Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 60


__ADS_3

Maryam terus terkiki geli mendengar cerita Ummi nya yg katanya Maria mengungkapkan perasaannya dan Faraz tak tahu harus menjawab apa. Bagi Maryam, kakaknya sama sekali tidak gantle. Faraz yg dikatain demikian langsung menjewer adik nya itu.


Padahal Faraz ber cerita pada Ummi nya untuk menanyakan pendapat Ummi nya, bukan malah jadi bulan bulanan unyil nya.


"Eh tunggu...." seru Maryam kemudian "Kak Faz cerita itu sama Ana?"


"He'em" jawab Faraz dengan lugu nya.


"Ya Allah, kakak ini gimana sih, pantas Ana nangis"


"Maksud nya?" tanya Faraz sambil memasukan sisa pisang goreng yg ada di tangan nya.


"Ana kan suka sama Kak Faz"


"Astaghfirullah, jangan lagi deh, Nyil"


"Ih, serius, Kak"


"Itu mah maunya kamu aja menjadikan Afsana kakak ipar mu" tutur Faraz yg masih merasa hal yg mustahil jika Afsana menaruh hati pada nya.


"Percaya deh sama Maryam. Maryam bisa ngerasain kok kalau Ana suka sama Kak Faz"


"Oh ya?" tanya Faraz setengah mengejek. Kemudian ia meneguk air dan beranjak dari kursi nya. Faraz sudah siap berangkat kerja.


Karena kini semua acara sudah selesai, seluruh anggota keluarga nya pun sudah pulang. Bahkan Amar juga kembali bekerja. Dan Maryam kembali melanjutkan kuliah nya seperti biasa, namun kini Maryam merubah penampilan nya. Setiap kali ia keluar rumah, Maryam selalu mengenakan cadar. Dan ia juga mau di temani Rika dan Gina. Dengan syarat mereka harus bernampilan causal, tidak boleh memperlihatkan bahwa mereka bodyguard karena Maryam tak suka itu. Alhasil, Rika dan Gina lebih tampak seperti teman Maryam.


"Iya, lagian kakak jadi orang engga peka banget, engga ngerti perasaan wanita, bahkan perasaan sendiri aja engga faham, pintar dikit napa dalam urusan cinta, Kak"


"Mau menggurui kakak neh?"


"Ya bukan, cuma ngasih masukan"


"Itu masukan apa gerutuan?"


"Sudah sudah, ini sudah siang" sela sang ibu karena melihat kedua anaknya masih terus berdebat.


"Ya udah, Faraz pergi dulu, Ummi" seru Faraz kemudian mencium tangan sang ibu, di lanjut dengan mencium pipi nya dan segera pergi.


Amar yg juga sudah turun dari kamar nya, sempat mendengar pembicaraan mereka, membuat Amar juga tertawa geli.

__ADS_1


Beberapa hari tinggal bersama mereka, Amar baru menyadari ternyata Faraz masih sedikit ke kanak kanakan, tampak manja pada ibu nya, dan terkadang berdebat dengan Maryam seperti remaja.


Padahal di luar rumah, Faraz tampak begitu dewasa. Apa lagi dalam bidang pekerjaan nya.


Ya, otak dan hati memang kadang tak sinkron.


Amar juga berangkat ke kantor nya setelah berpamitan pada istri dan ibu mertua nya.


Dan Amar mempelajari satu hal lagi dari keluarga istrinya, dimana setiap kali mereka pergi walaupun hanya sebentar, mereka selalu berpamitan pada orang rumah, terutama pada orang tua mereka jika mereka ada dirumah. Dan jika mereka tak pulang pada waktu nya, mereka juga saling mengabari.


Sesuatu yg sangat baru bagi Amar, karena selama ini, ia selalu pulang pergi se enak hati tanpa memikirkan Granny nya.


Namun Maryam mengatakan, akan lebih baik mereka berpamitan, karena orang rumah pasti khawatir jika tak tahu kemana anak anak nya pergi.


Dan setelah mendengar itu, Amar langsung menelepon neneknya dan dengan polosnya menanyakan apakah nenek nya khawatir jika Amar pergi tanpa pamit dan pulang terlambat, dan bahkan sering sekali Amar tak pulang. Dan jawaban neneknya membuat Amar merasa bersalah. Neneknya mengatakan ia sangat khawatir, bahkan membuat dia tak bisa tidur, walaupun tahu Amar pasti bisa menjaga diri, tapi tetap saja dia khawatir.


Setelah kepergian Amar, kini Maryam sedang membereskan barang barang nya yg akan ia bawa ke rumah suami nya itu. Dan mereka audah me rencanakan bulan madu mereka ke Pakistan.


.


.


.


.


.


.


Di malam hari nya, setelah makan malam Maryam dan Amar berniat pulang karena kasian dengan Granny yg sendirian. Beberapa barang yg Maryam butuhkan sudah ia persiapkan.


