
Sesampai nya di pantai, anak anak itu langsung bermain sesuka hati mereka. Dari bermain pasir, kejar kejaran dan yg lain nya. Kecuali Aksahara yg duduk diam sambil menonton video Khair dari ponsel yg Khair berikan. Maryam pun menemani putri nya itu.
Sedangkan Afsana dan Faraz malah sibuk mengenang masa lalu mereka.
"Kalau di pantai gini, Ana jadi ingat waktu kita di Turkey" ujar Ana yg berjalan bergandengan tangan bersama Faraz di pinggir pantai.
"Kakak juga, jadi kangen masa masa bulan madu kita" ujar Faraz "Gimana kalau kita kesana lagi? bulan madu kedua"
"Terus yg jaga anak anak?"
"Ya bawa aja"
"Itu nama nya liburan keluarga, bukan bulan madu" ucap Afsana sambil terkekeh dan Faraz pun merengkuh pinggang Afsana dan mengecup pipi nya.
"Terima kasih, sudah membuat hidup ku sempurna"
"Kembali kasih, Karena sudah membuat hidup ku begitu indah"
Tak lama setelah itu, Nabil dan keluarga kecilnya datang menyusul dan dan Khair juga ikut yg membuat Aksahara senang. Hafsah langsung bergabung bersama saudara saudara nya yg lain.
"Dimana Amar?" tanya Nabil yg melihat Maryam tak bersama suami nya.
"Katanya ada pekerjaan penting jadi pergi ke kantor sebentar. Nanti juga nyusul" jawab Maria.
"Si Faraz sama Afsana malah pacaran" gumam Nabil yg membuat Maria dan Maryam terkekeh.
"Kalau kalian mau pacaran ya engga apa apa. Biar aku yg jaga Maheer" saran Maryam.
"Pacaran sambil bawa anak justru lebih indah" jawab Nabil kemudian ia membawa Maheer ke tepi pantai dan mereka berdua main kejar kejaran yg segera di susul Maria karena takut pura nya jatuh.
"Ada apa, Khair?" tanya Maryam yg melihat Khair melamun. Khair hanya menggeleng dan di balik cadar nya ia mengulum senyum tipis.
"Masa lalu adalah masa lalu, Khair. Kita tidak melangkah mundur jadi fokus kita adalah ke depan, bukan ke belakang" tutur Maryam yg seolah tahu apa yg Khair fikirkan.
"Beruntung sekali Ummi bisa berada di antara kalian" ucap Khair dengan mata yg berkaca kaca apa lagi mengingat foto foto yg ia temukan di rumah ayah nya. Ibu dan ayah nya adalah orang dengan pergaulan bebas dan itu membuat Khair sangat sedih dan merasa kecewa.
"Bukan kami, Nak" ucap Maryam sambil membelai kepala Khair "Allah menyayangi ibu mu, dan jangan lihat masa lalu nya" Khair hanya menanggapi nya dengan senyum tipis.
Setelah itu, mereka dikagetka dengan Al dan Ezra yg datang. Mereka langsung membuat heboh, berteriak dan berlarian juga mengganggu adik adik mereka.
"Maaf terlambat, sayang" ucap Amar sambil mengecup pipi Aksahara yg masih asyik dengan ponsel nya. Kemudian beralih mengecup pipi Maryam dan kemudian duduk di samping mereka.
"Memang nya ada pekerjaan apa?" tanya Maryam.
"Hanya menemui beberapa orang. Oh ya, aku kesini sama Abi dan Ummi"
"Oh ya? tumben" ucap Maryam.
"Tadi aku jemput Al, terus Abi mau ikut juga katanya pengen ngajak Ummi"
"Mereka dimana?" tanya Maryam
"Di sana..." Amar menunjuk ke belakang. Khair mengikuti kemana arah Amar menunjuk dan ia pun hendak pergi.
__ADS_1
"Mau kemana, Khair?" tanya Maryam.
