
"An... Ana, bangun dong" Afsana mengerang kesal saat Faraz terus mengangguk tidur nya, padahal ia benar benar merasa lelah dan mengantuk.
"Apa, Kak?" gumam Afsana sambil menarik guling dan memeluk nya.
"Kakak lapar..." ujar Faraz setengah merengek. Afsana pun mengucek mata nya dan ia mencoba bangun dari tidur nya.
"Mau makan apa?" tanya Afsana kemudian.
"Pengen bakso pedas"
"Apa?" pekik Afsana heran, kemudian ia melirik jam dinding yg menunujukan pukul setengah tiga.
"Pengen banget, An..." ujar Faraz lagi.
"Di kulkas kayaknya masih ada bakso deh, Ana masakin mie kuah pakek bakso ya" ujar Afsana namun Faraz menggeleng.
"Pengen bakso beneran yg ada su'un nya, sambal nya. Pokoknya yg kayak beli di mamang tuh"
"Ugh, Astaghfirullah..." Afsana memijat kepala nya, berfikir ini suami nya yg ngidam atau gimana?
"Tengah malam gini mana ada, Kak. Besok aja ya? Sekarang makan bakso yg ada di kulkas" bujuk Afsana dan Faraz pun mengangguk namun dengan ekspresi cemberut. Melihat itu Afsana tampak gemas dan ia mencubit pipi Faraz cukup keras yg berhasil membuat Faraz semakin cemberut.
"Baru kali ini ada suami yg ngidam terus padahal istri nya anteng anteng aja" gumam Afsana sambil merangkak turun dari ranjang. Faraz pun mengikuti Afsana yg pergi ke dapur.
Setelah cuci tangan, Afsana mulai menyiapkan makanan suami nya itu.
Dan setelah semuanya siap, Faraz langsung memakan nya dan tampak sangat lahap seperti orang yg kelaparan.
"Pelan pelan, Kak...." ujar Afsana sambil mengelap bibir Faraz yg belepotan.
"Kakak tiba tiba lapar banget tadi, padahal sudah makan malam"
"Karma kali karena Kak Faraz ngejek Maryam yg ngidam tengah malam" Faraz langsung terkekeh mendapatkan tanggapan seperti itu dari istrinya.
Setelah makan, Faraz mengajak Afsana untuk l sholat malam mumpung kedua nya sudah bangun. Tentu itu adalah hal terindah dalam hidup Faraz maupun Afsana. Yg dulu mereka sholat sendirian di sepertiga malam, berdoa untuk di pertemukan dengan cinta sejatinya. Sekerang mereka sholat bersama dan berdoa agar cinta sejati nya kekal bahkan setelan kematian.
.
.
.
Di pagi hari nya, Nabil keluar dari kamar dengan wajah kusut. Bukan karena malam pernikahannya yg seharusnya indah, tapi karena semalaman ia terus menunggu giliran nya bergantian dengan Khair. Namun bayi itu terus merepotkan ibu nya sampai sampai ayahnya tak dapat jatah.
"Loh, pagi pagi udah di sini aja" ujar Ummi Mufar yg melihat Nabil di dapur sedang menikmati secangkir kopi panas nya "Pagi pagi jangan terlalu banyak minum kopi, kalau masih ngantuk ya tidur lagi aja" goda sang nenek yg membuat beberapa santri yg sedang berada di dapur tertawa kecil karena mengerti apa yg di maksudkan Nyai Mufar.
__ADS_1
"Selamat pagi, Nek" sapa Nabil, mengecup pipi nenek nya yg keriput kemudian ia bergegas keluar dari dapur dengan wajah masam nya.
Di ruang tengah ia melihat Khair yg sedang di suapi bubur oleh Maria. Terlihat juga Shofia dan suaminya yg bergabung dengan mereka.
