Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 21


__ADS_3

Seperti biasa, keluarga Bilal selalu sarapan bersama sebelum memulai aktifitasnya masing masing.


Asma yg duduk di samping kanan suami nya memperhatikan putra putri nya yg duduk di depan nya, masih tak habis fikir bagaimana kedua nya bisa menyukai orang yg sama sekali jauh dari kriteria menantu idaman Asma.


Untuk menantu perempuan, tentu saja wanita seperti Afsana atau Laila menjadi kriteria menantu idaman, dan untuk menantu laki laki, Asma berharap mendapatikan menantu seperti Rayhan keponakan Bilal, atau Rafa keponakan nya sendiri. Atau setidaknya seseorang yg mengerti agama dan taat pada perintah Tuhan nya.


Tapi putra putri nya?


Dan sekarang putra putri nya itu bisa makan dengan santai nya, sementara Asma bahkan tak bisa tidur karena memikirkan masa depan anak anak nya jika mereka bersikeras mendapatkan cinta nya seperti ayahnya dulu.


"Ada apa, Sayang?" Asma sedikit tersentak merasakan sentuhan di pundak nya. Ia menyunggingkan senyum samar pada suami nya itu dan menggeleng.


"Ummi sakit?" tanya Faraz karena melihat wajah Ummi nya itu tampak berbeda.


"Engga" jawab Asma pelan "Faraz, kenapa kamu engga memberhentikan Maria saja dari kantor mu? Biar dia bekerja di restaurant" tanya Asma yg tak ingin anaknya semakin tenggelam pada perasaan nya jika ia terus berada di dekat Maria.


"Ummi, dia lagi butuh uang, buat bayar kuliah dan mencukupi kebutuhan hidup nya, sementara ayahnya engga kerja, jadi gaji di restaurant pasti engga akan cukup" jawab Faraz tenang.


"Kak Faz perhatian banget sama Maria, suka ya?" tuduh Maryam terlihat tak menyukai hal itu. Sebagai teman, Maria memang sangat menyenangkan bahkan Maryam pun suka berteman dengan nya, tapi jika sebagai istri Faraz? Maryam rasanya takkan setuju, ah tentu saja, lagi pula Faraz takkan mungkin memperistri seorang gadis ateis.


Mendengar tuduhan adik nya yg benar itu Faraz hanya melirik Maryam dan berkata.


"Kamu tuh yg engga seharusnya suka sama orang seperti Amar, hidup di sekitar dia itu bahaya tau" gerutu Faraz "Apa lagi dengan banyak nya wanita yg menggoda nya, bakalan buat kamu nangis terus nanti"


Maryam menunduk, ia tak tahu apakah ia menyukai Amar atau tidak, yg ia tahu, ia tak suka membayangkan ada wanita lain di sekitar Amar, ia sering meng khawatirkan Amar dan terus memikirkan keadaan nya.


"Siapa bilang Maryam suka dia" jawab Maryam pada akhirnya karena ia sadar ia belum mengkonfirmasi apapun pada siapapun.


"Tatapan mu itu yg bilang" sambung ayah mereka yg sekali lagi membuat Maryam menunduk.


"Ya, ini resiko terjun ke dunia bebas dan beriteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan" ujar Asma "Dulu hidup Ummi cuma di lingkungan keluarga dan sekolah, jadi hidup Ummi aman" lanjut nya.


"MAAF, UMMI" ucap Maryam dan Faraz bersamaan.


"Kenapa kakak minta maaf?" tanya Maryam karena ia merasa Faraz belum melakukan hal yg mengecewakan Ummi nya.


"Bukan urusan mu, Nyil. Sebaiknya kamu kembali kuliah" ujar Faraz dan segera menyelesaikan sarapan nya.


"He'em" gumam Maryam malas.


Bilal dan Asma hanya bisa geleng geleng kepala. Kemudian mereka segera menyelesaikan makan nya dan melanjutkan akitifitas masing masing.


.


.


.


Sementara itu, Afsana sedang membereskan kamarnya dan ia menyusun baju baju nya di lemari. Namun dengan sengaja ia memisahkan semua barang barang yang di berikan Faraz untuk nya sejak kecil. Dari pakaian, sepatu, tas buku dan sebagai nya. Karena setiap kali Faraz membelikan sesuatu untuk Maryam, maka Faraz juga akan membelikan nya untuk Afsana. Sehingga sudah tak terhitung berapa banyak barang yg ia miliki dari Faraz dan tentu kembaran dengan Maryam.


"An...!"