"Mau ketemu Nenda sama kakek" ucap Khair dan Maryam pun mempersilahkan.
Kini tinggal Amar, Maryam dan Aksahara. Maryam dan Amar mengajak Aksahara mengobrol walaupun hanya di tanggapi dengan singkat. Amar juga mengobrol dalam bahasa Urdu dengan Akhsara yg membuat Maryam pura pura ngambek karena tidak mengerti. Aksahara pun mencoba menghibur ibu nya itu dengan mencium pipi nya berulang kali begitu juga dengan Amar. Dan itu seperti nya membuat Aksahara senang.
Khair mencari Bilal dan Asma, ia mendapati Bilal dan Asma yg duduk di sebuah kursi sambil menikmati es kelapa. Khair pun bergabung bersama mereka.
"Kamu engga main sama adik adik mu?" tanya Asma dan Khair menggeleng.
"Ada apa? Ada yg menganggu mu?" tanya Bilal yg melihat pandangan Khair seperti berkaca kaca. Khair kembali menggeleng. Membuat Asma dan Bilal bingung.
"Kalau ada sesuatu, ceritakan saja kami akan mendengar" bujuk Asma.
Khair menarik nafas dan kemudian mengucek mata nya dengan ujung hijab nya.
"Apakah seorang anak berdosa kalau kecewa pada orang tua nya?" tanya Khair tiba tiba dengan suara yg tercekat. Asma dan Bilal saling pandang, mereka sudah tahu dari Nabil kalau sejak setahun yg lalu Khair sudah tahu jati dirinya. Tapi Nabil bilang Khair bisa menerima itu.
"Kenapa? apa kamu kecewa dengan Abi dan Ummi mu?" tanya Asma dengan suara rendah.
"Khair tau semuanya, Nenda" ucap Khair "Bukan hanya tentang Khair yg anak haram, tapi... Tapi Khair juga tahu kalau Ummi dan ayah kandung Khair itu adalah orang dengan pergaulan bebas. Khair kecewa" tutur Khair sambil mengusap air mata yg lolos dari sudut mata nya.
Bilal dan Asma terperangah mendengar ucapan Khair, mereka kira Maria yg mengatakan itu.
"Apa ibu mu yg bilang begitu?" tanya Asma dan Khair menggeleng.
"Khair tahu karena di rumah nenek Sintia ada foto foto Ummi sama ayah kandung Khair dan juga teman teman yg lain. Mereka di club dengan pakaian terbuka...." ucap Khair dengan suara tercekat, ia merasa kecewa karena ternyata hidup ibu nya berbeda dari ekspektasi Khair. Khair kira ibu nya wanita baik baik karena itulah ia bisa menikahi pria seperti Abi nya dengan background yg sangat baik.
"Itu hanya masa lalu, Sayang" lirih Asma dan ia merengkuh Khair yg menangis. Asma berfikir Khiar pasti sangat kecewa dengan kenyataan itu.
"Lalu apa yg membuat mu kecewa?" tanya Bilal.
"Karena Khair dan ibu berbeda dengan Abi dan yg lain nya. Selama in Khair kira ibu berasal dari keluarga seperti keluarga Abi, tumbuh di lingkungan seperti lingkungan Abi. Tapi ternyata..." Khair kembali terisak. Ia merasa sangat berbeda.
"Ssshht, Sayang. Jangan bicara seperti itu..." ucap Asma. Ia melepaskan pelukan nya. Mengusap kepala Khair dengan sayang.
"Di sini engga ada yg berbeda. Kita semua sama, dan lahir serta tumbuh dimana itu bukanlah pilihan, itu adalah takdir. Tapi kita tumbuh seperti apa dan akan jadi apa, itu adalah pilihan. Dulu Ibu mu memang salah jalan tapi karena memang dia tidak tahu saat itu bahwa jalan yg dia pilih salah. Dan setelah tahu yg mana yg benar dan salah, ibu mu tanpa ragu memilih jalan yg benar. Jangan ungkit masa lalu ibu mu yg sudah dia kubur, nak. Dia berjuang keras untuk sampai pada perubahan ini" jelas Asma panjang lebar, berharap gadis remaja ini mengerti dan menanggapi positif apa yg Asma jelaskan.
