapa saya..."


"Ayolah, Maryam. Kalau kamu bisa menemani Amar makan, kenapa engga dengan nenek nya" tutur Granny Amy yg membuat Maryam langsung merasa malu dan tak nyaman.

__ADS_1


"Baiklah" ucap nya pada akhir nya dan ia segera duduk di hadapan nenek Amar itu.


"Jangan terlalu canggung, anggap saja aku di ini nenek mu, jujur saja kamu mengingatkan ku pada Amora. Cucu perempuan ku yg sudah meninggal"


"Allahummaghfirlahaa" gumam Maryam dan granny Amy yg mendengar itu tersenyum.


"Ayo kita makan, sebelum makanannya dingin" ujar sang nenek, dengan sedikit perasaan ragi, sungkan dan merasa ada yg aneh, Maryam pun mulai menyantap makanannya "Oh ya, pekerja di sini gadis muda semua"


"Oh ya, mereka mahasiswi yg butuh pekerjaan sampingan"


"Semua nya?" Maryam mengangguk


"Maryam ingin membantu teman teman Maryam yg membutuhkan pekerjaan"


"Jam berapa tutup nya restaurant ini"


"Hanya sampai jam 7, Granny. Supaya mereka masih punya waktu untuk istirahat dan belejar"


"Mulai sekali hati mu, Nak"


"Itu ide Ummi, dia yg meminta Maryam untuk menawarkan pekerjaan pada teman teman yg membutuhkan uang di kampus"


"Jika ibu mu semulia itu, pasti dia akan menurunkan kemuliaan itu pada mu"


Maryam hanya tersenyum tipis mendengar pujian nenek Amar dan ia tak tahu cara menanggapi orang yg memuji nya selain menyunggingkan senyum.


"Oh ya, jika ada waktu, mampir lah kerumah. Kita bisa mengobrol"


"Maryam engga bisa janji" ucap Maryam dengan senyum penyesalan. Ia tak di izinkan pergi kerumah seorang pria oleh orang tua nya.


"Kenapa? Aku lihat kamu berteman dengan Amar"


"Hanya berteman, itu saja"


"Apa dia menceritakan sesuatu pada mu?"


Maryam menggeleng. Karena Amar memang sangat tertutup. Ia tak pernah menceritakan kehidupan pribadinya, yg Maryam tahu hanya lah seluruh keluarga Amar sudah meninggal, hanya nenek nya yg ia miliki sebagai keluarga.


"Jujur saja, Maryam. Sejak bertemu dengan mu, Amar banyak berubah. Dia mulai bisa tersenyum, matanya pun seolah memancarkan kehidupan. Dimana sebelum nya dia selalu berada dalam kegelapan"


"Mungkin karena ia terpukul kehilangan seluruh keluarga nya, Granny. Amar bilang kedua orang tau nya dan adiknya meninggal. Mungkin dia hanya belum bisa menerima kenyataan itu"


"Kau benar, Nak. Amar sangat mencintai adik nya, Amora. Sehingga saat kehilangan nya dia begitu terpukul. Tapi yg membuat dia berada dalam kegelapan bukanlah kesedihan itu, melainkan kebenciannya"


"Maksud nya?"


"Kebencian pada ibunya" Granny Amy berkata dengan sangat sedih


"Maryam juga bisa melihat itu dimata nya, dia seperti memendam sesuatu yg pahit pada ibu nya. Tapi untuk apa membenci orang yg sudah meninggal? Kebencian itu hanya akan menjadi beban dalam hidup"


"Ibu nya masih hidup, Maryam"


"A.. Apa?" Maryam bertanya seolah ia salah dengar "Tapi Amar bilang..."


"Ya bagi Amar, ibunya memang sudah mati"


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2