"Ana..." terdengar suara ayahnya dari bawah, Afsana pun segera menyelesaikan aktfitasnya.


"Iya, Bi" jawab Afsana dengan suara lembut nya. Ia pun segera berlari turun dan menghampiri Abi nya di meja makan.


"Kamu engga sarapan, Sayang?" tanya ayahnya.


"Ana lagi puasa, Bi"


"Oh ya, hari ini kamis ya" Afsana mengangguk sambil tersenyum "Apa saja aktfitas mu hari ini"


"Pagi sampai siang mau ngajar di pesantren, sore nya Maryam ngajak Ziarah ke makam Ummi Khadijah"


"Oh begitu, sayangnya Abi engga bisa ikut, Abi banyak pekerjaan sama Uncle Bilal"

__ADS_1


"Engga apa apa, Bi"


Hubab pun segera meneguk air dari gelas nya setelah ia menyelesaikan sarapannya, kemudian Lita datang dengan membawa tas kerja Faraz.


"Ya udah, Abi berangkat kerja dulu" tutur sang ayah kemudian mencium kening istri dan putri nya.


"Hati hati, Mas. Apa mau aku anterin makan siang nanti?" tanya Lita.


"Engga usah, Sayang. Nanti siang aku dan Bilal ada meeting sekalian makan siang" jawab Hubab "Oh ya, Afsana puasa lagi. Siapkan menu buka yg enak untuk putri kita ini" lanjut Faraz sambil mengusap pucuk kepala Afsana membuat Afsana tersenyum lebar.


"Iya, Ummi juga tahu Afsana lagi puasa" balas Lita. Kemudian ibu dan anak itupun mengantar Hubab hingga ke depan.


.


.


.


Sementara itu, Maria tak bisa fokus bekerja, setelah pertemuannya dengan Faraz di kediaman Ummi Mufar dan bagaiamana Faraz menatap nya seolah membangkitkan sesuatu dalam hatinya.


Semenjak mengenal Faraz, itu pertama kali nya Maria menyadari Faraz menatap nya, biasanya boss nya itu tak pernah menatap langsung dirinya, bahkan saat berbicara pun Faraz akan mengalihkan tatapan nya ke arah lain.


Dan perasaan lain yg Maria miliki adalah pada keluarga Faraz yg penuh dengan kehangatan, keluarga impian Maria selama ini. Mereka bahkan menyambut hangat Maria yg sangat berbeda dengan mereka.


"Bekerja yg bener, jangan melamun" Maria gelagapan saat mendengar suara berat itu. Saat ini, ia sedang di ruangan Faraz karena Faraz meminta file yg sudah Maria persiapkan sejak kemarin.


"M...maaf, Pak" ucap Maria gugup.


Apa?


Gugup?


Sejak kapan Maria gugup hanya karena mendengar suara Faraz? Bahkan Maria bisa merasakan jantungnya yg berdebar kencang, membuat Maria khawatir bagaimana jika Faraz mendengar detak jantung nya itu yg seperti detik detik terakhir bom akan meledak.


"Memang apa yg kamu fikirkan?" tanya Faraz sambil membaca file yg sudah Maria persiapkan "Apa ada masalah?"


"Kamu yakin? Apa kamu butuh uang untuk kuliah mu?" Maria mendongak dan menatap Faraz yg masih asyik membaca file di tangan nya.


Ternyata Faraz sangat tampan, matanya lebar, alisnya tebal, hidungnya mancung, bibirnya tidak tebal ataupin tipis, sangat sempurna. kulitnya sedikit kecokelatan membuat kesan maskulin nya sangat sempurna.


"Engga usah memandang ku begitu, aku sudah tahu aku sangat tampan dan mempesona" seru Faraz datar sementara matanya masih fokus pada file di tangan nya. Dan kata kata Sarfaraz itu sungguh membuat Maria menjadi salah tingkah dan tersipu. Bagaimana Faraz tahu ia memandanginya sementara Faraz tak melirik dirinya sedikitpun. Maria segera menstabilkan detak jantung nya yg kian berpacu cepat.


"Siapa juga yg mandangi Pak Faraz" elak nya sambil berdeham padahal tenggorkan nya tak gatal sedikitpun.


Faraz mengulum senyum dan enggan menanggapi Maria.


"Sudah waktu nya makan siang, aku mau makan di ruangan ku, pesan kan makanan dari restaurant ibu ku"


"Iya, pak"


"Kamu dan teman teman mu juga boleh memesan apapun yg kalian mau"


"Iya, Pak" sekali lagi Maria menjawab namun kali ini sambil tersenyum lebar.