"Ummi, nanti malam Khair tidur sama Ummi ya. Ganggu aja semalaman dia tuh" ujar Nabil tiba tiba tanpa basa basi yg membuat Maria melotot terkejut begitu juga dengan Shofia namun kemudian Shofia terkekeh saat mengerti apa maksud Nabil.
"Engga usah, Tante. Nanti ngerepotin, soalnya kalau malam Khair suka rewel" ujar Maria sambil tersenyum kaku merasa tak enak dengan mertua nya. Shofia kembali tertawa mendengar ucapan Maria itu.
"Justru karena rewel itu, biar dia tidur sama nenek nya. Kalau anteng mah Nabil engga akan ngeluh" seru Shofia yg sekali lagi membuat Maria tersenyum malu malu. Ia melirik Nabil seolah protes karena pagi pagi sudah membuat Maria malu.
"Kamu bisa masak?" tanya Shofia kemudian.
"Bisa, Tante" jawab Maria cepat cepat.
"Ya udah, kamu masakin sarapan buat Nabil, biar aku yg jaga Khair"
"Emm..." Maria masih merasa tak nyaman jika mertua nya harus menjaga anak nya. Namun memang benar seharusnya dia membantu memasak di dapur.
"Biar nenek nya yg jagain Khair, Maria" seru Nabil karena tampak nya Maria masih sangat sungkan. Maria pun menyerahkan Khair dan juga bubur nya yg hanya sisa sedikit saja pada Shofia.
Sebenarnya sudah ada beberapa orang yg bertugas memasak untuk semua anggota keluarga di sana, tapi Shofia sengaja menyuruh Maria agar Maria berbaur dengan semua orang dan menghilangkan ke kauan nya itu.
"Satu hal lagi, Maria...." seru Shofia saat Maria hendak pergi ke dapur.
"Ya, Tante?" tanya Maria.
"Terimakasih" lirih Maria dan Shofia mengangguk dengan senyum nya.
Kemudian Shofia dan suami nya menjaga Khair sementara Faraz mau pergi mandi kata nya.
"Baru mandi sekarang, berarti semalam engga dapat jatah" ujar Abi Faraz sambil tertawa geli.
"Maka nya dia menggerutu" jawab Shofia sambil menyuapkan sisa bubur pada Khair "Nanti malam Khair tidur sama kami ya, Nak. Biar emak sama ayah mu melakukan tugas nya dengan tenang"
.
.
.
Maryam mengerang lirih saat merasakan cahaya matahari yg mengganggu tidur nya. Dan saat tangannya terulur untuk memeluk buah hatinya, Maryam langsung membuka mata lebar lebar karena tak mendapati Ezra di sisi nya. Ia pun segera membenarkan piyama nya dan merangkak turun dari ranjang.
Setelah Maryam sholat subuh tadi Ezra terbangun dan rewel, Maryam pun mencoba menidurkan kembali putra nya sambil di susui dan rupanya ia ikut tertidur. Baru saja menginjakan kaki nya di lantai, Amar muncul dari kamar mandi sambil menggendong Baby Ezra yg sudah di bungkus handuk.
"Good morning, Mommy..." seru Amar sambil tersenyum lebar dan kemudian ia mendurkan Ezra di ranjang.
__ADS_1
"Kamu mandiin Ezra?" tanya Maryam tak percaya dan Amar mengangguk dengan senyum bangga nya "Emang bisa?" tanya Maryam lagi.
"Bisa dong, aku kan Daddy yg serba bisa..." jawab Amar kemudian ia mengeringkan tubuh Ezra sambil sesekali bercanda dengan putra nya dan menggelitik nya yg membuat Ezra tertawa menggemaskan. Maryam pun ikut tertawa senang kemudian ia ke kamar mandi untuk mencuci wajah nya.
Dan di kamar mandi ia mendapati ponsel Amar yg masih menyala dan menampilkan video orang yg memandikan bayi. Maryam langsung tertawa dan sudah bisa menebak apa yg Amar lakukan.