"Dan satu hal lagi, Khair..." Bilal menimpali "Di dunia ini engga ada anak haram, semua anak terlahir suci. Yg haram itu perbuatan orang tua nya bukan anak nya. Jadi jangan berkecil hati, ya? Toh ibu mu juga sudah bertaubat. Mungkin orang memang akan memandang identitas mu, mungkin juga orang akan menjadikan itu bahan omongan. Tapi Allah tidak akan memandang identitas, yg Allah pandang itu taqwa mu pada Nya. Jadi sekarang katakan, pandangan siapa yg lebih penting? Khaliq atau makhluq? "
Khair terdiam sejenak, ia memandang kakek dan nenek muda nya ini sebelum akhir nya dengan suara lirih ia menjawab "Khaliq".
"Anak pintar" ujar Bilal sambil tersenyum dan juga mengusap pucuk kepala Khair dengan sayang. Di balik cadar nya Khair juga tersenyum. Akhir nya sekarang ia merasa lega setelah beberapa hari ini menyimpan unek unek nya dalam hati.
"Tapi, bukankah kita selalu di beri tahu bahwa jodoh kita adalah cerminan diri karena itulah kita harus selalu memperbaiki diri?" tanya Khair lagi "Lalu bagaimana bisa pria seperti Abi mendapatkan wanita seperti Ummi...em maksud Khair seperti Ummi yg dulu" lanjut nya yg membuat Bilal dan Asma terkekeh.
"Tuhan itu selain adil, dia juga maha tahu dan maha benar. Apapun rencana nya, takdir nya, ketentua nya, pasti benar. Coba lihat Afsana dan Faraz..." Khair pun memandangi Afsana dan Faraz yg masih bergandengan tangan seperti orang pacaran.
"Mungkin itu contoh jodoh adalah cerminan diri. Dan itu adil kan? yg sholeh untuk yg sholehah" Khair tersenyum dan ia membenarkan apa kata Bilal. Afsana dan Faraz sudah tak di ragukan lagi bahwa mereka adalah pasangan yg sholeh sholehah.
"Dan lihat ibu mu dan keponakan ku, Nabil. Orang tua yg sudah mendidik mu selama ini..." Khair pun kini memperhatikan Ummi dan Abi nya yg sedang bermain bersama adik bungsu nya. Mereka tampak sangat bahagia "Mungkin kita berfikir Allah tidak adil kalau Nabil mendapatkan Maria versi dulu. Tapi Allah tahu, bersama Nabil Maria akan menjadi wanita yg sholehah bahkan lebih sholehah dari pada yg Nabil harapkan. Apa kamu setuju?" tanya Bilal. Sementara Asma hanya menyimak dengan seksama percakapan suami nya dan Khair.
Khair terdiam dan mengingat kembali bagaiamana Maria berperan sebagai istri dan ibu.
__ADS_1
"Ummi adalah ibu dan istri yg baik, dia selalu mementingkan kami sebelum diri nya. ummi juga engga pernah melangkah keluar rumah tanpa izin Abi. Ummi sangat berbakti pada Abi"
"Dan juga anakku yg lain, Khair. Maryam dan Amar. Mereka juga berbeda, bukan hanya background keluarga nya tapi juga karakter nya"
"Benarkah?" tanya Khair tak percaya karena selama ini ia melihat Maryam dan Amar adalah pasangan yg sangat serasi dan tak terlihat perbedaan apapun.
Khair memandingi Maryam dan Amar yg sedang bermain bersama Aksahara dan mereka tampak seperti keluarga kecil yg saling menyempurnakan.