"Kenapa?" tanya Faraz yg melihat Maria senyum senyum.


"Engga apa apa, cuma Pak Faraz beruntung banget punya ibu seperti Tante Zahra"


"Jika dia jadi ibu mu, apa kamu akan merasa beruntung?"


"Huh? Maksud nya?"


"Jika ibu ku itu jadi ibumu, apa yg akan kamu rasakan?"


"Tentu saja senang, merasa bruntung dan pasti sangat bahagia" tutur Maria dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Kalau gitu jadikan dia ibu mu, ibu mertua mu"


"Huh?" mata Maria melotot sempurna dengan kata kata Faraz yg entah bercanda atau serius, namun tiba tiba Faraz terkekeh.


"Sudah cepetan pesankan makanan ku, aku sudah lapar" titahnya pada Maria yg masih kebingungan "Sekarang, Maria!"


"I.. Iya, Pak"


.


.


.


Di sore harinya, Maryam, Afsana dan juga Faraz pergi ke makam Khadijah untuk berziarah. Meskipun tak satupun dari mereka yg pernah bertemu mendiang istri Bilal itu, namun mereka selalu mendoakan Ummi Khadijah mereka, dan setiap kali Afsana liburan ia akan selalu berziarah, begitu juga dengan Sarfaraz dan Maryam, mereka akan ziarah dengan rutin ke makam istri pertama ayahnya itu.


Setelah Ziarah, ketiga nya mampir ke sebuah cafe untuk menikmati kebersamaan mereka bersama Afsana, karena masa liburan Afsana sangat terbatas, mereka mampir di sebuah cafe sekalian Afsana untuk berbuka puasa karena sebentar lagi maghrib.


Afsana memesan es krim rasa vanilla strawberry, sedangkan Maryam lebih suka es krim rasa cokelat. Dan Faraz? Tentu ia juga akan memakan es krim seperti anak anak. Ia akan makan es krim rasa apa saja yg kedua adiknya itu pesan kan.


"Kak, kita udah lama lho engga di belanjain" ujar Maryam sembari menikmati es krim nya.


"Memang kalian butuh apa?" tanya Faraz yg juga menikmati es krim nya.


"Kami sih engga butuh apa apa, cuma rasanya kurang afdhol aja kalau belum di belanjain, apa lagi Ana hanya tinggal beberapa hari lagi masa liburannya" jawan Afsana.


"Engga kerasa ya" ucap Faraz "Padahal kita belum menghabiskan banyak waktu bersama"


"Ya Kak Faraz sibuk terus soalnya" ujar Ana.


"Maaf..." Faraz berkata sembari mengusap kepala Ana yg tertutup jilbab "Nanti kakak luangin waktu deh buat jalan jalan sama kalian"


"Janji ya?" seru Ana tampak senang, dan ketika ia senang, matanya pun berbinar membuat Ana semakin terlihat cantik.


"Inysa Allah" jawab Faraz.


Di tengah tengah asyik nya mengobrol, ketiga orang itu di kejutkan dengan kilatan cahaya kamrera yg tiba tiba saja menyerang mereka.


Sontak Maryam langsung menarik ujung pashimnanya dan menutupi sebagian wajah nya.


Mereka pun mulai menanyakan perihal hubungan Maryam dan Amar dan tentu mereka tak berhenti memotret, membuat Afsana dan Maryam merasa risih dan terganggu.


"Tolong berhenti memotret dan jangan ganggu adik ku!" tegas Faraz sambil berdiri dan menarik Afsana dan Maryam ke belakang tubuh nya.


"Hanya satu pernyataan, Pak. Apakah Maryam dan Amar Degazi benar benar akan menikah?"


"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?"


"Apakah hubungan mereka terjadi karena anda yg bekerja dengan Amar?"


Kali ini wartawan itu bertanya pada Faraz.


"Kamu fikir aku menjual adik ku?" desis Faraz tajam.


Kemudian ia pun segera membawa Afsana dan Maryam menjauh dari mereka dengan susah payah.


Faraz tampak sangat kesal dengan pertanyaan yg ia dengar tadi.


"Kak, Faraz. Tenang, itu hal biasa" seru Afsana saat mereka sudah masuk mobil.


"Berani sekali mereka bertanya hubungan Maryam dan Amar karena bisnis" desis nya.


"Udahlah, Kak. Engga usah di ambil hati" ucap Maryam sok tenang. Padahal ia sendiri kesal dengan pertanyaan itu.


Faraz berusaha menenangkan dirinya sebelum akhir nya ia tancap gas dan membawa adik adiknya itu pulang.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2