"Sayang, hp ku ketinggalan, bawa sini dong" teriak Amar dari luar.
Maryam pun membawakan hp Amar dan sekarang terlihat Amar yg sedang memegang lotion bayi.
"Kasih minyak telon dulu, biar engga masuk angin. Setelah itu baru kasih lotion" ujar Maryam. Amar pun mengangguk dan kemudian mencari minyak yg Maryam maksud "Memang nya sudah kering semua tubuh Ezra?" tanya Maryam lagi.
"Sudah kok" jawab Amar penuh rasa percaya diri.
"Ini, di sini yg paling penting. Ini juga harus kering" Maryam mengambil handuk dan mengelap pangkal paha Ezra.
"Ooohhh okey" Amar memperhatikan bagaimana Maryam mengeringkan seluruh tubuh putra nya. Dan Ezra tampak sangat senang mendapatkan pelayanan penuh kasih sayang dari sang ibu.
"Putra Mommy di mandiin Daddy ya, Sayang? Maaf ya, Mommy ketiduran" ucap Maryam kemudian mencium dada Ezra yg membuat Ezra tampak geli dan tertawa. Maryam menghirup aroma tubuh Ezra dan ia mengernyit karena ada yg berbeda. Wangi sih tapi...
"Kamu pakein shampoo di tubuh Ezra?" tanya Maryam sambil menatap suaminya. Amar melirik ke atas seolah mengingat sesuatu...
"Engga kok, aku pakein sabun..." jawab Amar. Tapi Maryam tahu itu Shampoo, kemudian ia mencium rambut Ezra dan Maryam hanya menghela nafas berat.
"Sabun nya di kepala, sabun nya di badan" ujar Maryam.
"Tapi tadi aku sudah ngambil yg bener kok" Amar membela diri.
"Kamu ini, teflon ke balik sama panci. Sekarang sabun ke balik sama Shampoo" ucap Maryam sambil tertawa geli. Amar mencoba mengingat kembali saat ia memandikan Ezra tadi, dan mungkin ia memang tanpa sengaja memakaikan shampoo sebagai sabun karena memang botol nya yg sama.
"Pantas tadi pas aku pakein shampoo nya engga berbusa, aku fikir shampoo nya yg jelek dan sudah berniat akan membeli yg baru" tutur Amar kemudian.
"Ya udah engga apa apa, tapi lain kali perhatikan baik baik. Kasian kan rambut putra Mommy jadi kayak sapu lidi begini" gurau Maryam karena rambut anak nya yg memang tebal sejak lahir dan lembut tapi sekarang sedikit kasar.
"Terus, harus mandiin lagi dong?" tanya Amar.
"Jangan, kasian dia. Pakein minyak rambut aja" jawab Maryam, kemudian Amar membaca satu persatu barang barang putra nya itu hingga menemukan minyak rambut nya kemudian Maryam mengajari Amar cara memakaikan minyak rambut pada anak nya dan seberapa banyak yg di perlukan.
Alhasil, Maryam dan Amar bekerja sama merawat bayi mereka itu. Setelah semua nya selesai, kini Baby Ezra sudah tampak segar dan wangi.
"Putra Daddy wangi banget cih..." ucap Amar sambil mencium leher Ezra yg lagi dan lagi membuat Ezra geli dan terkiki.
"Iya,badan nya wangi shampoo" ujar Maryam setengah mengejek kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan suami dan anak nya menghabiskan waktu bersama.
Bahkan saat Maryam di kamar mandi, ia bisa mendengar suara Amar dan putra nya yg tertawa. Membuat Maryam senyum senyum sendiri, apa lagi ketika membayangkan Amar yg memandikan Ezra walaupun sabun dan shampoo nya di pakaikan ke bagian yg salah namun sejujurnya itu membuat Maryam terharu. Amar tak membangun kan nya saat ia tidur karena Amar tahu Maryam pasti lelah setelah semalaman mengurus putra mereka.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...