Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 120


__ADS_3

Granny Amy pun tak kalah terkejut nya mendengar kematian Rossa yg tak pernah ia sangka akan secepat nya. Begitu juga dengan Asma, semenjak Amar melarang Maryam bertemu Rossa, Asma lah yg dengan begitu rutin menjenguk Rossa di penjara dan membuat mereka menjadi dekat.


Amar sendiri masih begitu terpukul, ternyata sakit rasanya saat benar benar di tinggalkan oleh sang ibu. Dulu ia sangat mudah mengatakan ibu nya sudah mati, tapi sekarang ia tak sanggup lagi berkata kata.


Dan yg lebih mengejutkannya lagi, uang 50 juta yg Rossa ambil hanya untuk biaya pemakaman nya, Rossa memberikan uang itu pada Jihan yg selama ini telah menjadi sahabat yg sudah seperti saudari nya. Rossa berpesan jika uang itu ada sisa nya, maka berikan saja pada orang yg membutuhkan. Amar terenyuh mendengar penjelasan Rossa. Ibunya telah menyiapkan biaya pemakaman nya sendiri seolah dia benar benar sebatang kara dan tak akan ada yg mengurus nya. Padahal putra dan keluarga nya masih ada.


Selain itu, rumah mereka juga di jual dan sudah laku karena memang sudah ada seseorang yg sejak lama menginginkan rumah itu. Dan uang hasil penjualan nya di berikan pada panti jompo dan panti asuhan atas nama Ezra, syukuran atas kelahiran cucu pertama nya. Yg sekali lagi membuat Amar terenyuh. Ibu nya sangat mencintainya, dan Amar hanya di penuhi kebencian selama ini.


Selama ini Rossa mengira ia akan tetap sendirian dan memang ia sendirian hingga ajal menjemput nya. Namun siapa sangka, yg mendoakan ia di hari kematian nya dan juga mengurus dan mengantarkan ia ke pemakaman tak sedikit, seluruh anggota keluarga Maryam datang, begitu juga dengan keluarga nya sendiri tentu karena Amar memanggil mereka. Meminta keluarga Mama nya menyudahi kebencian pada Mama nya.


Setelah pemakaman selesai, orang orang pun mulai meninggalkan pemakaman begitu juga dengan keluarga Rossa. Namun Amar yg seolah tak percaya ibu nya sudah meninggal tetap di sana, memgang nisan sang ibu. Hati nya di penuhi penyesalan yg sudah tak ada guna nya.


"Sabar, Nak..." Abi Khalil menepuk pundak nya "Setiap yg bernyawa pasti akan meninggal, manusia hidup memang untuk mati"


"Aku engga nyangka Mama pergi secepat ini, Kek. Di saat aku ingin memperbaiki segala nya, di saat aku mau Mama kembali menjadi ibu ku. Dia malah pergi, pergi dalam keadaan seperti ini, dan dia meninggal tanpa siapa pun yg mendampingi nya di detik detik terkahir hidup nya, dia selalu menangis setiap kali aku engga bisa menatap mata nya dan aku enggan memanggil nya Mama"


Abi Khalil merangkul Amar dan mengelus ngelus pundak nya, Amar masih menangis tanpa suara.


"Engga ada yg bisa menduga takdir, Nak. Karena itulah kita harus melakukan segala sesuatu sebaik mungkin. Dan kamu sudah berusaha memperbaiki hubungan mu dengan beliau, tapi jika takdir masih berkehandak lain. Mungkin itu yg lebih baik. Sekarang tenangkan diri mu, dan pulanglah. Jangan larut dalam kesedihan karena orang yg sudah meninggal tidak membutuhkan air mata kita, melainkan membutuhkan ke ikhlasan dan doa dari kita. Dan ingat, masih ada nenek, istri dan anak mu yg perlu kau urus"


Amar langsung memeluk kakek mertua nya itu dan mengucapkan terima kasih. Apa lagi karena sudah turut membantu pemakaman ibunya.


.


.


.


Setelah pulang dari pemakaman Rossa, Afsana langsung mandi dan setelah nya ia berbaring di ranjang karena ia merasa sangat lelah dan mengantuk, dan baru beberapa saat berbaring kini ia malah jatuh tertidur. Faraz yg baru masuk ke kamar nya mengira Afsana hanya tiduran, namun saat ia mengibaskan tangannya di depan wajah Afsana, Afsana tetap tak bergeming dan terdengar dengkuran halus.


"An..." Faraz mencoba menepuk pipi Afsana namun Afsana hanya mengerang, Faraz pun menempelkan punggung tangan nya di kening Afsana, ia khawatir Afsana sakit karena akhir akhir ini ia terlihat pucat. Namun suhu tubuhnya normal saja.


Faraz pun bergegas mandi untuk membersihkan diri, karena malam ini ia ada jadwal untuk mengisi kajian di santri putra.


Sementara Afsana terbangun sesaat setelah Faraz masuk ke kamar mandi, ia merasa mual dan seperti akan muntah. Ia pun menggedor gedor pintu kamar mandi yg membuat Faraz langsung membuka nya.


"Ada apa, Dek?" tanya Faraz khawatir namun Afsana malah menarik Faraz keluar. Kemudian ia masuk dan mengunci pintu.


Kiki Faraz yg menggedor gedor pintu dan meminta Afsana membuka pintu nya karena ia sangat khawatir dengan istri nya. Apa lagi saat terdengar istri nya yg sepertinya muntah muntah.

__ADS_1


"Afsana... Buka pintu nya, kamu engga apa apa kan?"


"An... Kamu sakit?"


"Afsana..."


Pintu terbuka dan Afsana muncul dengan wajah yg memerah.