"Yupz. Perbedaan mereka jauh lebih besar di bandingkan perbedaan antara Nabil dan Maria"
"Tapi bagaiamana bisa mereka berjodoh dan hidup bersama dengan 4 orang anak jika perbedaan mereka sebesar itu?"
"Itu yg nama nya takdir. Dan takdir itu dari Allah, Allah itu maha tahu, maha benar, dan maha adil" Khair masih mencoba mencerna apa saja yg sudah di katakan Bilal. Ia memperhatikan ketiga pasang suami istri itu.
Dan apa yg Bilal katakan memang tidak salah. Ketiga pasang suami istri itu memang memiliki kisah nya masing masing dan apapun kisah mereka, pada akhir nya mereka kembali pada yg nama nya takdir dan ketentuan dari sang penulis takdir. Dan apapun takdir serta ketentuan itu, itu pasti benar dan adil.
"Terima kasih banyak, kakek, Nenda. Sekarang Khair engga akan lagi melihat masa lalu Ummi atau pun menyesali bagaimana Khair lahir ke dunia ini. Khair hanya akan fokus pada masa depan Khair"
"Itu bagus, Sayang" sambung Asma "Dan kamu adalah seorang wanita, dimana suatu hari nanti kamu akan jadi makmum dari imam mu. Jadi teruslah memperbaiki diri dan menyiapkan diri menjadi makmum yg terbaik bagi imam mu nanti. Sehingga kamu bisa mendapatkan imam yg baik atau jika tidak, maka kamu bisa membantu imam mu menjadi pria yg jauh lebih baik dari apa yg pernah kamu harapkan"
Khair tersenyum dan mengangguk dengan mata yg berbinar. Khair pun berlari menghampiri adik adik nya dan ia ikut bermain. Khair juga menarik Aksahara dan memaksa nya bergabung degan mereka. Walaupun awalnya enggan, namun akhirnya Aksahara mau dan mereka bermain bersama.
Asma dan Bilal yg memperhatikan hal itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka.
Asma pun duduk lebih dekat dengan Bilal dan bersandar di pundak sang suami.
"Jadi gitu..." gumam Asma.
"gitu apa nya?" tanya Bilal kemudian mengenggam tangan Zahra nya dan mengecup nya.
"Semua yg terjadi akan berakhir indah" lanjut Asma dan kini ia yg mencium tangan Bilal.
"Pasti, Sayang"
"Dulu aku juga berfikir semua yg terjadi dalam hidup ku bener bener engga adil" lirih nya kemudian.
"Maaf" bisik Bilal yg membuat Asma langsung mendongak dan menatap nya.
"Kenapa?" tanya Asma "Kata nya apapun yg terjadi adalah takdir dan ketentuan dari Allah, dan Allah pasti adil dan bener" Bilal terkekeh karena ia merasa Asma malah mengembalikan ucapan nya pada nya tapi itu memang benar.
"Yaaaa bener sih" jawab Bilal.
"Terus ngapain masih minta maaf. Kan udah takdir nya begitu" goda Asma yg membuat Bilal garuk garuk kepala.
"Ya aku kan pernah nyakitin kamu"
"Mungkin ketentua Allah memang begitu, jadi mau engga mau mungkin kamu memang di takdirkan nyakiti aku. Jadi engga usah minta maaf juga kali. Percuma juga, udah lewat" ucap Asma ketus.
"Ekhem..." Bilal hanya bisa berdeham dan hal itu membuat Asma tertawa geli.
"Ustadz pun akan diam ya kalau istri udah bicara. Engga tahu mau jawab gimana lagi" gumam Bilal pada akhirnya yg membuat Asma semakin terkikik.
"Tapi memang benar sih, pada akhirnya semua nya akan tampak adil dan benar" gumam Asma.
__ADS_1
Asma dan Bilal memperhatikan keluarga besar mereka yg tampaknya sangat bahagia. Mereka hanya berharap kebahagiaan itu takkan pernah hilang sampai kapan pun.
......TAMAT......