Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 109


__ADS_3

"Aku ingin menjadikan mu istri ku dan membawa mu pulang ke Mekkah, aku janji akan menjaga mu dan Baby Khair. Aku akan merawatnya seperti anak ku sendiri, Maria"


Maria hanya bisa menahan nafas mendengar penuturan Nabil yg tiba tiba itu, Maria tak menyangka Nabil akan melamar nya.


Saat ini Maria sudah berada dirumah nya karena Dokter sudah mengizinkannya pulang. Putri nya juga sangat sehat.


"Maaf, Nabil. Tapi aku rasa kamu bisa mendapatkan wanita yg jauh lebih baik, aku engga pantas buat kamu" jawab Maria menunduk malu.


"Mungkin memang banyak wanita yg lebih baik, tapi masalah nya aku hanya menginginkan mu. Sejak aku melihat foto mu dan mengikuti semua akun sosial media mu, aku semakin mencintai mu" ucap Nabil dengan setulus hati. Maria hanya bisa menunduk sedih. Tak mungkin ia menerima Nabil sementara hati nya masih mencintai sepupu Nabil.


"Maaf, tapi aku engga bisa. Ku mohon, jangan pernah bicarkan soal perasaan lagi. Kita berteman saja" seru Maria. Nabil tampak sangat kecewa dengan jawaban Maria. Namun ia tak bisa memaksakan kehendak nya.


"Baiklah jika itu mau mu" ucap Nabil. Kemudian berdiri dan berpamit pulang. Sekali lagi Maria meminta Maaf, Nabil sudah sangat baik selama ini namun Maria tetap saja tak mungkin menerima nya.


Setelah Nabil pergi, Maria kembali ke kamar nya. Ia melihat putri nya yg tertidur di box bayi setelah ia memberi nya ASI tadi.


Maria menangis dalam diam, ia mengigit bibir nya untuk menahan isak tangis nya. Maria masih mencintai Faraz, dan ia sedang berusaha melupakan nya. Maria juga tak tahu apakah dia bisa membesarkan anaknya sendirian, dia merasa takut sebenarnya. Dan seandainya mau, Maria bisa menerima lamaran Nabil, tapi Maria tak mau dan tak bisa. Maria tidak ingin memiliki hubungan yg lebih dari teman dengan anggota keluarga Faraz.


"Kita akan hidup berdua saja, Sayang. Semoga Mama bisa memberikan yg terbaik untuk mu" gumam Maria kemudian mengecup kening putri nya yg masih terlelap itu.


.


.


.


Faraz sedang sibuk fitting baju bersama Afsana, setelah itu tinggal menyebarkan undangan, dan semua nya sudah beres. Mereka di temani Nabil yg tampak murung setelah menemui Maria.


Nabil sudah menduga dia akan di tolak, tapi walaupun sudah tahu itu, Nabil masih merasa sedih.


Setelah menemani mereka fitting baju, kini mereka berniat pulang karena hari sudah sore. Apa lagi Faraz tak mau kalau sampai Afsana kelelahan karena Faraz sangat berharap Afsana segera hamil.

__ADS_1


"Jangan murung terus, nanti ganteng nya hilang" ujar Faraz mencoba menghibur sepupunya itu.


"Entahlah, seharusnya aku ngutarakan perasaan ku lagi. Aku tahu Maria pasti menolak nya, uuhhff" Nabil menghela nafas berat nya.


"Kalau jodoh engga akan kemana, pasti ada jalan buat mu. Tapi emang nya Aunty Shofia..."