"Engga, kayaknya Ana masuk angin" ujar Ana terlihat semakin lemas.


"Ya udah, minum obat dan habis itu kamu istirahat ya? Kamu pucat, Dek. Sebaik nya kita ke Dokter. " ujar Faraz sembari membelai pipi Afsana dengan punggung tangannya.


"Ana engga apa apa, Kak. Cuma masuk angin, nanti Ana bikin teh jahe aja. Pasti baikan" jawab Afsana kemudian menggenggam tangan Faraz yg masih membelai pipi nya dan Afsana mengecup nya dengan mesra, membuat Faraz merasa aneh dengan sifat romantis dan manja Afsana yg akhir akhir ini tampak meningkat.


"Ya udah, kakak mandi dulu. Kamu mau ikut?" goda Faraz yg membuat Afsana tertawa geli.


"Engga, Ana udah mandi"


"Oh ya, malam ini Kakak mau ke pesantren. Kamu mau ikut? Abi sama Ummi juga masih di rumah Maryam "


"Engga deh, kan ada Nena di sini"


"Ya udah, nanti engga usah tungguin kakak. Takut nya kakak pulang terlambat, kamu tidur aja duluan"


"Lah, Dek... Kenapa?" tanya Faraz namun Afsana langsung pergi keluar kamar tanpa menjawab Faraz. Membuat Faraz menghela nafas berat.


"Lagi datang bulan kali ya, maka nya sensi"


.


.


.


Bilal dan Asma masih berada di rumah Maryam, apa lagi mereka masih sangat berduka atas kematian Rossa.


Granny Amy pun menuturkan bahwa ia sangat menyesal karena tidak membebaskan Rossa sejak awal, sejak ia tahu Rossa tak bersalah. Saat itu Granny Amy benar benar sangat membenci Rossa dan mengecap Rossa sebagai pendosa atas kelakuan laknat nya.


"Sebenarnya kita engga boleh mengecap seseorang sebagai pendosa, apa lagi menghujat nya. Karena jika suatu malam ia menangisi dosa nya dan bertaubat, maka dia bisa menjadi kekasih sang Khaliq" tutur Bilal.

__ADS_1


"Kau benar. Aku benar benar menyesal, seharusnya aku tahu dia sudah berubah dan kita bisa memperbaiki semuanya. Tapi kebencian menguasai hati ku dan Amar"


"Itu manusi, kebencian itu hal yg pasti ada pada manusia. Tapi sekarang bukan saat nya menyesali masa lalu, meskipun Mama nya Amar sudah meninggal tapi kita masih bisa memberi nya cinta, yaitu dengan terus mengirimi nya doa"


Sementara Amar tetap terlihat sedih, namun ia mencoba menahan nya. Karena benar kata kakek mertua nya, yg Mama nya butuhkan bukan lah air mata, tapi ke ikhlasan dan doa.


"Sayang..." Amar yg sudah membersihkan diri naik ke atas ranjang, menghampiri Maryam yg saat ini menyusui putra mereka.


"Kamu baik baik aja, kan?" tanya Maryam sembari membelai pipi kiri Amar dengan tangan kanan nya. Sementara tangan kiri Maryam di jadikan bantal kepala Ezra yg saat ini masih asyik menyusu "Maaf aku menampar mu" lirih Maryam kemudian sambil terus membelai pipi Amar yg pernah ia tampar.


"Aku benar benar menyesal, engga seharusnya aku menampar suami ku. Seorang istri di larang mengangkat tangan pada suaminya, itu dosa besar" ujar nya dan Maryam meneteskan air mata. Pertanda bahwa ia benar benar menyesali tindakan nya. Namun Amar dengan cepat menggeleng, ia mengecup tangan Maryam berkali kali.


"Itu engga dosa. Kamu melakukan nya untuk menyadarkan ku, dan tamparan mu itu bukti bahwa kamu sangat peduli dan sangat mencintai ku"


"Aku memang sangat mencintai mu"


"Aku juga sangat mencintai mu" Amar dan Maryam saling melempar senyum dan tatapan penuh cinta.


Dan saat Baby Ezra tertidur, Maryam menidurkan nya di box bayi. Setelah itu ia mengambil sebuah kotak yg ada di atas nakas.


"Tante Jihan memberikan ini, kata nya ini dari Mama" ujar Maryam sembari memberikan kotak itu pada Amar.


"Apa isi nya?"


"Aku belum buka, aku fikir kamu yg berhak membuka nya"


Amar pun membuka kotak itu dan isi nya adalah sebuah syal dan juga baju bayi yg sepertinya dibuat sendiri.


"Seperti nya ini buat Ezra..." ujar Amar mengeluarkan Syal dan baju rajutan itu dan memperlihatkan nya ke Maryam.


"Ada nama nya, Ezra M D" ujar Maryam yg melihat di ujung syal itu ada sulaman yg tak rapi, seperti di buat buru buru.


"Bagus" ucap Amar. Kemudian ia mencoba mencari sesuatu yg mungkin di selipkan di kotak itu, namun tak ada "Aku fikir setidaknya Mama menulis surat untuk ku" ucap nya sedih, karena sebenernya ibu nya benar benar pergi begitu saja. Tak ada kata perpisahan atau ungakapan cinta dan kerinduan nya.


"Ini sudah lebih dari sekedar surat cinta" tutur Maryam sembari memberikan kembali baju dan syal itu pada Amar. Amar tersenyum dan mengangguk.


"Semoga Papa dan Amora juga maafin Mama, semoga mereka bisa berkumpul di tempat terbaik di sisi Nya"


"Aamiin"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc....


__ADS_2