"Kak..." panggil Maryam sembari mengetuk pintu, Faraz yg sibuk dengan ipad sembari rebahan di tengah ranjang pun bangun dan mempersilahkan Maryam masuk. Maryam berjalan dengan sebuah buku di tangan nya, dan tanpa berkata apapun, Maryam menyerahkan buku itu membuat Faraz bingung.


"Apa ini?" tanya Faraz "Bukannya ini buku mu?" tanya Faraz karena ia sendiri yg membelikan buku diary pink itu untuk Maryam dan Afsana. Maryam menggeleng.


"Itu punya Ana" jawab Maryam pelan. Maryam yg siang tadi membereskan beberapa barang nya dan juga buku buku nya, sedikit di buat heran karena ada dua buku yg sama sementara Maryam hanya punya satu, karena penasaran Maryam pun membuka nya. Entah dia harus senang atau sedih mengetahui apa yg tertulis disana. Dugaan nya tak salah, tak pernah salah. Afsana menyukai Sarfaraz dan bahkan telah mengungkapkan perasaan nya di buku itu. Meminta jawaban pada Faraz. Dan sekarang Maryam mengerti buku yg ketinggalan itu kata Afsana


"Lalu?" tanya Faraz yg masih tak juga peka.

__ADS_1


"Kakak baca aja, karena buku itu berisi pesan Ana untuk Kak Faz" jawab Maryam dan ia menampilkan wajah serius nya.


Antara bingung dan penasaran Faraz membuka lembar buku itu, tak ada apa apa, hanya berisi biodata Afsana. Lalu lembar kedua, masih tak ada apa apa, hanya beberapa gambar sebuah bunga mawar. Faraz mendongak dan menatap Maryam karena ia rasa tak ada pesan untuk nya disana.


"Kakak baca aja semua, Maryam pergi dulu. Amar sudah nunggu di bawah" seru Maryam.


"Ayo, biar kakak antar kamu" ucap Faraz.


"Engga usah, lagian Maryam hanya berpindah rumah yg engga jauh dari sini, beberapa hari lagi Maryam juga pasti pulang lagi"


"Engga apa apa, ayo" Faraz meletakkan buku itu bersama Ipad nya kemudian ia turun dan Amar memang sudah siap pergi.


Mereka mengantar Amar dan Maryam sampai ke mobil nya. Sementara Boby sudah menunggu disana, dan juga Rika dan Gina namun di mobil yg lain.


"Kalau butuh apa apa, langsung telepon kakak ya" seru Faraz sembari mengusap kepala adik nya. Maryam mengangguk sembari tersenyum.


Setelah Maryam dan Amar pergi, Faraz dan kedua orang tua nya kembali masuk ke kamar nya masing masing karena semua aktifitas sudah selesai dan saat nya istirahat.


Asma menceritakan tentang Faraz pada suaminya, dan Bilal menanggapi nya dengan santai. Faraz masih cukup muda, dan selama ini ia hanya fokus belajar mengajar dan bekerja. Faraz tak pernah dekat dengan wanita yg bukan dari keluarga nya. Tentu Bilal bisa mengerti jika Faraz malah bingung dengan perasaan nya sendiri atau ia tertarik pada seorang wanita.


Dalam hati kecil nya, Bilal berharap Faraz memang mencintai Maria, karena Maria sebenernya gadis yg baik, dan Bilal berharap Faraz bisa menuntunnya ke jalan yg baik oulat.


Sementara Faraz di kamarnya, ia melanjutkan membaca buku Afsana, ia sangat penasaran pesan apa yg Afsana tuliskan untuk nya.


Faraz membaca setiap buku itu dengan menahan nafas, dimana Afsana menuliskan beberapa pujian dan juga kekaguman nya pada Faraz, Faraz merasa tak percaya, ia yakin ini salah atau Maryam mengerjainya. Faraz membolak balik buku itu, dan itu memang tulisan tangan Afsana. Kemudian Faraz teringat buku itu pernah ada dikamar nya namun Faraz mengira buku itu milik Maryam.


Faraz melanjutkan membaca isi diary itu, dan ia hanya bisa membuka mulut membaca pesan Afsana, ungkapan perasaan nya dan Afsana meminta jawaban nya.


Tapi Faraz masih tak percaya hal itu, rasanya sangat tidak mungkin. Afsana adalah adiknya, mereka tumbuh sebagai adik kakak. Afsana tidak pernah memperlihatkan ada sesuatu yg istimewa dari perasaan nya atau perlakuan nya pada Faraz.


Tapi bagaimana bisa?


Lalu malam itu...


Sekarang Faraz mengerti kenapa Afsana meninggalkan nya malam itu saat ia membicarakan tentang Maria.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2