"Ummi belum bisa menerima perasaan ku, tapi aku yakin Ummi akan menerima Maria kalau Ummi tahu Maria sudah berubah"


"Kami cuma bisa bantu doa, Kak" ujar Afsana "Tapi Ana sarankan Kakak jangan nyerah sampai disini. Kak Nabil harus bisa buktikan ke Aunty Shofia kalau Maria sudah berubah dan akan menjadi istri yg baik buat Kak Nabil nanti, selain itu Kak Nabil juga harus membuktikan pada Maria, kalau Kak Nabil memang mencintai dia apa ada nya. Hati wanita itu lembut, mudah di sentuh dengan cinta"


"Terima kasih saran nya, An. Akan kakak coba nanti"


"Tapi jangan memaksakan kehendak juga, terutama pada Aunty Shofia" sambung Faraz.


"Engga akan, menghormati Ummi dan menjaga perasaan nya adalah hal terpenting dalam hidup ku"


.


.


.


Amar pulang dengan fikiran yg kacau dan ia tampak sangat lelah.


Rumah pun sudah sepi, Fifi mengatakan Granny sudah masuk ke kamar nya begitu juga dengan Maryam.


Saat masuk ke kamar nya, Amar mendapati Maryam yg berbaring di ranjang sembari membaca sebuah buku. Maryam sendiri langsung bangkit berdiri setelah melihat kedatangan suami nya.


Maryam mengambil tas kerja suami nya, meletakkan nya di sofa, kemudian ia juga membantu Amar melepaskan jas dan kemeja nya.


"Kamu sudah makan?" tanya Maryam lembut. Ia bisa melihat kerutan di wajah suami nya, menandakan fikiran nya sedang tak baik baik saja. Amar mengangguk.

__ADS_1


"Kamu?" tanya nya. Maryam mengangguk sembari tersenyum. Ia membelai kerutan di dahi Amar dengan lembut. Kemudian ia berjinjit dan mengecup kening suami nya itu. Amar tersenyum, ternyata keberadaan Maryam bisa membuat Amar tersenyum dan sedikit menenangkan fikiran nya, padahal Maryam tak melakukan apapun selain bersikap lembut dan mesra seperti biasa.


"Aku siapkan air hangat ya" ujar Maryam namun Amar mencegahnya.


"Kamu harus istirahat, Sayang. Jangan sampai kelelahan"


"Sejak siang tadi aku sudah istirahat, kalau cuma menyiapkan air hangat engga akan capek kok"


"Jangan"


Amar memeluk Maryam dari belakang ketika Maryam hendak pergi ke kamar mandi. Kemudian Amar menggendong Maryam dan membawa nya kembali ke ranjang.


"Tunggu di sini..." ujar nya kemudian sekali lagi mengecup pelipis Maryam. Setelah itu ia bergegas ke kamar mandi.


Sekitar dua puluh menit kemdudian Amar sudah keluar dari kamar mandi, ia tampak lebih segar. Amar pun mengenakan kaos dan celana pendek nya setelah mengeringkan tubuhnya. Setelah itu ia merangkak naik ke atas ranjang menyusul istri nya yg masih setia menunggu nya.


Jika biasanya Maryam yg bersandar pada suami nya, kini suami nya yg bersandar pada Maryam. Amar merebahkan kepalanya di pangkuan Maryam yg bersandak ke kepala ranjang.


"Aku benar benar lelah, Sayang" lirih nya kemudian ia memejamkan mata. Maryam mengusap rambut Amar dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.


"Tidur lah" bisik Maryam kemudian mengecup kening Amar cukup lama. Amar memejamkan mata, menikmati kehangatan yg di berikan istri nya dan sentuhan lembut yg menenangkan perasaan nya. Maryam kembali mengelus kepala Amar, sesekali memijat dahi nya yg berkerut.


Maryam bisa merasakan Amar yg sedang banyak fikiran, namun Maryam tak berani tak bertanya dan yg bisa ia lakukan hanya berusaha membuat Amar merasa tenang saat bersama nya.


Perlahan dengkuran halus terdengar, kerutan di kening Amar juga hilang. Maryam tersenyum melihat suaminya yg sudah tertidur pulas.


"Mimpi indah, Amar. Kami mencintai mu dan akan selalu ada untuk mu" bisik nya kemudian memberikan kecupan selamat malam.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2